
Operasi Suci berjalan selama tiga jam, dan Arya selalu setia menunggunya dengan duduk di depan ruang operasi, sampai akhirnya Arya bangun dari duduknya ketika melihat lampu di depan pintu ruang operasi padam.
"Dok, bagaimana operasi Istri saya?" tanya Arya dengan harap-harap cemas ketika melihat Dokter ke luar dari dalam ruang operasi.
"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar, untung saja gumpalan darah yang ada pada otak pasien hanya sedikit, jadi mudah untuk kami membersihkannya, Meski pun saat ini sebagian ingatan pasien masih akan hilang, tapi secara perlahan ingatan Pasien akan kembali pulih sepenuhnya, yang penting kita jangan terlalu memaksa Pasien untuk segera mengingat semuanya, biarkan Pasien mengingat dengan sendirinya" jelas Dokter.
Ada rasa bahagia sekaligus takut pada hati Arya, karena cepat atau lambat ingatan Suci akan kembali, dan pastinya Suci akan mengingat jika lelaki bejat yang telah menghancurkan hidupnya adalah Arya.
Meski pun nanti Suci akan membenciku setelah semua ingatannya kembali, aku harus menerimanya dengan lapang dada, yang penting Suci bisa kembali sembuh seperti sedia kala. Semoga saja secepatnya aku bisa mendapatkan donor jantung untuk Suci, ucap Arya dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Perawat mendorong blangkar Suci ke luar dari dalam ruang operasi, dan Arya tersenyum bahagia ketika melihat wajah perempuan yang dicintainya.
Arya terus menggenggam erat tangan Suci ketika Perawat mendorong blangkar Suci menuju kamar perawatannya.
Setelah sampai di dalam kamar perawatan Suci, Arya masih enggan melepaskan pegangan tangannya, karena Arya takut jika nanti setelah Suci bangun, Arya tidak bisa lagi memegang tangan Suci.
"Mungkin aku hanya memiliki kesempatan berada di sampingnya ketika Suci masih belum sadarkan diri, karena setelah nanti Suci sadar, yang akan Suci ingat kembali sebagai Suaminya adalah Rian," gumam Arya.
......................
Alina yang mendengar kabar meninggalnya Mama Linda, menyuruh Bu Rita untuk mengucapkan bela sungkawa secara langsung ke kediaman Rian, karena Alina saat ini sedang hamil tua, jadi Alina tidak mungkin bepergian jauh.
"Bi, sebaiknya sekarang Bibi berangkat ke Jawa Timur untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Mama Linda, soalnya Rian bilang kalau Mama Linda meninggal di kampung halamannya," ujar Alina.
"Tapi bagaimana dengan Non Putri kalau saya berangkat?" tanya Bu Rita.
"Bawa saja dia bersama Bibi, kalau bisa kalian jangan dulu pulang sampai saya melahirkan," ujar Alina yang selalu tidak mau melihat wajah cacat Putri.
Bu Rita hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, karena semua itu hanya akan memancing emosi Alina.
__ADS_1
Farel yang juga berada di sana, tau betul tentang alasan Alina yang tidak mau melihat Putri, dan Farel selalu merasa kasihan kepada Putri yang masih belum juga mendapatkan kasih sayang dari Ibu kandungnya sendiri.
"Sayang, sampai kapan kamu akan seperti ini? Kasihan Putri, dia Anak kandung kita juga," ujar Farel dengan memeluk tubuh Alina yang selalu saja marah apabila melihat Putri.
"Farel, kamu tau sendiri kalau aku bawaannya ingin selalu marah apabila melihat wajah Putri, jadi sebaiknya untuk sementara waktu biarkan Putri dan Bi Rita tinggal jauh dari kita, kalau perlu suruh mereka pindah saja sekalian," ujar Alina dengan entengnya sehingga memancing emosi Farel.
"Cukup Alina, bagaimanapun juga Putri adalah darah daging kita, dan tidak seharusnya kamu mengusir Anak kita sendiri," teriak Farel.
"Jadi kamu lebih sayang dia dibandingkan aku? Kamu tega sekali Farel," ujar Alina dengan berlari ke dalam kamar.
Farel mengacak rambutnya secara kasar, karena Farel tidak mengerti dengan jalan pikiran Alina.
"Den, sebaiknya untuk sementara waktu saya dan Non Putri tinggal di Jawa Timur saja, mungkin dengan begitu tensi Non Alina tidak akan tinggi lagi karena tidak melihat keberadaan kami di sekitarnya," ujar Bu Rita yang sebenarnya merasa sedih karena harus terpisah jauh dari Alina.
"Tapi Bi, sampai kapan Alina akan terus menutup hatinya untuk Putri? Putri adalah Anak kandung kami juga, tidak seharusnya Alina bersikap seperti itu kepada darah dagingnya sendiri," ujar Farel.
"Den Farel harus terus bersabar ya menghadapi Non Alina, apalagi sekarang Non Alina sedang hamil tua. Kalau begitu sekarang Bibi beres-beres dulu," ujar Bu Rita yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Makasih banyak Den," ucap Bu Rita yang terpaksa menerima pemberian Farel, karena Bu Rita harus mencari rumah kontrakan untuk dia dan Putri tinggal, juga masih banyak kebutuhan lainnya yang harus dia beli.
"Seharusnya saya yang mengucapkan terima kasih, karena Bibi sudah menyayangi Putri seperti Cucu kandung Bibi sendiri, Bibi juga yang sudah memberikan saran kepada saya, sampai akhirnya saya berhasil mendapatkan cinta Alina," ucap Farel.
Sudah seharusnya aku melakukan semua itu, karena Putri adalah Cucu kandungku sendiri, batin Bu Rita.
"Saya bersyukur karena sekarang Non Alina sudah membuka hatinya untuk Den Farel, saya juga tulus menyayangi Non Putri yang sudah saya anggap sebagai Cucu kandung saya sendiri. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Bu Rita, kemudian masuk ke dalam kamar untuk membereskan pakaian yang akan dia bawa.
Kenapa aku selalu merasa kalau wajah Bi Rita begitu mirip dengan Alina, ucap Farel dalam hati.
......................
__ADS_1
Arya merawat Suci dengan telaten, bahkan Arya yang mengelap serta mengganti baju Suci ketika Suci masih belum siuman.
"Sayang, kapan kamu akan bangun? apa kamu tidak mau secepatnya melihat wajah tampanku," ucap Arya dengan mencium tangan Suci, karena sudah dua hari semenjak melakukan operasi, Suci masih belum siuman juga.
Arya yang merasakan kantuk, memutuskan untuk tidur sambil duduk di samping ranjang pesakitan Suci, karena Arya takut Suci akan terbangun apabila Arya tidur di sampingnya, dan benar saja dugaan Arya, ketika Arya baru memejamkan mata, Arya merasakan pergerakan tangan Suci.
Arya sudah harap harap cemas ketika secara perlahan Suci membuka matanya, sampai akhirnya Arya memutuskan untuk pura-pura tidur, karena dirinya masih belum siap apabila Suci mengingat bahkan sampai membencinya.
"Kenapa aku bisa berada di Rumah Sakit? Kenapa Mas Arya yang menungguku? Apa mungkin kalau Mas Rian sibuk menjaga Anak-anak, makanya dia meminta bantuan kepada Mas Arya untuk menjagaku? Gumam Suci, dan Arya yang mendengarnya bernafas lega, karena ternyata ingatan Suci yang hilang masih belum kembali.
Ternyata ingatan Suci masih belum kembali, dan dia masih mengingat Rian sebagai Suaminya, batin Arya.
Arya membuka matanya, karena takut jika Suci membutuhkan sesuatu.
"Sayang, eh Suci, Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga," ucap Arya dengan tersenyum, dan entah kenapa jantung Suci berdetak kencang melihat senyuman Arya.
Kenapa denganku? Kenapa aku bisa merasakan perasaan seperti ini kepada Mas Arya? Tidak, tidak mungkin aku jatuh cinta pada lelaki yang bukan Suamiku, batin Suci dengan menutup kedua matanya menggunakan tangan sehingga membuat Arya merasa heran.
"Suci, kamu kenapa? Apa ada yang sakit? Kamu seperti melihat hantu saja," tanya Arya dengan memegang tangan Suci, sehingga jantung Suci semakin berdebar debar.
"A_aku baik-baik saja Mas," ucap Suci yang malah memegang erat tangan Arya, padahal tadinya Suci berniat untuk melepaskan pegangan tangan Arya, tapi entah kenapa Suci ingin selalu berada di dekat Arya.
Arya merasa heran dengan sikap Suci setelah siuman, karena Suci terlihat grogi ketika dekat dengannya.
Kenapa dengan Suci? Aku merasa aneh dengan sikapnya. Apa dia memiliki perasaan kepadaku makanya dia terlihat grogi? apalagi dia terus saja memegangi tanganku. Arya, jangan terlalu berharap banyak, saat ini Suci masih mengira jika Rian adalah Suaminya, tapi kalau Suci jatuh cinta kepadaku, tidak apa-apa juga kan kalau jatuh cinta sama Suami sendiri, batin Arya.
*
*
__ADS_1
Bersambung