
Suci merasa heran, karena saat ini, Arya, Hesti dan Irwan terlihat bengong dengan terus melihat dirinya.
"Kenapa kalian malah diam saja? Hesti, sebaiknya sekarang kamu makan, tadi saja kamu berebut makanan dengan Mas Arya," ujar Suci.
Hesti yang merasa bahagia karena Suci sudah mengingat dirinya, langsung saja memeluk tubuh Suci.
"Hesti, kamu kenapa sih aneh banget?" tanya Suci yang merasa aneh dengan sikap Hesti yang tiba-tiba memeluknya.
"Suci, akhirnya kamu sudah mengingatku," teriak Hesti dengan menangis sekaligus menitikkan airmata bahagia, lain hal nya dengan Arya yang sudah merasa deg degan.
"Memangnya sebelumnya aku kenapa_" ucapan Suci terhenti ketika dia mengingat jika saat ini dirinya masih hilang ingatan, tapi Suci merasa aneh, karena tiba-tiba Suci mengingat kebersamaannya dengan Hesti dan Bu Rita.
"Kamu benar Hesti, aku sudah mengingat kebersamaan kita dan Bu Rita. Akhirnya ingatanku secara perlahan mulai kembali," ujar Suci dengan tertawa bahagia sambil berpelukan dengan Hesti.
Setelah Suci dan Hesti puas berpelukan dan tertawa bersama, keduanya memutuskan untuk duduk.
"Suci, apa kamu mengingat Pak Bos?" tanya Hesti.
"Siapa Pak Bos?" tanya Suci yang merasa bingung.
"Sepertinya Suci belum mengingat tentang Suami dan Anaknya," gumam Hesti, tapi Suci masih bisa mendengarnya.
"Kata siapa aku melupakan Anak dan Suamiku?" ujar Suci sehingga membuat Arya, Hesti dan Irwan semakin deg degan.
"Jadi, kamu sudah mengingat Anak dan suami kamu?" tanya Hesti yang berusaha memastikan.
"Tentu saja, aku tidak pernah melupakan mereka. Saat ini Mas Rian dan Anak-anakku sedang berada di rumah," ujar Suci dengan wajah polosnya.
Saat ini perasaan Arya begitu campur aduk, antara kecewa sekaligus lega. Arya memang kecewa karena Suci masih belum juga mengingatnya, tapi di sisi lain Arya merasa lega, karena jika ingatan Suci belum kembali, berarti Suci belum mengingat kejadian dua tahun yang lalu saat Arya menghancurkan hidup Suci.
Aku memang kecewa karena kamu masih belum mengingat aku dan Rizky, tapi lebih baik Suci melupakanku daripada membenciku, setidaknya aku masih bisa dekat dengan Suci, ucap Arya dalam hati.
Hesti terlihat mencerna perkataan Suci yang mengatakan tentang Anak-anak, karena berarti saat ini Suci sudah memiliki lebih dari satu Anak.
"Suci, jadi sekarang kamu sudah memiliki bayi lagi? Katakan dengan jujur, kamu melahirkan Anak siapa?" tanya Hesti yang selalu saja ceplas ceplos.
"Kamu itu bicara apa sih Hesti? jelas saja aku melahirkan bayi Suamiku, memangnya Anak siapa lagi yang aku lahirkan kalau bukan Anak Mas Rian," ujar Suci yang merasa heran dengan pertanyaan Hesti.
__ADS_1
Arya yang melihat Suci kebingungan, memberikan kode kepada Hesti supaya tidak bertanya lagi kepada Suci.
Hesti sebenarnya masih penasaran dengan bayi yang dilahirkan Suci, dan Hesti berniat untuk menyelidiki Anak siapa yang sebenarnya Suci lahirkan.
Aku rasa tidak mungkin kalau Suci melahirkan Anak Rian, bukannya Rian mandul? Apalagi Suci baru hilang ingatan selama delapan bulan lebih. Aku harus menyelidikinya, ucap Hesti dalam hati.
"Suci, sebaiknya sekarang kami makan dulu, aku sudah tidak sabar ingin memakan masakan kamu," ujar Hesti yang mencoba mengalihkan pembicaraan, kemudian Hesti menyusun makanan di atas piring.
"Sayang, aku mau juga," ujar Irwan dengan memberikan piring kosong kepada Hesti, dan Suci merasa heran saat mendengar seorang laki-laki memanggil Hesti dengan panggilan sayang, padahal seingat Suci, Hesti belum memiliki kekasih.
"Hesti, sejak kapan kamu punya pacar?" tanya Suci.
"Selama ini kamu sudah melewatkan banyak hal, karena kita sudah delapan bulan lebih tidak berjumpa. Kenalin, ini Calon Suamiku, namanya Irwan, dan kebetulan Irwan adalah Anak buahnya Suami kamu," ujar Hesti yang selalu saja keceplosan, sehingga mendapatkan pelototan dari Arya dan Irwan.
"Jadi Mas Irwan Anak buahnya Mas Rian?" tanya Suci yang kembali terlihat bingung.
"Eh, bukan seperti itu, maksudku, Irwan adalah Anak buah Pak Bos Arya. Sudah, jangan terlalu dipikirkan, kamu tau sendiri kan kalau dari dulu aku sering salah ngomong, tapi masakan kamu dari dulu selalu paling enak dan tidak pernah mengecewakan," puji Hesti dengan memasukan makanan ke dalam mulutnya, dan Hesti terlihat lahap memakan masakan Suci.
Ketika Arya, Irwan dan Hesti tengah asyik makan, Suci mendengar suara Rizky yang menangis.
"Memangnya Rizky nangis gitu? Kok aku gak denger ya?" gumam Hesti.
"Aku juga gak denger sayang. Arya, apa kamu mendengar Rizky nangis juga?" tanya Irwan.
"Aku dan Suci mendengarnya karena kami memiliki ikatan batin dengan Anak kami. Kalian itu bukan gak denger, tapi kalian makannya kayak yang gak makan sebulan aja," ujar Arya yang melihat Irwan dan Hesti makan dengan lahap, dan keduanya hanya nyengir kuda mendengar sindiran Arya.
Arya menyusul Suci ke dalam kamar, dan Arya tersenyum bahagia ketika melihat Suci mengajak main Rizky sambil mengganti pakaiannya.
"Papa, lihat deh, Rizky udah tampan kan?" ujar Suci dengan memperlihatkan Rizky yang sudah Suci dandani.
"Iya Mama, Rizky udah tampan kayak Papa nya," ujar Arya dengan cengengesan.
"Mas Arya kenapa manggil aku Mama?" tanya Suci.
"Tadi kamu manggil aku Papa," ujar Arya.
"Aku manggil Mas Arya Papa karena mewakili Rizky."
__ADS_1
"Iya maaf, aku cuma bercanda. Aku juga tau kalau kamu sudah punya Anak dan Suami, jadi aku tidak mungkin macam-macam. Suci, apa kamu mencintai Rian?" tanya Arya yang ingin mengetahui perasaan Suci terhadap Rian.
"Kenapa Mas Arya bertanya seperti itu? Tentu saja aku mencintai Suamiku. Mas Rian adalah cinta pertamaku, dan sebelum kami memutuskan untuk menikah, aku dan Mas Rian sudah berpacaran selama empat tahun. Tapi aku merasa aneh, karena semenjak aku mengalami kecelakaan, aku selalu memimpikan seorang laki-laki yang membawa bayi, tapi wajahnya tidak terlalu jelas. Eh, kenapa aku jadi curhat? Sebaiknya sekarang kita ke luar, gak enak kalau kita berada dalam satu kamar, takutnya jadi fitnah, kita kan bukan muhrim," ujar Suci yang hendak ke luar dari kamar, tapi Arya masih terlihat melamun.
"Bagaimana kalau sebenarnya Rian bukan Suami kamu? Bagaimana kalau sebenarnya aku lah Suami kamu yang sebenarnya dan Rizky adalah Anak kandung kita?" tanya Arya dengan mendekatkan tubuhnya kepada Suci.
Sebelum Suci menjawab pertanyaan Arya, Arya tiba-tiba membungkamnya dengan ciuman.
"Mas Arya, Mas Arya baik-baik saja kan? Kenapa Mas Arya senyum-senyum sendiri? Mas Arya pasti lagi mikirin yang aneh-aneh kan?" tanya Suci dengan menggoyangkan tubuh Arya, sehingga membuat Arya terbangun dari khayalannya.
"Eh tidak, aku hanya sedang melamunkan Istriku," ujar Arya dengan tersenyum malu.
Ketika Arya dan Suci masih berada di dalam kamar, Rian menyusul Suci ke rumah Arya, karena Rian akan pamit berangkat kerja.
Rian terkejut ketika melihat Hesti dan Irwan yang saat ini berada di rumah Arya, apalagi Hesti melihat Rian dengan tatapan tajam.
"Mau apa kamu kemari?" tanya Hesti dengan menghampiri Rian.
"Aku hanya ingin mencari Istriku," jawab Rian.
"Apa aku tidak salah dengar? Dasar Pebinor, seenaknya saja kamu mengaku-ngaku sebagai Suami Suci. Sejak kapan kalian menikah? Kamu itu gak punya hati Rian, tega-teganya kamu memisahkan Suci dari Anak dan Suaminya, padahal kami sangat sedih ketika mengetahui jika Suci telah meninggal dunia," ujar Hesti.
"Dari awal Suci adalah milikku, dan Arya yang sudah merebutnya bahkan sudah menghancurkan hidup Suci. Apa aku salah jika aku mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku?" ujar Rian.
Hesti yang merasa geram mendengar perkataan Rian, dengan membabi buta memberikan pukulan kepada Rian, tapi Rian hanya diam tanpa melakukan perlawanan.
"Sayang, sudah, jangan pukul Rian lagi," ujar Irwan dengan mencoba menghentikan aksi Hesti, tapi Irwan malah terkena pukulan Hesti juga yang saat ini masih saja mengamuk.
"Aku harus memberikan pelajaran kepada orang yang sudah memisahkan aku dengan sahabat karibku. Sudah jelas jelas kamu salah Rian, karena Suci itu Istri Arya bukan Istri kamu," teriak Hesti.
"Apa maksud kamu Hesti?" tanya Suci yang tidak sengaja mendengar perkataan Hesti.
*
*
Bersambung
__ADS_1