Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 112 ( Pernikahan Hesti dan Irwan )


__ADS_3

Bu Rita merasa bingung harus menjawab pertanyaan Arya seperti apa, karena Bu Rita tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Nak Arya, Ibu minta maaf ya, karena Ibu sepertinya lupa lagi nomor rumah orangtua kandung Suci, maklum Ibu sudah tua," ujar Bu Rita yang terpaksa berbohong kepada Arya.


"Kenapa bisa seperti itu Bu? Padahal Arya sudah tidak sabar ingin bertanya kepada orangtua kandung Suci alasan mereka yang sebenarnya."


"Nanti Ibu coba ingat-ingat lagi ya, kalau begitu Ibu permisi dulu mau bantu-bantu persiapan syukuran," ujar Bu Rita yang mencoba menghindari Arya.


Kenapa aku merasa ada sesuatu yang Bu Rita sembunyikan? Bahkan sikap Mama, Papa dan Oma juga terlihat mencurigakan. Apa yang sebenarnya mereka coba sembunyikan dariku? Sebaiknya aku segera mencaritahu kebenarannya, ucap Arya dalam hati.


......................


Hari yang ditunggu-tunggu oleh Hesti dan Irwan akhirnya tiba juga. Hari ini Hesti dan Irwan akan mengucap janji suci pernikahan yang akan diselenggarakan di kediaman Irwan.


Kedua orangtua Irwan tadinya ingin menyelenggarakan pernikahan Hesti dan Irwan di Hotel berbintang lima dengan resepsi yang meriah serta mengundang semua kolega bisnis Papa Andi dan Irwan, tapi Hesti meminta supaya acaranya di adakan secara sederhana saja, bahkan Hesti memberikan usul supaya uang untuk pesta di sedekahkan saja untuk fakir miskin dan Anak Yatim.


Kedua orangtua Irwan menyetujui usul mulia Hesti untuk berbagi kepada fakir miskin dan Anak yatim, dan mereka sepakat untuk menggelar acara pernikahan Irwan dan Hesti di rumah saja dengan mengundang keluarga terdekat serta beberapa rekan bisnis yang berada di Kota Jakarta saja.


Hesti saat ini sudah terlihat cantik setelah selesai di dandani, tapi Hesti merasa sangat gugup.


"Hesti, kamu cantik sekali" puji Suci.


"Iya, Ibu juga pangling sekali melihat Hesti, karena biasanya Hesti tidak pernah dandan," tambah Bu Rita.


"Suci, Bu Rita, aku takut," ucap Hesti dengan lirih.


"Memangnya apa yang kamu takutkan?" tanya Suci yang merasa heran mendengar perkataan Hesti.


"Kata orang malam pertama itu sakit," bisik Hesti, dan Suci langsung terdiam mendengar perkataan Hesti, karena Suci selalu berusaha melupakan tragedi yang menimpanya ketika Arya merenggut paksa kehormatannya.


Bu Rita yang mendengar perkataan Hesti justru tertawa, karena saat ini wajah Hesti sudah terlihat ketakutan.


"Hesti, kamu tidak perlu takut seperti itu, sakitnya juga cuma sebentar, tanya saja pada Su_" ucapan Bu Rita terhenti ketika melihat wajah Suci yang terlihat murung.


"Suci maaf, Ibu tidak bermaksud mengingatkan kamu pada tragedi malam itu," ucap Bu Rita yang merasa bersalah karena saat ini Suci terlihat sedih.


"Suci tidak apa-apa kok Bu, jadi Ibu jangan merasa bersalah seperti itu, apalagi sekarang Mas Arya juga sudah menjadi Suami bahkan Ayah dari Anak-anak Suci. Ya sudah, kalau begitu sekarang kita ke luar, Irwan pasti sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon Istrinya," ujar Suci, kemudian menggandeng Hesti.


Hesti berjalan dengan di apit oleh Suci dan Bu Rita menuju tempat ijab kabul, dan semua mata kini tertuju pada ketiganya.

__ADS_1


Irwan sampai tidak mengedipkan mata melihat kecantikan calon Istrinya, begitu juga dengan Arya dan Papa Ferdi yang saat ini sedang menggendong Putri.


"Ekhem, awas mata kalian loncat," sindir Papa Andi kepada ketiga laki-laki yang saat ini tengah memuji kecantikan perempuan yang dicintainya.


"Kalau aku sih udah berhasil memiliki pujaan hatiku Om, tinggal giliran Irwan sama Om Ferdi," ujar Arya.


"Aku juga sama Hesti sebentar lagi Sah," ujar Irwan yang tidak mau kalah.


"Kalian sepertinya sengaja ya ingin membuat Om iri, karena sampai saat ini Rita masih belum bisa menerima Om kembali," ujar Papa Ferdi dengan tertunduk sedih.


"Om harus tetap semangat, Arya yakin kalau sebenarnya Bu Rita masih memiliki perasaan cinta untuk Om, hanya saja Bu Rita masih merasa takut jika Om kembali mengkhianatinya."


"Arya, Irwan, jangan sampai kalian mengikuti jejak Om yang sudah berselingkuh. Perempuan jika sudah kecewa pasti akan sulit untuk memaafkan, dan pada akhirnya yang tersisa hanyalah sebuah penyesalan yang besar," ujar Papa Ferdi.


"Iya Om, insyaallah Arya akan selalu menjaga mata dan hati Arya untuk Suci."


"Irwan juga tidak mungkin menyakiti hati perempuan yang Irwan cintai."


......................


Hesti dan Irwan saat ini sudah duduk berdampingan di depan Penghulu, dan keduanya sudah terlihat tegang ketika Irwan menjabat tangan Pak Penghulu yang akan menjadi Wali hakim untuk Hesti.


"Insyaallah saya sudah siap," jawab Irwan dengan mantap.


Setelah mengucap Basmalah, Penghulu memulai acara ijab kabul, kemudian Irwan mengucap ijab kabul pernikahan dalam satu helaan nafas, sampai akhirnya semua yang hadir di sana mengucap Hamdalah ketika mendengar suara para Saksi yang mengesahkan pernikahan Hesti dan Irwan.


"Bagaimana para Saksi?" tanya Pak Penghulu.


"Sah, sah, sah," jawab para Saksi secara serempak.


"Alhamdulillah," ucap semuanya secara bersamaan.


Irwan memasukan cincin pernikahan pada jari manis tangan kanan Hesti, kemudian Hesti mencium punggung tangan Irwan. Setelah itu Hesti bergantian memasukan cincin pernikahan pada jari manis tangan kanan Irwan, lalu Irwan mencium kening Hesti yang saat ini sudah Sah menjadi Istrinya.


"Terimakasih sayang, karena kamu sudah bersedia menjadi Istri dan Ibu dari Anak-anakku," ucap Irwan, dan Hesti hanya tersenyum serta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Banyak ucapan dan do'a dari para tamu undangan yang hadir pada acara pernikahan Hesti dan Irwan, dan Hesti menangis ketika Suci mengucapkan selamat kepadanya.


"Hesti, selamat ya, sekarang kamu sudah menjadi seorang Istri, semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warahmah," ucap Suci dengan memeluk tubuh Hesti.

__ADS_1


"Suci, aku hanya bisa mengucapkan terimakasih banyak atas semua kebaikan yang sudah kamu lakukan untukku, dan mungkin saat ini aku tidak akan berada di sini jika Tuhan tidak mentakdirkan kita bertemu. Terimakasih juga karena kamu sudah mau menjadi Teman sekaligus keluargaku," ucap Hesti dengan memeluk tubuh Suci.


Hesti sampai menitikkan airmata ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan Suci saat berada di dalam sel tahanan.


Suci mengelap airmata yang menetes pada pipi Hesti, begitu juga dengan Hesti yang mengelap airmata yang menetes pada pipi Suci.


"Irwan, aku titip saudaraku. Aku harap kamu selalu membahagiakannya dan jangan pernah sekali pun menyakiti Hesti," ucap Suci.


"Aku pasti akan menjaga dan mencintai Istriku dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku memang tidak bisa berjanji untuk tidak membuat Hesti menangis, tapi aku akan memastikan jika airmata yang ke luar adalah airmata bahagia," ujar Irwan dengan terus mengembangkan senyuman.


Setelah Irwan dan Hesti mengganti pakaian, acara pun dilanjutkan dengan sungkeman serta resepsi pernikahan.


Saat ini para tamu undangan sudah terlihat hadir, begitu juga dengan Farel dan Alina, sedangkan Bayi Alina yang bernama Ratu tidak mereka bawa.


Farel dan Alina naik ke atas panggung untuk mengucapkan selamat kepada Irwan dan Hesti.


"Bro selamat ya, semoga kalian menjadi keluarga bahagia," ujar Farel dengan memeluk tubuh Irwan.


"Makasih banyak kalian berdua sudah menyempatkan diri untuk menghadiri acara pernikahan kami," ucap Irwan.


"Kamu itu adalah Sahabat sekaligus Saudaraku, jadi sudah seharusnya kami hadir pada hari bahagia kalian. Maaf aku datangnya telat, soalnya tadi Ratu rewel, makanya kami tidak membawanya," ujar Farel.


Setelah berfoto dengan kedua mempelai, Farel dan Alina turun, dan Alina tidak sengaja berpapasan dengan Bu Rita.


Mata Bu Rita terlihat berkaca-kaca ketika melihat Alina. Bu Rita rasanya ingin sekali memeluk Anak kandungnya tersebut, tapi Alina malah memalingkan wajahnya, karena dalam hati Alina masih ada rasa benci terhadap Bu Rita.


Papa Ferdi yang melihat Alina hendak pergi, langsung saja mencegahnya.


"Alina, tunggu. Apa kamu lupa dengan janji yang telah kamu ucapkan?" ujar Papa Ferdi.


Alina mendengus kesal mendengar perkataan Papa Ferdi, kemudian Alina kembali membalikan badannya untuk menghampiri Bu Rita.


"Baiklah, sesuai janjiku, aku akan bersujud di kaki perempuan yang paling aku benci di Dunia ini," ucap Alina.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2