Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 164 ( Terlalu posesif )


__ADS_3

Sampai saat ini Iqbal masih belum mengetahui yang sebenarnya jika dirinya hanyalah Anak angkat Suci dan Arya.


Suci dan Arya sudah beberapa kali berniat untuk mengatakan semua kebenaran tentang Iqbal, tapi rasanya keduanya tidak tega jika Iqbal mengetahui yang sebenarnya.


"Sayang, kenapa kalian masih berdiri di luar?" tanya Suci ketika melihat Iqbal dan Arsyi yang masih berdiri di dekat pintu.


Iqbal tersadar dari lamunannya ketika mendengar pertanyaan Suci, kemudian Iqbal kembali menggandeng Arsyila masuk ke dalam rumah duka.


Suci sebenarnya selalu merasa takut dengan kedekatan Iqbal dan Arsyila, karena Suci takut jika keduanya akan saling jatuh cinta.


Aku harus buang jauh-jauh semua pikiran negatif ku, tidak mungkin kalau Arsyi dan Iqbal saling jatuh cinta, ucap Suci dalam hati.


......................


Dokter baru ke luar dari dalam ruang IGD setelah satu jam memeriksa kondisi Farel.


"Dok, bagaimana keadaan Suami saya?" tanya Ayu dengan menghampiri Dokter.


"Suami Anda mengalami serangan jantung, dan besar kemungkinan pasien akan mengalami stroke setelah sadar nanti" jawab Dokter.


Ayu menangis mendengar perkataan Dokter, karena hari ini Ayu mendapatkan dua kabar buruk sekaligus.


"Kenapa Mas Farel bisa sampai seperti ini?" gumam Ayu.


"Nyonya, sepertinya sebelum pasien pingsan, pasien terlalu emosi sehingga menyebabkan darah tinggi kemudian mengalami serangan jantung. Semoga saja stroke yang terjadi pada Pasien hanya stroke ringan yang masih bisa di obati," jelas Dokter kemudian berlalu menuju ruangannya.


"Ayu, kamu yang sabar ya, Ratu bilang kalau Farel pingsan karena merasa syok menerima kabar kematian Alina, tapi aku yakin jika bukan itu penyebabnya," ujar Arya.


"Selama ini Mas Farel dan Ratu selalu bertengkar, karena Ratu tidak pernah mau menjenguk Mbak Alina. Mungkin tadi Mas Farel marah karena Ratu tidak datang saat mendengar kabar Mbak Alina meninggal dunia," ujar Ayu.


"Ratu benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya dia berbuat seperti itu kepada Ibu kandungnya sendiri," ujar Arya.


Rizky semakin tidak respect ketika mendengar kenyataan tentang Ratu, apalagi selama ini Rizky tidak suka dengan sikap Ratu yang selalu berusaha mendekatinya.


Aku tidak menyangka jika Ratu memiliki sifat seperti itu, padahal saat berada di depanku dia selalu bersikap baik. Mungkin dia hanya berpura-pura baik saja, ucap Rizky dalam hati.


Setelah Farel dipindahkan menuju kamar perawatan, Arya dan Rizky pamit kepada Ayu, karena mereka akan menghadiri prosesi pemakaman Alina.


"Ayu, maaf ya kami tidak bisa menemani kamu di sini. Kami akan menghadiri pemakaman Alina, apalagi saat ini Oma Rahma juga sedang sakit. Kamu tidak apa-apa kan karena harus sendirian menjaga Farel?" tanya Arya.


"Tidak apa-apa Mas. Terimakasih banyak karena Mas Arya dan Rizky sudah membantu membawa Mas Farel ke sini. Semoga Oma Rahma segera sembuh," ucap Ayu.


"Amin. Iya sama-sama. Kalau ada apa-apa nanti kamu hubungi aku saja," ujar Arya, kemudian Arya dan Rizky mengucap salam sebelum ke luar dari kamar perawatan Farel.


Arya dan Rizky melanjutkan perjalanan menuju Tempat Pemakaman Umum yang sebelumnya sudah Suci share lokasinya.

__ADS_1


"Rizky, kenapa kamu melamun terus?" tanya Arya.


"Rizky tidak apa-apa Pa, Rizky hanya sedang memikirkan acara penyambutan untuk Siswa baru," jawab Rizky yang kebetulan menjabat sebagai Ketua Osis.


Rizky masuk kelas akselerasi saat duduk di kelas dua SMP, jadi saat SMP Rizky hanya mengikuti pelajaran selama dua tahun, dan saat ini Rizky sudah kelas tiga SMA, sedangkan Iqbal baru kelas dua SMA.


"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Arya.


"Rizky tidak mau pacaran Pa, karena Rizky ingin fokus belajar dulu, nanti kalau sudah kerja, baru Rizky cari calon Istri."


"Nak, Papa sama Mama tidak melarang Rizky, Iqbal dan Arsyi pacaran, hanya saja kalian harus bisa menjaga diri dan tidak boleh melewati batas. Sepertinya sampai sekarang Ratu sama Dinda masih terus berusaha mengejar kamu," ujar Arya dengan terkekeh ketika mengingat kelakuan Anak Irwan dan Anak Farel yang selalu berusaha mendekati Anak sulungnya.


"Dinda sama Ratu sudah Rizky anggap sebagai Adik sendiri Pa, Rizky juga sudah memiliki niat untuk melanjutkan kuliah kedokteran ke luar negeri."


"Nak, Papa dan Mama selalu berharap Rizky dan Iqbal mau meneruskan Perusahaan Argadana Grup, Papa sudah semakin tua, jadi kalian harus belajar mengelola perusahaan."


Rizky terlihat berpikir, karena sebenarnya Rizky tidak ingin berpisah jauh dari keluarganya.


"Dari kecil cita-cita Rizky ingin menjadi Dokter supaya bisa membantu banyak orang untuk mengobati berbagai macam penyakit. Nanti Rizky pikir-pikir lagi tentang rencana kuliah di luar negeri. Mungkin Rizky masih bisa membantu Papa di Perusahaan sambil kuliah kedokteran jika Rizky kuliah di Indonesia."


"Selama itu bisa membuat kamu bahagia, Mama sama Papa pasti akan selalu mendukung Rizky," ujar Arya dengan menepuk bahu Rizky.


"Pa, apa Mama sama Papa tidak merasa khawatir dengan kedekatan Arsyi dan Iqbal? Apalagi dari kecil mereka selalu menempel seperti perangko, dan sampai sekarang Iqbal terlalu posesif terhadap Arsyi," ujar Rizky.


Arya menghela nafas panjang, karena sebenarnya Arya juga merasa khawatir jika sampai Iqbal dan Arsyi jatuh cinta, meski pun pada kenyataannya keduanya tidak memiliki ikatan darah.


"Mungkin itu ide yang bagus Pa, tapi Rizky yakin jika Iqbal dan Arsyi pasti akan sedih."


"Papa tau Nak, tapi tidak ada cara lain lagi untuk memisahkan mereka."


Arya dan Rizky telah sampai di Tempat pemakaman umum, dan keduanya langsung menghampiri Suci yang sudah menunggu di depan gerbang TPU.


"Sayang maaf ya kami baru sampai, soalnya tadi jalanan lumayan macet," ujar Arya dengan memeluk Suci.


"Tidak apa-apa Pa, Mama sama yang lain juga baru sampai. Oh iya, bagaimana keadaan Farel?"


"Farel mengalami serangan jantung, dan kemungkinan besar Farel akan mengalami stroke," jawab Arya.


"Innalillahi.. Semoga Farel cepat sembuh, kasihan Anak dan Istrinya jika sampai Farel kenapa-napa."


"Iya Ma semoga saja. Kalau begitu sekarang kita masuk, pasti prosesi pemakamannya akan segera dimulai," ujar Arya.


Prosesi pemakaman Alina berjalan lancar, dan Putri berusaha untuk tegar melepas kepergian Alina, sedangkan Ratu tidak memperlihatkan wajah sedih sedikit pun saat mengantar Alina menuju tempat peristirahatan terakhirnya.


Setelah prosesi pemakaman selesai, Suci dan keluarga menemani Putri membaca surat Yasin terlebih dahulu.

__ADS_1


"Nak, sebaiknya sekarang kita pulang, kita harus mempersiapkan acara tahlil nanti sore," ujar Suci kepada Putri setelah semuanya selesai mengaji.


Putri mendekati batu nisan Alina, kemudian Putri memeluk batu nisan tersebut.


"Mom, Putri pulang dulu ya, semoga Mommy beristirahat dengan tenang dan bahagia di alam sana," ujar Putri dengan mencium batu nisan Alina sebelum pulang.


Putri dan Ratu memutuskan untuk ikut mobil keluarga Suci, dan Ratu ingin sekali duduk di dekat Rizky yang saat ini duduk di jok belakang bersama Iqbal.


"Ratu, kamu sebaiknya duduk di sini saja sama kami, biar Kak Rizky sama Kak Iqbal yang duduk di belakang," ujar Arsyila yang tidak suka dengan sikap Ratu.


Ratu terpaksa duduk di jok tengah bersama Putri dan Arsyila, meski pun sebenarnya saat ini Ratu merasa kesal karena usahanya mendekati Rizky selalu saja gagal.


Setelah sampai kediaman Farel, di sana sudah terlihat Irwan dan keluarganya yang menunggu kedatangan Arya dan yang lainnya.


Sebelumnya Irwan dan Keluarga baru pulang liburan dari luar negeri, dan mereka langsung menuju kediaman Farel setelah mendapatkan kabar tentang kematian Alina.


"Hesti, kalian apa kabar? Kapan pulang dari Singapura?" tanya Suci dengan melakukan cipika cipiki dengan Hesti.


"Alhamdulillah kami baik, kami baru saja sampai, dan langsung ke sini setelah mengantar Mama sama Papa pulang. Bagaimana dengan kamu dan keluarga?" Hesti balik bertanya.


"Alhamdulillah kami baik juga," jawab Suci.


"Putri, Ratu, kami turut berduka cita atas meninggalnya Mommy kalian. Semoga amal Ibadah Alina diterima oleh Allah SWT," ucap Irwan yang di Amini oleh semuanya.


"Makasih banyak Om, Putri juga mengucapkan terimakasih banyak atas kebaikan semuanya. Kalau begitu silahkan semuanya masuk," ujar Putri yang mempersilahkan semuanya untuk masuk ke dalam rumah.


Dinda yang melihat Rizky, langsung mendekatinya, dan Ratu juga tidak mau kalah, sehingga keduanya saat ini berada di sisi kiri dan kanan Rizky.


"Dinda, Ratu, kalian masih saja ganjen," ujar Hesti yang tidak habis pikir dengan kelakuan kedua Anak gadis yang dari dulu selalu berusaha mendekati Rizky.


"Kasihan dimarahin," celetuk Nanda dengan cekikikan.


"Nanda juga sama saja," sambung Hesti yang melihat Nanda mendekati Arsyi.


Iqbal langsung berdiri di tengah-tengah Nanda dan Arsyila ketika Nanda berusaha mendekati Adik kesayangannya.


"Bunda, Nanda kan harus selalu dekat dengan My Princess, supaya nanti tidak ada yang berani merebut My Princess."


Iqbal langsung marah ketika mendengar perkataan Nanda.


"Arsyi hanya milik Iqbal, jadi kamu tidak boleh mendekatinya, apalagi sampai berniat untuk merebut Arsyi dari Iqbal."


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2