Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 209 ( Mulai membuka hati )


__ADS_3

Ratu sebenarnya ingin sekali melawan Hesti, tapi Ratu teringat dengan kondisi kesehatan Farel.


"Kalau aku melawan Mertua cerewet, pasti Daddy akan sedih, bahkan penyakit jantungnya akan semakin memburuk. Sebaiknya aku lakukan saja perintah dia, memangnya sesulit apa sih mengerjakan pekerjaan rumah?" gumam Ratu, kemudian melangkahkan kaki nya ke luar dari dalam kamar.


Ratu menghampiri Hesti dan Mama Maya yang sedang mengobrol di meja makan, dan Ratu terlihat celingukan mencari makanan, karena saat ini tidak ada satu piring makanan pun di atas meja.


"Kamu lagi nyari apa?" tanya Hesti.


"Ratu lapar Bunda. Memangnya Bunda tidak masak?"


"Apa kamu lupa, tadi aku sudah bilang, kalau kamu lapar, kamu masak saja sendiri. Enak saja pengen aku masakin, memangnya kamu pikir aku Pembantu kamu? Nasi nya masih banyak, tapi lauknya kamu masak sendiri. Terserah mau masak apa, kamu ambil saja di dalam kulkas," jawab Hesti dengan ketus.


Meski pun banyak bahan masakan di dalam kulkas, tapi selama ini Ratu tidak pernah memasak, sehingga Ratu merasa bingung mau masak apa.


"Sepertinya yang paling mudah cuma masak telur mata sapi," gumam Ratu, kemudian mengambil satu buah telur dari dalam kulkas.


Hesti dan Mama Maya terkejut ketika mendengar suara cipratan minyak, apalagi Ratu terdengar berteriak.


"Awww panas," teriak Ratu, karena tangannya terkena cipratan minyak.


"Ratu, kamu ini apa-apaan, memangnya kamu mau goreng telur berapa kilo?"


"Memangnya kenapa Bunda bertanya seperti itu?" tanya Ratu yang tidak tau maksud perkataan Hesti.


"Masak telur itu tidak perlu menggunakan minyak yang banyak, cukup sedikit saja," jawab Hesti, kemudian mengajari Ratu cara memasak telur.


Hesti bukannya ingin bersikap kejam terhadap Ratu, tapi Hesti melakukan semua itu karena ingin Ratu berubah. Ayu pernah bilang kalau Ratu tidak pernah mau masuk dapur, apalagi belajar memasak.


"Ratu, sekarang kamu sudah menjadi seorang Istri. Kamu harus belajar memasak, karena kodrat seorang perempuan itu harus bisa memasak serta mengurus semua kebutuhan Anak dan Suami," ujar Hesti.


"Kenapa sih harus repot-repot belajar masak segala? Kalau mau makan kan tinggal pesan saja, lagian Ratu juga sibuk kerja jadi model, jadi gak ada waktu buat ngurusin rumah sama Suami," ucap Ratu dengan entengnya.


Hesti menghela nafas panjang mendengar perkataan Ratu.


"Ratu, banyak wanita di luaran sana yang memiliki karier juga, tapi tidak sedikit dari mereka yang pintar mengolah makanan untuk menyenangkan keluarga. Kalau kita setiap hari beli makanan dari luar, kita tidak tau makanan yang kita pesan itu bersih atau tidak. Sebagai seorang Istri kita juga harus belajar hemat," ujar Hesti mencoba memberi pengertian terhadap Ratu.


"Bukannya keluarga ini kaya? Pasti tidak akan pernah kekurangan uang kan?" tanya Ratu.


"Ratu, sebanyak apa pun uang yang kita punya, pasti suatu saat akan habis juga apabila kita menggunakannya secara berlebihan. Sebaiknya sekarang kamu makan dulu, tapi kamu harus ingat, mulai besok kamu harus bangun Subuh. Di rumah ini memiliki aturan, kamu harus membiasakan diri Shalat berjamaah bersama kami, setelah itu kamu belajar masak bersama Bunda dan Oma," ujar Hesti.


Hesti merasa tidak tega ketika melihat tangan Ratu melepuh, kemudian Hesti mengoleskan salep pada tangan Ratu yang terkena cipratan minyak tersebut, begitu juga dengan Mama Maya yang kembali mengeluarkan makanan yang sebelumnya di sembunyikan di dalam lemari untuk Ratu makan.


"Sekarang kamu makan. Kami tidak bermaksud jahat sama kamu, hanya saja kami ingin kamu berubah menjadi lebih baik lagi. Bunda menaruh harapan banyak kepada kamu supaya kamu bisa membantu Nanda melupakan Arsyi, Bunda tau kalau Nanda tersiksa karena masih belum bisa melupakan Arsyi," ujar Hesti dengan menitikkan airmata, kemudian Hesti dan Mama Maya pergi meninggalkan Ratu yang terlihat berpikir.


"Ternyata Bunda Hesti tidak seperti yang aku pikirkan. Mungkin Bunda Hesti pikir, kalau aku bersikap baik, Nanda secara perlahan mau menerimaku menjadi Istrinya, tapi untuk apa aku melakukan semua itu? Aku juga sama sekali tidak mencintai Nanda," gumam Ratu yang berada dalam dilema.

__ADS_1


......................


Dua bulan kemudian..


Lain hal nya dengan pasangan Nanda dan Ratu yang masih seperti Tom And Jerry ketika keduanya bertemu, Arsyi sudah berusaha membuka hatinya untuk Iqbal, karena Arsyi tidak mau mengecewakan keluarganya apabila terus-terusan terpuruk dalam kesedihan.


Iqbal sudah satu bulan ini bekerja di Argadana Grup, tapi setiap libur kerja, Iqbal membantu mencari buah-buahan dan sayuran untuk memajukan usahanya yang saat ini di kelola oleh ketiga Kakaknya.


Iqbal juga sudah mulai turun mengelola Restoran peninggalan Rian, tapi Iqbal masih mempercayakan Restoran yang berada di Jawa Timur untuk dikelola oleh Asep, begitu juga dengan tiga Restoran lainnya yang masih dikelola oleh orang-orang kepercayaannya, dan Iqbal hanya sesekali datang ke Restoran untuk memantau usah peninggalan mendiang Rian tersebut.


Hari ini Iqbal sudah janjian dengan Bang Rojali untuk melihat perkebunan mangga yang sebelumnya dia beli, dan lokasi perkebunan tersebut berada di kota Bogor.


"Sayang, Ayah berangkat kerja dulu ya," ujar Iqbal dengan mencium perut Arsyi yang sudah mulai membesar.


"Kak, Arsyi boleh ikut tidak? Arsyi bosen di rumah terus."


"Sayang, tapi Arsyi masih sering mual sama muntah, Kakak tidak mau kalau Tuan Putri dan Bayi kita sampai kenapa-napa, apalagi perjalanan Kakak kali ini cukup jauh," ujar Iqbal dengan mengusap lembut rambut Arsyi.


Arsyi terlihat cemberut sehingga membuat Iqbal tidak tega.


"Ya sudah, gak usah cemberut seperti itu. Sekarang Tuan Putri ganti dulu pakaiannya," ujar Iqbal.


Arsyi tersenyum bahagia, saking bahagianya Arsyi reflek mencium pipi Iqbal.


"Makasih Ayah," ucap Arsyi, kemudian berlalu ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Iqbal tersenyum dengan memegangi pipi yang dicium oleh Arsyi, karena baru kali ini Arsyi berinisiatif untuk menciumnya.


"Baru juga di cium pipi rasanya hatiku sudah berbunga-bunga, apalagi kalau di cium yang lainnya," gumam Iqbal.


Setelah Arsyi selesai bersiap, Iqbal dan Arsyi ke luar dari dalam kamarnya yang sudah pindah di lantai bawah, karena semua keluarga takut kalau Arsyi sampai terjatuh apabila naik turun tangga.


"Abang sama Mpok sudah lama nunggu ya?" tanya Iqbal yang melihat Rojali dan Cindi menunggu di ruang tamu.


"Enggal kok, kami berdua baru saja datang," jawab Rojali.


"Bang, Arsyi katanya mau ikut juga, kita pakai mobil Iqbal saja ya, tapi Abang yang nyetir supaya kami berdua bisa pacaran," ujar Iqbal sambil cekikikan.


"Hemm kalian sengaja ya mau bikin iri yang jomblo?" ujar Cindi.


"Makanya cepetan cari pacar Mpok, nanti keburu jadi perawan tua lho," sindir Iqbal.


"Salah sendiri, kenapa kamu terlahir jadi Adik aku, seandainya kamu bukan Adik aku, pasti aku sudah nikahin kamu," celetuk Cindi, dan Rojali langsung menyenggol tangan Cindi karena melihat perubahan wajah Arsyi.


Arsyi merasa cemburu ketika mendengar perkataan Cindi, apalagi semenjak hamil Arsyi menjadi lebih sensitif dan ingin selalu berada di dekat Iqbal.

__ADS_1


"Arsyi, maaf ya Mpok cuma bercanda," ujar Cindi yang merasa tidak enak kepada Arsyi.


"Tidak apa-apa kok Mpok, Arsyi juga gak cemburu."


"Yakin gak cemburu?" ujar Iqbal dengan mendekatkan wajahnya dengan wajah Arsyi.


"Apaan sih Kak, gak enak ada orang lain."


"Kalau gak ada oranglain berarti boleh dong?" bisik Iqbal pada telinga Arsyi sehingga membuat bulu kuduknya meremang.


"Hadeuh, pasangan Pengantin baru memang masih hangat-hangat nya ya. Yuk berangkat mungpung masih pagi," ujar Rojali dengan menarik tangan Cindi ke luar dari dalam rumah keluarga Argadana.


Setelah Iqbal dan yang lainnya berpamitan kepada Suci dan Mama Erina yang sedang merawat bunga di Taman. Iqbal dan yang lainnya berangkat menuju Perkebunan mangga.


Sepanjang perjalanan, Arsyi mengalami mual bahkan muntah, dan Iqbal terus memijit tengkuk leher Arsyi serta mengoleskan kayu putih pada tengkuk lehernya.


"Akhirnya sampai juga, Arsyi udah gak kuat."


"Tuan Putri bandel sih, Kakak kan tadi sudah bilang gak usah ikut."


Arsyi tidak menghiraukan perkataan Iqbal, karena saat ini matanya langsung berbinar ketika melihat banyak pohon mangga yang berbuah lebat sehingga membuat Arsyi ngiler.


"Kak Arsyi pengen mangga muda."


"Tunggu sebentar ya sayang, yang mau petik mangganya masih belum datang," ujar Iqbal.


"Gak mau, Arsyi pengennya sekarang."


"Kalau begitu biar Bang Rojali saja yang naik," ujar Rojali, karena kebetulan pohon mangganya cukup tinggi.


"Arsyi pengen mangga yang dipetik sama Kak Iqbal."


"Sayang, tapi Kakak gak bisa naik."


"Ya sudah, kalau gak mau gak apa-apa, palingan juga nanti Anak kita ileran," ujar Arsyi dengan cemberut.


"Udah Iqbal cepetan naik, Mpok gak mau kalau nanti Ponakan Mpok sampai ileran. Masa naik pohon mangga aja gak bisa, kamu biasanya juga naik gunung kembar," celetuk Cindi, sontak saja semua itu membuat Iqbal salah tingkah.


"Emang kapan Kak Iqbal naik gunung kembar?" tanya Arsyi yang tidak mengerti maksud perkataan Cindi.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2