Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 188 ( Pernyataan cinta Rizky )


__ADS_3

Putri baru beberapa hari ini mengetahui tentang penyakit yang ia derita setelah sebelumnya melakukan pemeriksaan, karena dalam waktu satu bulan ini, Putri selalu mengalami gangguan pernafasan.


Awalnya Putri begitu syok ketika mengetahui jika dirinya menderita penyakit kanker paru-paru stadium akhir, apalagi Dokter menjelaskan jika penyakit yang Putri derita sudah tidak dapat disembuhkan lagi, dan penyakit tersebut disebabkan oleh Alina yang kebanyakan mengkonsumsi minuman beralkohol dan merokok saat sedang hamil Putri dulu.


Putri mencoba untuk ikhlas menerima takdir hidupnya, dan Putri bertekad untuk merahasiakan penyakitnya dari semua orang, karena Putri tidak mau orangtuanya merasa sedih jika mengetahui tentang penyakitnya.


"Maaf jika Kakak sudah egois Ratu, Kakak hanya bisa bertahan paling lama enam bulan lagi, dan Kakak ingin menghabiskan sisa waktu Kakak bersama dengan lelaki yang Kakak cintai," gumam Putri.


Sebenarnya Putri tau jika perempuan yang Rizky cintai adalah Dinda, karena saat berada di Rumah Sakit, Putri tidak sengaja mendengar percakapan antara Rizky dan Suci.


"Aku mungkin sudah egois karena ingin memiliki lelaki yang tidak mencintaiku, tapi suatu saat nanti aku akan menyatukan Rizky dan Dinda supaya bisa hidup bersama," gumam Putri dengan menitikkan airmata.


......................


Di tempat lain, tepatnya di kediaman keluarga Irwan, Hesti terus berusaha membujuk Dinda yang bersikeras akan menerima pekerjaan di Amerika.


"Sayang, Bunda mohon jangan tinggalkan kami, Bunda tidak mau berpisah jauh sama Dinda. Apa Dinda tega meninggalkan Bunda?"


Dinda menghela nafas panjang, karena keputusannya untuk mengambil pekerjaan di Amerika sudah bulat. Apalagi Dinda sudah bertekad untuk melupakan Rizky, siapa tau dengan pergi jauh, Dinda bisa segera melupakan lelaki yang dicintainya.


"Maaf Bunda, tapi Dinda tetap harus pergi. Bunda jangan khawatir, kalau ada libur, Dinda pasti pulang, atau Bunda bisa berkunjung ke Amerika."


"Nak, Bunda tau kalau Dinda memutuskan pergi ke Amerika karena ingin melupakan Rizky kan?"


"Selama ini Dinda tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari Bunda, dan tebakan Bunda benar, karena Dinda ingin berusaha melupakan Kak Rizky," ujar Dinda dengan menitikkan airmata.


"Nak, seharusnya saat Rizky memutuskan untuk menikahi Dinda, Dinda terima saja lamaran Rizky, kenapa Dinda sampai menyiksa diri sendiri demi kebahagiaan oranglain?"


"Bunda, percuma Dinda memiliki raga Kak Rizky, tapi hatinya milik perempuan lain. Dinda ingin melihat Kak Rizky bahagia meski pun bukan bersama Dinda. Sekarang tolong Bunda ijinkan Dinda pergi ya, Dinda mendapatkan penawaran bagus untuk menduduki posisi Manager. Siapa tau nanti saat pulang ke Indonesia, Dinda membawa Pria bule," ujar Dinda dengan tertawa untuk menutupi kesedihannya.


"Dasar Anak bodoh, kalau kamu ingin menangis, menangis saja, jangan pura-pura tertawa, karena selamanya Dinda tidak akan pernah bisa membohongi Bunda," ujar Hesti dengan menyentil dahi Dinda.


Dinda yang sudah tidak tahan membendung airmata, akhirnya menumpahkan tangisannya dalam pelukan Hesti.


"Bunda, kenapa cinta sesakit ini?" ucap Dinda dengan lirih.


"Nak, Bunda yakin jika suatu saat nanti Dinda akan menemukan kebahagiaan," ujar Hesti yang ikut menangis juga.


Setelah selesai memasukan pakaian yang akan dibawa, Dinda dan Hesti ke luar dari dalam kamar Dinda untuk menghampiri keluarganya yang sudah berkumpul di ruang keluarga.


Semuanya tidak ada yang setuju dengan keputusan Dinda, bahkan Mama Maya terus menangis karena tidak ingin berpisah dengan Cucunya.

__ADS_1


"Dinda sayang, Oma tidak mau pisah sama Dinda, jangan pergi ya Nak, Oma tidak rela."


"Maaf Oma, keputusan Dinda sudah bulat, tolong ijinkan Dinda pergi. Suatu saat nanti Dinda pasti akan kembali membawa calon Suami," ujar Dinda dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


Semuanya tidak dapat berkata apa pun, karena keputusan Dinda sudah tidak dapat diganggu gugat.


"Nak, kami akan menunggu Dinda pulang," ujar Irwan dengan memeluk tubuh Dinda, begitu juga dengan yang lainnya.


Dinda tidak mengijinkan siapa pun mengantarnya ke Bandara, tapi Nanda bersikeras ingin mengantar Dinda, dan akhirnya Dinda hanya bisa pasrah mengijinkan Nanda mengantarnya.


Sepanjang perjalanan menuju Bandara, Dinda dan Nanda berbincang untuk saling menguatkan, karena saat ini keduanya sama-sama tidak bisa memiliki orang yang mereka cintai.


"Dinda, aku tau bagaimana perasaan kamu, tapi aku yakin kalau kamu bisa melewati semua ini," ujar Nanda.


"Aku juga yakin kalau kamu akan terus berjuang mendapatkan cinta Arsyi kan?"


"Tentu saja, aku akan terus menunggu Arsyi sampai dia bersedia menikah denganku," ujar Nanda dengan penuh semangat.


"Semangat berjuang Nanda, kamu masih memiliki kesempatan untuk berjuang, sedangkan aku sudah tidak dapat memperjuangan cintaku lagi, karena pernikahan Kak Rizky dan Kak Putri sudah berada di depan mata," ujar Dinda dengan tertunduk sedih.


"Kamu salah, kalau kamu masih ingin berjuang mendapatkan cinta kamu, dia sudah lama menunggu kedatangan kamu," ujar Nanda dengan menunjuk sosok lelaki yang berdiri membelakangi Dinda dan Nanda saat keduanya tiba di Bandara.


Ketika Rizky mendengar dari Nanda tentang keberangkatan Dinda ke Amerika, Rizky bergegas menuju Bandara untuk mengejar Dinda, karena Rizky sadar betul jika perempuan yang dia cintai adalah Dinda.


Secara perlahan Rizky melangkahkan kakinya menghampiri Dinda, begitu juga dengan Dinda yang tidak sadar menghampiri Rizky, padahal sebelumnya Dinda berniat untuk menghindari Rizky.


Dinda terkejut karena Rizky tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat.


"Kenapa, kenapa kamu tega sekali ingin meninggalkanku Dinda?" ujar Rizky dengan menangis dalam pelukan Dinda.


Mungkin ini hanya halusinasiku saja, tidak mungkin kan Kak Rizky datang, apalagi sampai memeluk ku? Ucap Dinda dalam hati.


"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu pikir kamu sedang bermimpi?" ujar Rizky dengan mencubit pipi Dinda.


"Eh, kenapa pipi ku sakit? Jadi ini bukan mimpi?" gumam Dinda.


"Tentu saja ini bukan mimpi, memangnya kamu pikir siapa yang sekarang berdiri di hadapan kamu?"


"Apa Kak Rizky menangis?" tanya Dinda dengan mengusap lembut airmata yang menetes pada pipi Rizky.


"Mana mungkin seperti itu, aku hanya kelilipan saja," ujar Rizky yang berusaha mengelak, karena Rizky malu apabila mengakuinya.

__ADS_1


"Iya ya, mana mungkin kulkas dua pintu menangis. Kalau begitu, Dinda berangkat dulu ya Kak, maaf kalau Dinda tidak bisa hadir pada acara pernikahan Kak Rizky dan Kak Putri, semoga kalian selalu bahagia," ucap Dinda, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam Bandara.


Dinda terkejut karena Rizky menahan pergelangan tangannya.


"Kamu tidak boleh pergi, karena aku tidak ingin berpisah jauh dengan kamu, dan aku baru menyadari jika perempuan yang aku cintai adalah kamu Dinda," ujar Rizky.


Deg deg deg


Jantung Dinda berdetak kencang ketika mendengar pernyataan cinta Rizky, tapi Dinda sadar betul jika semuanya sudah terlambat, karena banyak hati yang akan tersakiti apabila Dinda menerima cinta Rizky.


"Maaf Kak Rizky, sekarang semuanya sudah terlambat, tidak seharusnya Kak Rizky mengatakan semua itu, karena pernikahan Kak Rizky dan Kak Putri sudah berada di depan mata," ucap Dinda dengan lirih.


"Aku tidak peduli dengan perasaan semua orang, karena yang aku tau aku sudah jatuh cinta sama kamu," ujar Rizky dengan kembali memeluk Dinda.


Dinda mencoba melepaskan pelukan Rizky, tapi Rizky semakin mengeratkan pelukannya.


"Cinta tidak harus saling memiliki, jika suatu saat nanti kita memang ditakdirkan hidup bersama, apa pun rintangannya, kita pasti bisa bersatu. Sekarang tolong Kak Rizky lepasin Dinda, Dinda tidak mau ketinggalan pesawat."


"Apa Dinda sudah yakin dengan keputusan Dinda? Dinda harus tau, baru kali ini Kak Rizky menyatakan cinta kepada seorang gadis?"


"Dinda tau Kak, tapi Dinda tidak bisa bahagia di atas penderitaan orang lain. Kak Putri adalah gadis yang baik, dan Dinda yakin Kak Rizky akan bahagia jika menikah dengan Kak Putri," ucap Dinda dengan menangis.


"Aku sendiri tidak yakin apa aku bisa bahagia apabila menikah dengan perempuan yang tidak aku cintai," ucap Rizky dengan mengusap lembut airmata Dinda.


"Kak, jodoh, hidup, dan mati manusia, sudah di atur oleh Tuhan. Mungkin di kehidupan kali ini Kak Rizky ditakdirkan berjodoh dengan Kak Putri, seandainya ada kehidupan lagi di masa mendatang, semoga kita ditakdirkan hidup bersama, dan Dinda janji, tidak akan melepaskan Kak Rizky lagi untuk perempuan mana pun," ucap Dinda dengan tersenyum tulus, dan berusaha mengikhlaskan semuanya.


Rizky terpaksa melepaskan pelukannya dari Dinda, karena Rizky tidak mau memaksakan kehendaknya terhadap Dinda.


"Jaga diri baik-baik ya Dinda. Kak Rizky juga akan terus berdo'a untuk kebahagiaan Dinda. Semoga Dinda selalu diberikan kesehatan, dan menemukan lelaki yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Kak Rizky, meski pun Kak Rizky akan terus berharap jika suatu hari nanti kita ditakdirkan hidup bersama. Maaf jika Kak Rizky sudah menyakiti hati Dinda," ujar Rizky kemudian mencium kening Dinda.


"Itu adalah ciuman pertama Kak Rizky," ujar Rizky dengan tersenyum malu.


Dengan berat hati secara perlahan Rizky melepaskan pegangan tangannya dari Dinda, dan Rizky tidak menyangka karena tiba-tiba Dinda mencium pipinya.


"Itu juga ciuman pertama Dinda," ujar Dinda kemudian berlari, lalu melambaikan tangannya kepada Nanda dan Rizky yang masih diam mematung dengan memegangi pipi yang dicium oleh Dinda.


Dinda pergi dengan tersenyum bahagia, karena Dinda sudah mengetahui perasaan Rizky.


Ternyata selama ini cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, meski pun aku tidak bisa menikah dengan Kak Rizky, tapi pernyataan cinta Kak Rizky sudah membuat aku merasa bahagia. Selamat tinggal Kak Rizky, semoga kita bisa bertemu kembali, ucap Dinda dalam hati dengan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam pesawat.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2