
Suci yang masih merasa kesal terhadap perbuatan Tuan Hartawan dan Bianca, masih belum puas untuk berbicara, meski pun Suci sadar jika dirinya sudah ikut campur urusan pribadi orang lain.
"Maaf Tuan Hartawan yang terhormat jika saya sudah ikut campur urusan pribadi Anda. Saya sebenarnya merasa kasihan terhadap Istri dan Anak Anda yang sudah Anda sakiti. Apa Anda tau jika rezeki Suami lancar karena do'a dari seorang Istri? Mungkin sekarang Anda masih merasa muda dan kaya, tapi Anda harus ingat jika yang namanya Usia tidak ada yang tau."
Degg
Jantung Tuan Hartawan berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Suci sehingga membuat Tuan Hartawan diam tidak berkutik.
"Tuan Hartawan, Anda harus ingat jika kelak Anda sudah tua dan tidak bisa melakukan apa apa lagi, hanya keluarga yang akan menjaga serta merawat Anda. Jangan sampai suatu saat nanti Anda menyesal karena telah menyia-nyiakan keluarga demi seorang Pelakor," ujar Suci yang berusaha menyadarkan Tuan Hartawan.
"Tutup mulut kamu Suci, kamu bisa bicara seperti itu karena memiliki Suami yang kaya raya, dan hartanya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Jika kamu berada di posisiku, kamu pasti akan berusaha mendapatkan uang dengan cara apa pun supaya kamu bisa hidup senang," ujar Bianca.
Arya yang tidak terima dengan perkataan Bianca, langsung berdiri dan angkat suara.
"Kamu yang harusnya tutup mulut. Kamu tidak tau kalau sebenarnya semua harta keluarga Argadana adalah milik Suci, karena Suci adalah_"
Perkataan Arya terhenti karena Suci tidak mau jika Arya mengatakan kebenaran tentang Suci yang merupakan Anak kandung Papa Fadil.
"Cukup Pa, biar Mama yang menyelesaikan semua ini," ujar Suci dengan menarik lembut tangan Arya untuk duduk kembali.
"Bianca, kamu tidak tau bagaimana masalaluku yang bahkan harus menahan lapar karena tidak memiliki uang, tapi aku bukan perempuan seperti kamu yang sampai rela menjual diri demi harta. Apa kamu tidak takut dengan karma?"
Mama Erina dan Oma Rahma tersenyum bangga ketika mendengar Suci yang terus melontarkan sindiran pada Bianca dan Tuan Hartawan.
"Kamu berani sekali menghinaku, kamu pikir kamu itu siapa?" ujar Bianca yang tidak terima dengan perkataan Suci.
"Bianca, kita berdua sama-sama perempuan. Seharusnya sebagai sesama perempuan kita tidak boleh saling menyakiti, dan kamu bisa mengerti perasaan perempuan lainnya. Bagaimana jika kamu berada di posisi Istri Tuan Hartawan. Apa kamu rela jika Suami kamu berselingkuh dengan perempuan lain?"
Tuan Hartawan yang mulai menyadari kesalahannya tiba-tiba berdiri.
"Bianca, perkataan Suci benar, tidak seharusnya kita terus melakukan hubungan terlarang. Terimakasih Suci, karena kamu sudah membuka mata saya yang sudah tertutup oleh kemewahan dunia yang hanya sementara. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Tuan Hartawan yang sebenarnya merasa malu terhadap Suci dan keluarga Argadana.
"Sayang tunggu. Kamu tidak bisa mencampakkan aku begitu saja," ujar Bianca dengan mengejar Tuan Hartawan yang terus berjalan meninggalkannya.
Arya tersenyum melihat keberanian istrinya, kemudian Arya memberikan segelas air putih kepada Suci.
"Sayang, sebaiknya Mama minum dulu. Mama pasti capek setelah selesai ceramah," ujar Arya dengan tersenyum, dan Suci merasa malu mendengar perkataan Arya.
Suci meminta maaf kepada semuanya karena telah mengacaukan acara makan malam.
"Maaf semuanya, Suci tidak bermaksud mengacaukan acara makan malam."
"Sayang, kami justru bangga sama Suci. Putri kami ternyata begitu pemberani," ujar Mama Erina.
__ADS_1
"Iya Nak, orang seperti Hartawan dan Bianca memang harus dikasih pelajaran supaya mereka tidak bersikap seenaknya," tambah Oma Rahma.
"Kalau begitu sekarang kita lanjutkan lagi acara makan malam yang telah tertunda. Kasihan Suci pasti lapar setelah mengeluarkan banyak energi untuk melawan Hartawan dan perempuan gatal," ujar Papa Fadil dengan terkekeh.
Semuanya kini makan dengan tenang setelah kepergian Tuan Hartawan dan Bianca, dan satu jam kemudian Mama Erina mendapatkan telpon dari Istrinya Tuan Hartawan.
"Sayang, barusan Sandra telpon Mama dan mengucapkan terimakasih kepada Suci, karena katanya sekarang Hartawan sudah pulang ke rumahnya, bahkan Hartawan meminta maaf atas kesalahan yang telah dia lakukan kepada Sandra," ujar Mama Erina.
"Alhamdulillah kalau begitu Ma, Suci ikut senang."
......................
Dua bulan sudah Susi dan Asep tinggal di Jawa timur, dan Asep selalu memperlakukan Susi seperti Ratu.
Susi sebenarnya sudah jatuh cinta kepada Asep, tapi Susi merasa gengsi untuk mengakui perasaannya.
Susi selalu merasa cemburu ketika Seruni mencoba mendekati Asep, tapi Susi berusaha menutupi semuanya.
Pada saat Susi bangun tidur, Susi merasakan gejolak hebat pada perutnya, kepala Susi juga terasa pusing sehingga Susi terus memegang kepalanya.
"Kenapa kepalaku pusing sekali ya? Aku juga rasanya pengen muntah," gumam Susi, kemudian berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Asep terbangun ketika mendengar suara Susi yang sedang muntah di dalam kamar mandi, kemudian Asep bergegas menghampiri Susi.
"Neng kenapa sampai muntah muntah seperti ini?" tanya Asep.
"Gak tau Sep, saat bangun tidur, aku merasa pusing sama mual," jawab Susi.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita ke Dokter, Aa tidak mau kalau sampai Neng kenapa-napa."
"Tidak perlu, palingan juga cuma masuk angin," ujar Susi.
Asep menggendong Susi ke luar dari dalam kamar mandi, kemudian Asep membaringkannya di atas ranjang.
"Tunggu sebentar ya, Aa mau bikin teh manis hangat dulu buat Neng," ujar Asep, kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur.
Ketika Asep kembali masuk ke dalam kamar, Susi sudah tidak ada di atas ranjang.
"Kemana Neng Susi? Apa Neng Susi ke kamar mandi lagi?" gumam Asep.
Tok tok tok
Asep mengetuk pintu kamar mandi, dan beberapa saat kemudian, Susi ke luar dari dalam kamar mandi dengan membawa tes kehamilan yang sebelumnya telah Susi beli.
__ADS_1
Susi sudah telat datang bulan selama satu bulan, jadi Susi memutuskan untuk membeli testpack, apalagi setiap malam Asep selalu menggempurnya ketika Susi berpura-pura tidur.
"Neng Susi baik-baik saja kan?" tanya Asep dengan membantu Susi berjalan menuju ranjang.
"Aku hamil," jawab Susi dengan memberikan alat tes kehamilan.
Asep langsung melakukan sujud syukur ketika melihat dua garis merah pada testpack, padahal Susi sudah takut kalau Asep akan marah ketika mengetahui kehamilannya.
"Kamu tidak marah?" tanya Susi.
"Kenapa Aa harus marah? Kenapa juga Neng bertanya seperti itu? Seharusnya kita bersyukur karena Tuhan sudah percaya sama kita dengan memberikan rezeki yang sangat besar. Neng Susi tidak usah takut hamil atuh, gak apa-apa hamil juga, kan ada Bapaknya," ujar Asep dengan memeluk tubuh Susi.
Susi tiba-tiba menangis dalam pelukan Asep, kemudian Susi meminta maaf.
"A, maafin Susi ya kalau selama ini Susi belum bisa menjadi Istri yang baik," ucap Susi dengan lirih.
Asep tersenyum ketika mendengar Susi yang memanggilnya dengan sebutan Aa untuk yang pertama kalinya.
"Neng, seharusnya Aa yang minta maaf, karena sebenarnya setiap malam Aa sudah melakukan Anu saat Neng tidur," ucap Asep yang takut jika Susi akan marah.
"Anu apa A?" tanya Susi yang pura-pura tidak mengerti.
"Aa suka khilaf kalau lihat Neng lagi tidur, jadi diam-diam Aa melakukan hubungan Suami Istri tanpa meminta ijin dulu sama Neng."
Susi tersenyum mendengar pengakuan Asep.
"Neng tau A, karena Neng sebenarnya cuma pura-pura tidur," ujar Susi dengan tertunduk malu.
Asep terkejut ketika mendengar pengakuan Susi.
"Jadi Neng tidak marah?" tanya Asep.
"Kenapa harus marah? Kita kan Suami Istri," jawab Susi dengan tersenyum kemudian mencium pipi Asep yang selalu membuat dirinya merasa gemas.
Asep diam mematung karena masih belum percaya dengan semua yang Susi lakukan.
"Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya Engkau mengabulkan semua do'a hamba. Makasih ya karena Neng sudah mau menerima Aa sebagai Suami Neng. Meski pun Aa bukan orang kaya, tapi Aa akan terus berusaha membahagiakan Neng dan Anak-anak kita," ujar Asep, kemudian menghujani Susi dengan ciuman.
*
*
Bersambung
__ADS_1