Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 102 ( Seperti Bayi kembar siam )


__ADS_3

Suci ingin sekali berbicara dengan Rian untuk meminta maaf karena dia tidak bisa mengakui Rian dan Iqbal sebagai Suami dan Anaknya di depan Mama Erina. Akan tetapi, Suci tidak bisa melakukan semua itu karena Mama Erina terus saja mengikuti Suci kemana pun ia pergi.


Kalau Mama Erina ngikutin aku terus, bagaimana aku bisa bicara sama Mas Rian, ucap Suci dalam hati.


Arya yang melihat Suci dan Mama Erina seperti bayi kembar siam, memutuskan untuk mengajak Suci ke dalam kamar.


"Ma, boleh tidak Arya pinjam Suci?" ujar Arya yang ingin berbicara berdua dengan Suci.


"Kenapa kamu harus minta ijin sama Mama, Suci kan Istri kamu. Ya sudah kalau begitu Mama lihat Anak-anak dulu," ujar Mama Erina kemudian meninggalkan Suci dan Arya yang sudah berada di depan pintu kamar Arya.


Suci sudah terlihat gugup, ketika Arya mengajaknya duduk di atas ranjang.


"M_mas Arya mau ngapain ngajakin aku masuk ke dalam kamar?" tanya Suci dengan suara tergagap.


"Sayang, kenapa sih kamu terlihat gugup seperti itu? Memangnya kamu pikir kita mau ngapain?" goda Arya dengan mendekatkan wajahnya dengan wajah Suci, sehingga reflek Suci menutup matanya.


"Kenapa nutup mata segala? Apa kamu mengharapkan ciuman dariku?" goda Arya, dan Suci langsung membuka matanya kemudian tersenyum malu karena sudah berpikir yang tidak tidak.


"Suci, aku ngajak kamu ke sini supaya kamu bisa lepas dari Mama. Kamu pasti merasa risih kan karena Mama nempel terus sehingga kalian seperti bayi kembar siam?"


"Sebenarnya aku senang karena Mama ingin selalu dekat denganku, hanya saja aku ingin_" Suci menghentikan perkataannya karena dia merasa ragu.


"Kamu tidak perlu ragu seperti itu. Apa kamu ingin berbicara dengan Rian?"


"Kenapa Mas Arya bisa tau tentang semua itu?" tanya Suci yang merasa heran.


"Aku pasti tau semua yang kamu pikirkan, karena aku adalah belahan jiwamu," ujar Arya dengan tersenyum sehingga membuat Suci salah tingkah.


Arya terlihat berpikir bagaimana caranya supaya Suci bisa berbicara dengan Rian, karena Mama Erina pasti akan curiga jika Arya menyuruh Rian masuk ke dalam kamarnya juga, sampai akhirnya Arya memberikan handphone nya kepada Suci supaya Suci bisa berbicara dengan Rian lewat telpon.


"Maaf ya Suci, aku tidak bisa membantu kamu untuk berbicara langsung dengan Rian, tapi sekarang kamu bisa bicara dengan Rian lewat telpon, karena aku tidak mungkin mempertemukan kalian berdua, mengingat sekarang kita punya mata-mata," ujar Arya dengan terkekeh.


Suci mengambil handphone milik Arya, kemudian terlihat ragu untuk berbicara dengan Rian karena ada Arya di sana.


"Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu," ujar Arya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi supaya Suci bisa lebih leluasa untuk bicara dengan Rian.


Arya diam-diam menempelkan kupingnya pada pintu kamar mandi karena merasa penasaran dengan pembicaraan Suci dan Rian, dan Arya menyunggingkan senyuman ketika mendengar Suci yang menelpon Rian hanya untuk meminta maaf, bahkan tidak ada kata sayang yang Suci ucapkan untuk Rian.


"Sepertinya Suci sudah selesai menelpon Rian, lebih baik aku mandi dulu sebentar supaya Suci tidak curiga," gumam Arya.


Arya ke luar dari dalam kamar mandi hanya dengan melilitkan handuknya sebatas pinggang, dan Suci terlihat melongo ketika melihat roti sobek pada perut Arya.

__ADS_1


"Kenapa melihat aku sampai segitunya? Kamu pasti terpesona kan?" goda Arya dengan mendekati Suci.


"Mas Arya ngapain dekat-dekat?" tanya Suci dengan gugup.


Suci yang gugup berniat mendorong tubuh Arya supaya menjauh darinya, tapi Suci tidak sengaja malah menarik handuk yang melilit pada pinggang Arya sehingga membuatnya terjatuh, padahal saat ini Arya masih belum mengenakan sehelai benang pun.


"Aaaaaaaaa" Suci dan Arya sama-sama menjerit, apalagi Suci melihat tubuh polos Arya.


"Mas Arya, cepetan tutup," ujar Suci dengan menutup kedua matanya menggunakan tangan.


"Maaf Suci, kamu sih pake tarik-tarik segala, handuknya jadi jatuh kan? Tapi gak apa-apa deh, anggap aja aku sedekah sama kamu," ujar Arya dengan tertawa, sehingga Suci membulatkan matanya.


"Apa? Mas Arya bilang sedekah? Mas sudah mengotori mata aku tau," ujar Suci dengan mencebikkan bibirnya.


"Iya iya maaf, sekarang aku pake baju dulu deh, kasihan lihat kamu sampai ngeces gitu karena pengen_" ucapan Arya terhenti karena Suci menutup mulut Arya menggunakan tangannya.


"Udah gak usah ngomong macem-macem, cepetan sekarang pake baju, terus kita ke luar, kalau terlalu lama di sini nanti kita dituduh habis macem-macem lagi," ujar Suci dengan mendorong Arya menuju lemari.


"Gak apa-apa dikira habis macem-macem juga, kita kan Suami Istri," ujar Arya.


"Mas Arya harus ingat, kalau sekarang kita hanya Suami Istri pura-pura," ujar Suci kemudian membalikan badannya karena Arya akan memakai baju.


"Sekarang aku sudah selesai pake bajunya. Bagaimana, Suami kamu tampan nya nambah sampai berkali-kali lipat kan kalau memakai baju muslim seperti ini?" ujar Arya yang sudah siap untuk menghadiri acara tahlil tujuh hari mendiang Mama Linda.


"Suci, kamu ngeces ya," ujar Arya, sontak saja Suci reflek mengelap bibirnya.


"Mau aja aku bohongi," lanjut Arya dengan tertawa.


"Mas Arya gak lucu tau," ujar Suci dengan memukul gemas tubuh Arya.


"Udah sayang jangan pukul terus, kalau pukul nya pake ini aku mau," ujar Arya yang mencuri ciuman pada pipi Suci.


"Mas sengaja ya nyuri ciuman?" ujar Suci dengan cemberut.


"Ya sudah, kalau begitu aku balikin sama kasih bonus," ujar Arya yang kembali mencuri ciuman pada pipi Suci, bahkan ditambah ciuman di kening.


Suci mendekap erat tubuh Arya, karena entah kenapa Suci selalu merasa takut berpisah dengan Arya.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Arya dengan mengangkat dagu Suci.


"Aku takut Mas, aku takut kehilangan kamu," jawab Suci dengan menitikkan airmata.

__ADS_1


"Justru aku yang lebih takut kehilangan kamu. Mulai sekarang, apa pun yang terjadi, kita akan selalu melewatinya bersama," ujar Arya dengan mengusap lembut airmata yang menetes pada pipi Suci.


Ketika Arya mendekatkan bibirnya dengan bibir Suci, terdengar suara ketukan pintu kamar mereka sehingga membuat Arya mengurungkan niatnya.


"Sayang, acaranya sudah mau dimulai," ujar Mama Erina.


"Mas, aku gak sempet mandi sama ganti baju," ujar Suci.


Arya melangkahkan kakinya menuju lemari, kemudian mengambil sebuah paper bag.


"Sebaiknya sekarang Suci ganti baju, gak apa-apa gak usah mandi, gak mandi juga udah cantik," ujar Arya dengan tersenyum.


Suci ke luar dari kamar mandi setelah selesai mengganti pakaiannya.


"Mas, kok baju kita bisa samaan?" tanya Suci.


"Mas sengaja membelinya satu pasang. Sebaiknya kita ke luar sekarang, kasihan Anak-anak takutnya rewel," ujar Arya dengan menggandeng Suci ke luar dari dalam kamarnya, tapi setelah di luar, Suci terpaksa melepaskan pegangan tangannya karena takut jika Rian sampai melihatnya.


......................


Saat ini semuanya telah berkumpul dalam acara tahlil tujuh hari mendiang Mama Linda, begitu juga dengan Arya dan Suci yang terlihat jalan beriringan dengan menggendong kedua Anak mereka.


Rian merasakan sesak dalam dadanya ketika melihat Arya dan Suci memakai pakaian couple sehingga membuat keduanya terlihat sangat serasi.


Sadar Rian, Suci sudah menjadi milik Arya, dan kamu sudah tidak ada lagi di dalam hatinya, batin Rian.


Mama Erina yang melihat Arya dan keluarganya, langsung menyunggingkan senyuman.


"Kalian memang sangat serasi, Mama bahagia bisa melihat rumah tangga kalian harmonis," ucap Mama Erina dengan menitikkan airmata.


Suci merasa bersalah terhadap Mama Erina, karena Suci pikir dia sudah membohongi Mama Erina dengan pura-pura menjadi Istri Arya.


Maafin Suci Ma, Suci sudah membohongi Mama dengan pura-pura menjadi Istri Mas Arya. Semoga Mama tidak kecewa jika mengetahui semua kebenarannya, ucap Suci dalam hati.


Acara tahlil berjalan dengan lancar, dan Rian terus menitikkan airmata sepanjang acara, tapi Suci tidak bisa melakukan apa pun untuk menghibur Rian, karena Mama Erina terus berada di sampingnya.


Setelah acara tahlil selesai, satu persatu para tetangga yang menghadiri acara tahlil pulang ke rumah masing-masing, tapi saat Bu Rita ke luar untuk membantu Bi Sari beres-beres, Bu Rita terkejut dengan kedatangan Papa Ferdi.


"Rita, aku datang untuk menjemput kamu dan Putri," ucap Papa Ferdi dengan tersenyum bahagia karena bisa kembali melihat wajah Bu Rita.


*

__ADS_1


*


Bersambung.


__ADS_2