
Nanda masih merutuki kebodohannya karena telah melakukan kesalahan yang paling fatal di dalam hidup nya. Apalagi saat Nanda pulang, Hesti begitu murka karena mencium bau alkohol pada tubuh Nanda.
"Masih ingat pulang kamu? Semalam kemana saja? Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa Bunda mencium bau alkohol?" cerocos Hesti yang terus memberondong Nanda dengan banyak pertanyaan.
"Bunda, Ma_af," ucap Nanda dengan lirih kemudian menjatuhkan tubuhnya di bawah kaki Hesti.
Nanda menangis dan terus mengucapkan kata maaf sehingga membuat Hesti merasa khawatir.
"Nanda, maafin Bunda sayang, Bunda tidak bermaksud membuat Nanda takut?" ucap Hesti dengan membantu Nanda untuk berdiri, tapi Nanda masih tetap dalam posisinya.
Irwan terkejut ketika melihat Nanda yang menangis di bawah kaki Hesti, dan Irwan sudah bisa menduga jika Anaknya tersebut telah melakukan sebuah kesalahan, karena sejak kecil Nanda dan Dinda akan berlutut dan menangis apabila berbuat salah.
"Bunda, kenapa dengan Nanda?" tanya Irwan dengan menghampiri Nanda dan Hesti.
"Mungkin Nanda merasa bersalah karena semalam tidak pulang, apalagi Bunda sudah memarahinya karena mencium bau alkohol, padahal selama ini Anak kita adalah Anak yang baik dan tidak pernah mengkonsumsi minuman seperti itu," jawab Hesti.
Beberapa saat kemudian, Mama Maya dan Papa Andi datang ke kediaman Irwan yang kebetulan bersebelahan dengan rumahnya karena mendengar keributan.
"Apa yang sudah kalian lakukan sama Cucu kesayangan kami?" tanya Mama Maya dan Papa Andi secara bersamaan.
"Hesti sudah memarahi Nanda karena semalam dia tidak pulang Ma, apalagi Hesti mencium bau alkohol dari tubuh Nanda."
"Nanda sayang, bangun Nak, Bunda sama Ayah tidak akan memarahi Nanda lagi. Nanda tenang saja, ada kami yang akan melindungi Nanda," ujar Mama Maya dan Papa Andi yang selalu memanjakan Kedua Cucunya.
"Oma, Opa, kali ini kesalahan yang Nanda lakukan sangat fatal, karena selain meminum alkohol, Nanda juga sudah merenggut kesucian seorang gadis," ucap Nanda dengan tertunduk, karena saat ini Nanda tidak sanggup melihat reaksi keluarganya.
Mama Maya dan Hesti begitu syok mendengar pengakuan Nanda, bahkan keduanya sampai pingsan secara bersamaan.
"Aduh, kenapa dengan Istri istri kita Irwan? Kenapa mereka sampai pingsan berjamaah?" celetuk Papa Andi dengan menopang tubuh Mama Maya, begitu juga dengan Irwan yang langsung memeluk tubuh Hesti.
Nanda semakin merasa bersalah karena telah menyebabkan Mama Maya dan Hesti pingsan.
"Nanda, sebaiknya sekarang kamu bantu membawa Bunda dan Oma ke dalam kamar," ujar Irwan.
__ADS_1
Nanda bergantian menggotong Mama Maya dan Hesti ke dalam kamar, kemudian Irwan menyuruh Nanda membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menjelaskan semuanya.
"Sebaiknya sekarang kamu mandi dulu, setelah itu kamu jelaskan sama kami siapa perempuan yang sudah kamu renggut kesuciannya," tegas Irwan.
Irwan sebenarnya merasa sangat kecewa terhadap Nanda, tapi Irwan mencoba untuk bersabar, apalagi Papa Andi terus berusaha menenangkan Irwan.
Di dalam kamar mandi, Nanda berteriak kencang, bahkan Nanda beberapa kali memukul tembok sehingga membuat tangannya berdarah.
Bugh bugh bugh
"Arghhhhhhhh," apa yang sudah aku lakukan? Sekarang aku tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk mendapatkan cinta Arsyi. Arsyi pasti kecewa jika mengetahui semua ini, karena aku sama saja dengan Iqbal yang sudah melakukan tindakan tidak senonoh," ujar Nanda dengan membasahi tubuhnya di bawah guyuran shower.
Setelah merasa lebih baik, Nanda baru ke luar dari dalam kamar mandi, karena mau tidak mau Nanda harus menghadapi keluarganya untuk menjelaskan masalah yang terjadi.
"Bagaimanapun juga aku tidak bisa lari begitu saja dari tanggung jawab setelah merenggut kesucian Ratu, apalagi selama ini Ayah dan Bunda selalu memberikan nasehat untuk bertanggung jawab apabila melakukan kesalahan," gumam Nanda.
Saat ini semuanya telah berkumpul di ruang keluarga. Hesti dan Mama Maya yang sudah sadar dari pingsannya terlihat menangis dengan berpelukan untuk saling menguatkan, dan Nanda kembali meminta maaf karena telah mencoreng nama baik keluarganya.
"Kamu memang harus bertanggung jawab atas kesalahan yang telah kamu perbuat. Sekarang kamu ceritakan kepada kami, kenapa kamu bisa melakukan semua itu?" ujar Irwan dengan menahan emosi yang sudah menggebu di dalam hatinya, karena sebagai orangtua Irwan sudah merasa gagal dalam mendidik Anaknya.
Nanda beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menceritakan kejadian yang telah ia lakukan dengan Ratu.
"Sebenarnya tadi malam Nanda masuk ke klub malam karena merasa putus asa. Seharusnya kemarin menjadi hari paling bahagia untuk Nanda dan Arsyi, tapi ternyata takdir berkata lain. Nanda tidak tau harus melakukan apalagi supaya Arsyi mau menerima Nanda, karena Arsyi merasa tidak pantas lagi untuk Nanda, bahkan Arsyi terus menolak untuk kembali menjalin hubungan dengan Nanda," ujar Nanda dengan mengacak rambutnya secara kasar.
"Nak, kami mengerti perasaan Nanda, tapi cara yang Nanda lakukan salah. Jika memang Nanda putus asa, seharusnya Nanda lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, Nanda terus berdo'a dan memohon supaya Arsyi bersedia menerima Nanda lagi," ujar Papa Andi.
"Tumben Papa berkata bijak," celetuk Mama Maya dengan terisak.
"Kalau masih pengen nangis, nangis aja Ma gak usah komen," ujar Papa Andi.
"Nanda tau kalau Nanda salah, Nanda sangat menyesal, tapi semuanya sudah terjadi, karena semalam Nanda mengira jika perempuan tersebut adalah Arsyi, begitu juga dengan perempuan tersebut yang mengira jika Nanda adalah Kak Rizky, karena kami berdua berada di bawah pengaruh alkohol."
Deg deg deg
__ADS_1
Jantung Hesti berdetak kencang ketika mendengar perkataan Nanda, karena Hesti sudah bisa menebak jika perempuan yang menghabiskan malam bersama Nanda adalah Ratu.
"Nanda, jangan bilang kalau perempuan yang sudah kamu tiduri adalah Ratu !!" teriak Hesti.
"Maaf Bunda, tapi perempuan itu memang Ratu," ucap Nanda dengan lirih.
Hesti rasanya tidak sanggup menerima kenyataan ini, apalagi semenjak Ratu kecil, Hesti sudah tidak suka dengan sifat dan sikap Ratu yang selalu sombong dan berbuat seenaknya.
"Ma, Hesti ingin pingsan lagi," teriak Hesti dengan tangisan yang semakin kencang, kemudian Hesti kembali memeluk tubuh Mama Maya.
"Istighfar sayang, Hesti jangan seperti ini, kita harus kuat menghadapi kenyataan pahit ini," ujar Mama Maya dengan mengusap lembut punggung Hesti.
"Tapi kenapa perempuan itu harus Ratu? Mama tau sendiri kalau Hesti paling tidak suka sama Ratu, karena sejak kecil Ratu adalah Anak yang sombong dan selalu berbuat seenaknya. Hesti tidak mau memiliki Menantu seperti itu."
"Bunda, Ayah juga tidak mau memiliki Menantu seperti Ratu, tapi sekarang situasinya sudah berbeda, karena mau tidak mau kita harus bertanggung jawab terhadap Ratu, apalagi Ratu adalah Anak Farel, dan Ayah tidak mau hubungan persahabatan kita dengan Farel menjadi rusak karena masalah ini," ujar Irwan yang terus membujuk Hesti.
"Apa ini adalah hukuman karena dulu Bunda pernah mengatakan tidak ingin memiliki Menantu seperti Ratu?" gumam Hesti yang terus saja menangis, sehingga membuat Nanda merasa tidak tega melihat Hesti seperti itu.
"Sebenarnya tadi Nanda sudah mengatakan kepada Ratu jika Nanda akan bertanggung jawab, tapi Ratu menolaknya, bahkan Ratu menyuruh Nanda supaya melupakan kejadian semalam, karena kami berdua tidak saling mencintai, apalagi sejak kecil kami adalah musuh bebuyutan."
"Meski pun kalian berdua adalah musuh bebuyutan dan tidak saling mencintai, tapi kamu tidak bisa lepas begitu saja dari tanggung jawab. Bagaimana kalau nanti Ratu hamil Anak kamu?" ujar Irwan sehingga membuat semuanya terdiam, karena mereka belum berpikir sampai sana.
Irwan memutuskan untuk mendatangi rumah Farel, karena Nanda dan Ratu harus segera dinikahkan.
"Sebaiknya sekarang juga kita pergi ke rumah Farel, karena Nanda dan Ratu harus segera kita nikahkan," ujar Irwan.
"Apa?" teriak semuanya secara bersamaan.
*
*
Bersambung
__ADS_1