Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 158 ( Ketika emosi mengalahkan akal sehat )


__ADS_3

Farel memperkenalkan Karin kepada Putri dan Ayu, tapi Putri tidak suka kepada Karin yang selalu bersikap agresif terhadap Farel, begitu juga dengan Karin yang hanya berpura-pura menyukai Putri saat di depan Farel saja.


Sabar Karin, sekarang kamu belum bisa menyingkirkan Ayu, tapi setelah aku menikah dengan Farel, aku akan langsung memecatnya, begitu juga dengan Anak cacat itu. Lihat saja nanti, aku akan membuang Putri ke Panti asuhan, karena dia hanya akan mempermalukan aku, ucap Karin dalam hati.


Karin ikut sarapan di rumah Farel, dan Karin semakin geram ketika mendengar Farel yang terus memuji masakan Ayu.


"Karin, masakan Ayu selalu enak kan? Sejak Ayu datang ke rumah ini, aku jarang makan di luar. Nanti kamu harus belajar masak sama dia," ujar Farel.


"Sayang, aku tidak mau kalau nanti kuku aku rusak jika aku harus melakukan pekerjaan kasar. Lagian kan ada Pembantu, jadi buat apa aku susah susah belajar masak," ujar Karin.


Farel merasa kecewa mendengar perkataan Karin, karena Farel selalu berharap memiliki pendamping hidup yang bisa memasak dan menyiapkan sarapan sebelum dia berangkat kerja.


Apa aku sudah melakukan kesalahan karena memilih Karin sebagai calon Istriku? Ternyata pemikiran Karin sama saja seperti Alina. Mungkin aku harus mengakhiri hubunganku dengan Karin sebelum semuanya terlambat, karena yang aku butuhkan adalah sosok Istri seperti Ayu yang selalu perhatian dan pengertian juga mengurus semua kebutuhanku dan Putri, ucap Farel dalam hati.


"Sayang, kenapa sih dia harus ikut makan sama kita? Dia kan hanya pembantu," sindir Karin kepada Ayu.


"Karin, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, Ayu sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri, dan aku tidak suka mendengar kamu membeda-bedakan seseorang dari status sosialnya," ujar Farel dengan nada tinggi, kemudian Farel memutuskan masuk ke dalam kamar, karena dia tidak mau terus berdebat dengan Karin, apalagi di hadapan Putri dan Ayu.


Karin menatap tajam Ayu, dan Karin menyalahkan Ayu atas sikap Farel yang berubah terhadapnya.


"Semuanya gara-gara kamu Ayu, kamu memang pembantu tidak tau diri. Kalian berdua pasti senang kan karena Farel marah sama aku?" ujar Karin, kemudian menyusul Farel masuk ke dalam kamar.


"Teh Ayu tidak kenapa-napa kan?" tanya Putri.


"Teteh tidak apa-apa sayang. Sebaiknya sekarang Putri habiskan makanannya, kasihan nanti makanannya nangis kalau tidak Putri habisin," ujar Ayu dengan mengelus kepala Putri.


"Teh, sebenarnya Putri tidak suka sama Tante Karin, tapi Putri tidak berani mengatakan semuanya sama Daddy."


Ayu terlihat melamun, karena entah kenapa Ayu merasakan sakit dalam dadanya ketika melihat kedekatan Karin dan Farel, dan Ayu juga merasa tidak rela jika sampai Farel menikah dengan Karin.


Tidak seharusnya aku memiliki perasaan seperti ini. Aku harus sadar diri kalau aku hanyalah seorang Pembantu yang tidak akan pernah pantas bersanding dengan majikan, ucap Ayu dalam hati.


Farel terkejut ketika merasakan sebuah tangan yang memeluknya dari belakang, dan Farel semakin terkejut lagi ketika membalikan badannya, karena saat ini Karin sudah setengah telanjang.


Karin sengaja membuka pakaiannya untuk menggoda Farel, tapi Farel tidak merasa tergoda sedikit pun.

__ADS_1


"Karin, apa-apaan kamu? Sebaiknya sekarang kamu pakai lagi baju kamu. Kamu juga tidak seharusnya masuk ke dalam kamarku, karena kita berdua bukan muhrim," ujar Farel yang semakin kesal melihat tingkah Karin.


"Sayang, aku rela melakukan apa pun. Kamu juga pasti mau kan?" tanya Karin dengan tersenyum menggoda.


"Tidak Karin, aku tidak mau merusak kehormatan seorang perempuan, apalagi aku memiliki dua Anak perempuan, aku tidak mau mereka menerima karma atas dosa yang aku lakukan. Sebagai seorang perempuan seharusnya kamu bisa menjaga harga diri dan kehormatan kamu. Sekarang juga kamu pakai lagi pakaian kamu, karena kalau tidak, kamu sebaiknya pergi dari rumah ini," ujar Farel dengan penuh penekanan.


Karin terpaksa kembali memakai pakaiannya, apalagi saat ini Farel terlihat marah.


"Sayang, kapan kamu akan menikahi ku?" tanya Karin.


"Maaf Karin, aku masih belum bisa memberi kepastian, karena aku harus meminta ijin dulu kepada Ratu dan Putri_" ucapan Farel terhenti karena Karin langsung memotongnya.


"Bilang saja kalau kamu tidak mau menikahi ku karena Ayu kan? Kamu jujur saja kalau kamu sudah jatuh cinta sama Pembantu sialan itu," ujar Karin dengan menangis.


Farel hanya diam tanpa mau menjawab perkataan Karin, karena kenyataannya Farel memang sudah jatuh cinta dengan sosok Ayu yang begitu lemah lembut, apalagi Ayu terlihat tulus menyayangi Putri.


"Kamu jahat Farel, kamu jahat," teriak Karin.


"Karin, aku minta maaf, karena ternyata sampai saat ini aku masih belum memiliki perasaan cinta terhadap kamu. Aku sudah berusaha untuk mencintai kamu, tapi aku tidak mau membohongi kamu dengan berpura-pura mencintai kamu," ujar Farel dengan menangkup kedua pipi Karin.


"Tega kamu Farel, aku sudah bertahun-tahun menunggu kamu, tapi kamu selalu membuat aku kecewa. Aku tidak mau putus sama kamu, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, lebih baik aku mati saja daripada melihat kamu hidup dengan perempuan lain," teriak Karin.


Karin berlari menuju dapur untuk mengambil pisau, kemudian Karin menodongkan pisau yang ia pegang kepada Ayu.


"Farel, perempuan ini kan yang sudah membuat kamu memutuskan hubungan kita? kalau aku tidak bisa memiliki kamu, tidak ada perempuan lain yang bisa memiliki kamu juga, lebih baik aku dan Ayu mati bersama-sama," teriak Karin.


Putri menangis melihat Ayu yang saat ini terus dipegangi oleh Karin, sampai akhirnya Farel berbisik kepada Putri untuk mencari bantuan ke luar rumah.


"Karin, kamu jangan gila, jangan sampai emosi menguasai akal sehat kamu," ujar Farel dengan mendekati Karin dan Ayu.


"Farel, jangan mendekat, kalau kamu berani mendekat, aku akan nekad membunuh Ayu," teriak Karin dengan menodongkan pisaunya ke arah Farel.


Ayu memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari pegangan Karin dengan menyikut tangan Karin, tapi saat Ayu mencoba berlari, Karin berhasil menusukan pisaunya.


Jleb

__ADS_1


Pisau yang dipegang oleh Karin ternyata menusuk perut Farel, karena Farel menghalangi tubuh Ayu.


Karin menangis histeris dengan memeluk tubuh Farel.


"Sayang, maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti kamu," ujar Karin.


"Karin, maafkan aku, aku juga tidak bermaksud menyakiti hati kamu. Tolong ikhlaskan aku menikah dengan Ayu," ujar Farel dengan suara terbata.


Ayu terkejut mendengar perkataan Farel, padahal Ayu mengira jika cintanya bertepuk sebelah tangan.


Beberapa saat kemudian, Pak RT dan beberapa tetangga Farel datang bersama Putri yang masih menangis, kemudian mereka langsung menangkap Karin sebagai tersangka, dan membawanya menuju Kantor Polisi.


"Farel, maafkan aku sayang, maafkan aku," teriak Karin saat di bawa ke luar dari dalam rumah Farel.


"Teh Ayu, Daddy kenapa?" tanya Putri dengan menghampiri Ayu yang saat ini menopang kepala Farel.


"Putri tenang dulu ya, Daddy pasti akan baik-baik saja. Pak, tolong bantu saya membawa Tuan Farel ke Rumah Sakit," ujar Ayu yang terlihat panik, apalagi perut Farel terus mengeluarkan darah.


"Ayu, kamu mau kan nikah sama aku? Aku akan pergi ke Rumah Sakit, tapi setelah aku menikahi kamu," ujar Farel.


"Tuan, nanti kita bicarakan lagi semuanya, yang penting sekarang luka Tuan harus segera di obati," ujar Ayu.


"Tidak Ayu, aku mau menikah sekarang. Pak RT, tolong nikahkan kami. Jika aku sampai meninggal, aku akan beristirahat dengan tenang karena kamu sudah menjadi Ibu Putri, dan kamu pasti akan menjaga Putri dengan baik," ujar Farel dengan tatapan memohon.


"Bagaimana Nak Ayu, apa Anda bersedia?" tanya Pak RT yang kebetulan merupakan seorang Penghulu.


Ayu menganggukkan kepalanya, setelah itu Farel menjabat tangan Pak RT yang akan menjadi Penghulu sekaligus Wali hakim untuk Ayu, karena Ayu sudah Yatim Piatu.


Farel mengucap ijab kabul dalam satu helaan nafas, setelah itu para Saksi menyatakan Sah.


"Alhamdulillah, terimakasih Ayu, sekarang kamu sudah menjadi Istri dan Ibu dari Anak-anakku," ucap Farel dengan tersenyum bahagia.


Setelah Ayu mencium punggung tangan Farel, Farel yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit pun akhirnya pingsan, sehingga membuat semua yang berada di sana merasa cemas, apalagi Ayu pernah mengalami trauma karena Suami pertamanya meninggal setelah melakukan ijab kabul.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2