Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 39 ( Arya berada dalam dilema )


__ADS_3

Setelah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai Umat Muslim, Suci bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Sayang masak apa?" tanya Arya dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Suci.


"Gak apa-apa kan Mas kalau kita sarapannya nasi goreng sama telor ceplok aja? soalnya nasi sisa kemarin masih banyak, jadi sayang kalau dibuang," jawab Suci.


"Iya tidak apa-apa kok, apa pun masakan yang Suci buat, pasti selalu enak," ujar Arya dengan mengeratkan pelukannya.


Entah kenapa perasaan Arya terus saja tidak tenang, karena Arya merasa takut jika sampai berpisah dengan Suci.


"Sebaiknya sekarang kita sarapan dulu mungpung nasi gorengnya masih hangat," ujar Suci yang hendak mengisi dua piring kosong yang saat ini ada di sampingnya.


"Piringnya satu aja," ujar Arya.


"Lho kenapa seperti itu?" tanya Suci yang merasa heran.


"Mas ingin makan sepiring berdua biar lebih romantis," jawab Arya.


"Mas itu ada-ada aja," ujar Suci dengan tersenyum, dan akhirnya Suci hanya mengisi satu piring saja sesuai dengan permintaan Arya.


Selama Suci dan Arya sarapan, Arya terus saja menatap lekat wajah cantik Suci.


"Mas, kenapa sih dari tadi ngelihatin aku terus? apa ada yang aneh ya dengan wajah ku?" tanya Suci dengan meraba wajahnya, karena Suci takut jika ada kotoran pada wajahnya.


"Enggak kok, hanya saja, semakin dilihat wajah Istri Mas terlihat semakin cantik," jawab Arya dengan memegang tangan Suci.


"Gak usah gombal, masih pagi juga."


"Itu bukan gombal, tapi kenyataan."


Entah kenapa aku terus saja merasa takut. Aku takut tidak dapat lagi memegang tangan ini, dan aku takut tidak bisa lagi memandang wajah cantik kamu sayang, batin Arya.


"Oh iya, kita jadi kan ketemu sama keluarga Mas?"


"Sebenarnya Mas malas pulang ke sana, karena Mas ingin langsung pulang ke rumah kita. Kebetulan Mas sudah menyiapkan rumah sederhana untuk kita tinggal. Tidak apa-apa kan kalau Suci dan Rizky Mas ajak tinggal di rumah kecil dan sederhana?"


"Kemana pun Mas membawa Suci dan Rizky, kami akan ikut, karena sekarang Mas Arya adalah Kepala Keluarga dalam keluarga kecil kita," ucap Suci dengan tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu sebaiknya sekarang kita pulang ke rumah kita."


"Tapi, bagaimana kalau Oma dan yang lainnya nunggu kita pulang ke kediaman Argadana?"

__ADS_1


"Tenang saja, Mas nanti telpon Oma, dan Oma pasti mengerti kalau pengantin baru masih ingin menghabiskan waktu bersama."


"Mungkin Oma akan mengerti, tapi bagaimana dengan Nyonya Erina?"


Arya tidak memprotes panggilan yang diberikan Suci kepada Mamanya, karena Arya sangat mengerti perasaan Suci, apalagi Mama Erina belum bisa menerima Suci sebagai Menantunya.


"Nanti Mas minta tolong sama Oma supaya mengatakannya kepada Mama kalau kita pulang ke kediaman Argadana nya besok saja, dan pastinya Mama tidak akan berani melawan perkataan Oma." Maaf Suci, aku masih belum siap untuk mengatakan semuanya sekarang, beri aku waktu satu malam lagi saja untuk memantapkan hatiku, lanjut Arya dalam hati, karena saat ini Arya masih berada dalam dilema.


Setelah selesai sarapan, Arya membantu Suci membereskan pakaian, padahal Arya sudah melarang Suci untuk membawa pakaian ke rumah baru mereka.


"Sayang, Mas sudah menyiapkan semuanya di rumah kita, jadi Suci dan Rizky tidak perlu membawa apa pun."


"Mas, sayang pakaiannya kalau tidak dibawa."


"Ya sudah bagaimana Istri Mas yang cantik saja."


......................


Hesti yang baru pulang ke rumah kontrakan setelah sebelumnya menginap di rumah sahabatnya, merasa terkejut ketika Arya membawa tas pakaian milik Suci.


"Suci, kalian mau kemana?"


"Iya Suci aku mengerti, dan aku yakin jika Tuan Arya akan menjaga serta membahagiakan kamu dengan Rizky, dan Aku pasti akan merindukan kalian," ucap Hesti dengan memeluk tubuh Suci.


"Kami juga bakalan kangen sama kamu. Mas, kapan-kapan Hesti boleh kan main ke rumah kita?" tanya Suci yang meminta persetujuan kepada Arya terlebih dahulu.


"Tentu saja. Hesti kan keluarga kita juga," ucap Arya, sehingga membuat Suci merasa bahagia karena Arya begitu pengertian terhadap dirinya.


"Kalau begitu, kami pergi sekarang ya. Jaga diri kamu baik-baik. Ingat, kamu harus makan teratur, jangan begadang, jangan banyak jajan di luar, kalau ada apa-apa, kamu kasih tau aku," ujar Suci yang selalu perhatian kepada Hesti dan semua orang yang berada di dekatnya.


"Oke siap Bu Bos," jawab Hesti dengan terkekeh dan melakukan hormat kepada Suci.


Setelah Arya dan Suci mengucapkan Salam, Arya melajukan mobilnya menuju rumah baru yang akan dia berikan kepada Suci sebagai hadiah pernikahan.


Suci begitu terkejut ketika mobil Arya memasuki pekarangan rumah yang mewah bak istana.


"Mas, apa ini kediaman Argadana?" tanya Suci.


"Bukan sayang, tapi ini rumah kita," jawab Arya, kemudian turun dari mobil.


"Silahkan turun yang mulia Ratu dan Pangeran," ucap Arya dengan membungkukkan badannya.

__ADS_1


"Makasih Raja ku," ucap Suci dengan tersenyum ketika Arya menyambut tangannya.


"Mas, rumahnya besar sekali. Bukannya tadi Mas bilang jika kita akan tinggal di rumah yang kecil dan sederhana?"


"Ini juga kecil sayang. Jika dibandingkan dengan rumah keluarga Argadana, tidak akan ada sampai setengahnya."


"Mungkin bagi Mas yang sudah terlahir dengan sendok emas, rumah besar seperti ini terlihat berukuran kecil. Akan tetapi, bagi Suci rumah ini sangat besar, bahkan berpuluh puluh kali lipat lebih besar dari rumah peninggalan mendiang orangtua Suci."


"Sayang, maaf ya, Mas tidak bermaksud seperti itu. Mulai sekarang ini adalah Istana kita, dan kita akan membesarkan Anak-anak kita di rumah ini. Sertifikatnya sudah atas nama Suci, karena rumah ini adalah hadiah pernikahan dari Mas," ucap Arya dengan memberikan sertifikat rumah kepada Suci, tapi Suci terlihat ragu untuk menerimanya.


"Kenapa lagi heum?" tanya Arya dengan menangkup kedua pipi Suci.


"Suci tidak pantas menerimanya, karena hadiahnya terlalu besar Mas, dan Suci_"


Ucapan Suci terhenti karena Arya langsung memotongnya.


"Sudah seharusnya seorang Suami memberikan tempat tinggal untuk Anak dan istrinya, dan hadiah semahal apa pun tidak sebanding dengan kebahagiaan Mas yang telah memiliki Suci dan Rizky," ucap Arya dengan memeluk tubuh Suci.


Arya menggandeng Suci menuju kamar mereka, dan Suci kembali terkejut ketika Arya memperlihatkan satu ruangan khusus yang berada di dalam kamar tersebut, karena di sana sudah terdapat banyak pakaian Suci dan Rizky, bahkan sepatu dan juga sandal.


"Bagaimana. Apa Suci suka dengan semua ini?" tanya Arya dengan memeluk tubuh Suci dari belakang, setelah sebelumnya menidurkan Rizky di dalam box bayi yang berada di dalam kamar mereka.


"Kapan Mas mempersiapkan semuanya?"


"Semalam Mas sengaja menyuruh Asisten Mas supaya mempersiapkan semuanya," ucap Arya dengan tersenyum ketika mengingat Farel yang terus menggerutu saat di telpon oleh Arya, karena Farel, Irwan dan Erwin harus kerja lembur untuk mempersiapkan rumah baru juga semua isinya untuk Arya dan keluarga kecilnya.


"Kenapa Mas terus saja tersenyum?" tanya Suci yang merasa heran.


"Tidak apa-apa sayang, hanya saja, Mas sedang kepikiran sesuatu. Bagaimana kalau sekarang kita membuat Adik untuk Rizky?" goda Arya dengan menaik turunkan alisnya.


"Mas, ini masih siang, bagaimana kalau Rizky ba_"


Ucapan Suci terhenti karena Arya membungkamnya dengan ciuman, dan Suci hanya bisa pasrah dengan perlakuan Suaminya.


Aku ingin menikmati detik detik kebersamaan kita, karena aku takut setelah hari esok tiba, semua kebahagiaan ini akan berakhir, batin Arya dengan menitikkan airmata.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2