Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 108 ( Terimakasih Suamiku )


__ADS_3

Arya terlihat bingung karena tidak tau harus menjawab pertanyaan Suci seperti apa.


"Sayang, Suci jangan terlalu banyak pikiran dulu ya, sekarang kondisi Suci masih belum stabil, jadi Suci harus banyak istirahat," ujar Arya dengan mengusap lembut kepala Suci.


Suci merasa heran saat meraba dadanya, karena saat ini dada kiri Suci memakai perban.


Degg


Jantung Suci rasanya berhenti berdetak ketika Suci mengingat perkataan Rian yang akan menemani Suci dalam detak jantungnya.


"Mas, apa aku sudah melakukan operasi pencangkokan jantung?" tanya Suci, dan Arya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Siapa yang sudah mendonorkan jantungnya untuk ku?" tanya Suci dengan buliran bening yang terus menetes pada pipinya, karena Suci takut jika dugaannya benar, bahwa Rian lah yang sudah menjadi pendonor untuknya.


"Mas Arya kenapa diam saja? Apa Mas Rian yang sudah mendonorkan jantungnya untuk aku?" tanya Suci dengan air mata yang semakin menganak sungai.


Arya berusaha menenangkan Suci dengan memeluk tubuhnya, karena saat ini Suci terus saja menangis.


"Kenapa Mas Rian mengorbankan hidupnya untuk kita? bahkan Mas Rian sampai memberikan jantungnya untukku," ujar Suci yang merasa bersalah karena telah menjadi penyebab kematian Rian.


"Sayang, kita harus ikhlas melepaskan kepergian Rian, sekarang Rian sudah tenang di alam sana, dan suci harus sehat serta menjaga pemberian terakhir Rian, supaya pengorbanan yang Rian berikan tidak sia-sia," ujar Arya yang terus mencoba memberikan dukungan kepada Suci.


"Mas Rian, maafkan aku Mas, karena aku sudah menjadi penyebab Mas Rian meninggal dunia. Seandainya saja Mas Rian tidak menyelamatkan kita, mungkin sekarang Mas Rian masih hidup," gumam Suci.


"Sayang, semua yang terjadi dalam kehidupan kita adalah sebuah takdir, dan kita tidak bisa merubahnya. Sekarang yang bisa kita lakukan lakukan hanyalah mendo'akan Rian semoga beristirahat dengan tenang dan bahagia di alam sana," ujar Arya.


Saat ini Suci sudah merasa lebih tenang, dan Suci meminta kepada Arya supaya mengantarnya ke makam Rian.


"Mas mau kan mengantar aku ke makam Mas Rian?"


"Iya sayang, tapi nanti setelah Suci benar-benar sembuh. Sekarang Suci harus banyak istirahat dan makan yang banyak, supaya kondisi kesehatan Suci bisa segera pulih," ujar Arya, kemudian menyuapi Suci makan.


......................


Satu minggu kini telah berlalu dari sejak meninggalnya Rian, dan kondisi kesehatan Suci sudah lebih baik, jadi Dokter sudah memperbolehkannya pulang.


"Alhamdulillah ya Mas, Suci sudah diperbolehkan pulang, jadi kita bisa menghadiri acara tahlil tujuh hari Mas Rian."

__ADS_1


"Iya sayang Alhamdulillah, tapi Suci masih harus berobat jalan. Jaga kesehatan dan tidak boleh terlalu cape," ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci.


Selama berada di Rumah Sakit, Arya selalu merasa takut untuk meninggalkan Suci, meski pun hanya sekedar pergi ke kamar mandi, sampai-sampai Arya melaksanakan Shalat di dalam kamar perawatan Suci, padahal Suci sudah meyakinkan Arya kalau Suci tidak akan pernah meninggalkannya lagi.


"Mas, sebelum kita pulang, apa boleh Suci ziarah dulu ke makam Mas Rian dan Mama Linda?" tanya Suci.


"Tentu saja. Kemana pun Yang Mulia Ratu minta di antar, Hamba akan dengan senang hati mengantarnya," ujar Arya, dan Suci tersenyum bahagia, karena Arya selalu memperlakukannya dengan baik.


Terimakasih Tuhan, karena telah mengirimkan Suami sebaik Mas Arya dalam kehidupanku. Meski pun pertemuan kami di awali dengan sebuah tragedi, semoga selamanya Engkau selalu memberkahi pernikahan kami, ucap Suci dalam hati.


Setelah selesai berkemas, Arya tidak memperbolehkan Suci berjalan, dan Arya tiba-tiba mengangkat tubuh Suci dan berniat untuk menggendongnya sampai parkiran.


"Mas, aku malu kalau harus digendong, Aku bukan Anak kecil, Mas Arya turunin aku ya, atau aku naik kursi roda saja," ujar Suci yang malu karena menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Pokoknya Mas tidak akan membiarkan Suci berjalan, Mas tidak mau kalau Istri Mas yang cantik ini sampai merasa kecapean," ujar Arya dengan terus menggendong Suci.


Suci hanya bisa pasrah dengan perlakuan Arya terhadapnya, sampai akhirnya Suci yang merasa malu menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang Arya.


Setelah sampai di parkiran, Arya melajukan mobilnya menuju pemakaman untuk berziarah terlebih dahulu ke makam Rian dan Mama Linda.


"Sayang, tunggu sebentar ya, Mas beli bunga dulu," ujar Arya dengan turun dari mobil untuk membeli bunga dan air sebelum masuk ke dalam pemakaman.


"Mas Rian," ucap Suci dengan lirih, dan tanpa terasa buliran bening lolos begitu saja membasahi pipi Suci ketika Suci teringat dengan masalalunya saat bersama Rian.


Arya ikut berjongkok di samping Suci, kemudian memeluk tubuh Suci yang saat ini terlihat rapuh.


Bagaimanapun juga Rian pernah berada di dalam hati Suci, pasti Suci sedih melepas kepergian Rian, apalagi Rian meninggal dunia setelah menyelamatkan aku dan Suci, bahkan Rian sampai rela memberikan jantungnya untuk Suci, ucap Arya dalam hati.


Setelah membaca do'a serta menyiramkan air dan menaburkan bunga di atas makam Rian dan Mama Linda, Suci dan Arya memutuskan untuk pulang.


Mas Rian, terimakasih banyak atas cinta tulus yang Mas berikan untukku. Semoga Mas Rian bisa beristirahat dengan tenang dan hidup bahagia di alam sana, ucap Suci dalam hati.


Arya kembali melajukan mobilnya untuk pulang, dan keduanya tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumahnya.


Mama Erina yang melihat Suci dan Arya turun dari mobil, langsung berlari kemudian memeluk tubuh Suci dengan erat.


"Sayang, Alhamdulillah Nak, akhirnya sekarang Suci sudah pulang. Mama bahagia bisa kembali melihat Suci. Kenapa kalian tidak bilang kalau Suci membutuhkan donor jantung? Padahal Mama rela memberikan jantung Mama untuk Suci," ujar Mama Erina dengan menangis.

__ADS_1


"Mama tidak boleh bicara seperti itu, Alhamdulillah sekarang Suci sudah sembuh, dan semua itu karena pengorbanan yang telah Mas Rian lakukan," ujar Suci dengan mata yang berkaca-kaca.


Suci menghampiri Papa Ardi yang juga berada di sana, karena Suci ingin meminta maaf atas kesalahan yang telah dia lakukan kepada Rian.


"Om, Suci minta maaf yang sebesar-besarnya karena telah menjadi penyebab Rian meninggal dunia," ucap Suci dengan menitikkan airmata.


"Nak, semua itu bukan kesalahan Suci, tapi semua itu adalah takdir, dan Rian sendiri yang memilih menyelamatkan Suci. Sekarang Suci panggil Om dengan sebutan Papa ya, apalagi salah satu bagian tubuh Rian, masih hidup dalam tubuh Suci," ucap Papa Ardi dengan memegang bahu Suci, dan sekilas Papa Ardi melihat wajah Rian pada diri Suci.


"Iya Papa," ucap Suci dengan tersenyum.


Suci yang sudah merindukan Anak-anaknya, langsung berhambur memeluk tubuh Rizky, Iqbal dan Arsyila.


"Sayang, Mama kangen sama kalian. Rizky, maafin Mama ya, karena Mama baru ingat kalau Anak tampan ini adalah Anak Mama," ucap Suci, kemudian menghujani ketiga Anaknya dengan ciuman.


Suci ingin sekali menggendong satu persatu ketiga Anaknya, tapi semuanya melarang Suci, karena saat ini kondisi kesehatan Suci belum benar-benar pulih.


"Nak, sebaiknya sekarang Arya bawa Suci istirahat di kamar," ujar Mama Erina.


Arya mengajak Suci untuk istirahat terlebih dahulu sebelum menghadiri acara tahlil tujuh hari mendiang Rian yang akan dilaksanakan pada sore hari.


"Sayang, kenapa masih berdiri di luar? Sekarang kan kamu sudah ingat kalau kita bukan Suami Istri pura-pura lagi," ujar Arya dengan tersenyum.


Jantung Suci berdebar-debar ketika Arya menuntun Suci ke dalam kamar, apalagi saat Arya membantu Suci untuk berbaring.


"Sekarang sayang istirahat dulu," ujar Arya kemudian menyelimuti tubuh Suci.


Arya hendak mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum beristirahat, tapi Suci terus memegangi tangannya.


"Kenapa tangan Papa dipegangi terus? Papa cuma mau ganti pakaian kok. Atau jangan-jangan Mama pengen sesuatu?" goda Arya dengan menatap lekat wajah cantik Suci sehingga membuat Suci salah tingkah, kemudian melepas pegangan tangannya kepada Arya.


Suci dan Arya sebelumnya telah sepakat untuk mengganti panggilan menjadi Mama Papa, apalagi di depan Anak-anak, supaya nanti mereka terbiasa memanggil Mama dan Papa juga.


Ketika Arya hendak masuk ke dalam kamar mandi, langkah Arya terhenti karena Suci tiba-tiba berbicara.


"Terimakasih Suamiku."


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2