
Bu Rita merasakan sesak dalam dadanya ketika mendengar perkataan Alina, tapi Bu Rita mencoba untuk terlihat tegar meski pun rasanya Bu Rita ingin sekali menangis karena pada kenyataannya Anak kandungnya sendiri masih membencinya.
"Nak, Alina tidak perlu melakukan semua itu, karena Ibu bukanlah Tuhan yang harus Alina sembah," ujar Bu Rita dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bagus deh kalau kamu tahu diri, karena seorang Pembunuh tidak pantas untuk dihormati," sindir Alina dengan tersenyum mengejek.
"Alina, tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu terhadap Ibu kandungmu sendiri. Apa teguran dari Tuhan yang kamu alami saat melahirkan Ratu belum cukup untuk menyadarkan semua kesalahan yang telah kamu lakukan kepada Rita?" ujar Papa Ferdi yang merasa geram dengan sikap Alina.
"Pa, apa Papa tidak dengar perkataan perempuan ini? Dia sendiri yang tidak mau Alina bersujud kepadanya. Jadi, bukan Alina yang sudah mengingkari janji."
Suci yang mendengar perkataan Alina, bergegas menghampiri Bu Rita, karena Suci takut jika Bu Rita sampai kenapa-napa.
"Ibu baik-baik saja kan?" tanya Suci dengan memeluk tubuh Bu Rita.
"Ibu baik-baik saja Nak," jawab Bu Rita dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Bu, Suci tau kalau senyuman Ibu hanya menutupi luka yang saat ini Ibu rasakan. Kalau memang Ibu ingin menangis, Suci akan meminjamkan bahu untuk Ibu menumpahkan tangisan," ujar Suci.
Bu Rita yang sudah tidak kuat membendung airmatanya akhirnya menumpahkan tangisannya dalam pelukan Suci.
Prok prok prok.
Alina bertepuk tangan melihat Bu Rita yang saat ini menangis dalam pelukan Suci.
"Akhirnya Pahlawan kesiangan datang juga. Sungguh tontonan yang sangat bagus, tapi sayangnya sedikit pun aku tidak terharu melihat akting kalian," sindir Alina.
"Kamu memang tidak punya hati Alina, kamu pasti akan menyesal karena telah menyakiti hati Ibu kandung kamu sendiri. Seharusnya kamu ingat jika Surga itu ada di telapak kaki Ibu, dan kamu tidak akan ada di Dunia ini kalau bukan karena jasa Ibu mu," ujar Suci.
"Kamu tidak usah sok menasehati ku, dan jangan pernah ikut campur urusan keluargaku," ujar Alina.
"Bu Rita sudah aku anggap sebagai Ibu kandungku sendiri, jadi aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitinya, termasuk kamu," ujar Suci.
Farel yang tidak mau membuat keributan di pesta pernikahan Irwan dan Hesti, memutuskan untuk mengajak Alina pulang.
"Sayang, sebaiknya sekarang kita pulang, tidak enak kalau kita membuat keributan di sini," bisik Farel.
"Bukan aku yang membuat keributan, tapi mereka," ujar Alina yang tidak mau disalahkan.
"Cukup Alina, untuk kali ini saja kamu jangan membuat aku malu," ucap Farel dengan penuh penekanan.
"Jadi selama ini aku sudah membuat kamu malu?" tanya Alina dengan tatapan tajam, tapi sesaat kemudian Alina menjerit kesakitan dengan memegangi perutnya.
__ADS_1
Semuanya terkejut karena Alina tiba-tiba pingsan.
"Alina, bangun sayang," ujar Farel dengan memeluk tubuh Alina.
"Farel, sebaiknya kita segera membawa Alina ke Rumah Sakit," ujar Papa Ferdi.
Bu Rita ingin sekali ikut ke Rumah Sakit, tapi beliau tidak mungkin meninggalkan Putri.
"Bu, kalau Ibu mau ikut ke Rumah Sakit, biar Putri sama Suci saja. Ibu tidak perlu khawatir, kami pasti akan menjaga Putri dengan baik."
"Makasih banyak ya Nak, Suci memang Anak yang baik. Tolong sampaikan permintaan maaf Ibu kepada Hesti dan keluarganya," ujar Bu Rita kemudian bergegas mengikuti Papa Ferdi dan Farel yang saat ini menggotong Alina menuju mobil.
......................
Setelah acara resepsi selesai, Irwan mengajak Hesti untuk masuk ke dalam kamar pengantin mereka.
Jantung Hesti berdetak kencang ketika Irwan mengangkat tubuh nya menuju ranjang pengantin.
"Mas, turunin, aku bisa jalan sendiri," ujar Hesti yang merasa takut bercampur malu.
"Sayang, aku juga ingin bersikap romantis. Selama ini kamu tidak pernah membiarkanku menyentuhmu, tapi sekarang kamu sudah menjadi milikku seutuhnya," ujar Irwan dengan mendekatkan bibirnya pada bibir Hesti.
"Mama lagi ngapain?" tanya Papa Andi dengan memegang bahu Mama Maya, sehingga membuat Mama Maya terlonjak kaget.
"Astagfirullah, Papa ngagetin aja. Mama penasaran sama malam pertama Anak kita. Semoga saja Irwan dan Hesti bisa segera memberikan Cucu untuk kita," bisik Mama Maya dengan menempelkan telunjuk di bibirnya bermaksud memberikan kode kepada Papa Andi supaya tidak berisik.
Papa Andi yang juga penasaran ikut menempelkan kupingnya pada pintu kamar Irwan, sampai akhirnya jantung keduanya berdebar-debar saat mendengar suara Hesti yang menjerit kesakitan.
"Sakit Mas, pelan-pelan," ujar Hesti.
"Iya sayang, tahan dulu sebentar," ujar Irwan, sehingga membuat Mama Maya dan Papa Andi saling memandang dengan senyuman yang merekah pada bibir keduanya.
"Pa, sepertinya Anak kita tidak sabaran sekali ya, baru juga masuk kamar sudah langsung belah duren," bisik Mama maya dengan cekikikan.
"Iya Ma, semoga saja kita segera diberikan Cucu yang banyak. Ngomong-ngomong Papa jadi pengen ngajak Mama_" ucapan Papa Andi langsung dipotong oleh Mama Maya.
"Udah gak usah ikut-ikutan kayak Anak muda, sebaiknya sekarang kita tidur, hari ini Mama capek sekali," ujar Mama Maya dengan menarik tangan Papa Andi menuju kamar.
......................
Mama Maya dan Papa Andi sudah salah sangka ketika mendengar suara Hesti yang menjerit kesakitan, padahal yang sebenarnya terjadi, rambut Hesti tersangkut pada resleting bajunya, dan Irwan mencoba membantu Hesti untuk melepaskannya.
__ADS_1
"Mas pelan-pelan bukanya, rambut aku nanti jadi rontok," ujar Hesti.
"Tunggu sebentar sayang, sabar dulu, dikit lagi juga selesai," ujar Irwan.
Irwan bernapas lega setelah berhasil membantu Hesti.
"Sekarang aku bantu buka pakaiannya ya," ujar Irwan dengan menurunkan pakaian Hesti, dan mata Irwan langsung membulat sempurna ketika melihat keindahan tubuh Hesti yang putih mulus kini terpampang jelas di hadapannya.
"Mas, jangan dilihatin, aku malu," ujar Hesti, kemudian berlari ke dalam kamar mandi.
Irwan sudah menunggu Hesti dengan membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tapi ketika Hesti ke luar dari kamar mandi, wajah Hesti terlihat pucat sehingga membuat Irwan merasa khawatir.
"Sayang, kenapa wajah kamu terlihat pucat seperti itu?" tanya Irwan dengan menghampiri Hesti.
"Mas, perut aku sakit banget, dan ternyata barusan ada tamu bulanan," ujar Hesti.
"Maksudnya sekarang kamu lagi dapet?" tanya Irwan yang langsung merasa lemas ketika Hesti menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, padahal tadinya Irwan sudah bersemangat, tapi ternyata ritual malam pertama mereka harus tertunda.
"Maaf ya, Mas pasti kecewa," ucap Hesti yang sebenarnya merasa bahagia karena Hesti masih belum siap untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang Istri.
"Iya tidak apa-apa, Mas bakalan sabar menunggu tamu bulannya selesai. Kalau begitu sekarang kita tidur, kasihan sayangnya Mas pasti cape," ujar Irwan dengan mengajak Hesti berbaring, dan keduanya merasa bahagia, karena akhirnya mereka bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan.
......................
Alina sudah satu jam berada di dalam ruang IGD. Bu Rita, Papa Ferdi dan Farel sudah menunggu dengan harap-harap cemas.
Ketika Dokter terlihat ke luar dari dalam ruang IGD, ketiganya bergegas menghampiri Dokter untuk menanyakan keadaan Alina.
"Dok bagaimana keadaan Anak saya?" tanya Bu Rita.
"Pasien ternyata menderita gagal ginjal yang sudah sangat parah, dan Pasien harus segera mendapatkan donor ginjal supaya bisa bertahan hidup," jawab Dokter.
Semuanya merasa syok mendengar perkataan Dokter, sampai akhirnya Bu Rita angkat suara.
"Dok, berikan ginjal saya kepada Alina."
*
*
Bersambung
__ADS_1