Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 61 ( Salah paham )


__ADS_3

Suci tersenyum bahagia ketika mendengar perkataan Dokter, berbeda dengan Rian yang sebenarnya masih belum bisa menerima kenyataan jika Suci kembali hamil Anak Arya, tapi Rian mencoba untuk tersenyum supaya Suci tidak merasa sedih dan curiga jika Rian bukanlah Ayah dari bayi yang Suci kandung.


"Mas, Alhamdulillah kita akan memiliki bayi lagi," ucap Suci dengan mata yang berbinar.


"Iya sayang, Alhamdulillah kita kembali diberi rezeki yang besar oleh Tuhan," ucap Rian dengan memeluk tubuh Suci.


Dokter menjelaskan tentang resiko kehamilan yang jaraknya berdekatan, dan Dokter menyarankan supaya Suci banyak istirahat dan tidak terlalu banyak pikiran.


"Sebenarnya kehamilan yang jarak nya terlalu berdekatan, rentan dengan resiko keguguran. Jadi, Nyonya harus banyak istirahat dan tidak boleh stres."


"Terimakasih banyak Dok, Saya pasti tidak akan membiarkan istri saya merasa kecapean, apalagi sampai stres," ujar Rian.


Setelah Dokter memberikan resep untuk Suci, Rian dan Suci ke luar dari ruang praktek Dokter, dan Rian terus menggandeng tubuh Suci karena takut jika Suci sampai terjatuh.


"Sayang, jalannya pelan-pelan saja," ucap Rian.


"Mas jangan terlalu khawatir, Suci pasti akan menjaga diri dengan baik."


Rian dan Suci pulang setelah mengantri obat, dan setelah memikirkan semuanya, Rian bersyukur dengan kehamilan Suci, karena akhirnya untuk sementara waktu Rian memiliki alasan jika Suci bertanya kenapa Rian tidak pernah memberikan nafkah batin kepada Suci.


Seharusnya aku bersyukur karena sekarang Suci kembali hamil, jadi aku memiliki alasan untuk tidak menyentuh nya. Suci pasti merasa curiga karena aku tidak pernah memberikan nafkah batin kepadanya, batin Rian.


Susi merasa iri ketika melihat Rian yang begitu perhatian terhadap Suci, apalagi saat Susi mendengar jika Suci kembali hamil, karena Rian pasti akan semakin memanjakan Suci.


Kenapa sih hidup si Suci beruntung sekali? dia memiliki segalanya, apalagi Tuan Rian terlihat sangat mencintainya. Aku harus melakukan sesuatu supaya Tuan Rian berpaling kepadaku, ucap Susi dalam hati yang terus memikirkan cara supaya bisa merebut Rian, karena Rian sangat sulit sekali untuk dia dekati.


......................


Alina yang sudah satu bulan bekerja di Argadana Grup, merasa kesal karena belum sekali pun bertemu dengan Arya, padahal misi Alina bekerja di sana adalah untuk mendekati Arya.


"Sayang, kenapa kamu melamun terus? apa ada pekerjaan yang tidak kamu mengerti?" tanya Farel dengan memeluk tubuh Alina yang saat ini tengah melamun di depan laptop.

__ADS_1


"Farel, kenapa sih kamu selalu saja menggangguku," ujar Alina yang merasa kesal karena merasa terganggu dengan kehadiran Farel.


"Alina, sampai kapan kamu akan menggantung hubungan kita? aku juga ingin selalu dekat dengan Anakku, dan Putri membutuhkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya."


"Kalau kamu ingin merawat si cacat, kamu bawa saja dia ke rumah kamu, aku juga tidak peduli dengan Anak kamu yang cacat itu," ujar Alina.


Farel merasa geram mendengar perkataan Alina yang sudah menghina Putri.


"Alina, bagaimanapun juga Putri adalah Anak kandung kita, tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu. Sekarang juga kamu ikut aku pulang, karena aku akan menikahi kamu," ujar Farel dengan menarik paksa tangan Alina.


"Lepaskan pegangan tangan kamu Farel, kamu jangan gila, karena aku tidak mau menikah dengan kamu," teriak Alina karena Farel terus menarik paksa Alina untuk ke luar dari dalam ruangannya.


Farel dan Alina tidak sengaja bertabrakan dengan Irwan yang sudah kembali bekerja, karena Arya dan Irwan sudah berbaikan.


Pada awalnya Irwan begitu syok mendengar kabar kematian Erwin, tapi Irwan mencoba mengikhlaskannya, karena sejatinya semua yang hidup pasti akan mati, apalagi kematian Erwin adalah buah dari kesalahan atas perbuatan yang telah Erwin lakukan.


"Farel, kenapa kamu menarik tangan Alina seperti itu?" tanya Irwan.


"Alina, sebaiknya sekarang kita pulang ke rumah kamu, kalau kamu tidak mau menikah denganku, sekarang juga aku akan mengambil Putri."


"Kamu pergi saja sendiri, si cacat pasti ada di rumah, dan kamu bilang saja sama Papa kalau kamu akan membawanya," ujar Alina.


"Alina, kamu sudah sangat keterlaluan, Putri itu Anak kandung kita, tidak seharusnya kamu memanggil Putri dengan panggilan seperti itu. Papa kamu juga pasti tidak akan mengijinkan aku membawa Putri pergi, karena kita belum menikah," ujar Farel.


Irwan terkejut ketika mengetahui jika Alina dan Farel memiliki Anak, padahal setahu Irwan, Alina baru bercerai dengan Rian.


"Alina, bukannya kamu baru beberapa bulan bercerai dengan Suami kamu? tapi kenapa kamu bisa melahirkan Anak Farel?" tanya Irwan.


"Sudahlah Irwan, kamu tidak perlu banyak bertanya. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, tapi Alina masih belum mengijinkan aku untuk bertanggung jawab menebus semua kesalahan yang telah aku lakukan," ujar Farel.


"Kamu beruntung karena masih bisa mempertanggung jawabkan kesalahan kamu terhadap Alina, sedangkan aku, untuk meminta maaf saja kepada mendiang Suci, aku sudah tidak bisa, padahal aku selalu dihantui oleh perasaan bersalah karena telah menjadi penyebab kematian Suci," ujar Irwan.

__ADS_1


Hesti yang saat ini sedang bersih-bersih di dekat Farel dan Irwan mengobrol, tidak sengaja mendengar jika Irwan adalah orang yang telah menjadi penyebab kematian Suci, dan Hesti begitu geram sehingga terbesit ide dalam hati Hesti untuk membalaskan dendam kematian Suci terhadap Irwan.


Jadi Tuan Irwan yang sudah menjadi penyebab Suci meninggal dunia? lihat saja nanti, aku akan membalaskan dendam atas kematian Suci kepadanya, batin Hesti yang sudah salah paham karena mengira jika Irwan adalah orang yang telah menabrak Suci, karena Hesti pergi untuk membersihkan ruangan lainnya sebelum Farel dan Irwan melanjutkan kembali pembicaraan mereka.


"Irwan, kamu jangan terus terusan merasa bersalah, karena yang menabrak Suci adalah mendiang Erwin, bukan kamu," ujar Farel.


"Tapi Rel, seharusnya saat itu aku bisa mencegah Erwin supaya tidak menabrak Suci, setidaknya aku bisa memaksa Erwin untuk menghentikan mobilnya supaya aku bisa membawa Suci ke Rumah Sakit. Suci meninggal pasti karena terlambat mendapatkan pertolongan medis," ujar Irwan.


"Sudahlah Irwan, sekarang kita tidak bisa terus terusan menyesali semua perbuatan yang kita lakukan di masalalu, tapi kita harus berusaha supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang," ujar Farel dengan menepuk bahu Irwan.


"Oh iya, apa kamu sudah mendengar jika sekarang Arya tengah sakit?" tanya Irwan.


"Aku belum sempat mengecek handphone, karena aku baru selesai meeting. Memangnya Arya sakit apa?"


"Katanya dia mual muntah terus, sama seperti saat dulu Suci hamil Anak mereka," jawab Irwan.


"Kenapa bisa seperti itu ya? Arya tidak mungkin kan kembali menghamili seorang gadis sehingga dia mendapatkan karma seperti dulu?" ujar Farel yang terlihat berpikir.


"Sebaiknya sekarang kita menjenguk Arya supaya bisa mengetahui penyakit Arya yang sebenarnya," ujar Irwan, dan Alina yang mendengar Irwan mengajak Farel untuk menjenguk Arya, terlihat begitu bersemangat, karena Alina memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Arya.


"Irwan, aku juga ikut jenguk Arya ya," ucap Alina.


Irwan dan Farel tidak mungkin melarang Alina untuk ikut dengan mereka menjenguk Arya, karena saat ini jam kerja sudah selesai, apalagi Alina juga merupakan Teman Arya, dan keduanya tidak memiliki pemikiran jika Alina memiliki maksud lain terhadap Arya.


Akhirnya aku bisa memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Arya. Aku pasti bisa mendekatinya, apalagi saat ini Arya sedang membutuhkan seseorang untuk merawatnya, ucap Alina dalam hati dengan tersenyum licik.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2