
Setelah acara pernikahan Susi dan Asep selesai, Suci dan Arya ikut pulang bersama Papa Fadil dan Oma Rahma menuju kediaman Argadana, karena saat ini kondisi kesehatan Mama Erina semakin memburuk.
Suci dan keluarganya memakai mobil Papa Fadil, sedangkan Papa Fadil ikut mobil Oma Rahma.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Argadana, Suci terlihat mengkhawatirkan Mama Erina, apalagi Suci teringat dengan mendiang Bu Rita yang meninggal setelah Alina mengakui Bu Rita sebagai Ibu kandungnya.
"Mama Erina pasti akan baik-baik saja, jadi Mama jangan terlalu khawatir," ujar Arya yang mencoba menghibur Suci.
"Iya Pa, semoga Mama Erina baik-baik saja. Mama tidak mau terjadi sesuatu yang buruk dengan Mama Erina, apalagi Mama belum meminta maaf atas kesalahan yang telah Mama lakukan."
......................
Bu Inah menyuruh Susi dan Asep untuk beristirahat, tapi Susi menolak tidur satu kamar dengan Asep.
"Susi, kamu sebaiknya bawa Asep istirahat ke dalam kamar kalian."
"Susi tidak mau satu kamar dengan dia Bi."
"Susi, sekarang Asep sudah menjadi Suami kamu, kamu harus bersikap sopan kepadanya."
"Aku tidak sudi mengakui dia sebagai Suami," teriak Susi.
"Susi, seharusnya kamu bersyukur karena Suci tidak melaporkan kamu kepada Polisi. Apa kamu ingin kami melaporkan semua kelakuan kamu supaya Suci menjebloskan kamu ke dalam Penjara? Kamu harus ingat dengan surat perjanjian yang telah kamu tanda tangani," ujar Bu Inah.
Sebelumnya Susi telah menandatangi surat perjanjian yang diberikan oleh Suci, dan isi dalam surat perjanjian tersebut menyatakan jika Susi bersedia untuk menikah dengan Asep, dan Susi akan memperlakukan Asep dengan baik. Jika Susi sampai melanggarnya, Susi bersedia dilaporkan kepada pihak berwajib.
"Bi, tidak apa-apa, sebaiknya Asep tidur di luar saja. Asep tau kalau Asep telah melakukan kesalahan yang sangat besar terhadap Susi, jadi wajar saja kalau Susi marah sama Asep."
"Tidak Asep, apa kata orang nanti kalau kamu dan Susi tidur terpisah? Apalagi sekarang malam pertama kalian."
Susi terpaksa mengijinkan Asep masuk ke dalam kamarnya, tapi setelah berada di dalam kamar, Susi langsung melemparkan bantal kepada Asep.
"Kamu sebaiknya tidur di bawah. Aku tidak mau satu ranjang dengan kamu, dan kamu jangan macam-macam, karena kalau kamu berani macam-macam aku akan berteriak," ujar Susi.
Asep tadinya ingin menuruti perintah Susi untuk tidur di atas lantai, tapi Asep teringat dengan perkataan Suci, kalau sebagai seorang Suami, Asep harus bersikap tegas supaya Susi tidak menginjak-injak harga dirinya.
__ADS_1
"Kalau kamu mau berteriak, silahkan saja kamu teriak. Sekarang aku sudah menjadi Suami kamu, jadi tidak akan ada orang yang berani masuk ke dalam kamar kita, karena aku berhak melakukan apa pun kepada Istriku," ujar Asep dengan mendekatkan wajahnya dengan wajah Susi, sehingga membuat jantung Susi berdetak kencang.
"A_apa yang akan kamu lakukan?" tanya Susi yang sudah terlihat gugup.
"Aku akan meminta hak ku sebagai Suami? Apa kamu akan melarangnya juga?" tanya Asep dengan tatapan tajam.
"A_aku tidak bisa."
"Kenapa kamu tidak bisa? Bukannya semalam kamu sangat menikmatinya?" bisik Asep pada telinga Susi sehingga membuat bulu kuduknya meremang.
"Susi, kamu tidak perlu takut, aku tidak akan meminta hak ku sebagai Suami sampai kamu bisa menerimaku, karena aku tau kalau kamu terpaksa menerima pernikahan ini," ujar Asep, kemudian menjauhkan tubuhnya dari Susi, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi membelakangi Susi.
Entah kenapa Susi merasa kecewa ketika melihat Asep menjauh darinya.
Kenapa denganku? Kenapa aku merasa kecewa saat Asep menjauh dariku? Kamu harus sadar Susi, Asep tidak pantas untuk kamu, jangan sampai aku jatuh cinta dengan lelaki seperti dia, ucap Susi dalam hati.
Susi ikut membaringkan tubuhnya di samping Asep, dan jantung Susi kembali berdetak kencang sehingga membuat Susi tidak bisa tidur.
"Kenapa sih aku tidak bisa tidur?" gumam Susi dengan sesekali mencuri pandang melihat Asep yang tidur membelakanginya.
......................
Suci dan keluarganya telah sampai di kediaman Argadana, dan semuanya bergegas menuju kamar Mama Erina.
"Dok, bagaimana keadaan Erina?" tanya Papa Fadil kepada Dokter Faris yang sedang memeriksa kondisi kesehatan Mama Erina.
"Nyonya masih belum sadar Tuan, suhu Tubuh Nyonya juga sangat panas, dan dari tadi Nyonya terus mengigau memanggil nama Nyonya Suci," jawab Dokter Faris.
Secara perlahan Suci menghampiri Mama Erina yang saat ini masih terbaring lemah.
"Suci, Suci, maafin Mama Nak," gumam Mama Erina dengan lirih.
"Ma, Suci sudah pulang. Sekarang Mama bangun, Mama harus sembuh. Maafin Suci Ma, Suci sudah menjadi Anak durhaka," ujar Suci dengan memeluk tubuh Mama Erina.
Secara perlahan Mama Erina mulai membuka matanya, kemudian Mama Erina tersenyum ketika melihat Suci.
__ADS_1
"Sayang, apa Mama sedang bermimpi?"
"Tidak Ma, Mama tidak bermimpi, ini memang Suci. Mama harus segera sembuh, bukannya Mama ingin merawat Cucu cucu Mama."
Mama Erina tersenyum bahagia melihat kedatangan Suci dan keluarganya.
"Nak, maafin Mama sayang, Mama sudah melakukan kesalahan besar terhadap Suci, Mama sangat menyesalinya," ujar Mama Erina dengan menangis.
"Tidak Ma, seharusnya Suci yang meminta maaf sama Mama. Suci seharusnya berbakti kepada Mama dan Papa, karena bagaimanapun juga Suci tidak akan ada di Dunia ini kalau tidak ada Mama dan Papa. Mulai sekarang Suci akan merawat Mama, dan Mama harus cepat sembuh supaya bisa bermain dengan Cucu cucu Mama."
"Iya Nak, Mama pasti akan segera sembuh kalau Suci yang merawat Mama. Terimakasih banyak karena Suci sudah mau memaafkan kesalahan Mama," ujar Mama Erina dengan memeluk tubuh Suci.
Semua yang berada di sana ikut menangis melihat Suci dan Mama Erina yang akhirnya saling memaafkan.
"Nak, apa Arya tidak mau memeluk Mama juga?" ujar Mama Erina dengan merentangkan tangannya kepada Arya, dan Arya langsung berhambur memeluk tubuh Mama Erina dan Suci.
"Nak, meski pun Arya bukan terlahir dari rahim Mama, tapi Mama sudah menganggap Arya seperti Anak kandung Mama sendiri, apalagi sekarang Arya sudah menjadi Anak Mama dan Papa juga, karena Arya sudah menikahi Putri kami."
"Makasih banyak karena kalian masih bersedia mengakui Arya sebagai keluarga," ucap Arya dengan lirih.
"Pa, meski pun pada kenyataannya Mama adalah Putri kandung keluarga Argadana, tapi Mama tidak akan pernah menggantikan posisi Papa sebagai Putra dari keluarga Argadana. Biarkan saja semua kebenaran ini hanya keluarga kita yang tau, dan Mama akan tetap menjadi Menantu keluarga Argadana," ujar Suci dengan tersenyum.
"Tidak sayang, Mama berhak mendapatkan status sebagai Putri dari keluarga Argadana, dan Papa akan mengembalikan semua yang sudah seharusnya menjadi milik Mama," ujar Arya dengan menangkup kedua pipi Suci.
"Pa, Papa sudah memberikan semua yang Papa miliki untuk kami, dan semua itu sudah lebih dari cukup. Papa juga sudah menjadikan Mama sebagai perempuan yang paling bahagia di Dunia ini dengan memberikan cinta dan kasih sayang, apalagi sekarang ikatan kita semakin kuat karena sudah memiliki Anak-anak. Yang penting kita semua selalu hidup bahagia dengan saling menyayangi."
Semuanya hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun saat mendengar keputusan Suci, karena semuanya tau jika Suci melakukan semua itu untuk nama baik keluarga Argadana.
Maafkan Mama Nak, semua ini terjadi karena kesalahan yang telah Mama lakukan. Mama tau kalau Suci melakukan semua itu untuk menjaga nama baik keluarga Argadana, karena kalau sampai orang luar mengetahui perbuatan Mama, mereka pasti akan menghina keluarga kita. Mama janji mulai sekarang dan seterusnya, Mama akan selalu menyayangi Suci dengan segenap jiwa dan raga Mama, batin Mama Erina.
*
*
Bersambung
__ADS_1