
"Pa, Papa kenapa sampai seperti ini?" ujar Suci yang saat ini merasa panik karena Arya tiba-tiba pingsan.
Suci berteriak kepada Asisten rumah tangganya supaya bisa membantu memindahkan Arya ke atas ranjang, kemudian Suci bergegas menelpon Dokter keluarga Argadana.
Beberapa saat kemudian Dokter Faris datang ke kediaman Suci, dan Dokter langsung memeriksa kondisi Arya yang saat ini masih terbaring pingsan.
"Dok, bagaimana keadaan Suami saya?" tanya Suci.
"Sepertinya Tuan terlalu kecapean, dan mungkin Tuan juga sedang banyak pikiran, makanya Tuan sampai pingsan," jawab Dokter.
"Apa kita perlu membawanya ke Rumah Sakit?" tanya Suci.
"Sepertinya tidak perlu Nyonya, tensi darah Tuan juga normal, dan kondisi kesehatannya juga baik. Tuan cukup beristirahat dan jangan terlalu banyak pikiran saja. Kalau begitu saya akan memberikan vitamin juga obat penghilang rasa sakit," ujar Dokter, kemudian pamit setelah memberikan resep obat kepada Suci.
Suci mengantar Dokter ke luar dari dalam kamarnya, kemudian Suci menyuruh Supirnya untuk menebus obat yang diresepkan oleh Dokter.
Suci kembali ke dalam kamar untuk menemani Arya, tapi Suci merasa bingung ketika mengingat perkataan Arya sebelum pingsan.
Kenapa tadi Mas Arya mengatakan jika dirinya sudah menjadi penyebab Ibu kandungnya meninggal dunia? Padahal Mama Erina kan masih hidup? Batin Suci kini bertanya-tanya.
Sudah satu jam Arya pingsan, tapi Arya belum sadarkan diri juga, sampai akhirnya Suci memutuskan untuk menelpon Mama Erina.
"Sebaiknya aku menelpon Mama untuk memberitahukan kondisi Mas Arya, aku takut Mas Arya sampai kenapa-napa," gumam Suci kemudian mengambil handphone nya dari atas nakas.
Ketika Suci hendak menekan nomor Mama Erina, Suci merasakan tangan kekar yang tiba-tiba memeluk pinggangnya.
"Sayang, jangan pergi," ucap Arya.
"Alhamdulillah akhirnya Papa sadar juga. Mama tidak akan pergi kemana-mana Pa, Mama akan selalu menemani Papa. Papa sudah membuat Mama khawatir, Mama baru saja mau menelpon Mama Erina."
"Mama tidak perlu memberitahukan semuanya kepada Mama Erina, Papa takut nanti mereka khawatir. Papa hanya membutuhkan Mama," ucap Arya kemudian menarik tubuh Suci supaya berbaring di sampingnya, dan saat ini keduanya tengah berpelukan dengan posisi berhadapan.
"Papa merasa tenang ketika memeluk Mama," ucap Arya yang merasa enggan melepaskan pelukannya dari tubuh Suci.
Suci sebenarnya ingin sekali menanyakan kepada Arya tentang perkataan Arya sebelum pingsan, tapi Suci takut jika Arya belum siap mengatakan semuanya kepada Suci.
"Papa kalau ada masalah kasih tau Mama ya, mungkin dengan berbagi, apa pun masalah yang sedang kita alami bisa sedikit berkurang," ujar Suci dengan mengelus lembut punggung Arya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang, maaf kalau Papa belum bisa mengatakan semuanya kepada Mama, karena saat ini Papa masih belum siap," ujar Arya, dan Suci hanya tersenyum serta menganggukkan kepalanya, karena Suci tidak mau jika sampai memaksa Arya.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang Papa istirahat, Mama mau ngambil obat dulu. Tadi Dokter Faris sudah meresepkan obat anti nyeri dan vitamin untuk Papa," ujar Suci kemudian ke luar dari dalam kamarnya untuk menanyakan obat kepada Supirnya.
Arya menatap nanar kepergian Suci, rasanya Arya enggan berpisah dengan Suci walau pun hanya sebentar saja.
"Aku harus kuat demi Suci dan Anak-anak, dan aku harus segera memindahkan semua aset yang aku miliki atas nama Suci, supaya aku tidak terus-terusan dihantui rasa bersalah," gumam Arya, kemudian mengambil handphonenya untuk menelpon Pengacara.
......................
Sudah dua hari Alina mengalami koma, dan selama itu Bu Rita selalu mendampingi serta merawat Alina.
Di alam bawah sadar Alina, Alina merasa jika saat ini dirinya tengah berada di tempat yang gelap gulita tanpa cahaya sedikit pun, dan Alina terus menangis karena takut dengan kegelapan.
"Papa, Farel, tolong Alina, Alina takut," teriak Alina, tapi tidak ada satu pun orang yang mendengarnya sehingga membuat Alina semakin putus asa.
Alina mencoba berjalan tak tentu arah, sampai akhirnya Alina masuk ke dalam jurang yang berisi dengan kobaran api.
Alina semakin menjerit histeris, karena tubuhnya terasa panas dan sakit.
"Tolong, tolong," teriak Alina, tapi tidak ada satu orang pun yang menolongnya.
"Tuhan, ampuni aku, aku akan bertaubat, aku akan berubah menjadi orang baik," ucap Alina dengan lirih, sampai akhirnya terdengar suara lembut seorang perempuan yang menghampiri Alina.
"Nak, ikut Mama pulang," ujar Bu Rita dengan menarik tangan Alina ke luar dari dalam api yang masih membakar tubuh Alina.
Alina terus menatap lekat wajah Bu Rita yang selama ini selalu ia sakiti, tapi Bu Rita hanya tersenyum dengan memeluk tubuh Alina, sehingga Alina tidak merasakan sakit lagi, padahal sebelumnya sekujur tubuh Alina terasa sakit.
"Jangan takut ya sayang, semuanya akan baik-baik saja, kita pasti akan ke luar dari tempat ini, dan Mama akan selalu ada untuk Alina," ujar Bu Rita dengan mengelus lembut kepala Alina.
"Ma_ma," ucap Alina dengan lirih, kemudian menangis dalam pelukan Bu Rita.
Farel yang saat ini sedang menunggu Alina, mengembangkan senyuman ketika melihat Alina mulai membuka matanya.
"Ma_ma," ucap Alina dengan lirih.
"Sayang, Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga," ucap Farel dengan menggenggam erat tangan Alina kemudian menciumnya.
__ADS_1
"Farel, dimana aku?" tanya Alina ketika melihat sekeliling ruangan.
"Kita masih di Rumah Sakit sayang, dan kemarin kamu sudah melakukan operasi pencangkokan ginjal," jawab Farel.
"Siapa yang sudah mendonorkan ginjalnya untukku?" tanya Alina.
"Bu Rita," jawab Farel yang tidak ingin menutupi semuanya dari Alina, padahal Bu Rita sudah meminta kepada Farel dan Papa Ferdi untuk merahasiakan semuanya dari Alina.
Alina tiba-tiba menangis ketika mengingat semua kesalahan yang telah di buat oleh nya kepada Bu Rita.
"Farel, aku sudah melakukan banyak kesalahan kepadanya, kenapa dia masih saja baik terhadapku?"
"Alina, Bu Rita adalah Ibu kandung kamu. Meski pun kamu beribu-ribu kali menyakitinya, tapi seorang Ibu memiliki lautan maaf, karena kasih sayang seorang Ibu sepanjang masa," ujar Farel dengan mengelus kepala Alina yang saat ini semakin berderai airmata ketika mengingat kembali semua kesalahan yang telah ia lakukan.
Alina terbayang kebersamaannya dengan Bu Rita saat ia masih kecil. Bu Rita merupakan sosok Ibu yang penyayang, dan Bu Rita selalu menjaga serta melindungi Alina.
"Farel, selama ini mata hatiku sudah tertutup oleh rasa kebencian, sehingga aku tidak pernah melihat dan mengingat kasih sayang yang sudah Mama berikan untukku sejak aku dilahirkan ke Dunia ini," ujar Alina.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu menyadari kesalahan yang telah kamu lakukan. Alina, kamu harus bersyukur karena kamu masih diberikan kesempatan untuk menebus semua kesalahan yang telah kamu lakukan," ucap Farel.
Alina terlihat melamun, karena Alina merasa malu ketika mengingat perlakuannya selama ini kepada Bu Rita.
"Apa Mama akan memaafkan kesalahanku?"
"Alina, aku sudah bilang, kalau seorang Ibu memiliki lautan maaf, apalagi Bu Rita adalah orang baik, bahkan beliau yang sudah merawat kamu selama kamu koma."
Alina semakin merasa bersalah terhadap Bu Rita, dan Alina ingin sekali bertemu dengan Bu Rita untuk meminta maaf.
"Farel, antar aku untuk bertemu dengan Mama, aku ingin meminta maaf atas kesalahan yang telah aku lakukan selama ini."
"Sayang, kamu baru saja sadar setelah melakukan operasi, nanti aku pasti akan mengantar kamu kalau kondisi kamu sudah lebih baik. Sekarang kamu harus istirahat supaya kondisi kamu bisa segera pulih. Bu Rita juga tidak akan kemana-mana, karena kondisinya masih belum pulih," ujar Farel.
Farel tidak bisa mengatakan kepada Alina tentang kondisi Bu Rita yang saat ini masih belum melewati masa kritisnya setelah mendonorkan ginjalnya kepada Alina, karena Farel takut kondisi Alina akan ikut memburuk.
Maaf Alina, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, kalau saat ini Bu Rita mengalami koma setelah Bu Rita mendonorkan ginjalnya untuk kamu, lanjut Farel dalam hati.
*
__ADS_1
*
Bersambung