Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 195 ( Kesalahan yang fatal )


__ADS_3

Iqbal tidak setuju jika Pak Tamrin harus menjadi pendonor untuk Iqbal, karena selain sudah tua, kondisi kesehatan Pak Tamrin tidak memungkinkan.


"Pak, Iqbal tidak mau kalau Bapak yang menjadi pendonor untuk Iqbal, Iqbal takut jika kondisi kesehatan Bapak semakin memburuk."


"Nak, Bapak justru bahagia karena akhirnya Bapak bisa melakukan sesuatu untuk Anak Bapak. Selama dua puluh tiga tahun lebih Bapak tidak pernah merawat Iqbal, bahkan Bapak baru mengetahui wajah Anak Bapak selama beberapa minggu ini. Jadi, ijinkan Bapak melakukan sesuatu yang berguna untuk Iqbal, anggap saja semua itu untuk menebus kesalahan yang telah Bapak perbuat terhadap Iqbal."


Iqbal menanyakan kondisi Pak Tamrin kepada Bagas, karena Iqbal tidak mau Pak Tamrin mengambil resiko yang tinggi apabila menjadi pendonor untuknya.


"Bagas, bagaimana kondisi kesehatan Bapak? Aku tidak mau kalau sampai Bapak kenapa-napa apabila menjadi pendonor untukku."


"Setelah selesai melakukan serangkaian tes pemeriksaan, kondisi kesehatan Pak Tamrin sangat baik, jadi kamu tidak perlu khawatir. Besok kita tinggal membicarakan semuanya dengan Rizky," jawab Bagas.


"Memangnya Rizky tidak mengambil cuti nikah?" tanya Iqbal yang merasa heran.


"Aku juga merasa heran, karena Rizky sama sekali tidak mengambil cuti nikah, padahal Putri mengambil cuti nikah selama satu minggu, aku pikir mereka akan pergi bulan madu dulu," jawab Bagas.


Suci dan Arya merasa sedih mendengarnya, karena mereka sudah bisa menebak alasan Rizky melakukan semua itu.


"Nak, Iqbal tau sendiri kan kalau Rizky itu gila kerja, selain menjadi Dokter, Rizky sudah menjadi salah satu Direktur di Argadana grup," ujar Suci supaya Arya tidak semakin merasa bersalah terhadap Rizky.


Suci, aku tau kalau kamu berkata seperti itu untuk menghiburku. Aku memang bukan Ayah yang baik, aku bahkan tidak mengetahui perasaan Anak-anakku yang sebenarnya, ucap Arya dalam hati.


"Oh iya Pa, bukannya Papa juga ingin meminta Iqbal supaya membantu pekerjaan Papa di Argadana grup?" tanya Suci yang sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Iya Nak, setelah nanti Iqbal sembuh, Papa harap Iqbal bersedia membantu Papa di Argadana grup, dan Iqbal juga harus mau menerima harta peninggalan mendiang Rian."


Iqbal terlihat berpikir, karena Iqbal bukanlah seseorang yang gila harta dan jabatan. Meski pun Iqbal sudah merasa bersyukur dengan kehidupan yang ia jalani saat ini, tapi Iqbal memikirkan nasib keluarga kandungnya yang masih hidup serba kekurangan.

__ADS_1


"Nanti kita bicarakan lagi setelah Iqbal sembuh ya Pa," ujar Iqbal.


"Kalau begitu sekarang Iqbal istirahat. Maaf ya malam ini Mama sama Papa tidak bisa menemani Iqbal, karena kami harus kembali ke Hotel. Arsyi sama Oma Erina juga masih berada di Hotel, takutnya mereka mencari keberadaan kami, apalagi tadi Mama sama Papa tidak pamit sama mereka," ujar Suci yang sebenarnya ingin memberikan waktu untuk Iqbal dan keluarga kandungnya.


"Makasih banyak ya Ma, Pa, atas semuanya," ucap Iqbal dengan memeluk tubuh Suci dan Arya.


"Kami adalah orangtua Iqbal juga, jadi Iqbal tidak perlu mengucapkan terima kasih. Meski pun kita tidak memiliki hubungan darah, tapi kami sudah menyayangi Iqbal sebagai Anak kandung kami sendiri," ucap Suci.


Suci dan Arya berpamitan kepada Pak Tamrin dan keluarga, kemudian keduanya mengucap salam sebelum kembali ke Hotel.


......................


Keesokan paginya..


Nanda dan Ratu secara perlahan mulai membuka mata mereka ketika cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendela kamar yang menjadi saksi biksu tentang kejadian yang mereka lakukan semalam.


"Sayang, terimakasih atas malam indah yang telah kita lewati, aku pasti akan segera menikahi mu, aku akan bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan semalam," ucap Nanda dengan mengecup kening Ratu.


Ratu terkejut ketika mendengar suara Nanda, karena suara lelaki yang memeluk Ratu berbeda dengan suara Rizky.


"Kak Rizky baik-baik saja kan? Kenapa suara Kak Rizky menjadi berbeda?" tanya Ratu, kemudian mendongakkan kepalanya.


"Aaaaaaaaaaaaaa" Ratu dan Nanda sama-sama berteriak kencang, kemudian keduanya saling melepaskan pelukan dan menutupi bagian tubuh mereka dengan selimut, karena saat ini keduanya masih sama-sama polos tanpa mengenakan sehelai benang pun.


"Ratu, apa yang telah terjadi? Kenapa bisa kamu yang berada di sini? Mana Arsyi?" tanya Nanda.


"Aku yang seharusnya bertanya sama kamu, kemana Kak Rizky? Tidak mungkin kan kalau semalam kamu yang sudah merenggut kesucianku?" teriak Ratu.

__ADS_1


"Tidak, tidak mungkin aku melakukan semua itu sama kamu, karena aku ingat betul jika semalam aku melakukannya dengan Arsyi," ujar Nanda.


Ratu menghela nafas panjang, karena semalam Ratu dan Nanda sama-sama mabuk.


"Mungkin semalam kita berada di bawah pengaruh alkohol, jadi kita melakukan kesalahan yang fatal karena mengira kalau kita melakukan semua itu dengan orang yang kita cintai. Aku bernasib sial gara-gara bertemu dengan kamu Nanda, bahkan aku sampai kehilangan keperawanan ku," ujar Ratu yang merasa kesal, apalagi seluruh tubuhnya terasa sakit.


"Aku yang sial karena bertemu dengan kamu, dan aku tidak percaya kalau kamu masih perawan? Apalagi selama ini kamu sudah biasa menghabiskan malam di tempat seperti ini, pasti sudah banyak lelaki yang mencicipi tubuh kamu," ujar Nanda dengan tersenyum mengejek.


Plak


Tamparan keras mendarat pada pipi Nanda.


Ratu merasa terhina ketika mendengar ucapan Nanda.


"Aku tau kalau selama ini aku bukan orang baik. Meski pun aku sering main ke tempat seperti ini, tapi aku bukan ja*lang yang suka bergonta ganti pasangan, dan aku selalu menjaga kesucian ku untuk lelaki yang aku cintai, tapi kamu sudah merusak sesuatu yang paling berharga dalam hidupku," tegas Ratu, kemudian melangkahkan kaki nya ke dalam kamar mandi.


Nanda tertegun ketika mendengar perkataan Ratu, apalagi Nanda melihat bercak darah di atas sprei, sehingga membuat Nanda merasa bersalah terhadap Ratu.


Apa darah yang menempel di atas sprei adalah darah perawan Ratu? Jadi aku yang sudah merenggut kesuciannya? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menikahi Ratu, karena aku tidak mencintainya. Kenapa bisa aku melakukan kesalahan yang sangat fatal? Ucap Nanda dalam hati yang sangat menyesali semuanya.


Nanda memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai, kemudian Nanda kembali memakai pakaiannya.


Setelah Ratu ke luar dari dalam kamar mandi, Nanda memutuskan untuk meminta maaf kepada Ratu.


"Ratu, aku minta maaf atas perkataanku tadi, tidak seharusnya aku mengatakan semua itu. Aku juga bersedia untuk mempertanggung jawabkan kesalahan yang telah aku lakukan," ucap Nanda dengan lirih, karena Nanda sadar betul jika dirinya tidak bisa lolos begitu saja dari tanggung jawab, apalagi Nanda memiliki saudara perempuan, dan Nanda tidak mau jika Dinda yang mendapatkan karma atas perbuatan Nanda.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan meminta pertanggung jawaban apa pun dari kamu. Lagi pula kita berdua tidak saling mencintai, jadi aku harap kamu bisa melupakan kejadian semalam. Anggap saja semua itu tidak pernah terjadi," ucap Ratu, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Nanda yang masih diam mematung.

__ADS_1


__ADS_2