
Arya mendekap erat tubuh Suci yang terlihat menangis, kemudian Arya mengusap airmata yang terus berjatuhan pada pipi Suci.
"Mulai sekarang kita akan membuka lembaran baru di rumah yang pasti penuh kenangan untuk Mama."
"Tapi Papa belum pernah tinggal di rumah yang kecil seperti ini? Di sini tidak ada AC, bahkan rumah ini hanya sebesar kamar Papa_" ucapan Suci terhenti karena tiba-tiba Arya membungkamnya dengan ciuman.
"Seharusnya dari dulu Papa tinggal di rumah ini. Dimana pun Papa tinggal, asalkan bersama Mama dan Anak-anak, Papa pasti akan selalu bahagia. Sebaiknya sekarang kita mulai bersih-bersih, kasihan Anak-anak kalau kita tinggal terlalu lama. Sebaiknya besok sedikit-sedikit kita mulai memperbaiki bagian rumah yang rusak," ujar Arya, dan Suci tersenyum serta menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Arya.
Suci dan Arya membagi tugas untuk membersihkan rumah, dan keduanya terlihat bahagia dengan sesekali bercanda dan tertawa.
"Hmmm ternyata bersihin rumah cape juga ya sayang," ujar Arya dengan berbaring di atas paha Suci yang duduk di atas lantai, karena di rumah tersebut tidak ada kursi.
Suci mengusap keringat yang masih bercucuran pada dahi Arya, kemudian Suci mengusap lembut rambut Arya serta memijat pelan keningnya.
"Mama kan sudah bilang sama Papa, Papa duduk saja gak usah bantu beres-beres."
"Gak bisa gitu dong sayang, kita harus mengerjakan semuanya bersama supaya lebih cepat. Oh iya, Mama punya ide membuka usaha tidak? Usaha apa ya yang kira-kira cocok untuk kita rintis di Desa seperti ini?" tanya Arya.
Suci terlihat berpikir, karena dari dulu Suci ingin sekali membuka grosir sembako dan warung nasi, apalagi di Desa tempat Suci tinggal masih jarang sekali warung.
"Pa, bagaimana kalau kita membuka grosir sembako? Dari dulu Mama ingin sekali memiliki warung, apalagi di sini masih belum ada grosir, Mama juga ingin membuka warung nasi, jadi kita bisa bekerja sambil menjaga Anak-anak."
"Sepertinya ide yang bagus, jadi kita bisa selalu bersama, di depan juga lahannya masih luas. Nanti Papa hitung dulu tabungan yang Papa punya ya, kalau kurang Papa bakalan jual mobil terus beli mobil bak buat bawa belanjaan," ujar Arya dengan tersenyum bahagia.
"Hayo lagi mikirin apa senyum-senyum sendiri?" tanya Suci.
"Lagi mikirin Mama. Kayaknya tadi malam kita libur, jadi malam ini sudah jadwal_"
Suci langsung menutup mulut Arya menggunakan tangannya.
"Udah gak usah mikir macem-macem. Sekarang sebaiknya kita ke kamar," ujar Suci.
"Katanya jangan mikir macem-macem, tapi kok langsung ngajak ke kamar," ujar Arya dengan tersenyum bahagia.
"Gak usah seneng dulu, Mama mau ngajak Papa buat bantu ganti sprei sama sarung bantal. Emangnya mau ngapain sore-sore gini? Kasihan Anak-anak takutnya rewel nyariin kita," ujar Suci dengan menarik tangan Arya menuju kamar.
__ADS_1
"Gak sabaran banget sih sayang, Papa mau ambil minuman dulu sebentar," ujar Arya, kemudian ke luar menuju mobil untuk mengambil minuman dan belanjaan yang sebelumnya telah mereka beli saat di perjalanan.
"Sayang, bukannya ini kue buat Bu Inah ya?" tanya Arya dengan menjinjing beberapa kantong belanjaan.
"Iya Pa, Mama lupa, nanti kita bawa ke rumah Bu Inah kalau udah selesai beres-beres."
"Ya sudah, kalau begitu Papa bantu masang sarung bantalnya," ujar Arya dengan mengambil sarung bantal yang sudah Suci siapkan.
Setelah selesai memasang sprei dan sarung bantal di kamarnya, Suci mengajak Arya ke kamar satu lagi, karena rumah tersebut hanya memiliki dua kamar.
"Alhamdulillah, sekarang semuanya sudah selesai. Nanti kamar ini buat tidur Bi Sari, biar Anak-anak tidur sama kita."
"Nanti Papa tidur dimana kalau kita tidurnya berempat?"
"Kasurnya kan udah digelar di bawah, jadi cukup untuk berempat, lagian Anak-anak juga masih kecil."
"Kalau tidak cukup, Papa tidurnya di atas Mama ya," ujar Arya dengan terkekeh, dan Suci memutar malas bola matanya.
"Udah gak usah mesum, sekarang kita ke rumah Bu Inah," ujar Suci dengan menarik tubuh Arya, tapi Arya malah menahan tubuh Suci.
Cup
Satu kecupan mendarat pada pipi Arya.
"Kok cuma sebelah? Nanti yang sebelah lagi iri lho," ujar Arya dengan menahan tangan Suci supaya tidak kabur.
Cup
Suci mencium pipi yang sebelahnya lagi.
"Yang ini belum?" tunjuk Arya pada bibirnya.
"Papa, udah deh jangan macem-macem, kita sekarang ke rumah Bu Inah," ujar Suci.
"Ya sudah, kalau tidak mau," ujar Arya dengan pura-pura cemberut, sampai akhirnya Suci mengecup sekilas bibir Arya.
__ADS_1
"Gitu dong, jadi Papa semangat lagi," ujar Arya dengan tersenyum penuh kemenangan.
Arya dan Suci membawa kue dan minuman untuk Bu Inah dan Keluarga, dan ternyata Bu Inah juga sudah menyiapkan nasi liwet untuk Suci dan keluarganya.
"Gimana Nak, udah selesai beres-beresnya?" taya Bu Inah.
"Alhamdulillah udah selesai Bu, rumahnya juga tidak terlalu kotor, pasti karena Ibu sering membersihkannya. Oh iya, tadi Suci beli kue sama minuman buat Anak-anak," ujar Suci dengan memberikan satu kantong besar yang berisi kue, snack, dan minuman kepada Bu Inah.
"Makasih banyak ya Nak, Ibu gak enak jadi ngerepotin," ujar Bu Inah.
"Suci yang justru selalu ngerepotin Ibu sama Bapak."
"Ibu juga cuma sesekali bersihin rumah Suci kalau ada waktu senggang, kemarin juga Ibu sudah jemur semua kasurnya, mungkin karena Ibu punya firasat kalau Suci bakalan pulang. Ya sudah, sekarang sebaiknya kita makan, kebetulan Ibu sudah masak menu kesukaan Suci, yaitu nasi liwet, sama tahu, tempe, jengkol dan ikan asin," ujar Bu Inah dengan menata nasi dan lauk di atas dua lembar daun pisang, dan Arya terlihat heran karena sebelumnya Arya tidak pernah melihat apalagi makan di atas daun pisang seperti itu.
Suci terlebih dahulu memberikan kue kepada Rizky dan Iqbal supaya tidak mengganggu semuanya makan, setelah kedua Anaknya duduk tenang, Suci membaca do'a sebelum makan.
"Makan enak nih, udah lama Suci gak makan nasi liwet buatan Ibu," ujar Suci dengan memasukan nasi ke dalam mulutnya, tapi Arya hanya diam saja.
Suci yang melihat reaksi Arya yang terlihat heran, tiba-tiba menyuapi Arya.
"Bagaimana rasanya, enak kan?" tanya Suci ketika melihat Arya mengunyah makanan yang Suci masukan ke dalam mulut Arya.
"Rasanya enak juga," ujar Arya.
"Nak Arya belum pernah makan makanan kampung seperti ini ya? Maaf ya Nak, di sini adanya cuma ini," ujar Bu Inah.
"Makanannya enak kok Bu, terimakasih banyak atas jamuannya," ujar Arya, kemudian mengikuti Suci makan dengan tangan, padahal biasanya Arya selalu makan menggunakan sendok dan garpu, tapi Arya mencoba menyesuaikan diri dengan keadaannya saat ini.
Ternyata bahagia itu sederhana, asalkan kita bisa selalu berada di samping orang yang kita cintai, apa pun dan dimana pun keadaannya, hatiku tetap merasa bahagia, ucap Arya dalam hati dengan senyuman yang terus mengembang pada bibirnya.
*
*
Bersambung
__ADS_1