
Saat ini Rian dan Suci sedang mengemas pakaian, karena mereka akan pergi untuk menjenguk Mama Linda.
Sebelumnya Rian mendapatkan telpon dari Asisten rumah tangga yang dia suruh untuk mengurus Mama Linda, dan Bi Sari memberikan kabar tentang kondisi kesehatan Mama Linda yang semakin memburuk.
Rian akhirnya memutuskan untuk pulang, karena Bi Sari bilang jika keinginan terakhir Mama Linda adalah bertemu dengan Rian.
"Sayang, apa tidak sebaiknya jika Ayah saja yang menjenguk Mama? Saat ini kondisi Bunda sedang dalam keadaan hamil, jadi Ayah takut apabila terjadi sesuatu yang buruk pada kandungan Bunda apabila kita melakukan perjalanan jauh," ujar Rian.
"Tapi Yah, bagaimanapun juga Mama Linda adalah Mertua Bunda, jadi tidak enak apabila Bunda tidak ikut menjenguk beliau."
Rian terlihat berpikir, karena Rian merasa tidak tenang jika meninggalkan Suci dan Rizky di Kalimantan, apalagi Rian belum bisa memastikan kapan bisa kembali, karena Rian harus memastikan kondisi Mama Linda terlebih dahulu.
Mungkin sebaiknya aku membawa Suci bersamaku, aku tidak akan tenang apabila meninggalkan Rizky dan Suci, apalagi Suci dalam keadaan hamil. Aku juga tidak perlu mengkhawatirkan Arya, karena Arya sudah berjanji untuk tidak mengganggunya lagi. Arya juga tidak mungkin bisa menemukan keberadaan Suci, karena saat ini Mama sudah berada di tanah kelahirannya di Jawa Timur, dan aku yakin jika sekarang Mama pasti akan merestui hubunganku dengan Suci, ucap Rian dalam hati.
"Ya sudah, kalau begitu Bunda sama Rizky ikut Ayah menengok Mama ke Jawa Timur, Ayah juga gak bakalan tenang apabila meninggalkan kalian di sini."
"Lho, memangnya sekarang Mama sudah tidak tinggal di Bekasi lagi?"
"Tidak sayang, Mama minta pindah ke tanah kelahirannya, karena katanya Mama ingin menghabiskan sisa umurnya di tanah kelahirannya tersebut."
"Bagaimanapun juga, setiap orang pasti menginginkan kembali ke tanah kelahirannya, begitu juga Bunda, karena Bunda ingin menghabiskan masa tua kita di tanah kelahiran kita."
"Iya sayang, Ayah pasti akan mengabulkan semua keinginan yang mulia Ratu. Sebaiknya sekarang yang Mulia Ratu duduk cantik saja, biar Ayah yang melanjutkan beres-beresnya," ujar Rian dengan membantu Suci duduk, meski pun Suci sudah menolaknya.
Mas Rian memang Suami yang baik dan perhatian, tapi entah kenapa rasanya selalu ada yang mengganjal dalam hatiku. Apa mungkin karena aku selalu bermimpi tentang laki-laki bernama Arya? Siapa dia sebenarnya? Aku takut jika aku telah melakukan dosa yang besar apabila memikirkan laki-laki lain selain Suamiku, ucap Suci dalam hati.
Setelah selesai berkemas, Suci dan Rian pamit kepada Bi Ijah.
"Bi, kami titip rumah ya, mungkin kami akan pergi dalam waktu yang lama sampai kondisi kesehatan Mama membaik," ucap Rian.
"Nyonya sama Tuan tidak perlu khawatir, Bibi pasti akan menjaga rumah dengan baik. Semoga Nyonya Linda segera sembuh, Bibi pasti bakalan kangen sama Den Rizky," ucap Bi Ijah.
"Makasih banyak ya do'anya, kami juga pasti bakalan kangen sama Bibi," ucap Suci dengan memeluk tubuh Bi Ijah, kemudian Rian dan Suci mengucap salam sebelum pergi.
__ADS_1
......................
Sepanjang perjalanan menuju Kalimantan, Arya terus saja merasa gelisah, karena Arya takut jika Suci lebih memilih Rian dibandingkan dengan dirinya.
Arya hanya membutuhkan waktu sebentar untuk sampai di Kalimantan, karena Arya menggunakan jet pribadi miliknya.
"Apa pun keputusan Suci, aku harus bisa menerimanya dengan ikhlas," gumam Arya dengan melangkahkan kaki ke luar dari dalam mobil.
Ketika Arya sampai di depan gerbang rumah Rian, Arya menekan bel, tapi rumah terlihat sepi, sampai akhirnya beberapa saat kemudian, Bi Ijah ke luar untuk menghampiri Arya.
"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Ijah.
"Apa benar ini rumahnya Suci?" tanya Arya.
"Benar Mas. Mas ini siapanya Nyonya ya?"
Arya terlihat berpikir, karena Arya tidak mungkin mengatakan kepada Bi Ijah jika Arya adalah Suaminya Suci.
"Maaf Mas, tapi Nyonya dan Tuan baru saja berangkat untuk menengok orangtua Tuan," jawab Bi Ijah.
Arya merasa lemas ketika mendengar perkataan Bi Ijah, karena kedatangan Arya ke Kalimantan ternyata hasilnya sia-sia.
Wajah Arya pucat pasi, dan Arya hampir saja pingsan karena merasa kecapean.
"Pak, sebaiknya Mas nya dibawa masuk dulu, sepertinya Mas nya sedang tidak sehat," ujar Bi Ijah kepada Supir Arya.
Supir Arya membantu Arya berjalan untuk duduk di teras rumah Rian, dan beberapa saat kemudian, Bi Ijah datang membawakan teh hangat untuk Arya serta kopi untuk Supirnya.
Arya meminum teh yang disuguhkan oleh Bi Ijah, dan saat ini kondisi tubuh Arya sedang tidak baik.
"Terimakasih banyak minuman nya Bi," ucap Arya.
"Iya sama-sama Mas. Mas sepertinya datang dari jauh ya?" tanya Bi Ijah yang merasa penasaran.
__ADS_1
"Iya Bi, saya dari Jakarta," jawab Arya yang sudah merasa lebih baik.
"Sudah berapa lama Mas tidak bertemu dengan Nyonya?" tanya Bi Ijah.
"Saya sudah cukup lama tidak bertemu dengan Suci, bahkan untuk sekedar berkomunikasi lewat telpon saja tidak bisa, karena sebelumnya handphone saya rusak, dan semua kontaknya terhapus, begitu juga dengan nomor handphone Suci. Apa Bibi punya nomor handphone Suci?" ujar Arya yang memutuskan untuk menggali informasi dari Bi Ijah.
"Sekarang Nyonya tidak memiliki handphone, karena semenjak Nyonya kecelakaan dan hilang ingatan, Tuan tidak memperbolehkan Nyonya memegang handphone," ujar Bi Ijah.
Degg
Jantung Arya rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Bi Ijah, jika saat ini Suci hilang ingatan.
"Ja_jadi sekarang Suci hilang ingatan?" tanya Arya dengan tergagap.
"Iya Mas, katanya sebelum pindah ke sini, Nyonya tertabrak mobil sehingga menyebabkan sebagian ingatan Nyonya hilang, dan Nyonya hanya mengingat sampai peristiwa sebelum menikah dengan Tuan Rian saja."
Rasanya Arya ingin sekali berteriak, ada rasa bahagia, sedih dan kecewa dalam hatinya. Di satu sisi Arya merasa bahagia karena ternyata Suci tidak seperti yang dia pikirkan, tapi di sisi lain Arya sedih dan kecewa karena Suci tidak lagi mengingat Arya dan Rizky.
Jadi selama ini aku telah salah paham terhadap Suci? Maafkan aku Suci, seharusnya aku percaya terhadapmu, tidak mungkin kamu meninggalkan aku dan Rizky secara sengaja, karena Suci bukan orang seperti itu. Aku yakin, Rian pasti memanfaatkan ingatan Suci yang hilang supaya Rian bisa merebut Suci dariku, batin Arya.
"Mas, apa Mas baik-baik saja?" tanya Bi Ijah yang melihat Arya terus melamun.
"Saya baik-baik saja Bi, kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih banyak atas semuanya," ujar Arya dengan bergegas pergi dari rumah Rian.
Arya memutuskan untuk mencari keberadaan Suci dan Rian ke rumah Orangtua Rian di Bekasi, karena Arya yakin jika Suci masih mencintainya, dan Suci pasti akan kembali kepada Arya dan Rizky.
Tunggu aku sayang, aku pasti akan menjemputmu, batin Arya dengan bersemangat.
*
*
Bersambung
__ADS_1