
Jantung Arya berdetak kencang ketika mendengar jika perempuan yang menjadi korban tabrak lari memiliki wajah yang mirip dengan Suci.
"Pak, dimana perempuan itu sekarang?" tanya Arya dengan panik.
"Perempuan korban tabrak lari tadi sudah dibawa oleh Suaminya menuju Rumah Sakit."
"Makasih banyak informasinya Pak," ucap Arya kemudian masuk kembali ke dalam mobil dengan perasaan tidak menentu.
Pasti itu bukan Suci, karena perempuan korban tabrak lari tadi telah dibawa ke Rumah Sakit oleh Suaminya, sedangkan Suami Suci adalah aku. Tapi tidak ada salahnya jika aku memastikannya sendiri ke Rumah Sakit, siapa tau aku bisa menemukan Suci di sana, batin Arya.
Arya yang tadinya ingin pergi ke Rumah Sakit untuk mencari keberadaan Suci, harus mengurungkan niatnya karena Arya mendapatkan telpon dari Oma Rahma jika Rizky terus menangis, sampai akhirnya Arya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu menuju rumahnya untuk melihat Rizky.
"Rizky sayang, jangan nangis terus Nak, nanti kita pasti bisa bertemu lagi dengan Mama," ucap Arya dengan mengambil Rizky dari gendongan Oma Rahma.
"Arya, apa kamu sudah menemukan informasi mengenai Suci?" tanya Oma Rahma.
"Belum Oma, Suci hilang tanpa jejak. Arya tadinya ingin mencari Suci ke Rumah Sakit, tapi Arya kasihan kalau Rizky terus saja menangis. Apa mungkin Rizky ingin minum Asi?"
"Sepertinya Rizky memang ingin menyusu, apalagi Suci sudah pergi lebih dari tiga jam."
"Apa Oma sudah mencoba memberi Rizky susu formula?" tanya Arya
"Sudah Nak, tapi Rizky tidak mau minum susu formula," jawab Oma Rahma.
Mama Erina yang sudah sadar dari pingsannya, diam diam terus memperhatikan Arya yang saat ini sedang mencoba menenangkan Rizky yang masih saja menangis, dan entah kenapa hati Mama Erina terasa menghangat ketika melihat wajah Rizky.
"Sayang, sini biar Oma yang gendong," ucap Mama Erina, kemudian mengambil Rizky dari gendongan Arya.
Arya dan Oma Rahma saling memandang karena terkejut dengan apa yang Mama Erina lakukan, apalagi Rizky langsung diam saat Mama Erina yang menggendongnya.
"Sepertinya Rizky menyukai Oma Erina," ujar Oma Rahma.
"Mungkin karena wajah Mama mirip dengan wajah Suci, makanya Rizky mengira jika Mama adalah Suci," ujar Arya.
__ADS_1
"Erina juga Nenek kandung Rizky, pasti Rizky merasa nyaman karena Rizky dan Erina masih memiliki hubungan darah," ujar Oma Rahma.
Mama Erina terlihat melamun, karena dirinya bukanlah Ibu kandung Arya, jadi Mama Erina berpikir jika dirinya dan Rizky tidak memiliki hubungan darah.
Padahal aku dan Arya tidak memiliki hubungan darah, tapi kenapa aku merasa jika aku memiliki ikatan batin dengan Rizky? dan aku menyayangi Rizky seperti menyayangi Cucu kandungku sendiri, batin Mama Erina kini bertanya-tanya.
......................
Rian meminta ijin kepada Suci untuk ke luar mencari makan siang, padahal kenyataannya, Rian ingin mencari orang yang bisa ia bayar untuk mengadopsi bayi dari Panti Asuhan.
"Sayang, aku ke luar dulu ya buat cari makan siang. Kamu mau pesen apa?" tanya Rian.
"Aku pesen buah-buahan aja. Lagian aku masih belum boleh makan sembarangan dari luar. Mas hati-hati ya," ucap Suci dengan tersenyum, karena Suci ingin mengganti panggilan kepada Rian.
"Sekarang ceritanya mau ganti panggilan ya?"
"Tidak enak jika aku manggil nama terus sama Suami aku," jawab Suci dengan malu-malu.
"Ya sudah, kalau begitu Mas ke luar dulu. Nanti Mas suruh Perawat untuk menemani Istri Mas yang cantik ini," ucap Rian, kemudian mencium kening Suci sebelum pergi.
"Kasihan sekali ya korban tabrak lari tadi pagi, wajahnya hancur sehingga tidak dapat dikenali. Apalagi tidak ada identitas apa pun pada tubuh korban."
"Iya, nasibnya malang sekali, padahal perempuan ini masih muda, tapi ia harus meninggal dengan cara mengenaskan," ujar salah satu Perawat lainnya yang saat ini membuka pakaian korban tabrak lari.
Rian yang melihat postur tubuh korban mirip sekali dengan Suci, akhirnya terbesit ide untuk memberikan barang-barang Suci kepada dua orang petugas kamar mayat, dan Rian akan mengatakan jika barang-barang tersebut adalah milik korban tabrak lari yang wajahnya tidak dapat dikenali.
"Maaf Pak, tadi saya menemukan barang-barang ini di dekat lokasi kejadian korban tabrak lari tadi pagi. Mungkin ini adalah barang barang milik korban tabrak lari tersebut," ujar Rian dengan memberikan kantong kresek yang berisi barang barang milik Suci kepada petugas kamar mayat.
"Terimakasih banyak Pak, dari tadi kami sudah bingung bagaimana cara menghubungi keluarga korban. Sepertinya ini memang identitas korban, karena korban juga berusia sekitar 22 tahun," ucap Petugas kamar mayat yang melihat KTP milik Suci.
Maaf Suci, mungkin dengan memalsukan kematian kamu, Arya akan berhenti mencari keberadaan kamu karena mengira jika kamu telah meninggal dunia, batin Rian kemudian bergegas pergi dari kamar mayat.
"Sekarang aku tinggal mencari bayi yang bisa aku adopsi," gumam Rian.
__ADS_1
Rian tidak sengaja bertabrakan dengan seorang Bapak yang tengah berjalan sambil melamun.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja," ucap Rian dengan membantu Bapak tersebut memungut berkas-berkas dari atas lantai.
"Tidak apa-apa Mas, itu semua salah saya karena berjalan sambil melamun," ujar Bapak tersebut yang bernama Tamrin.
"Apa Bapak sedang memiliki masalah?" tanya Rian karena melihat mata Pak Tamrin yang bengkak seperti habis menangis.
"Sebenarnya saya sedang bingung. Dua minggu yang lalu Istri saya meninggal dunia setelah melahirkan, tapi saya tidak memiliki uang untuk membayar biaya Rumah Sakit, sehingga bayi saya tidak diijinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Mungkin saya akan meminta pihak Rumah Sakit untuk memberikan bayi saya kepada Panti Asuhan saja. Saya tidak akan sanggup untuk menghidupinya, apalagi saya sudah memiliki lima orang Anak."
"Innalillahi..Saya turut berduka cita atas musibah yang menimpa Bapak. Kalau boleh tau bayi Bapak berjenis kelamin laki-laki atau perempuan? karena kebetulan saya sedang mencari bayi yang bisa saya adopsi."
"Bayi saya laki-laki Pak. Memangnya kenapa Bapak ingin mengadopsi bayi?"
"Dua minggu yang lalu istri saya juga melahirkan, tapi bayi kami meninggal dunia, dan istri saya tadi pagi sampai tertabrak mobil karena tidak bisa menerima kematian bayi kami. Jadi, saya berniat untuk mengadopsi bayi supaya istri saya bisa sembuh dari depresinya. Kalau Bapak mengijinkan saya mengadopsi bayi Bapak, saya bisa membayar seluruh tagihan Rumah Sakit mendiang istri Bapak," ujar Rian.
Pak Tamrin terlihat berpikir, karena saat ini beliau sedang membutuhkan uang untuk membayar biaya Rumah Sakit.
"Bapak tenang saja, saya bukan orang jahat. Nanti Bapak bisa bertemu dengan Istri saya, tapi saya harap Bapak tidak memberitahu kepada istri saya jika bayi tersebut adalah Anak Bapak, karena saya akan mengakui Anak Bapak sebagai bayi kami."
"Apa saya boleh tau nama Mas?" tanya Pak Tamrin.
"Nama saya Rian. Nama Bapak siapa?"
"Nama saya Tamrin. Saya akan menyetujui usul Mas Rian, tapi tolong jaga Anak saya baik-baik."
"Bapak tenang saja, saya akan menjaga dan menyayangi Anak Bapak seperti Anak kami sendiri," ujar Rian yang mencoba meyakinkan Pak Tamrin.
Sepertinya Mas Rian bukan orang jahat, dan kehidupan Anakku pasti akan lebih terjamin apabila tinggal bersama orang kaya, batin Pak Tamrin.
*
*
__ADS_1
Bersambung