
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Arya terus saja menangis dengan memeluk tubuh Suci, dan Arya sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan Suci.
"Sayang, maafkan aku, aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik, bahkan aku tidak bisa menyelamatkanmu," ujar Arya.
"Arya, kamu harus tenang, Suci pasti akan baik-baik saja, dia adalah perempuan yang kuat," ujar Rian yang mencoba menenangkan Arya, padahal saat ini Rian juga sama paniknya dengan Arya.
Setelah sampai halaman Rumah Sakit, Rian turun terlebih dahulu untuk meminta bantuan, sampai akhirnya Suci dibawa masuk ke dalam ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan.
Arya terus mondar mandir di depan ruang IGD, dan Rian menghampiri Arya setelah sebelumnya memarkirkan mobil serta menyelesaikan administrasi Suci terlebih dahulu.
"Arya, apa Dokter sudah ke luar?" tanya Rian dengan menghampiri Arya.
"Belum Rian," jawab Arya dengan terus mengacak rambutnya secara kasar.
"Arya, kita harus tenang, kita harus kuat demi Suci. Kalau kamu terus seperti ini, Suci pasti akan sedih. Sekarang kamu duduk, aku yakin kalau Suci pasti akan baik-baik saja," ujar Rian berusaha setenang mungkin, padahal saat ini Rian ingin sekali menangis, tapi Rian berusaha menahannya.
"Aku takut Rian, aku takut Suci sampai kenapa-napa. Apalagi Suci baru saja selesai melakukan operasi beberapa hari yang lalu, bagaimana kalau cidera pada kepalanya membuat kondisi Suci semakin memburuk? Kamu lihat sendiri, tadi kepala Suci banyak mengeluarkan darah," ujar Arya dengan terus menangis.
Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari ruang IGD untuk memberitahukan jika saat ini Suci membutuhkan transfusi darah.
"Dok, bagaimana kondisi Istri saya?" tanya Arya dengan menghampiri Dokter.
"Pasien membutuhkan transfusi darah, dan kita tidak memiliki banyak waktu, karena saat ini stok darah A sedang kosong," ujar Dokter.
"Dok, ambil saja darah saya, karena kebetulan saya memiliki golongan darah yang sama dengan Pasien," ujar Rian.
"Kalau begitu sekarang Tuan ikut saya masuk ke dalam ruang IGD, supaya kita bisa melakukan transfusi secara langsung kepada Pasien," ujar Dokter.
"Rian, terimakasih," ucap Arya saat Rian hendak masuk ke dalam ruang IGD, dan Rian hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Saat ini Rian begitu rapuh ketika melihat Suci yang terbaring tidak berdaya di sampingnya.
Suci, kamu harus kuat, aku yakin kamu pasti akan sembuh dan hidup bahagia. Meski pun aku tidak bisa memilikimu, tapi sekarang darah kita sudah menyatu di dalam tubuhmu, dan aku akan melakukan apa pun untuk kesembuhan kamu, bahkan aku rela jika harus mengorbankan nyawaku untukmu, ucap Rian dalam hati.
Rian berada sekitar satu jam di dalam ruang IGD, karena Dokter menyuruh Rian untuk beristirahat terlebih dahulu setelah melakukan transfusi.
"Syukurlah kondisi Pasien sudah stabil," ucap Dokter ketika memeriksa kondisi Suci.
__ADS_1
Suci sudah bisa dipindahkan menuju kamar perawatan, dan Arya tersenyum bahagia ketika melihat Suci dan Rian yang ke luar dari dalam ruang IGD.
"Dok, bagaimana kondisi Istri saya?" tanya Arya dengan mengusap lembut kepala Suci yang saat ini memakai perban.
"Alhamdulillah Pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya, untung saja Pasien segera mendapatkan transfusi darah, dan sekarang Pasien sudah bisa dipindahkan menuju kamar perawatan." jawab Dokter.
"Tapi saya lupa belum menyelesaikan administrasi Rumah Sakit," ujar Arya.
"Kamu tenang saja, tadi aku sudah menyelesaikan administrasinya saat pertama datang," ujar Rian.
"Rian, nanti aku akan mengganti semuanya," ujar Arya.
"Memangnya kamu pikir Suci itu siapa aku? Suci adalah perempuan paling spesial dalam hidupku, dan kamu harus membayar semuanya dengan membahagiakan Suci seumur hidup kamu," ujar Rian dengan tersenyum.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga dan membahagiakan Suci dalam seumur hidupku," ujar Arya dengan tersenyum.
Setelah Suci berada dalam kamar perawatan, Rian pamit kepada Arya untuk mencari makanan, karena setelah melakukan transfusi tubuhnya terasa lemas.
"Arya, aku ke bawah dulu untuk mencari makanan," ujar Rian.
"Kamu di sini saja jaga Suci dengan baik, karena saat ini yang Suci butuhkan adalah kamu," ujar Rian yang sudah lebih ikhlas melepas Suci untuk Arya.
Setelah Rian pergi, Arya duduk di samping ranjang pesakitan Suci, dan Arya terus memegang tangan Suci dengan erat, bahkan Arya sampai ketiduran.
Arya sudah cukup lama tertidur, tapi ketika Arya bangun, tiba-tiba perut Arya terasa mulas, sehingga membuat Arya terus saja bolak balik ke kamar mandi.
Ketika Arya masih berada di dalam kamar mandi, Suci mulai siuman.
"Dimana aku?" gumam Suci dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Mata Suci tiba-tiba memanas, karena sekarang Suci sudah mengingat semuanya.
"Kenapa mereka tega sekali membohongiku?" gumam Suci dengan menangis, karena Suci merasa dipermainkan oleh Arya dan Rian.
"Tidak Mas Arya, tidak Mas Rian, mereka sama saja, mereka semua adalah pembohong, mereka bahkan tega memanfaatkan keadaanku yang sedang hilang ingatan. Aku benci mereka," gumam Suci, kemudian mencoba untuk bangun dan melepas infusan yang masih menempel pada punggung tangannya.
Suci berjalan tak tentu arah, karena saat ini Suci begitu kecewa kepada Arya dan Rian, sehingga Suci menghindari bertemu dengan mereka dan memutuskan untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
__ADS_1
......................
Saat ke luar dari dalam kamar mandi, Arya begitu terkejut karena Suci sudah tidak ada di atas ranjang pesakitan nya, dan Arya semakin khawatir ketika melihat darah yang berceceran di atas lantai.
"Suci, kamu di mana sayang?" teriak Arya dengan berlari ke luar dari kamar perawatan Suci.
Arya menghampiri Perawat untuk menanyakan keberadaan Suci, dan Perawat meminta maaf karena tidak melihat Suci ke luar dari Rumah Sakit.
Saat Suci kabur, Suci memakai jaket milik Arya, jadi tidak ada orang yang mengenalinya karena kepala serta wajah Suci sengaja ia tutupi.
Arya mencari Suci ke luar dari Rumah Sakit, sedangkan Perawat membantu mencari di sekitar Rumah Sakit.
"Aku harus menemukan Suci, kalau Suci sampai kenapa-napa, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," gumam Arya dengan terus melihat ke arah kiri dan kanan, sampai akhirnya Arya melihat seseorang yang mirip dengan Suci hendak menyebrangi jalan.
"Itu pasti Suci," gumam Arya dengan berlari menghampiri Suci.
Arya langsung memeluk tubuh Suci dengan erat, dan saat ini Arya menumpahkan tangisannya dalam pelukan Suci.
"Sayang, kenapa kamu pergi meninggalkan aku? Kenapa kamu membuat aku khawatir?" ujar Arya, tapi Suci langsung mendorong keras tubuh Arya.
"Jangan pernah dekati aku lagi, aku benci kamu, aku benci kalian," teriak Suci.
"Sayang, maafkan aku, aku tau kalau aku sudah banyak melakukan kesalahan, dan aku akan menebus semua kesalahanku dengan cara apa pun juga," ujar Arya.
"Sekarang aku sudah mengingat semuanya, kamu adalah lelaki bejat yang telah menghancurkan hidupku, kamu juga sudah membunuh Ibuku, Arya. Kalau kamu ingin menebus semua kesalahan yang telah kamu lakukan, sekarang juga biarkan aku pergi, dan jangan pernah temui aku lagi," teriak Suci dengan menangis.
"Sayang, kamu boleh membenciku, kamu boleh memukulku sepuas mu, tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu dalam seumur hidupku. Aku sudah pernah kehilangan kamu, dan aku tidak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya," ujar Arya dengan mendekati tubuh Suci yang terus berjalan mundur.
Suci tidak menyadari jika saat ini dia sedang berada di tengah jalan, sampai akhirnya Arya memeluk tubuh Suci ketika ada sebuah truk yang melaju kencang ke arah Suci.
"Suci, Arya, awas," teriak Rian yang saat ini berada di pinggir jalan.
*
*
Bersambung
__ADS_1