
Setelah Rian melunasi semua tagihan Rumah Sakit mendiang istri Pak Tamrin, Rian dan Pak Tamrin di antar oleh Perawat menuju ruang bayi untuk mengambil bayi Pak Tamrin.
"Pak, ini bayi Bapak," ucap Perawat kepada Pak Tamrin dengan memberikan bayinya.
Pak Tamrin dan Rian ke luar dari ruang bayi menuju kamar perawatan Suci, dan setelah sampai di depan kamar perawatan Suci, dengan berat hati Pak Tamrin memberikan bayinya kepada Rian.
"Mas Rian, saya titip Anak saya," ucap Pak Tamrin dengan mencium pipi bayinya, kemudian memberikan bayinya kepada Rian.
"Bapak tidak perlu khawatir, karena saya akan menepati janji saya kepada Bapak untuk menjaga dan menyayanginya seperti Anak kandung saya sendiri," ucap Rian dengan tersenyum bahagia, karena jalan Rian untuk hidup bersama dengan Suci merasa dipermudah.
Rian juga memberikan uang sebesar lima puluh juta rupiah kepada Pak Tamrin, dan Pak Tamrin terpaksa menerimanya, karena saat ini Pak Tamrin sedang membutuhkan biaya hidup untuk kelima Anaknya.
"Pak, tolong terima ini. Anggap saja ini adalah rezeki untuk kelima Anak Bapak," ucap Rian.
Tangan Pak Tamrin terlihat gemetar saat menerima uang pemberian Rian, karena Pak Tamrin merasa sudah menjual Anak kandungnya sendiri.
"Pak, saya mengerti perasaan Bapak, Bapak jangan merasa telah menjual Anak Bapak, tapi anggap saja Bapak telah membantu saya dan Istri," ujar Rian.
"Terimakasih banyak Mas," ucap Pak Tamrin.
"Kalau begitu saya masuk dulu," ucap Rian yang akhirnya masuk ke dalam kamar perawatan Suci.
Pak Tamrin memutuskan untuk mengintip Rian dan Suci sebelum pulang, karena Pak Tamrin ingin memastikan bahwa Pak Tamrin tidak memberikan bayinya kepada orang yang salah.
"Sayang, lihat siapa yang Mas bawa," ucap Rian dengan memberikan bayi Pak Tamrin kepada Suci.
"Mas, apa bayi tampan ini adalah Anak kita? kenapa Mas membawanya ke Rumah Sakit?" tanya Suci dengan mencium pipi bayi tampan tersebut.
"Rizky barusan habis imunisasi, jadi Mas sekalian membawanya ke sini," ujar Rian mencoba mencari alasan yang tepat.
Suci sebenarnya merasa heran dengan alasan yang diberikan oleh Rian.
Apa aku tidak tau ya jika ada imunisasi untuk bayi berusia dua minggu? batin Suci, tapi Suci mencoba percaya kepada Rian, karena saat ini Suci merasa bahagia bisa bertemu dengan bayi yang ia kira sebagai Anaknya.
__ADS_1
Pak Tamrin menitikkan airmata saat melihat bayinya digendong oleh Suci, apalagi Suci dan Rian terlihat menyayanginya.
Maafin Bapak Nak, Bapak terpaksa melakukan semua ini. Semoga kamu bahagia hidup bersama dengan keluarga baru kamu, batin Pak Tamrin, kemudian memutuskan untuk pulang dan merelakan bayinya dirawat oleh Rian dan Suci.
......................
Di lain tempat, tepatnya di kediaman Argadana, Arya tiba-tiba pingsan karena syok setelah mendapatkan telpon dari Rumah Sakit yang mengabarkan jika Suci telah meninggal dunia.
Papa Fadil yang melihat Arya pingsan setelah mengangkat telpon, langsung mengambil handphone Arya dan melanjutkan pembicaraan Arya dengan pihak Rumah Sakit.
"Fadil, apa yang sudah terjadi? kenapa Arya bisa sampai pingsan?" tanya Oma Rahma.
"Barusan pihak Rumah Sakit menelpon Arya dan mengabarkan jika Suci meninggal dunia karena menjadi korban tabrak lari," ucap Papa Fadil dengan menitikkan airmata, karena hatinya terasa sakit ketika mendengar kabar kematian Suci.
"Tidak, tidak mungkin Suci meninggal dunia," teriak Oma Rahma kemudian pingsan juga.
"Mama, Arya, bangun," ucap Papa Fadil yang terlihat khawatir ketika melihat Anak dan Ibunya pingsan.
"Pa, kenapa Mama dan Arya?" tanya Mama Erina yang baru saja ke luar dari kamar setelah menidurkan Rizky.
Degg
Jantung Mama Erina rasanya berhenti berdetak, dan Mama Erina langsung menangis karena menyesali perbuatan yang telah dirinya lakukan terhadap Suci.
"Pa, kenapa Suci pergi secepat itu, padahal Mama belum sempat meminta maaf karena sudah berbuat jahat kepada Suci?" ujar Mama Erina dengan menumpahkan tangisannya dalam pelukan Papa Fadil.
"Papa juga tidak menyangka jika Suci telah meninggalkan kita untuk selamanya, padahal entah kenapa Papa merasa memiliki ikatan batin saat melihat Suci. Kasihan Suci karena meninggal dengan cara yang tragis, bahkan wajahnya sampai tidak dapat dikenali lagi karena telah hancur terlindas mobil."
Mama Erina yang mendengar perkataan Papa Fadil akhirnya ikut pingsan juga, sehingga membuat Papa Fadil semakin kebingungan.
"Bi, Mang, tolong bantu saya," teriak Papa Fadil kepada Asisten rumah tangganya.
Setelah Mama Erina, Oma Rahma dan Arya dibaringkan di atas sofa, Papa Fadil bergegas menelpon Dokter keluarga Argadana supaya datang ke rumahnya.
__ADS_1
"Dok, bagaimana keadaan keluarga saya?" tanya Papa Fadil.
"Kondisi kesehatan ketiganya baik-baik saja, hanya saja mereka mengalami syok ketika mendapatkan kabar buruk," jelas Dokter.
"Terimakasih banyak Dok, semoga mereka segera siuman, karena saya harus berangkat menuju Rumah Sakit untuk mengurus kepulangan jenazah Menantu saya," ucap Papa Fadil.
"Kalau Tuan membutuhkan bantuan, biar saya saja yang membantu mengurus proses kepulangan jenazah Menantu Tuan. Kasihan keluarga Tuan. Mereka pasti sedang membutuhkan keberadaan Tuan untuk menenangkan mereka," ujar Dokter Faris.
"Makasih banyak Dok, saya memang sangat membutuhkan bantuan Anda, karena saya tidak mungkin meninggalkan keluarga saya dalam keadaan pingsan, apalagi saya harus mempersiapkan penyambutan kepulangan jenazah Suci," ujar Papa Fadil.
Setelah Dokter Faris mengetahui nama lengkap Suci, Dokter Faris pamit kepada Papa Fadil menuju Rumah Sakit untuk mengurus kepulangan jenazah Suci.
Satu jam kemudian, Oma Rahma dan Mama Erina sudah siuman lebih dulu, dan mereka mencoba untuk saling menguatkan, apalagi mereka merasa khawatir karena Arya masih belum juga sadarkan diri.
"Ma, Erina sudah berbuat salah kepada Suci. Erina menyesal karena belum sempat meminta maaf," ujar Mama Erina kepada Oma Rahma.
"Erina, penyesalan memang selalu datang belakangan. Kamu jangan terus merasa bersalah. Suci adalah Anak yang baik, dan dia pasti akan memaafkan semua kesalahan yang telah kamu lakukan. Justru yang Mama khawatirkan sekarang adalah kondisi Arya dan Rizky, karena mereka sangat membutuhkan kehadiran Suci, apalagi Rizky masih bayi, kasihan Rizky karena belum puas merasakan kasih sayang dari Suci," ujar Oma Rahma dengan memeluk tubuh Mama Erina.
"Mulai sekarang Erina akan menjadi Nenek yang baik untuk Rizky, Erina akan menggantikan kasih sayang yang seharusnya diberikan oleh Ibu kandungnya."
"Iya Nak, sekarang hanya Rizky satu satunya peninggalan Suci, dan Suci pasti akan tenang di alam sana apabila kita merawat Rizky dengan baik," ujar Oma Rahma.
Arya yang baru saja siuman, langsung berteriak memanggil nama Suci, apalagi Arya sempat mendengar percakapan Oma Rahma dan Mama Erina.
"Suci, kamu dimana sayang? tidak mungkin Suci ku meninggal, ini semua pasti hanya mimpi buruk," teriak Arya, kemudian berlari menuju ke luar rumah, karena Arya mendengar suara mobil Ambulance yang datang ke kediaman Argadana.
Saat Arya melihat Petugas menurunkan Jenazah dari dalam mobil Ambulance, Arya kembali berteriak.
"Kenapa kalian mengantarkan Jenazah ke rumah ini? Sekarang juga kalian kembalikan Jenazah nya ke Rumah Sakit, karena dia bukan Suci ku. Suci ku masih hidup, Suci ku masih hidup."
*
*
__ADS_1
Bersambung