
Semua orangtua murid sudah duduk di atas kursi yang disediakan oleh Panitia, dan acara kenaikan kelas serta wisuda pun akhirnya dimulai.
Satu persatu Siswa Siswi TK kelompok B dipanggil untuk naik ke atas panggung, dan Rizky yang pertama kali dipanggil oleh Gurunya, karena Rizky kembali mendapatkan peringkat pertama.
"Kami panggil Wisudawan atas nama Rizky Putra Argadana, Putra dari Tuan Arya Putra Argadana dan Nyonya Suci Pratiwi," ujar salah satu Guru Rizky yang menjadi pembawa acara.
Rizky naik ke atas panggung. Selain menerima ijazah kelulusannya, Rizky juga menerima piagam penghargaan serta piala.
"Selamat ya Rizky, karena Rizky selalu menjadi yang terbaik selama belajar di Sekolah ini, semoga Rizky semakin berprestasi di SD nanti. Sekarang Rizky bisa mengatakan apa yang ingin Rizky sampaikan," ujar Miss Novi, kemudian memberikan mikropon kepada Rizky.
Rizky mengucap salam sebelum menyampaikan ucapan terimakasih untuk semuanya.
"Terimakasih Ibu dan Bapak Guru yang sudah membimbing kami, semoga kebaikan Ibu dan Bapak Guru dibalas oleh Allah SWT. Terimakasih juga kepada Mama dan Papa yang selalu berjuang membesarkan Rizky dan Adik-adik dengan penuh cinta dan kasih sayang. Rizky sayang semuanya."
Semuanya bertepuk tangan untuk Rizky, bahkan Suci dan Arya sampai menitikkan airmata.
"Ma, sekarang Anak kita sudah besar," ujar Arya dengan menitikkan airmata bahagia, kemudian Arya dan Suci menghampiri Rizky untuk menjemputnya turun dari atas panggung.
"Semoga Rizky selalu menjadi kebanggan keluarga ya," ucap Suci dan Arya dengan memeluk serta mencium Rizky.
Iqbal terkadang merasa iri kepada Rizky dan Arsyila, karena kedua saudaranya selalu membanggakan keluarga, sedangkan Iqbal belum satu kali pun membuat kedua orangtuanya merasa bangga.
Kapan aku bisa membuat Mama dan Papa bangga? Padahal aku sudah bekerja keras supaya bisa masuk sepuluh besar, tapi kenapa aku tidak pernah bisa sepintar Rizky dan Arsyi, ucap Iqbal dalam hati.
Miss Novi kembali memanggil Siswa dan Siswi Anak didiknya, dan yang menjadi juara kedua didapatkan oleh Putri.
"Apa Putri ingin menyampaikan sesuatu?" tanya Miss Novi, dan Putri menganggukkan kepalanya, kemudian mengambil mikropon yang diberikan Miss Novi.
Sama dengan Rizky, Putri mengucap salam serta mengucapkan terimakasih kepada Guru-gurunya, sampai akhirnya perkataan Putri terhenti ketika mengucapkan terimakasih kepada kedua orangtuanya, karena Alina tidak datang pada acara tersebut.
Putri terlihat menangis, karena Putri juga ingin seperti Teman-temannya yang mendapatkan kasih sayang serta perhatian dari kedua orangtuanya.
Farel bergegas menghampiri Putri dengan naik ke atas panggung, kemudian Farel memeluk tubuh Putri dengan erat.
__ADS_1
"Putri jangan sedih ya, meski pun Mommy tidak bisa datang, tapi masih ada Daddy yang akan selalu ada di samping Putri, dan Daddy bangga sama Putri," ujar Farel dengan menggendong Putri turun dari atas panggung, sampai akhirnya terdengar tepuk tangan dari semua yang hadir di sana.
Semuanya merasa kasihan melihat Putri dan Farel, karena sudah dua kali Putri naik ke atas panggung, tapi hanya Farel yang mendampinginya.
Satu persatu para Wisudawan dan Wisudawati naik ke atas panggung dan Iqbal terlihat menangis karena menjadi peserta paling akhir, yang artinya Iqbal kembali mendapatkan rangking terakhir.
Suci dan Arya menghampiri Iqbal yang masih berada di atas panggung, kemudian keduanya memeluk Iqbal dengan penuh kasih sayang.
"Iqbal sayang, Iqbal jangan menangis ya Nak. Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing masing, jadi Iqbal tidak boleh pesimis. Mama dan Papa yakin jika suatu saat nanti Iqbal akan menjadi orang yang sukses, asalkan Iqbal mau terus berusaha," ucap Suci dengan menciumi wajah Iqbal.
"Ma, Pa, maaf kalau Iqbal selalu membuat Mama dan Papa malu, dan Iqbal tidak pernah membuat kalian merasa bangga."
"Sayang, Iqbal tidak boleh berkata seperti itu, Mama sama Papa akan selalu merasa bangga kepada Iqbal, karena Iqbal sudah menjadi Anak yang baik," ujar Arya.
Iqbal tersenyum bahagia mendengar perkataan Arya dan Suci, kemudian Iqbal turun dari atas panggung dengan digandeng oleh kedua orangtuanya.
Semuanya bertepuk tangan sekaligus merasa iri ketika melihat keharmonisan rumah tangga Suci dan Arya, apalagi keduanya terlihat sangat menyayangi ketiga Anaknya.
"Iya Bunda, mereka memang selalu menjadi pasangan terbaik," ujar Irwan.
Setelah acara wisuda selesai, acara pun dilanjutkan dengan pembagian hadiah untuk kelompok A, dan Arsyila kembali mendapatkan peringkat pertama, sedangkan Adinda peringkat kedua dan Ananda peringkat ketiga.
"Kenapa sih Ratu gak dapat hadiah juga?" gumam Ratu dengan cemberut.
"Ratu harus belajar lebih giat lagi, biar nanti Kak Putri yang akan ajarin Ratu," ujar Farel.
"Ratu gak mau diajarin sama Putri, Ratu maunya di ajarin sama Kak Rizky yang lebih pintar dan pastinya sangat tampan," ujar Ratu dengan mata yang berbinar ketika membayangkan wajah Rizky yang sudah menjadi idola di Sekolah.
"Ratu itu masih kecil, jadi Ratu tidak boleh genit terhadap laki-laki.," ujar Farel yang mencoba memberikan pengertian.
"Kalau begitu nanti setelah Ratu besar, Ratu akan mengejar Kak Rizky."
Dinda yang juga mengidolakan Rizky, tidak terima ketika mendengar perkataan Ratu.
__ADS_1
"Ratu tidak boleh mengejar Kak Rizky, karena Kak Rizky hanya milik Dinda."
Irwan dan Farel menepuk jidat mendengarkan kedua Anaknya yang sudah memperebutkan Anak sulung Arya, sedangkan Arya tertawa melihat Farel dan Irwan.
"Kalian pasti iri kan melihat Anakku yang sudah menjadi bahan rebutan Anak-anak kalian? Siapa dulu dong Papa nya, Rizky tampan dan pintar kan karena turunan dariku," ujar Arya sehingga membuat Irwan dan Farel memutar malas bola matanya.
"Papa tidak usah sombong seperti itu, Rizky memang tampan karena turunan dari Papa, tapi Rizky pintar karena Mamanya juga pintar," ujar Suci.
"Iya, iya, Istriku sayang memang yang terbaik," ujar Arya yang selalu mengalah kepada Suci.
"Dasar Susis," ledek Farel.
"Arya sepertinya takut disuruh puasa kalau dia gak ngalah sama Suci," ledek Irwan, dan Arya hanya diam tidak berkutik, karena Arya memang takut kalau Suci sampai marah apalagi sampai menyuruhnya puasa.
"Awas saja kalian," bisik Arya pada Farel dan Irwan, sontak saja semua itu membuat keduanya berhenti tertawa.
"Bunda, kenapa Ayah bilang kalau Om Arya takut disuruh puasa sama Tante Suci? Sekarang kan masih belum bulan Ramadhan?" tanya Dinda yang merasa penasaran.
"Makanya kalau di depan Anak kecil jangan suka bicara yang aneh-aneh," ujar Hesti yang bingung untuk menjawab pertanyaan Dinda, sedangkan Irwan, Arya dan Farel diam tidak berkutik setelah disemprot oleh Hesti.
Suci mencoba memberikan penjelasan kepada Dinda supaya Dinda dan Anak-anak yang lainnya bisa mengerti maksud dari kata puasa.
"Dinda sayang, puasa itu tidak harus bulan Ramadhan saja, karena masih banyak puasa sunah yang bisa dikerjakan selain bulan Ramadhan, seperti puasa sunah hari senin dan kamis. Jadi, nanti semuanya belajar puasa sunah juga ya," ujar Suci.
Ketiga Papa muda yang berada di sana bisa bernafas lega karena Anak-anaknya bisa menerima penjelasan yang diberikan oleh Suci.
"Selamat, selamat," ucap Arya, Irwan dan Farel secara bersamaan dengan mengelus dada, sedangkan Suci dan Hesti menatap ketiganya dengan tatapan tajam.
*
*
Bersambung
__ADS_1