
Farel sudah diperbolehkan pulang setelah dirawat selama tiga hari di Rumah Sakit, dan Farel begitu bahagia karena selama dia sakit, Ayu selalu merawatnya dengan baik.
"Alhamdulillah, akhirnya Mas bisa pulang juga. Mas sudah kangen masakan Istri Mas yang cantik ini," ujar Farel dengan bersandar pada bahu Ayu.
"Mas, tidak enak ada orang lain," bisik Ayu, karena saat ini keduanya sedang berada di dalam taksi.
"Tidak apa-apa sayang, kita kan Suami Istri. Sayang, nanti setelah Mas sembuh, kita ngadain resepsi pernikahan ya, supaya nanti kita bisa memiliki fhoto pernikahan untuk kenang-kenangan," ujar Farel dengan mencium tangan Ayu.
"Mas, bukannya Ayu tidak ingin mengadakan resepsi, hanya saja saat ini Mbak Alina sedang sakit, dan Ayu tidak ingin membuat hati Mbak Alina semakin sakit jika melihat kita berdua bersanding di pelaminan. Sebaiknya kita mengadakan syukuran secara sederhana saja ya. Kalau ingin memiliki fhoto pernikahan, kita kan bisa sewa baju pernikahan sekalian make up nya, nanti kita berfoto di Studio fhoto saja."
Farel tersenyum bahagia mendengar perkataan Ayu, karena Farel tidak menyangka jika Ayu masih saja memikirkan perasaan oranglain.
"Kenapa Mas tersenyum? Mas gak marah kan sama Ayu?"
"Mas bersyukur karena bisa mendapatkan Istri sebaik Ayu. Ayu masih saja memikirkan perasaan oranglain, padahal kalau perempuan lain pasti menginginkan resepsi pernikahan yang mewah," jawab Farel.
"Bagaimanapun juga Mbak Alina adalah Ibu dari Anak-anak kita yang harus selalu kita hormati. Oh iya, sekarang kita mau jemput Ratu dulu atau langsung pulang?" tanya Ayu, karena saat ini Ratu masih berada di kediaman Argadana.
"Kita langsung pulang saja ya, supaya kita bisa bulan madu dulu," goda Farel, sehingga membuat pipi Ayu bersemu merah.
Setelah sampai rumah, Ayu terkejut karena Farel tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
"Mas mau ngapain? Sebaiknya Mas turunin Ayu, bagaimana kalau nanti luka di perut Mas robek lagi?" tanya Ayu yang merasa khawatir sekaligus malu.
"Sayang, Mas sudah sembuh, jadi sekarang Mas mau ngajak Istri Mas yang cantik ini ke dalam kamar pengantin kita," ujar Farel yang langsung membawa Ayu masuk ke dalam kamar.
Ayu terkejut ketika Farel membawanya masuk ke dalam kamar yang sudah dirias menjadi kamar pengantin.
"Kamarnya indah sekali. Kapan Mas mempersiapkan semuanya?" tanya Ayu yang saat ini sudah duduk di atas ranjang pengantin.
"Sebenarnya Arya dan Suci yang melakukan semua ini, mereka sengaja menyuruh orang untuk mendekor kamar kita menjadi kamar pengantin, katanya sih sebagai kado pernikahan," jawab Farel dengan tersenyum.
"Teh Suci sama Mas Arya memang baik ya. Ayu beruntung karena bisa mengenal mereka."
"Jadi cuma mereka saja yang baik? Lalu bagaimana dengan Suami Ayu yang tampan ini?" tanya Farel dengan mendekatkan wajahnya.
"Mas Farel juga baik, bahkan sangat baik, makanya Ayu jatuh cinta sama Mas Farel," jawab Ayu dengan tertunduk malu.
Jantung Ayu berdetak kencang ketika Farel mencium bibirnya, bahkan saat ini tangan Farel mulai menjelajahi seluruh bagian tubuhnya.
"Sayang, apa boleh Mas melakukannya?" tanya Farel dengan mata yang sudah berkabut oleh gairah, dan Ayu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Farel merasa kesusahan ketika hendak melakukan penyatuan dengan Ayu, apalagi Ayu terus meringis kesakitan sehingga Farel merasa tidak tega.
__ADS_1
Kenapa susah sekali? Apa Ayu masih perawan? Ucap Farel dalam hati.
Farel begitu terkejut ketika melihat darah yang ke luar dari bagian tubuh inti Ayu, karena dugaannya benar.
Ternyata Ayu masih perawan. Aku lupa kalau sebelumnya Ayu pernah bilang jika Suaminya meninggal dunia setelah mengucap ijab kabul, dan pasti Ayu belum melewati malam pertama dengan Suami pertamanya. Aku sangat beruntung karena bisa menjadi yang pertama untuk Ayu, semoga Ayu menjadi yang terakhir untuk ku, ucap Farel dalam hati.
......................
Satu minggu sudah Alina dirawat di Rumah Sakit. Selama itu, Alina beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri, tapi Putri dan Bi Darmi selalu berhasil menggagalkannya.
"Mom, Putri mohon, Mommy jangan mencoba bunuh diri lagi ya, karena itu merupakan dosa yang sangat besar, dan Tuhan tidak akan menerima orang yang meninggal karena bunuh diri," ujar Putri dengan menangis memeluk tubuh Alina.
"Nak, sekarang hidup Mommy sudah hancur, Mommy sudah kehilangan segalanya, Mommy sudah tidak memiliki apa pun lagi di Dunia ini, bahkan Mommy sudah tidak memiliki tempat tinggal," ujar Alina dengan menangis, karena Alina selalu merasa putus asa dengan keadaannya.
"Mommy jangan bicara seperti itu, kita masih memiliki Tuhan, Mommy juga masih memiliki Putri dan Ratu. Apa Mommy tidak peduli dengan perasaan kami?"
Alina termenung mendengar perkataan Putri, karena saat ini Alina sudah benar-benar berada pada titik terendah dalam hidupnya.
Hari ini Alina sudah diperbolehkan pulang, tapi Alina tidak tau harus pulang kemana setelah rumah satu-satunya peninggalan Papa Ferdi di sita oleh Bank.
Alina tidak menyangka jika Farel dan Ayu akan datang ke Rumah Sakit untuk menjemputnya.
Farel dan Ayu begitu terkejut ketika mendengar kabar jika Alina ingin mengakhiri hidupnya.
"Mbak Alina, Mbak juga bisa menganggap kami sebagai keluarga, dan kita bisa membesarkan Putri dan Ratu bersama-sama," ujar Ayu dengan memegang tangan Alina.
"Tapi aku tidak mau terus terusan merepotkan kalian. Aku tidak pantas mendapatkan kebaikan dari kalian setelah semua kejahatan yang sudah aku lakukan," ujar Alina dengan tertunduk malu.
"Mbak, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, dan Mbak harus bersyukur karena Mbak masih Tuhan beri kesempatan untuk bertaubat. Sekarang kita akan membuka lembaran baru menjadi keluarga. Jadi Mbak tidak perlu merasa sungkan terhadap kami," ujar Ayu dengan tersenyum.
Awalnya Ayu meminta kepada Farel supaya Alina di ajak tinggal bersama mereka, tapi Farel menolaknya, karena bagaimanapun juga Alina adalah mantan Istrinya, dan Farel tidak mau jika nanti Ayu merasa tidak nyaman dengan keberadaan Alina, sampai akhirnya Farel merenovasi rumah yang berada di samping rumah nya untuk tempat tinggal Alina dan Bi Darmi.
Ayu membantu Bi Darmi mengangkat Alina untuk naik ke atas kursi roda, karena Farel tidak bisa jika harus menggendong Alina, apalagi sekarang Alina bukan lagi muhrimnya, begitu juga ketika Alina sampai di halaman rumah Farel dan Ayu.
"Alina, maaf kalau aku tidak bisa mengajak kamu untuk tinggal bersama kami. Ayu memang memintaku supaya kamu tinggal bersama kami saja, tapi aku tidak ingin membuat Istriku merasa tidak nyaman," ujar Farel.
"Tidak apa-apa Mas, aku mengerti. Aku justru berterimakasih karena sudah diberikan tempat tinggal. Aku sebenarnya merasa malu karena kamu juga harus membayar gaji Bi Darmi untuk merawat ku," ujar Alina dengan menangis.
"Alina, bagaimanapun juga kamu adalah Ibu dari Anak-anakku, dan aku tidak mungkin membiarkan kamu begitu saja," ujar Farel.
Beberapa saat kemudian, Arya, Suci, dan ketiga Anaknya datang ke rumah Farel untuk mengantarkan Ratu.
Selama tinggal di kediaman Argadana, ketiga Anak Suci selalu merasa kesal dengan tingkah Ratu, jadi ketiganya merasa senang ketika Ratu pulang, meski pun Ratu bersikeras tidak mau pulang ke rumah Farel.
__ADS_1
Ketika turun dari mobil, Ratu masuk begitu saja ke dalam rumah Farel, sehingga membuat Farel merasa kesal.
"Ratu, kenapa kamu bersikap tidak sopan?" teriak Farel, tapi Ratu tidak menghiraukannya.
"Sudah Mas, nanti kita bisa bicara secara baik-baik kepada Ratu," ujar Ayu.
"Sebenarnya Ratu tidak mau pulang, makanya dia bersikap seperti itu," ujar Arya.
Farel menghela nafas panjang melihat sikap Ratu yang selalu seenaknya, dan Alina merasa bersalah, karena Alina sudah gagal mendidik Ratu.
"Mas, maaf ya, aku sudah gagal mendidik Ratu. Semua itu salahku karena selalu memanjakan nya," ujar Alina.
"Sudahlah Alina, kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri, nanti kita coba beri pengertian kepada Ratu," ujar Farel.
"Mas Arya, Teh Suci, makasih banyak ya sudah menjaga Ratu," ucap Ayu.
"Iya sama-sama Ayu, kamu masih saja sungkan terhadap kami," ujar Suci.
Arya mendekati Farel, kemudian Arya berbisik di telinga Farel.
"Bagaimana, berhasil tidak?" tanya Arya.
"Ternyata susah sekali Ya. Aku beruntung dapat yang masih segel," bisik Farel dengan cekikikan.
"Ekhem," Suci berdehem sehingga membuat Arya dan Farel diam tidak berkutik.
"Bi, sebaiknya Bibi bawa Mbak Alina masuk supaya Mbak Alina bisa beristirahat. Nanti saya ambil dulu makanan buat Mbak Alina dan Bibi," ujar Ayu.
"Bu, apa boleh Putri tinggal sama Mommy? Putri ingin membantu Bibi merawat Mommy."
"Tentu saja sayang, nanti Ibu sekalian bawa makanan untuk Putri," ujar Ayu dengan mengusap lembut kepala Putri.
Ayu mengajak Suci dan keluarganya untuk masuk ke dalam rumah.
"Teh, sebaiknya kita masuk ke dalam, kasihan Anak-anak pasti cape berdiri terus, kebetulan Ayu juga sudah masak," ujar Ayu dengan menggandeng Suci untuk masuk ke dalam rumah.
Terimakasih Tuhan, karena Engkau telah mengirimkan Bidadari cantik dan baik hati menjadi Istri dan Ibu dari Anak-anakku. Semoga kami selalu diberikan kebahagiaan, ucap Farel dalam hati.
*
*
Bersambung
__ADS_1