
Setelah Farel dipindahkan ke kamar perawatan, Suci dan Arya memutuskan untuk melihat kondisi Iqbal terlebih dahulu.
Suci dan Arya pamit kepada semuanya, karena mereka masih merahasiakan tentang keberadaan Iqbal di Rumah Sakit tersebut supaya tidak memancing keributan antara Nanda dan Iqbal.
"Maaf semuanya, kami ada urusan dulu sebentar. Putri sayang nanti kami ke sini lagi ya," ujar Suci, dan Putri menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Ketika masuk ke dalam kamar perawatan Iqbal, Rizky ternyata sudah berada di sana untuk memeriksa kondisi kesehatan Iqbal.
"Rizky ternyata sudah ada di sini. Bagaimana keadaan Iqbal Nak? Iqbal sudah bisa melakukan operasi kan?" tanya Suci.
"Iqbal masih harus melakukan pemulihan sebelum melakukan operasi, karena saat ini kondisi tubuhnya masih lemah, apalagi nafsu makan Iqbal berkurang," jawab Rizky.
"Iqbal sayang, Iqbal harus makan yang banyak supaya bisa segera melakukan operasi. Sekarang Iqbal makan ya," ujar Suci kemudian menyuapi Iqbal makan.
Iqbal sebenarnya tidak memiliki nafsu makan karena ingin bertemu dengan Arsyi.
"Ma, Iqbal ingin ketemu Arsyi, Iqbal takut kalau Iqbal tidak bisa melihat Arsyi lagi."
"Nak, Iqbal jangan bicara seperti itu, Iqbal pasti akan baik-baik saja. Nanti kami akan mencoba membujuk Arsyi supaya bersedia menjenguk Iqbal," ujar suci dengan mengusap lembut kepala Iqbal.
Pak Tamrin sebenarnya merasa malu saat bertemu dengan Suci dan Arya, karena semalam Iqbal sudah menceritakan perbuatannya terhadap Arsyi.
"Nak Suci, Nak Arya, atas nama Iqbal, saya minta maaf yang besar-besarnya. Semalam Iqbal sudah menceritakan tentang perbuatannya yang sudah melukai Arsyi," ucap Pak Tamrin dengan tertunduk.
"Semuanya telah terjadi Pak, sekarang kita hanya bisa berdo'a supaya Arsyi segera sembuh dari traumanya dan bersedia menikah dengan Iqbal," ujar Suci yang sudah mencoba mengikhlaskan kejadian yang menimpa Arsyi.
Beberapa saat kemudian, Rohaye dan Rojali datang untuk bergantian dengan Cindi dan Rojak menjaga Iqbal.
"Bang, Mpok, kenalin ini adalah Mama sama Papa yang sudah membesarkan Iqbal, dan ini Rizky, selama ini dia sudah menjadi kembaran Iqbal," ujar Iqbal kepada Rohaye dan Rojali.
Rojali dan Rohaye bersalaman dengan Suci, Arya dan Rizky. Kemudian keduanya mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan Suci dan keluarga.
"Nyonya, Tuan, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena sudah berkenan membesarkan Adik kami," ucap Rohaye.
"Mpok jangan panggil Nyonya dan Tuan, karena kita adalah keluarga," ujar Suci dengan memeluk Mpok Rohaye.
Semuanya merasa bahagia karena Iqbal dibesarkan oleh orang baik, padahal Suci dan Arya merupakan keluarga terpandang, tapi mereka tidak pernah bersikap sombong.
__ADS_1
"Kami merasa bangga karena Iqbal tumbuh menjadi pemuda yang baik, dan semua itu karena kebaikan Mbak Suci dan Mas Arya yang sudah mendidik Adik kami serta menyayanginya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Abang masih tidak menyangka kalau kamu adalah Adik kami Tong, pantas saja saat pertama kali Abang melihat Iqbal, Abang seperti melihat wajah Bapak saat masih muda dulu," ujar Rojali dengan menepuk bahu Iqbal.
"Iya Bang, Iqbal juga tidak mengira karena ternyata selain Rizky dan Arsyi, Iqbal masih memiliki empat Kakak. Maaf ya kalau Iqbal sudah merepotkan kalian untuk menjaga Iqbal."
"Seharusnya kami yang meminta maaf karena tidak bisa membantu biaya pengobatan Iqbal, apalagi Iqbal sudah membuka usaha jual beli buah dan sayur, jadi sekarang usaha tersebut sangat membantu ekonomi keluarga kita. Maaf ya Mas Arya, Mbak Suci, karena keluarga kami masih saja menyusahkan," ujar Rojali yang merasa tidak enak karena masih saja merepotkan Suci dan keluarga untuk biaya Rumah Sakit Iqbal.
"Bang, Iqbal adalah Anak kami juga, sudah seharusnya kami memberikan yang terbaik untuk Iqbal. Kalau ada apa-apa, Abang dan yang lainnya juga jangan sungkan terhadap kami," ujar Arya.
"Terimakasih banyak atas kemurahan hati Mas dan keluarga. Semoga Tuhan membalas kebaikan keluarga Mas Arya," ucap Rojali yang di Amini oleh semuanya.
Rojali meminta Pak Tamrin, Cindi dan Rojak untuk pulang, karena dari kemarin mereka masih belum membersihkan diri dan kurang istirahat.
"Pak, sebaiknya Bapak pulang sama Cindi dan Rojak, biar Rojali dan Mpok Rohaye yang menjaga Iqbal."
"Sebaiknya Cindi dan Rojak saja yang pulang, Bapak ingin selalu dekat dengan Iqbal," ujar Pak Tamrin yang tidak mau jauh dari Putra Bungsu nya yang baru ia temui.
"Pak, kita masih bisa memiliki banyak waktu setelah Iqbal sembuh. Sekarang Bapak pulang ya sama Cindi dan Bang Rojak," ujar Iqbal.
Pak Tamrin terlihat keberatan, karena Pak Tamrin takut berpisah lagi dengan Iqbal.
"Bapak sebaiknya banyak istirahat, karena sebentar lagi Bapak akan menjadi pendonor untuk Iqbal," ujar Rizky.
Setelah Pak Tamrin, Cindi dan Rojak pulang, Suci dan Arya memutuskan untuk kembali ke kamar perawatan Farel sebelum mereka pulang juga, karena Suci dan Arya sudah mengatakan kepada Arsyi dan Mama Erina kalau mereka hanya akan pergi sebentar.
"Iqbal sayang, maaf ya Mama sama Papa tidak bisa menemani Iqbal, saat ini kondisi Oma dan Arsyi masih belum benar-benar pulih, dan kami tadi bilang sama mereka hanya akan pergi sebentar," ujar Suci.
"Iya Ma, tidak apa-apa, di sini juga ada Bang Rojali sama Mpok Rohaye," ujar Iqbal.
"Kamu tenang saja, malam ini aku juga giliran piket, nanti aku akan menemani kamu di sini," ujar Rizky.
"Rizky, kamu masih pengantin baru, seharusnya kamu pergi berbulan madu, bukannya malah sibuk bekerja," ujar Iqbal, tapi Rizky hanya diam dan tidak membalas perkataan Iqbal.
"Kalau begitu sekarang aku ke luar dulu, masih banyak Pasien yang harus aku periksa," ujar Rizky yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
Arya dan Suci menatap nanar kepergian Rizky, keduanya tau betul jika Rizky tidak bahagia menikah dengan Putri.
"Kenapa tuh Anak, apa aku salah ngomong?" gumam Iqbal.
__ADS_1
"Nak, mungkin saat ini Rizky belum bisa membuka hatinya untuk Putri. Sebaiknya sekarang Iqbal istirahat, Iqbal jangan terlalu banyak pikiran," ujar Suci dengan menyelimuti tubuh Iqbal.
Suci dan Arya pamit kepada semuanya, dan mereka sengaja tidak membicarakan tentang Farel yang saat ini di rawat juga, karena pasti Iqbal akan bertanya penyebab Farel terkena serangan jantung.
"Pa, sampai kapan kita akan menutupi semuanya? Mama takut kalau Arsyi akan curiga. Apa kita bicarakan saja tentang penyakit Iqbal kepada Arsyi?"
"Nanti kita lihat dulu kondisi Arsyi, karena sekarang perasaan Arsyi terhadap Iqbal sudah tidak seperti dulu lagi. Papa takut apabila Arsyi bertemu dengan Iqbal, Arsyi akan semakin membenci Iqbal, bisa-bisa nanti kondisi kesehatan Iqbal semakin memburuk," ujar Arya yang sudah mempertimbangkan semuanya.
Arya memeluk tubuh Suci dengan erat supaya merasa lebih tenang, dan Rizky yang sebenarnya menunggu Suci dan Arya di luar kamar perawatan Iqbal, langsung angkat suara ketika melihat kebucinan kedua orang tuanya yang tidak tahu tempat.
"Ekhem, ingat, ini Rumah Sakit. Apa gak bosan tiap hari mesra-mesraan terus?" sindir Rizky.
"Papa gak bakalan bosan karena Papa sangat mencintai Mama kamu. Nanti juga kamu pasti bakalan bucin kalau nikah sama perempuan yang kamu cintai," ujar Arya, dan Suci langsung menatap tajam Arya, karena saat ini raut wajah Rizky terlihat sedih.
Kenapa aku sampai keceplosan? Jangan sampai Suci marah dan mengurangi jatah ku, ucap Arya dalam hati.
"Puasa satu bulan," bisik Suci dengan melepaskan pelukannya dari Arya, kemudian menggandeng Rizky menuju kamar perawatan Farel.
"Mana bisa seperti itu. Sayang tunggu, jangan tinggalin Papa," teriak Arya dengan mengejar Suci dan Rizky.
Ketiganya telah sampai di kamar perawatan Farel, dan ternyata Farel dan Ayu sudah sadar.
"Alhamdulillah, kalian berdua sudah sadar," ucap Arya.
"Iya Alhamdulillah. Besok Mas Farel juga sudah bisa melakukan pemasangan ring," ujar Ayu yang terus saja memegangi tangan Farel, karena Ayu takut apabila Farel meninggalkannya.
Farel merasa malu terhadap semuanya, beruntung keluarga Arya dan Irwan begitu pengertian dan mereka selalu saling mendukung dalam suka dan duka.
"Farel, kamu harus segera sembuh, kami pasti akan berusaha mencarikan pendonor yang cocok untuk kamu," ujar Arya.
"Terimakasih semuanya, aku beruntung karena memiliki kalian yang selalu ada untukku dalam suka dan duka," ucap Farel.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara seseorang yang membuka pintu kamar perawatan Farel, dan ternyata itu adalah Ratu.
"Dad, Ratu bersedia menikah dengan Nanda."
*
__ADS_1
*
Bersambung