
Arya dan Farel begitu terkejut mendengar perkataan Irwan, sampai akhirnya Arya yang merasa geram karena mengira jika Irwan tengah bercanda, langsung angkat suara.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu Irwan? apa kamu tidak tau kalau candaan kamu itu tidak lucu?"
"Ya, aku bersumpah kalau aku benar-benar melihat Suci. Tadi Suci sedang duduk dengan mengajak main seorang bayi, dan aku kira jika itu adalah bayi kalian. Ma, Pa, kalian juga tadi pasti melihat perempuan yang sedang duduk di kursi lorong Rumah Sakit depan lift kan?" tanya Irwan.
Mama dan Papa nya Irwan yang tadi tidak melihat ke arah ke kiri dan kanan menggelengkan kepalanya, karena mereka memang tidak melihat keberadaan Suci.
"Irwan, sepertinya kamu salah lihat, buktinya Mama sama Papa kamu tidak melihat Suci. Lagian tadi aku habis dari rumah Arya, dan Rizky ada di kediaman Argadana," ujar Farel, tapi Irwan masih bersikeras jika dia melihat Suci, sehingga Arya semakin yakin jika Irwan dan Erwin adalah pelaku tabrak lari Suci, dan Arya memiliki pikiran jika yang tadi Irwan lihat adalah arwah Suci yang belum tenang.
"Irwan, Apa kamu dan Erwin yang sudah menabrak Suci sebelum kalian kecelakaan?" tanya Arya dengan tatapan tajam, sontak saja membuat Irwan gemetar ketakutan.
"Ya, Erwin tidak sengaja menabrak Suci," ucap Irwan dengan lirih.
Arya yang mendengar pengakuan Irwan langsung menjatuhkan tubuhnya, karena Arya tidak terima jika sahabatnya sendiri yang sudah menjadi penyebab kematian istri yang sangat dicintainya.
"Kenapa, kenapa kalian tega melakukan semua itu? kalian sudah membuat Suci ku pergi untuk selamanya. Kalian tidak punya hati nurani. Yang tadi kamu lihat pasti arwah mendiang Suci, karena dia masih belum tenang di alam sana, apalagi dia meninggal dengan cara yang tidak wajar," ujar Arya dengan menangis.
"Ya, aku benar-benar meminta maaf, aku menyesal karena tidak sempat membawa Suci ke Rumah Sakit. Aku sudah menyuruh Erwin untuk berhenti, tapi Erwin tidak mendengarkan aku, sampai akhirnya mobil kami masuk ke dalam jurang karena menabrak pembatas jalan," ujar Irwan dengan menangis karena semakin merasa bersalah terhadap Suci.
Arya menatap tajam Irwan, karena saat ini Arya benar-benar merasa sangat kecewa dengan kesalahan yang telah dibuat oleh sahabatnya.
"Apa dengan kamu meminta maaf, kamu bisa mengembalikan Suci kepadaku? kamu sudah menghancurkan kebahagiaan kami Irwan. Sekarang aku sudah tidak dapat melihat Suci lagi untuk selamanya, dan kamu sudah menyebabkan seorang Anak kehilangan Ibunya," teriak Arya.
Farel mencoba menjauhkan Arya dari Irwan, begitu juga dengan kedua orangtua Irwan yang memohon kepada Arya dan meminta maaf atas kesalahan kedua Anaknya.
"Nak Arya, atas nama Irwan dan Erwin, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya. Kami tau kalau Anak kami sudah melakukan kesalahan yang sangat besar dan sulit untuk dimaafkan," ujar Mama Maya dengan menangis.
__ADS_1
"Tante, Om, sebaiknya sekarang kami pamit pulang dulu. Wan, semoga kamu cepat pulih," ujar Farel, kemudian menarik Arya yang masih terlihat marah untuk ke luar dari kamar perawatan Irwan.
Farel terlebih dahulu mengajak Arya untuk duduk di bangku yang berada di halaman Rumah Sakit, kemudian Farel memberikan sebotol air mineral yang sebelumnya telah dia beli.
"Ya, sebaiknya sekarang kamu minum dulu supaya merasa lebih baik. Aku juga berharap kamu tidak terus-terusan marah terhadap Irwan, karena bukan Irwan yang menabrak Suci, melainkan Erwin. Akan tetapi, Erwin juga sudah mendapatkan balasan atas kesalahannya, karena Erwin meninggal dunia dengan cara yang mengenaskan," ujar Farel.
Arya menenggak habis air pembelian Farel, kemudian Arya berteriak dengan kencang.
"Aaaaaaargh, kenapa Engkau mengambil perempuan yang aku cintai Tuhan? kenapa tidak nyawaku saja yang Engkau ambil?" teriak Arya dengan menangis.
Farel merasa prihatin melihat Arya yang begitu terpuruk dengan kepergian Suci.
Pasti hati Arya terasa sakit karena kehilangan perempuan yang dia cintai untuk selamanya. Aku saja yang saat ini masih berjuang untuk mendapatkan cinta Alina, kadang merasa sedih dan putus asa, karena Alina masih belum juga bisa menerimaku, padahal aku sagat yakin jika Putri adalah Anak kandungku, batin Farel.
......................
Saat ini Suci dan Rian sudah tiba di Bandara, dan Rian terus menggandeng Suci karena Rian selalu merasa takut akan kembali berpisah dengan Suci.
"Sayang, aku tidak mau jika sampai ada lelaki lain yang mendekatimu. Kamu lihat saja tatapan semua lelaki yang berada di sekitar kita, mereka menatap kagum wajah cantik kamu," ujar Rian yang selalu bersikap posesif terhadap Suci.
"Yang penting cinta dan hatiku hanya untuk Suami aku yang tampan ini," ujar Suci dengan menggenggam erat tangan Rian, supaya Rian tidak merasa khawatir.
Rian merasa bahagia mendengar perkataan Suci, dan Rian selalu berharap semoga kebahagiaan nya tidak akan pernah berakhir.
Rian menggendong Rizky saat akan masuk ke dalam pesawat, dan Suci terus menggenggam erat tangan Rian karena ini adalah pengalaman pertamanya naik Pesawat.
Suci memeluk tubuh Rian dengan erat karena Suci semakin merasa takut saat Pilot mulai menerbangkan pesawat, dan Rian mengelus lembut punggung Suci supaya merasa lebih tenang.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan takut, apa pun yang terjadi, Mas akan selalu ada di samping kamu," ujar Rian dengan mengecup kening Suci.
Padahal saat ini Suami dan Anakku sedang berada bersamaku, tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang hilang dalam hidupku, batin Suci karena tiba-tiba hatinya merasa sakit.
Rian terus mengelus lembut kepala Suci dan menyuruhnya untuk tidur, tapi Suci kembali bermimpi mendengar teriakan seorang lelaki yang terus memanggil namanya.
"Suci, jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintai kamu sayang. Suci, aku mohon jangan tinggalkan kami."
Suci kembali melihat bayangan seorang laki-laki yang sedang menggendong bayi, dan laki-laki tersebut terus menggenggam erat tangannya, sampai akhirnya bayangan laki-laki tersebut menghilang pada saat Rian membangunkan Suci.
"Sayang, bangun sayang, apa kamu mimpi buruk?" tanya Rian dengan menggoyangkan tubuh Suci, karena Rian melihat Suci yang terus gelisah dalam tidurnya.
"Mas, apa kita sudah sampai?" tanya Suci saat pertama kali membuka matanya.
"Kita baru saja sampai," jawab Rian dengan mengelus lembut kepala Suci.
"Sayang, apa kamu mimpi buruk?" tanya Rian.
Suci hanya menganggukkan kepalanya tanpa berniat mengatakan tentang mimpinya kepada Rian, karena Suci tidak mau jika Rian sampai salah paham.
Sebaiknya aku tidak menceritakan tentang mimpiku kepada Mas Rian, karena aku takut jika Mas Rian akan salah paham. Apalagi saat kemarin aku menceritakan jika aku mimpi bertemu dengan lelaki yang terus menggenggam tanganku, Mas Rian langsung terlihat sedih. Tapi aku heran, kenapa ya hampir setiap tidur, aku selalu memimpikan lelaki yang tengah menggendong bayi? batin Suci kini bertanya-tanya.
Rian yang melihat Suci melamun, sudah merasa curiga jika Suci kembali bermimpi tentang Arya dan Rizky, tapi Rian tidak mau membahasnya, karena semua itu hanya akan membuat Rian merasa ketakutan jika ingatan Suci akan kembali.
Suci pasti kembali memimpikan Arya dan Anak mereka. Semoga saja dengan pindah ke tempat baru yang jauh dari masalalu Suci, Suci akan melupakan masalalunya untuk selamanya, batin Rian.
*
__ADS_1
*
Bersambung