
Iqbal begitu syok setelah mengetahui jika dirinya bukanlah Anak kandung Arya dan Suci, kemudian Iqbal memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya.
"Jadi selama ini aku hanyalah Anak angkat? Kenapa, kenapa Mama sama Papa tega sekali menyembunyikan semua ini?" gumam Iqbal dengan airmata yang terus menetes membasahi pipinya.
Iqbal tidak tau harus berbuat apa, rasanya Iqbal belum siap untuk bertemu dengan keluarga yang selama ini telah membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Iqbal teringat jika dirinya sudah memiliki janji untuk main ke rumah Erik yaitu teman kuliahnya di luar negeri yang kebetulan kembali ke tanah air bersama dengan Iqbal.
"Sebaiknya sekarang aku ke rumah Erik saja. Rasanya untuk saat ini aku belum siap bertemu dengan Mama dan Papa, aku tidak tau harus bagaimana menghadapi mereka," gumam Iqbal.
Iqbal terlebih dahulu menelpon Erik untuk meminta alamat rumahnya, tapi saat ini Erik sedang berada di salah satu klub malam yang berada di Ibukota.
Erik menyuruh Iqbal supaya menyusulnya ke klub malam, tapi ketika Iqbal sampai di depan klub malam, Iqbal merasa ragu untuk masuk, karena sebelumnya Iqbal belum pernah masuk ke tempat seperti itu.
"Iqbal, ngapain loe bengong di luar? cepetan masuk, gue sengaja ngadain parti untuk merayakan kepulangan kita," ujar Erik dengan menarik tubuh Iqbal untuk masuk.
"Erik, kamu tau sendiri kan kalau aku belum pernah masuk ke tempat seperti ini, orangtuaku pasti akan marah jika mengetahuinya," ujar Iqbal.
"Gue tau kalau loe itu gak pernah mau masuk ke tempat beginian, loe itu bukan Anak kecil lagi, makanya sekarang loe coba minum, gue jamin semua masalah loe pasti bakalan hilang. Sekarang kita bakalan happy happy," ujar Erik dengan terus menenggak minuman beralkohol, bahkan Erik memanggil dua perempuan penghibur yang bekerja di tempat tersebut.
Iqbal merasa risih ketika salah satu perempuan penghibur berusaha mendekatinya.
"Maaf Mbak, tolong jangan dekat dekat," ujar Iqbal dengan menepis tangan perempuan penghibur tersebut ketika hendak memeluk tubuhnya.
"Sayang, Teman kamu sombong banget sih," ujar salah satu perempuan penghibur yang Iqbal tolak dengan bergelayut manja pada tubuh Erik.
"Dia emang anti perempuan, sebaiknya kalian berdua layani aku saja. Iqbal, kalau kamu tidak mau mereka layani, kamu harus mencoba sedikit saja minuman ini supaya kamu bisa melupakan masalah kamu," ujar Erik dengan memberikan segelas minuman beralkohol kepada Iqbal.
Iqbal yang memang sedang banyak pikiran langsung menenggak habis minuman tersebut.
"Erik, kepala ku pusing," gumam Iqbal yang baru pertama kali merasakan minuman beralkohol.
"Loe payah banget sih, sebaiknya loe minum lagi biar pusing loe hilang," ujar Erik dengan terus memberi Iqbal minum sampai akhirnya Iqbal tidak sadarkan diri.
"Sayang, Teman kamu pingsan," ujar salah satu perempuan penghibur.
"Loe nyusahin gue aja sih Iqbal, kalau begitu sekarang kalian berdua bantu aku bawa dia ke kamar yang sudah aku pesan, sekalian kita bermain di sana," ujar Erik yang sudah setengah mabuk.
__ADS_1
......................
Di kediaman Argadana, Suci memanggil Iqbal untuk makan malam, tapi ketika Suci membuka pintu kamar Iqbal, Iqbal tidak ada di dalam kamar nya.
"Kemana Iqbal? tumben Iqbal ke luar tidak minta ijin dulu," gumam Suci.
Suci memutuskan untuk kembali bergabung ke meja makan, karena saat ini semuanya sudah berkumpul untuk makan malam.
"Ma, mana Iqbal? Kenapa gak ikut turun sama Mama?" tanya Arya.
"Iqbal tidak ada di kamarnya Pa, padahal Iqbal biasanya selalu ijin kalau mau ke luar," jawab Suci.
"Tadi Iqbal bilang mau ke rumah Erik, Rizky kira Iqbal sudah minta ijin dulu sama Mama Papa, soalnya tadi waktu Rizky sama Papa baru pulang kerja, Iqbal bilang mau ke kamar Mama untuk meminta ijin," ujar Rizky.
Degg
Suci dan Arya terkejut ketika mendengar perkataan Rizky, mereka takut jika Iqbal mendengar percakapan Suci dan Arya tadi sore tentang siapa Iqbal sebenarnya.
"Mama jangan khawatir, Iqbal pasti baik-baik saja," ujar Arya dengan menggenggam erat tangan Suci.
Suci dan Arya mengatakan kepada Arsyi tentang rencana keberangkatan mereka ke Singapura pada esok hari, dan keduanya sudah memutuskan untuk menitipkan Arsyi di rumah Farel.
Suci hanya mempekerjakan satu Asisten rumah tangga di rumahnya, karena Suci lebih suka mengerjakan semuanya sendirian.
"Ma, Arsyi gak biasa menginap di rumah orang lain, di sini juga ada Kak Rizky sama Kak Iqbal, jadi Mama sama Papa tidak perlu khawatir."
Entah kenapa Suci justru merasa khawatir apabila meninggalkan Arsyi dan Iqbal, apalagi setelah Suci mengetahui perasaan keduanya.
"Mama tidak perlu khawatir, Rizky dan Iqbal pasti akan menjaga Arsyi dengan baik, Rizky juga sudah minta ijin dari Rumah Sakit, jadi selama Mama dan Papa tidak ada, Rizky tidak akan ke luar rumah selain pergi ke kantor, lagian kalau siang kami bertiga juga bekerja," ujar Rizky yang mencoba menenangkan Suci supaya tidak terlalu mencemaskan Arsyi.
"Mama percaya sama Rizky. Kami titip Arsyi ya Kak," ujar Suci, dan Rizky menganggukkan kepalanya serta tersenyum sebagai jawaban.
......................
Keesokan paginya, Suci dan Arya sudah bersiap untuk berangkat, tapi Suci merasa khawatir karena semalam Iqbal tidak pulang, bahkan handphone Iqbal tidak bisa dihubungi karena Iqbal sengaja mematikan handphone nya.
"Pa, kenapa ya semalam Iqbal tidak pulang? Apa kemarin Iqbal mendengar percakapan kita?" ujar Suci.
__ADS_1
"Kalau Iqbal mendengar pembicaraan kita, Iqbal pasti sudah meminta penjelasan kenapa kita menyembunyikan semuanya. Iqbal sudah besar, jadi Mama tidak perlu khawatir. Sebaiknya kita berangkat sekarang, Papa juga sudah menyuruh Asisten Edwin untuk mempersiapkan jet pribadi milik Argadana grup," ujar Arya, kemudian mengajak Suci ke luar dari dalam kamarnya.
Setelah selesai sarapan, Arya, Suci, Mama Erina dan Bi Darsih, berpamitan kepada Arsyi dan Rizky yang sudah bersiap untuk berangkat kerja juga.
Suci dan Arya bergantian memeluk Arsyi dan Rizky, dan Suci terus saja mewanti wanti Rizky supaya menjaga Adiknya dengan baik.
"Kalian jaga diri baik-baik ya. Ingat Kak, jaga Adiknya, jangan sampai Tuan Putri kita kenapa-napa. Sekarang kami berangkat dulu ya," ujar Suci yang merasa berat untuk meninggalkan Anak-anaknya.
Suci dan Arya mengucap salam ketika masuk ke dalam mobil, akan tetapi entah kenapa perasaan Suci tidak enak ketika meninggalkan kediaman Argadana.
"Mama tidak perlu khawatir seperti itu, Anak-anak sudah besar, mereka pasti bisa menjaga diri dengan baik," ujar Arya yang terus berusaha menenangkan Suci.
Setelah kepergian kedua orangtuanya, Arsyi dan Rizky memutuskan untuk pergi bekerja.
"Kak, Arsyi duluan ya," ujar Arsyi dengan mencium punggung tangan Rizky.
"Gak mau Kakak antar De?" tanya Rizky.
"Gak usah Kak, Arsyi bawa mobil sendiri aja, lagian butik Arsyi juga berlawanan arah sama kantor Kakak."
"Ya sudah, kalau begitu Arsyi hati-hati ya bawa mobilnya, nanti kalau Kakak pulang malam, Arsyi telpon Kak Iqbal aja supaya pulang menemani Arsyi," ujar Rizky.
"Oke siap, Kakak juga hati-hati," ujar Arsyi kemudian mengucapkan salam saat masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan menuju Butik, Arsyi terus saja kepikiran dengan Iqbal.
"Kenapa semalam Kak Iqbal tidak pulang? Apa Kak Iqbal marah sama aku?" gumam Arsyi.
Arsyi tidak bisa fokus bekerja karena terus memikirkan Iqbal, bahkan Arsyi sampai melewatkan makan siang.
"Kenapa sih aku terus saja memikirkan Kak Iqbal?" gumam Arsyi.
Arsyi terkejut ketika merasakan tangan seseorang yang menutup kedua matanya.
"Tebak, aku siapa?" ujar lelaki yang saat ini berada di belakang Arsyi.
*
__ADS_1
*
Bersambung