Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 208 ( Suami Istri di atas kertas )


__ADS_3

Lain hal nya dengan pasangan Iqbal dan Arsyi yang tidur satu ranjang, Nanda justru tidak memperdulikan Ratu yang lebih memilih tidur di atas sofa.


Keesokan paginya Ratu bangun dengan seluruh badan yang terasa pegal, dan Ratu terus uring-uringan karena Ratu pikir Nanda akan memindahkannya ke atas kasur saat dia sudah tertidur.


Ratu yang merasa geram langsung menghampiri Nanda yang masih terlelap di atas ranjang yang empuk.


"Enak sekali kamu tidur di atas ranjang yang empuk, sedangkan aku harus tidur di atas sofa," teriak Ratu dengan bertolak pinggang.


Nanda langsung menutup kupingnya, karena suara Ratu mengalahkan speaker Mesjid.


"Heh Mak lampir, bisa tidak pagi-pagi begini kamu gak usah teriak-teriak? Ini rumah bukan Hutan, kalau kamu pengen bebas berteriak, sana pergi ke Hutan," ujar Nanda.


"Nanda, kamu tega sekali membiarkan aku semalaman tidur di sofa, Kenapa kamu tidak memindahkan aku ke atas kasur?" ujar Ratu kemudian membaringkan tubuhnya di samping Nanda, karena Ratu masih mengantuk.


"Untuk apa aku memindahkan kamu? Bukannya kamu sendiri yang mengatakan ingin tidur di sofa?" ujar Nanda.


Nanda membalikan tubuhnya untuk melihat Ratu, karena dia tidak mendengar suara Ratu lagi.


"Pantesan saja Dunia ini terasa damai, ternyata Mak lampir sudah tidur," gumam Nanda, kemudian melangkahkan kaki nya menuju kamar mandi karena sudah mendengar Adzan Subuh berkumandang.


Setelah selesai mandi, Nanda membangunkan Ratu untuk Shalat Subuh berjamaah di Mushala yang berada di depan rumah keluarga Irwan.


"Wooy Mak lampir bangun, kamu tidak malu bangun keduluan sama Ayam?" teriak Nanda di telinga Ratu.


"Bodo amat, aku masih ngantuk," ujar Ratu dengan menutupi kupingnya menggunakan bantal.


"Ratu, sekarang sudah Adzan Subuh, semuanya pasti sudah menunggu kita di Mushala untuk Shalat berjamaah," ujar Nanda.


"Kamu aja sendiri yang berangkat, dari kecil aku juga jarang Shalat, apalagi Shalat berjamaah bersama keluarga, sepertinya aku tidak pernah melakukan semua itu. Lagi pula aku sudah lupa bacaan Shalat," ujar Ratu yang masih enggan untuk bangun.


Nanda mengacak rambutnya secara kasar, kemudian Nanda mengucap istighfar dengan mengusap wajahnya.


"Ratu, sekarang aku sudah menjadi Suami kamu, jadi kamu harus menuruti perintahku."


"Suami macam apa yang tengah malam terus memanggil nama Mantannya? Bahkan dalam mimpi pun kamu masih mengingat Arsyi," ujar Ratu yang merasa kesal, karena semalam Nanda terus mengigau memanggil nama Arsyi.


"Aku minta maaf," ucap Nanda dengan lirih, kemudian melangkahkan kaki nya menuju Mushala tanpa memperdulikan Ratu yang tidak bersedia ikut dengannya.


"Kenapa dia minta maaf? Apa dia merasa bersalah? Bodo amat, aku mau lanjutin tidur lagi," gumam Ratu dengan menutupi tubuhnya menggunakan selimut.

__ADS_1


Hesti dan yang lainnya sudah menunggu kedatangan Nanda dan Ratu untuk Shalat berjamaah, tapi ternyata Nanda hanya datang sendirian.


"Nak, kenapa Ratu tidak ikut ke sini?" tanya Hesti.


"Dia katanya masih ngantuk Bunda," jawab Nanda.


"Nanda, sebagai seorang Suami, kamu harus bisa membimbing Istri kamu dengan baik, karena di akhirat nanti yang akan menanggung dosa Istri adalah Suami," ujar Papa Andi.


"Iya Opa, nanti Nanda akan bicara lagi sama Ratu."


Setelah selesai Shalat Subuh, Hesti dan Mama Maya langsung menuju dapur. Meski pun rumah mereka terpisah, tapi Hesti dan Mama Maya selalu memasak bersama, dan semua keluarga akan makan bersama juga.


"Benar-benar Menantu gak ada akhlak, enak sekali jam segini masih tidur-tiduran. Sepertinya kita harus memberi Ratu pelajaran," ujar Hesti kepada Mama Maya.


"Iya, Mama setuju. Sebaiknya nanti kita habisin saja makanannya, biar si Ratu masak sendiri. Seharusnya dia yang melayani kita, enak saja Mertua yang harus melayani Menantu," ujar Mama Maya.


Semuanya telah berkumpul untuk sarapan, tapi Ratu masih belum bangun juga.


"Nanda, memangnya semalam kamu mengajak Ratu main berapa Ronde? Sudah siang begini masih belum bangun juga," tanya Irwan dengan terkekeh.


Nanda yang mendengar pertanyaan Irwan langsung tersedak minuman.


"Ayah gak usah berpikir yang tidak-tidak. Kami hanya Suami Istri di atas kertas saja. Nanda tidak mau menyentuh Mak lampir seperti dia," ujar Nanda dengan mengunyah makanan.


Selera makan Nanda tiba-tiba hilang, kemudian Nanda berpamitan untuk pergi ke Kantor.


"Kalau begitu sekarang Nanda berangkat kerja dulu," ujar Nanda dengan bergantian mencium punggung tangan semuanya.


"Nak, Nanda belum menghabiskan makanannya," ujar Hesti.


"Nanda sudah kenyang Bunda."


"Nanda, kamu tidak perlu berangkat ke Kantor, Ayah sudah memberikan kamu cuti selama satu minggu. Sebaiknya kamu ajak Ratu pergi berbulan madu," ujar Irwan.


"Bulan madu hanya untuk dua orang yang saling mencintai," ujar Nanda kemudian mengucapkan salam sebelum berangkat.


Mama Maya dan Hesti langsung menatap tajam Papa Andi dan Irwan sehingga nyali kedua lelaki tersebut menciut.


"Bisa-bisanya Papa sama Anak kompak menindas Cucu kesayanganku," ujar Mama Maya.

__ADS_1


"Seharusnya Papa sama Ayah memikirkan perasaan Nanda, Nanda masih belum bisa move on, dan kalian harus memberinya waktu, bukan malah mengingatkannya kepada Arsyi. Ayah lihat sendiri kan kalau Anak kita menjadi sedih? Lagian perempuan seperti Ratu tidak pantas mendapatkan cinta dari Nanda," ujar Hesti.


"Iya, iya maaf, kami tidak akan mengulanginya lagi," ucap Papa Andi dan Irwan secara bersamaan.


"Hesti, sepertinya kita harus memberi pelajaran kepada Suami-suami kita. Bagaimana kalau mereka kita suruh puasa dulu," ujar Mama Maya.


"Iya Ma, biar mereka tau rasa," ujar Hesti.


"Ampun Ma, jangan. Papa tidak akan sanggup," ujar Papa Andi dengan memeluk tubuh Mama Maya, begitu juga dengan Irwan yang langsung memeluk Hesti, karena Ayah dan Anak tersebut adalah tipe Suami yang takut Istri.


"Lihat saja nanti, kalau kalian masih membuat Cucu kesayanganku sedih, kami tidak akan segan-segan memberi pelajaran kepada kalian," ujar Mama Maya dengan menggesekkan sendok dan garpu sehingga membuat Papa Andi dan Irwan bergidik ngeri.


Setelah selesai makan, Irwan dan Papa Andi bergegas berangkat ke Kantor, karena mereka tidak mau Hesti dan Mama Maya semakin murka.


"Sayang, sekarang giliran Hesti membangunkan Putri tidur, karena kita harus memberinya pelajaran," ujar Mama Maya.


"Oke siap, Hesti akan langsung mengguyurnya dengan air dingin kalau Putri tidur tidak mau bangun juga," ujar Hesti.


Hesti melangkahkan kaki nya menuju kamar Nanda, sedangkan Mama Maya menyembunyikan makanan yang berada di atas meja makan dengan memasukannya ke dalam lemari.


"Putri tidur, sudah waktunya bangun, apa kamu tidak lapar?" tanya Hesti dengan menggoyangkan tubuh Ratu.


"Aku masih ngantuk," ujar Ratu dengan mata yang masih terpejam.


Hesti mengambil air minum yang berada di atas nakas, kemudian mencipratkan air tersebut pada wajah Ratu.


"Apa kamu pikir aku ini tanaman, sampai kamu menyiram ku dengan air? Aku bilang masih ngan_tuk," ucap Ratu yang begitu terkejut karena ternyata yang mencipratkan air ke wajahnya bukanlah Nanda, tapi Hesti.


"Oooooh, jadi Putri tidur masih ngantuk ya? Apa kamu tidak melihat jam? Sekarang sudah jam sembilan. Apa pantas seorang Istri masih enak-enakan tidur sedangkan Suaminya sudah berangkat kerja?" ujar Hesti.


"Bunda tidak perlu membesar-besarkan masalah, lagian aku adalah Menantu di rumah ini, jadi tidak perlu repot-repot mengurus Suamiku, karena sudah ada Pembantu yang menyiapkan semuanya," ujar Ratu dengan entengnya.


"Kamu jangan bermimpi, di rumah ini kami tidak menggunakan jasa pembantu, karena kami sudah terbiasa saling membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Sebaiknya sekarang kamu mandi, kemudian kamu masak, nyuci, ngepel, beres beres rumah," cerocos Hesti, lalu ke luar dari dalam kamar Nanda dan Ratu dengan tertawa karena merasa lucu ketika melihat ekspresi Ratu yang terlihat syok.


Ratu merasa bingung dengan semua pekerjaan yang Hesti berikan, karena sebelumnya Ratu tidak pernah melakukan semua itu.


"Aaaaaaa, kenapa aku memiliki Ibu Mertua yang kejam seperti Ibu tiri? Tapi kalau dipikir-pikir Ibu tiriku saja tidak kejam seperti Ibu Mertuaku. Aku tidak mau melakukan semua itu, dalam seumur hidupku aku tidak pernah melakukannya. Bagaimana kalau nanti kuku-kuku aku jadi rusak?" teriak Ratu yang merasa kesal dengan perlakuan Hesti terhadapnya.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2