
Setelah sampai Rumah Sakit, Arya langsung menghampiri Oma Rahma yang saat ini tengah menunggu di depan ruang IGD.
"Oma, bagaimana keadaan Papa?" tanya Arya.
"Dokter masih belum ke luar juga. Arya, Oma takut kalau Fadil sampai kenapa-napa," ujar Oma Rahma dengan menangis dalam pelukan Arya.
"Oma yang sabar ya, Papa pasti akan baik-baik saja," ujar Arya mencoba menenangkan Oma Rahma.
Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari dalam ruang IGD, dan Arya bergegas menghampiri Dokter untuk menanyakan kondisi Papa Fadil.
"Dok, bagaimana kondisi Papa saya?"
"Pasien terkena serangan jantung, dan saat ini Pasien masih belum sadarkan diri. Saya harap keluarga terus membantu dengan do'a, karena kemungkinan besar pasien akan mengalami stroke setelah sadar nanti."
"Kenapa bisa seperti itu Dok?" tanya Oma Rahma dengan terus menangis.
"Pembuluh darah pada otak Pasien pecah, dan semua itu mempengaruhi fungsi syaraf Pasien. Sepertinya sebelum pingsan Pasien mendapatkan kabar yang membuat dirinya merasa syok," jelas Dokter.
"Oma, memangnya apa yang membuat Papa sampai syok seperti itu?" tanya Arya yang merasa penasaran.
Aku tidak mungkin mengatakan kepada Arya jika Fadil pingsan karena merasa terkejut saat mengetahui kalau Suci adalah Anak kandungnya, batin Oma Rahma yang mencoba berpikir supaya mendapatkan alasan yang tepat.
"Mungkin Fadil pingsan karena terlalu banyak pikiran, apalagi sekarang Erina harus dirawat di Rumah sakit jiwa."
"Jadi Mama tidak bisa berobat jalan lagi?" tanya Arya yang merasa kasihan dengan nasib yang menimpa Mama Erina.
"Tidak Nak, karena psikiater mengusulkan supaya Erina dirawat di Rumah sakit jiwa saja, mungkin dengan begitu Dokter bisa memantau kondisi Mama kamu."
Arya hanya bisa menghela nafas panjang, karena semenjak Suci meninggal dunia, cobaan datang bertubi-tubi ke dalam kehidupannya.
Sayang, seandainya kamu masih ada di sini, mungkin aku tidak akan merasa sendirian menjalani semua ini, karena kamu adalah sumber kebahagiaan dan kekuatanku, batin Arya dengan menitikkan airmata, karena Arya begitu merindukan Suci.
......................
Saat ini, Suci yang sedang tidur, terus saja mengigau memanggil nama Arya.
"Mas Arya, Mas Arya, kenapa kamu tega sekali membohongiku. Aku benci kamu Mas, tapi aku mencintaimu," ucap Suci.
__ADS_1
Degg
Jantung Rian rasanya berhenti berdetak, hatinya terasa sakit ketika mendengar perkataan Suci, karena di alam bawah sadar Suci, secara tidak sadar Suci masih mengingat Arya.
Aku kira cinta Suci masih tetap milikku, tapi ternyata Suci sudah jatuh cinta terhadap sosok Arya. Kamu harus tenang Rian, karena sekarang Suci masih belum mengingat Arya, dan selamanya Suci hanya akan tetap menjadi milikku, batin Rian yang sudah terobsesi untuk terus memiliki Suci dalam seumur hidupnya.
Rian memutuskan membangunkan Suci, karena Rian tidak kuat mendengar Suci terus memanggil nama Arya.
"Sayang, bangun sayang," ucap Rian dengan menggoyangkan tubuh Suci.
Suci yang merasa terkejut langsung terbangun dengan berteriak memanggil nama Arya.
"Mas Arya," teriak Suci dengan nafas yang tersengal sengal.
"Sayang, apa Suci mimpi buruk?" tanya Rian dengan memeluk tubuh Suci, karena Rian begitu takut kehilangan Suci.
"Mas, maaf jika Suci sudah membuat Mas merasa sakit hati. Suci tidak tau kenapa Suci bisa menyebut nama Arya," ucap Suci dengan menangis dalam pelukan Rian, karena Suci merasa bersalah terhadap Rian.
"Tidak apa-apa sayang, mimpi kan hanya bunga tidur, mungkin Suci bermimpi tentang laki-laki bernama Arya. Mas percaya jika cinta Suci hanya untuk Mas," ucap Rian dengan mengelus lembut kepala Suci.
......................
Secara perlahan Papa Fadil mulai sadar dari pingsannya, tapi sekujur tubuh Papa Fadil tidak dapat digerakkan, bahkan untuk berbicara pun Papa Fadil terlihat kesusahan.
Arya yang melihat Papa Fadil sudah sadar, langsung menekan tombol untuk memanggil Dokter.
Beberapa saat kemudian, Dokter masuk ke dalam kamar perawatan Papa Fadil, kemudian Dokter memeriksa Papa Fadil secara seksama.
"Dok, bagaimana keadaan Papa? sepertinya Papa sulit menggerakkan tubuhnya, bahkan Papa terlihat kesulitan dalam berbicara?" tanya Arya.
"Seperti dugaan kita sebelumnya, Tuan saat ini mengalami stroke," jawab Dokter.
Tangisan Oma Rahma langsung pecah, karena Oma Rahma tidak menyangka jika Papa Fadil akan mengalami penyakit parah di usianya yang terbilang masih cukup muda.
"Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi sama Fadil?" ujar Oma Rahma dengan mengelus lembut kepala Papa Fadil.
Papa Fadil menggelengkan kepalanya saat melihat Oma Rahma menangis, dan Papa Fadil terlihat lebih tegar menerima keadaannya saat ini.
__ADS_1
Mungkin semua yang terjadi pada diriku, adalah hukuman dari Tuhan karena dosa yang telah aku perbuat di masalalu. Seharusnya dulu aku tidak mengatakan kepada Erina bahwa aku menginginkan Anak laki-laki, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Sekarang hanya ada penyesalan dalam kehidupanku. Suci, maafkan Papa Nak, batin Papa Fadil dengan menitikkan airmata.
"Dok, apa Papa masih bisa sembuh?" tanya Arya.
"Kemungkinan untuk bisa sembuh memang sangat kecil, tapi kita akan mencobanya dengan melakukan therapy. Semoga saja secara perlahan, Tuan bisa kembali menggerakkan tubuhnya," ujar Dokter, kemudian pamit dari kamar perawatan Papa Fadil.
"Oma, kalau begitu Arya akan mencari Perawat khusus untuk merawat Papa, karena Arya tidak akan bisa terus terusan berada di Rumah Sakit, apalagi saat ini ada Rizky yang membutuhkan Arya untuk merawatnya."
"Iya Nak, sebaiknya Arya cari Perawat saja untuk membantu Oma merawat Fadil, kasihan Rizky jika Arya meninggalkannya terlalu lama."
......................
Setelah Suci kembali tertidur, Rian memutuskan untuk ke luar dari dalam kamar menuju ruang kerja, karena saat ini pikirannya benar-benar kacau.
"Lebih baik aku memeriksa laporan keuangan saja, supaya aku tidak terus terusan merasa gelisah seperti ini," gumam Rian.
Susi yang melihat Rian ke luar dari dalam kamarnya, langsung berdandan untuk menggoda Rian.
"Tuan, kenapa malam-malam begini Anda masih belum tidur? apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Susi saat masuk ke dalam ruang kerja Rian.
Rian yang melihat Susi berpakaian seksi terlihat menatap Susi, dan Susi merasa bahagia karena Susi mengira jika Rian mengagumi kecantikannya.
"Lancang sekali kamu masuk ke sini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, apalagi dengan memakai pakaian seperti itu. Apa kamu pikir aku akan tergoda dengan ja*lang seperti kamu," ujar Rian yang semakin bertambah kesal dengan kehadiran Susi.
"Kenapa Tuan tega sekali menghina saya? padahal saya hanya ingin menawarkan minuman kepada Tuan," ujar Susi dengan berpura-pura menangis.
"Kamu tidak perlu berakting di hadapanku, karena aku sama sekali tidak akan terpengaruh. Sebaiknya sekarang kamu ke luar dari sini, dan jangan pernah menggangguku lagi, karena kalau tidak, sekarang juga aku tidak akan segan-segan memecat kamu !!" ujar Rian dengan penuh penekanan.
Susi akhirnya ke luar dari ruang kerja Rian dengan perasaan dongkol.
Sekarang kamu bisa tahan harga Rian, karena kamu belum melihat kecantikanku yang sebenarnya, tapi lambat laun aku pasti akan segera mendapatkan mu, batin Susi dengan tersenyum licik.
*
*
Bersambung
__ADS_1