Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 106 ( Donor jantung untuk Suci )


__ADS_3

Rian berlari ke tengah jalan ketika melihat Suci dan Arya hampir tertabrak truk, kemudian Rian langsung mendorong kuat tubuh Suci dan Arya hingga terjatuh ke pinggir jalan.


Brugh


Tubuh Rian terpental jauh karena akhirnya Rian lah yang tertabrak truk, dan saat ini Rian tergeletak di tengah jalan dengan bersimbah darah.


"Mas Rian"


"Rian"


Teriak Suci dan Arya secara bersamaan.


Suci dan Arya berlari menghampiri Rian, dan Rian tersenyum ketika melihat Suci dan Arya baik-baik saja.


"Rian, kenapa kamu mengorbankan diri kamu untuk menyelamatkan kami?" tanya Arya dengan menangis.


"Aku akan melindungi Suci hingga nafas terakhirku, dan aku bahagia karena sudah bisa menyelamatkan kalian," jawab Rian dengan lirih.


"Mas Rian, ingatanku sudah kembali, sekarang aku sudah mengingat semuanya, dan kamu pasti akan baik-baik saja, karena aku belum memarahi kamu yang sudah tega membohongi aku," teriak Suci dengan menangis juga memegang erat tangan Rian.


"Suci, maafkan aku karena sudah melakukan banyak kesalahan terhadapmu, bahkan Aku sudah tega memisahkan kalian berdua. Suci, Kamu harus janji, kalau kamu dan Arya akan selalu bahagia dan hidup bersama hingga maut memisahkan kalian," ucap Rian dengan menyatukan tangan Suci dan Arya.


"Iya Mas, aku janji, tapi kamu harus bertahan, kamu pasti akan baik-baik saja. Tolong cepat bantu bawa Mas Rian," teriak Suci, tapi sesaat kemudian Suci pingsan karena sudah tidak kuat melihat darah yang terus mengalir dari tubuh Rian.


"Suci, bangun sayang," teriak Arya dengan memeluk tubuh Suci.


"Arya, waktuku sudah tidak banyak lagi, aku ingin mengatakan sebuah permintaan," ujar Rian dengan suara terbata.


"Tidak Rian, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, kami akan segera membawa kamu ke Rumah Sakit," ujar Arya, dan beberapa saat kemudian Perawat datang dengan mendorong dua blangkar.


Rian dan Suci langsung dilarikan ke ruang IGD, tapi sebelum masuk Ruang IGD, Rian meminta ijin kepada Dokter supaya bisa berbicara dengan Arya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Arya aku titip Iqbal, karena aku yakin kalau kamu dan Suci akan menjaga serta merawatnya dengan baik," ujar Rian dengan nafas yang sudah semakin melemah.


"Rian, aku berjanji akan menjaga serta menyayangi Iqbal, tapi sekarang kamu harus segera masuk ruang IGD supaya bisa segera mendapatkan pertolongan medis," ujar Arya dengan memegang erat tangan Rian.


"Arya, aku sudah tidak kuat lagi, tapi sebelum aku mengembuskan nafas terakhirku, aku ingin mendonorkan jantungku untuk Suci. Meski pun aku tidak bisa hidup dengan Suci, setidaknya salah satu bagian dari tubuhku akan selalu hidup dengan nya," ucap Rian kemudian mengembuskan nafas terakhirnya.


Pegangan tangan Arya dan Rian akhirnya terlepas, dan Arya langsung menjatuhkan tubuhnya ketika Dokter menyatakan jika Rian sudah meninggal dunia.


"Innalillahi...Sus, catat waktu kematian Pasien, dan segera siapkan ruang operasi, karena kita akan segera melakukan operasi pencangkokan jantung terhadap Pasien bernama Suci sesuai permintaan terakhir Pasien bernama Rian," ujar Dokter.


Setelah Arya menandatangani berkas-berkas persetujuan operasi, Suci dan Rian bergegas dibawa menuju ruang operasi.


Rian, ternyata cinta yang kamu miliki untuk Suci begitu besar, bahkan kamu rela mengorbankan nyawa kamu untuknya. Aku pasti akan selalu menjaga dan mencintai Suci dalam seumur hidupku, aku juga akan menjaga serta menyayangi Iqbal seperti Anak kandungku sendiri, ucap Arya dalam hati dengan terus menitikkan airmata.


......................


Arya menelpon Bu Rita untuk memberitahukan kabar meninggalnya Rian, dan semuanya merasa terkejut karena tidak menyangka jika Rian akan meninggal secepat itu, padahal Rian baru saja mengadakan acara tahlil tujuh hari meninggalnya Mama Linda, tapi ternyata Rian menyusul Ibunya.


Operasi berjalan selama empat jam, dan Arya kembali menangis ketika melihat Suci dan jenazah Rian ke luar dari dalam ruang operasi.


Secara perlahan Arya mendekati jenazah Rian yang sudah tertutup kain, dan Arya membuka penutup kain supaya bisa melihat wajah jenazah Rian untuk yang terakhir kalinya.


"Rian, terimakasih atas semua pengorbanan yang telah kamu lakukan. Aku akan selalu menjaga Suci dengan segenap jiwa dan ragaku, Aku juga akan selalu mencintainya dalam seumur hidupku. Semoga sekarang kamu bisa beristirahat dengan tenang," ucap Arya.


Arya menyuruh Karyawannya yang sudah berada di Rumah Sakit supaya membawa pulang jenazah Rian menuju rumah duka, sedangkan Arya akan terus mendampingi serta menjaga Suci di Rumah Sakit.


"Aku tidak akan membiarkan Suci sendirian, karena aku tidak mau kalau sampai Suci meninggalkanku lagi," gumam Arya dengan terus memegangi tangan Suci dengan erat.


......................


Setelah jenazah Rian tiba di rumah duka, Ustad setempat langsung memandikan jenazah sebelum menyolatkan serta mengantarkan jenazah menuju peristirahatan terakhirnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Ayah kandung Rian tiba di rumah duka, dan Papa Ardi langsung menangis histeris mencari keberadaan Rian.


"Rian, dimana kamu Nak?" teriak Papa Ardi.


"Bi Sari, mana Rian Anak saya?" tanya Papa Ardi dengan menangis.


"Tuan tenang dulu, sekarang Tuan Rian sudah beristirahat dengan tenang, apalagi keinginan terakhir Tuan Rian sudah terwujud" ujar Bi Sari.


"Memangnya apa keinginan terakhir Rian?" tanya Papa Ardi.


"Tuan Rian ingin mendonorkan jantungnya untuk Nyonya Suci," ujar Bi Sari, dan Papa Ardi langsung menjatuhkan tubuhnya, karena begitu terkejut sekaligus terpukul dengan kematian Rian.


"Ternyata cinta Rian untuk Suci begitu besar, bahkan Rian ingin salah satu organ tubuhnya tetap hidup bersama Suci," gumam Papa Ardi.


Papa Ardi sangat menyesal karena sudah lama tidak bertemu dengan Rian, apalagi saat terakhir bertemu dengan Rian, Papa Ardi dan mendiang Mama Linda tengah bertengkar karena Papa Ardi tiba-tiba datang membawa Istri muda.


"Pa sebaiknya sekarang Papa minum dulu supaya lebih tenang, kasihan Rian kalau Papa seperti ini terus," ujar Mama Marlina dengan memberikan segelas air putih yang sebelumnya dibawakan oleh Bi Sari.


"Ma, Papa menyesal karena sudah lama tidak bertemu dengan Rian, Papa tidak menyangka kalau Rian akan pergi secepat ini," ujar Papa Ardi dengan menangis dalam pelukan Istrinya.


"Pa, yang namanya umur tidak ada yang tahu, sekarang kita hanya bisa mendo'akan mendiang Rian supaya beristirahat dengan tenang. Papa harus kuat, Papa harus ikhlas melepas kepergian Rian, supaya Rian tidak merasa berat meninggalkan kita," ujar Mama Marlina.


Papa Ardi di dampingi Mama Marlina untuk melihat jenazah Rian yang saat ini tengah dimandikan, dan Papa Ardi kembali menangis karena tidak kuat melihat wajah Rian.


"Pa, Papa lihat baik-baik jenazah Rian, Rian tersenyum. Pasti Rian bahagia karena bisa menyelamatkan perempuan yang dicintainya," ujar Mama Marlina.


"Iya Ma, Papa bangga memiliki Anak seperti Rian. Semoga Rian bahagia dan beristirahat dengan tenang ya Nak," ujar Papa Ardi dengan mengusap lembut kepala Rian, dan Papa Ardi mencoba mengikhlaskan kepergian Rian.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2