Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 132 ( Iri dan dengki mengotori hati )


__ADS_3

Hari ini Susi sudah mulai bekerja di Toko milik Suci, dan Susi terus memikirkan cara supaya bisa mendekati Arya, apalagi Arya selalu bersikap dingin terhadap nya.


Bagaimana caranya supaya aku bisa mendapatkan Mas Arya? Ternyata orangnya lebih dingin dan cuek dibandingkan dengan Mas Rian. Aku pikir dia mudah ditaklukan, apalagi melihat sikap dia yang begitu romantis kepada Suci, ucap Susi dalam hati.


"Susi, kamu baik-baik saja kan?" tanya Bu Inah yang melihat Susi melamun.


"Eh iya Bi, Susi baik-baik saja. Susi hanya merasa iri melihat Mbak Suci dan Mas Arya yang terlihat sangat romantis."


"Kamu ini ada-ada saja. Sebaiknya sekarang kamu ke gudang ambil tepung terigu, Nak Arya juga barusan pergi ke sana, kamu tanya saja sama dia."


Susi yang mendengar perkataan Bu Inah, bergegas melangkahkan kakinya menuju gudang, dan Susi sengaja membuka beberapa kancing baju bagian atasnya supaya Arya tergoda ketika melihat gunung kembarnya.


"Mas Arya, Susi mau ambil tepung terigu."


"Kamu ambil saja di sebelah sana," ujar Arya tanpa menoleh melihat Susi, karena sekarang Arya sedang sibuk membereskan barang.


"Mas Arya, karungnya berat, bisa bantuin Susi gak?" ucap Susi dengan suara manja.


Arya merasa kesal, karena Arya sudah tau niat buruk Susi.


"Susi, kalau kamu niat kerja, kamu kerja yang bener. Memangnya kamu pikir aku tidak tau kelakuan kamu sebenarnya?"


"Apa maksud Mas Arya berbicara seperti itu? Pasti Mbak Suci sudah menjelek-jelekan Susi saat Susi bekerja menjadi Baby Susternya."


"Kamu jangan bicara macam-macam tentang Istriku, Suci sudah berusaha menutupi kebusukan kamu dari Bu Inah dan Keluarga, tapi ternyata kamu memang perempuan tidak tahu diri," ujar Arya dengan nada tinggi.


"Mas Arya tidak tau kelakuan Mbak Suci saat di Kalimantan, apalagi Mas Arya pasti baru kenal sebentar kan dengan Mbak Suci sebelum Mas Arya menikahinya?"


"Kamu gak usah sok tau, karena kamu tidak tahu apa-apa. Sebaiknya sekarang kamu kembali kerja," ujar Arya dengan memberikan tepung terigu kepada Susi.


"Mas, aku tidak habis pikir, kenapa Mas memilih Janda yang sudah memiliki Anak?"


"Susi, tutup mulut kamu, kamu tidak tau apa-apa tentang kehidupan kami. Kalau kamu masih menjelek-jelekan Istriku, aku tidak akan segan-segan mengatakan tentang kelakuan kamu yang sudah mencoba menggoda Rian."


"Jadi Mas Arya percaya cerita Mbak Suci?"

__ADS_1


"Tentu saja, aku lebih percaya kepada Istriku dibandingkan kamu, jadi sebaiknya jaga batasan kamu, dan kamu harus berpakaian sopan, jangan kamu pikir aku akan tergoda dengan ja*lang seperti kamu," ujar Arya dengan penuh penekanan, kemudian pergi meninggalkan Susi yang terlihat geram.


Lihat saja Arya, sekarang kamu bisa menolakku, tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan kamu, ucap Susi dalam hati dengan mengepalkan kedua tangannya.


......................


Arya menghampiri Suci di meja kasir, kemudian Arya menyandarkan kepalanya pada bahu Suci.


"Papa kenapa?"


"Ma, Papa tidak mau Susi bekerja di sini. Barusan saja dia sengaja menggoda Papa. Apa tidak sebaiknya kita katakan kepada Bu Inah tentang kelakuan Susi?"


Suci terlihat berpikir, karena Suci tidak enak kepada Bu Inah dan Pak Maman jika memecat Susi di hari pertama dia kerja.


"Pa, sebenarnya Mama tidak enak sama Bu Inah dan Pak Maman kalau tiba-tiba memecat Susi di hari pertama dia kerja. Alasan apa yang akan kita berikan kepada mereka?"


"Papa juga bakalan ngerasa tidak enak Ma, tapi Papa tidak mau dekat-dekat dengan perempuan seperti itu."


"Begini saja, kalau dalam waktu satu bulan ini Susi masih saja bertingkah, kita kirim Susi ke Jawa timur buat kerja di Restoran peninggalan Mas Rian."


"Papa juga tadi sudah memberi peringatan sama dia, semoga saja dia tidak kembali bertingkah. Ya sudah, kalau begitu Papa ke rumah dulu mau Shalat Dzuhur, nanti kita gantian," ujar Arya, kemudian mencium kening Suci sebelum pergi.


"Lihat saja Suci, sebentar lagi aku akan merebut semua yang kamu miliki," gumam Susi.


Bu Inah yang tidak sengaja mendengar perkataan Susi, mencoba bertanya untuk memastikannya.


"Susi, apa yang barusan kamu katakan?" tanya Bu Inah, dan Susi terlihat gelagapan.


"Eh tidak Bi, Susi tidak mengatakan apa-apa."


"Tapi tadi Bibi dengar sendiri kalau kamu mau merebut semua yang Suci miliki."


"Mungkin Bibi cuma salah dengar, mana mungkin Susi berkata seperti itu. Bibi percaya kan sama Susi?"


"Susi, kamu memang Keponakan Bibi, tapi Suci sudah Bibi anggap sebagai Anak kandung Bibi sendiri. Suci adalah Anak yang baik, semenjak Suci kembali ke sini, Suci sudah membantu perekonomian Bibi, jadi Bibi harap kamu tidak melakukan sesuatu yang bisa menyakiti hati Suci, karena sama saja kamu akan menyakiti Bibi. Jangan sampai iri dan dengki mengotori hati kamu," ujar Bu Inah dengan mengusap pundak Susi.

__ADS_1


Terus aja bela si Suci. Kenapa sih semua orang lebih menyayangi si Suci? Apa hebatnya dia? Ucap Susi dalam hati yang sudah dikuasai oleh sifat iri dan dengki.


......................


Semenjak Susi diberi peringatan oleh Bu Inah dan Arya, Susi tidak banyak bertingkah supaya Bu Inah percaya terhadapnya, padahal dalam hati kecil Susi, Susi masih memikirkan cara untuk mendapatkan Arya.


Suci juga menambah satu pegawai laki-laki bernama Asep di tokonya, semua itu Suci lakukan agar Susi tidak meminta bantuan kepada Arya jika dia mengambil barang di gudang.


"Aku harus bermain cantik supaya bisa merebut Arya dari Suci, tapi bagaimana caranya? apalagi sekarang ada Asep yang selalu mengawasi gerak gerik ku. Aku tidak mau kalau sampai dipindahkan kerja ke Jawa timur, karena pasti aku akan semakin sulit mendapatkan Arya," gumam Susi.


Susi baru pulang jalan-jalan dari kota, tapi saat dia turun dari Bus, Susi tidak menemukan tukang ojek satu pun yang biasa mangkal di pangkalan ojek yang berjarak sekitar satu kilo meter dari rumah Bu Inah.


"Tukang ojek pada kemana sih? Baru juga jam sembilan udah pada sepi. Begini nih kalau tinggal di kampung," gerutu Susi yang terpaksa berjalan kaki.


Susi merasa takut karena harus berjalan melewati kebun singkong, apalagi Susi merasa ada seseorang yang mengikutinya sehingga Susi mempercepat langkahnya.


Brugh


Susi menabrak tubuh seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapannya, dan Susi semakin ketakutan ketika pria yang ditabraknya tiba-tiba mendekap tubuh Susi dengan erat.


"Lepaskan aku, siapa kamu?" teriak Susi yang tidak mengenali lelaki tersebut, karena lelaki tersebut menggunakan masker serta penutup kepala.


"Kamu tidak usah berteriak, karena di sini tidak akan ada yang mendengar teriakanmu. Bagaimana kalau malam ini kita bersenang senang? Bukannya kamu menginginkan kehangatan makanya kamu selalu berpakaian seksi untuk menggoda laki-laki," ujar lelaki misterius tersebut.


Susi terus memberontak ketika tubuhnya ditarik paksa oleh lelaki misterius menuju sebuah gubuk yang berada di tengah kebun singkong.


"Tolong, tolong," teriak Susi, tapi mulutnya dibekap oleh sapu tangan milik lelaki yang mencoba menodainya, kemudian baju Susi ditarik paksa hingga robek.


Lelaki bejat yang sudah tidak tahan melihat keindahan tubuh Susi, akhirnya melampiaskan hasratnya kepada Susi, dan Susi terlihat menitikkan airmata ketika kesuciannya berhasil direnggut oleh lelaki misterius tersebut.


Setelah selesai melampiaskan hasratnya, lelaki misterius tersebut pun bergegas pergi meninggalkan Susi yang sudah pingsan akibat perbuatannya.


"Susi, selama ini kamu selalu menolak cintaku karena kamu sudah berambisi untuk mendapatkan Arya. Sebentar lagi kamu pasti akan mendapatkan Arya, karena aku sudah mengambil imbalannya yaitu dengan tubuhmu."


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2