
Mark tertegun mendengar cerita Putri, dan Mark begitu kagum dengan kepribadian yang dimiliki oleh Dinda, Rizky, dan Putri, karena ketiganya dengan tulus sudah rela mengorbankan perasaan mereka untuk orang-orang yang mereka sayangi.
"Aku akan mendukung kamu untuk menyatukan Dinda dan Rizky," ucap Mark dengan tersenyum tulus.
"Terimakasih banyak atas pengertiannya Mark. Semoga kamu mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Dinda," ujar Putri.
"Aku hanya berharap, perempuan yang aku cintai selalu bahagia dengan lelaki yang dicintainya. Tuhan juga pasti akan membalas semua kebaikan kamu Putri. Kalau begitu aku pulang dulu. Apabila nanti Dinda menanyakan keberadaan ku, katakan saja aku ada keperluan yang mendadak. Semoga misi kamu berhasil," ucap Mark, kemudian ke luar dari Apartemen Dinda, sebelum Dinda dan Rizky kembali dari dapur.
Beberapa saat kemudian, Dinda dan Rizky kembali ke ruang makan, dan keduanya terlihat salah tingkah ketika Putri melihat ke arah mereka.
"Dinda, kenapa bibir kamu bisa bengkak seperti itu?" tanya Putri.
Dinda mencoba mengalihkan pertanyaan Putri dengan menanyakan keberadaan Mark.
"Kak Putri, kemana Mark?"
"Mark sudah pergi, katanya ada urusan mendadak."
"Padahal tadinya dia kan mau ikut kita jalan-jalan," ujar Dinda yang tidak ingin menjadi obat nyamuk apabila jalan bertiga bersama Putri dan Rizky.
Putri menatap lekat wajah Rizky, dan Putri sengaja menggoda Rizky dan Dinda dengan kembali mengajukan pertanyaan.
"Rizky, kenapa bibir kamu sampai bengkak dan berdarah seperti itu?" tanya Putri yang pura-pura tidak tau apa yang sudah Rizky dan Dinda lakukan.
"Aku tadi digigit lebah cantik," jawab Rizky dengan tersenyum melihat ke arah Dinda.
Bisa-bisanya Kak Rizky menjawab seperti itu. Bagaimana kalau Kak Putri sampai curiga kalau aku yang sudah menggigit bibir Kak Rizky karena sudah memaksa mencium ku? Aku juga tidak mungkin mengatakan kepada Kak Putri kenapa bibirku sampai bengkak seperti ini, ucap Dinda dalam hati yang merasa bersalah terhadap Putri.
"Dinda, apa bibir kamu disengat Tawon jantan juga sehingga menjadi bengkak seperti itu?" tanya Putri dengan tertawa untuk menyembunyikan kesedihannya.
Dinda merasa heran melihat sikap Putri, karena Putri seakan sudah mengetahui adegan panas yang telah dilakukan Rizky dan Dinda saat berada di dapur.
Apa Kak Putri tau apa yang sudah aku dan Kak Rizky lakukan? Tapi kenapa Kak Putri tidak terlihat marah ya? Padahal di dalam Novel yang aku baca atau Sinetron yang aku tonton, seorang Istri pasti akan mengamuk saat mengetahui Suaminya berselingkuh, batin Dinda kini bertanya-tanya.
Putri mengajak Dinda dan Rizky untuk duduk, karena Putri ingin menjelaskan semuanya kepada Dinda tentang pernikahan Putri dan Rizky yang hanya sebatas status saja.
"Sebaiknya sekarang kalian duduk. Dinda, ada yang ingin Kak Putri jelaskan sama kamu," ujar Putri dengan menarik lembut tangan Dinda untuk duduk di sampingnya.
Dinda gemetar ketakutan, karena Dinda sudah membayangkan jika Putri akan menampar serta menjambak rambutnya, sehingga membuat Dinda bergidik ngeri.
__ADS_1
"Dinda, apa kamu masih mencintai Rizky?" tanya Putri dengan menatap lekat wajah Dinda.
Dinda begitu terkejut dengan pertanyaan yang Putri lontarkan, sontak saja semua itu membuat Dinda semakin merasa ketakutan.
"Ma_mana mungkin seperti itu, tadi Kak Putri sudah bertemu dengan pacar Dinda kan? Dan sebentar lagi kami berdua akan menikah," jawab Dinda dengan tergagap.
"Sampai kapan kamu akan membohongi diri sendiri? Kamu dan Mark hanya pura-pura pacaran kan?" tanya Putri lagi.
"A_apa maksud Kak Putri?"
"Aku sudah tau tentang perasaan yang kamu dan Rizky miliki, bahkan sebelum aku dan Rizky menikah."
Dinda tidak menyangka jika Putri Telah mengetahui tentang semua itu.
"Kak Putri, Dinda benar-benar minta maaf. Sedikit pun Dinda tidak ada niat untuk merebut Kak Rizky dari Kak Putri. Dinda janji akan melupakan Kak Rizky," ujar Dinda dengan menangis memeluk tubuh Putri.
Putri mengelus lembut punggung Dinda, dan Putri tidak mengira jika Dinda memiliki hati yang begitu baik, karena Dinda masih saja memikirkan perasaan Putri.
"Dinda, seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah menjadi orang ketiga di antara kamu dan Rizky, dan sekarang tujuanku datang ke sini untuk mengembalikan Rizky kepada perempuan yang dicintainya. Aku ingin kalian berdua hidup bahagia," ujar Putri yang ikut menangis juga.
"Tidak, Kak Putri tidak boleh berkata seperti itu. Kak Rizky hanya akan menjadi milik Kak Putri, dan Dinda berjanji tidak akan pernah merebutnya."
"Dinda, kamu harus tau, kalau pernikahan aku dan Rizky tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku dan Rizky tidak pernah bersentuhan fisik, karena selama ini yang Rizky cintai hanyalah kamu."
Dinda menatap tajam Rizky, karena Dinda mengira jika Rizky tidak memperlakukan Putri dengan baik.
"Dinda, semuanya bukan salah Rizky, tapi aku juga tidak bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang Istri, karena sebenarnya aku menderita kanker paru-paru stadium akhir, dan sisa umurku sudah tidak lama lagi."
Degg
Jantung Dinda rasanya berhenti berdetak. Dinda tidak mengira jika Putri memiliki penyakit yang parah seperti itu.
"Ti_tidak mungkin. Kak Putri pasti sembuh, Kak Putri pasti tidak akan meninggalkan kami," ucap Dinda yang kembali menangis dan memeluk erat tubuh Putri.
"Aku juga berharap seperti itu, tapi pada kenyataannya penyakit yang aku derita sudah tidak dapat di obati lagi. Dinda, apa bisa Dinda mengabulkan keinginan terakhir Kak Putri?"
"Apa pun permintaan Kak Putri, Dinda pasti akan mengabulkannya."
Putri tersenyum, karena Dinda langsung menyetujuinya.
__ADS_1
"Kak Putri ingin melihat Dinda dan Rizky menikah."
Dinda terkejut ketika mendengar permintaan Putri, karena Dinda sama sekali tidak mengira jika Putri akan membuat permohonan seperti itu terhadap dirinya.
"Ta_tapi Dinda tidak bisa melakukan semua itu Kak. Meski pun pada kenyataannya Dinda mencintai Kak Rizky, tapi Dinda tidak bisa bahagia dia atas kesedihan orang lain."
"Tadi Dinda sudah berjanji sama Kak Putri akan mengabulkan apa pun permintaan Kak Putri, jadi Dinda tidak bisa mengingkarinya. Kak Putri akan merasa bahagia apabila diberikan kesempatan melihat kalian berdua bahagia," ujar Putri dengan menyatukan tangan Rizky dan Dinda.
Dinda melihat wajah Rizky, dan Rizky tersenyum serta menganggukkan kepalanya kepada Dinda.
"Kalau begitu, sekarang kita bertiga harus makan yang banyak untuk merayakan keberhasilanku menyatukan cinta kalian," ujar Putri yang terlihat begitu bersemangat.
Dinda dan Rizky langsung memeluk tubuh Putri, dan keduanya mengucapkan terimakasih.
"Putri terimakasih."
"Kak Putri terimakasih."
Ucap Rizky dan Dinda secara bersamaan.
"Kalian berdua tidak perlu mengucapkan terimakasih kepadaku, karena seharusnya aku yang mengucapkan terimakasih kepada kalian. Dinda, terimakasih banyak ya, karena kamu sudah memberikan kesempatan kepadaku untuk menikah dengan Rizky."
"Kak Putri pantas menikah dengan Kak Rizky, karena Kak Putri lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Dinda."
"Rizky akan menjadi lelaki yang paling beruntung karena dia bisa mendapatkan perempuan baik seperti kamu. Rizky, terimakasih banyak ya, selama ini kamu sudah menjadi Suami yang baik untukku. Terimakasih juga atas semua kebahagiaan yang telah kamu berikan."
"Sebagai seorang Suami, sudah seharusnya aku melakukan semua itu."
Setelah Dinda, Rizky dan Putri selesai sarapan, ketiganya memutuskan pergi jalan-jalan di sekitar Apartemen.
Putri terlihat berlarian ke sana kemari mengejar sekumpulan burung merpati, dan Putri sengaja menjauh dari Rizky dan Dinda, supaya keduanya bisa memiliki waktu untuk mengobrol.
Dinda dan Rizky berjalan berdampingan, tapi keduanya masih larut dalam pikiran masing-masing, sampai akhirnya Dinda merasakan tangan Rizky memegang erat tangannya.
"Dinda, apa kamu bahagia?"
*
*
__ADS_1
Bersambung