
Rizky terlihat bingung ketika mendengar pertanyaan dari Suci, karena saat ini Rizky dihadapkan dengan dua pilihan.
"Ma, seandainya bisa memilih, apa Rizky boleh memilih dua duanya?" jawab Rizky, dan Suci terlihat syok karena tidak menyangka jika kulkas dua pintu bisa memiliki pemikiran seperti itu.
"Nak, apa Mama tidak salah dengar? Selama ini bahkan Rizky belum pernah memiliki pacar, bagaimana bisa Rizky berbicara seperti seorang Playboy," ujar Suci.
Rizky terlihat berpikir, karena Suci sudah memberikan pilihan yang sulit untuknya.
"Ma, tapi ini adalah pilihan yang sulit untuk Rizky. Putri dan Dinda sama-sama cantik dan baik, meski pun Putri memiliki kekurangan pada wajahnya, tapi Rizky yakin jika Putri memiliki hati yang cantik, sedangkan Dinda, Rizky tidak melihat kekurangan pada dirinya."
"Kenapa Mama merasa kalau Rizky lebih menyukai Dinda ya?"
"Meski pun pada kenyataannya seperti itu, tapi Dinda sendiri yang sudah memutuskan untuk menolak Rizky menjadi Suaminya, dan sekarang semuanya sudah terlambat karena pernikahan Rizky dan Putri sudah ditetapkan. Jadi, Rizky tidak mau menyakiti Putri apabila Rizky membatalkan pernikahan kami karena Dinda."
Suci merasa kasihan kepada Rizky, dan Suci tidak mau jika suatu saat nanti Rizky menyesali keputusannya.
"Nak, kenapa tadi Rizky tidak mengatakan yang sebenarnya kepada kami? Sekarang semuanya belum terlambat, kalau Rizky memang mencintai Dinda, kejar Dinda, jangan sampai Rizky menyesal. Putri adalah gadis yang baik, dia pasti bisa menerima jika Rizky lebih memilih Dinda."
Rizky menghela nafas panjang, di satu sisi Rizky ingin sekali mengejar Dinda, tapi di sisi lain, Rizky tidak ingin banyak hati yang terluka karena keegoisannya, apalagi Dinda sendiri sudah memutuskan untuk mundur.
"Mama tidak perlu memikirkan perasaan Rizky, karena Rizky baik-baik saja, apalagi Rizky sendiri masih belum yakin dengan perasaan yang Rizky miliki saat ini. Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan nama baik keluarga kita, karena jika pernikahan tidak dilaksanakan sesuai rencana, pasti keluarga kita akan merasa malu," ujar Rizky yang sengaja berbicara seperti itu, supaya Suci merasa tenang.
Suci menyarankan kepada Rizky supaya melaksanakan Shalat Istikharah terlebih dahulu, siapa tau dengan begitu Rizky bisa lebih yakin dengan pilihannya.
"Sebaiknya nanti malam Rizky Shalat Istikharah, mungkin dengan begitu, Rizky bisa mendapatkan petunjuk supaya lebih yakin dengan pilihan Rizky."
"Terimakasih banyak sarannya Ma, nanti Rizky akan mencobanya."
"Nak, pernikahan adalah sesuatu yang sakral, dan semua orang pasti menginginkan pernikahan sekali dalam seumur hidup, jadi Mama tidak mau jika Rizky sampai salah pilih, dan Mama ingin Rizky bahagia."
Rizky tersenyum serta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, tapi tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara seseorang.
__ADS_1
"Ekhem, Rizky, apa kamu berniat mencuri Mama dari Papa?" sindir Arya ketika melihat Rizky memeluk Suci.
Rizky dan Suci memutar malas kedua matanya, karena selama ini Arya selalu merasa cemburu bahkan kepada Anak kandungnya sendiri.
"Papa memang benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya Papa cemburu sama Anak sendiri," sindir Rizky.
"Perempuan secantik dan sebaik Mama kamu hanya ada satu di Dunia ini, jadi Papa harus menjaganya dengan baik, jangan sampai ada orang lain yang berniat merebutnya," ujar Arya kemudian memeluk tubuh Suci dengan posesif.
"Iya, iya, Mama memang yang terbaik. Kalau begitu sebaiknya sekarang Rizky kembali ke ruang kerja Rizky saja daripada harus melihat kemesraan yang selalu Papa pamerkan. Ma, kalau ada apa-apa dengan Arsyi, Mama bisa panggil Rizky," ujar Rizky yang tidak membiarkan Dokter lain memeriksa Arsyi selain dirinya dan Putri, karena Rizky dan yang lainnya sudah sepakat untuk menutupi kejadian yang menimpa Arsyi.
......................
Hari demi hari tidak mudah untuk Arsyi lewati, kondisi fisik Arsyi sudah sembuh setelah satu minggu dirawat di Rumah Sakit, tapi tidak dengan psikisnya, karena Arsyi masih belum bisa melupakan trauma yang disebabkan oleh Iqbal, sampai akhirnya Rizky memutuskan untuk memanggil Temannya yang berprofesi sebagai psikiater supaya bisa datang ke kediaman Argadana, karena hari ini Arsyi bersikeras ingin pulang.
Arsyi terlihat ketakutan ketika sampai di kediaman Argadana, dan Suci memutuskan supaya Arsyi pindah ke kamar tamu yang berada di sebelah kamarnya, karena pasti Arsyi akan semakin ketakutan jika kembali ke kamar yang sebelumnya ia tempati.
"Arsyi sayang sebaiknya istirahat di sini dulu ya, kalau ada apa-apa Arsyi panggil Mama saja," ujar Suci dengan membantu Arsyi berbaring, kemudian Suci menyusul Arya yang hendak memeriksa kamar Arsyi.
Ketika sampai di kamar Arsyi, Suci terkejut karena sebelumnya Suci mengira jika kamar Arsyi dalam keadaan berantakan.
"Bukan Ma, karena Papa juga baru sampai. Tadi Papa pergi ke ruang kerja dulu untuk memeriksa beberapa dokumen."
"Lalu siapa yang sudah membersihkan kamar Arsyi? Bi Darsih masih menemani Mama di Singapura, selama satu minggu Arsyi di rawat, tidak pernah ada yang pulang ke rumah ini," ujar Suci yang merasa heran.
"Sepertinya Iqbal yang sudah melakukan semuanya sebelum meninggalkan kediaman Argadana. Ma, sebenarnya Iqbal juga tidak membawa sepeser pun harta milik keluarga Argadana serta semua aset peninggalan Rian," ujar Arya yang merasa semakin bersalah terhadap Iqbal.
"Bagaimana mungkin Iqbal bisa hidup tanpa membawa uang Pa?"
"Setelah Papa mengecek kartu ATM yang kita berikan kepada Iqbal selama Sekolah di luar negeri, Iqbal bahkan tidak pernah menggunakannya Ma."
"A_apa? Lalu darimana Iqbal mendapatkan uang untuk membayar Kuliah serta biaya kehidupan nya sehari-hari?"
__ADS_1
"Tadi Papa sudah bertanya kepada Teman Papa yang selama ini tinggal bersama Iqbal di luar negeri. Katanya Iqbal berhasil mendapatkan beasiswa, bahkan Iqbal Kuliah sambil bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, dan Iqbal meminta kepada Anton supaya merahasiakan nya dari kita, karena Iqbal ingin membuat kita merasa bangga," jelas Arya dengan menitikkan airmata, karena selama ini Arya tidak pernah mengira jika Iqbal sudah menjalani kehidupan yang sulit selama tinggal di luar negeri.
Suci menangis ketika mendengar perkataan Arya. Meski pun Iqbal sudah membuatnya kecewa, tapi Suci merasa bangga dengan prestasi yang Iqbal dapatkan, karena ternyata perjuangan Iqbal tidak sia-sia, padahal dari kecil Iqbal selalu mendapatkan peringkat terakhir.
"Pa, ternyata diam-diam Iqbal sudah membuat kita bangga, Iqbal bahkan sudah berhasil mendapatkan gelar S2 dengan peringkat terbaik," ujar Suci dengan menangis bahagia ketika melihat ijazah Iqbal yang sengaja Iqbal simpan bersama Sertifikat pemberian Rian.
"Iya Ma, Papa juga tidak menyangka jika Iqbal akan membuat kita bangga. Seandainya saja kejadian ini tidak pernah terjadi, pasti kita sudah merayakan keberhasilan Iqbal," ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci, dan keduanya berusaha untuk saling menguatkan.
"Sekarang kita hanya bisa berdo'a untuk Iqbal, semoga saja dimana pun Iqbal berada dia selalu diberikan kesehatan, Mama juga berharap Iqbal akan segera menemukan orangtua kandungnya, dan suatu saat nanti kita bisa berkumpul kembali," ujar Suci yang di Amini oleh Arya.
......................
Keesokan paginya,Teman Rizky yang berprofesi sebagai psikiater datang ke kediaman Argadana untuk membantu proses penyembuhan Arsyi.
Setelah Teman Rizky yang bernama Rendra memberikan pengobatan kepada Arsyi, Rendra berbincang dengan Rizky mengenai kondisi psikologis Arsyi.
"Rizky, sepertinya Arsyi tidak akan bisa sembuh dalam waktu dekat ini," ujar Rendra.
"Aku tau Ren, setidaknya kita sudah berusaha semaksimal mungkin," ujar Rizky.
"Orang yang menyakiti Arsyi adalah lelaki yang dicintainya, tapi sepertinya hanya orang tersebut yang bisa membuat Arsyi ke luar dari traumanya," ujar Rendra.
"Tapi sekarang kami sendiri tidak tau dimana keberadaan dia, karena Papa sudah mengusirnya," ujar Rizky dengan mengacak rambutnya secara kasar.
"Kamu jangan terlalu banyak pikiran, bukannya sebentar lagi kamu akan menikah dengan Putri? Calon pengantin tidak boleh stres," ujar Rendra dengan terkekeh.
Rizky menghela nafas panjang ketika mendengar perkataan Rendra. Sebelumnya Rizky sudah melakukan Shalat istikharah supaya mendapatkan petunjuk, tapi anehnya Putri dan Dinda sama-sama masuk ke dalam mimpi Rizky.
Sampai saat ini aku masih berada dalam dilema, karena aku tidak mengerti dengan petunjuk yang aku dapatkan. Tidak mungkin kan kalau aku harus menikahi keduanya? Batin Rizky kini bertanya-tanya.
*
__ADS_1
*
Bersambung