Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 190 ( Menjodohkan Iqbal dan Cindi )


__ADS_3

Ketika Iqbal sudah berada di pinggir jalan untuk menghentikan angkot, Iqbal meraba celana yang dia pakai, dan ternyata dompet Iqbal ketinggalan, sampai akhirnya Iqbal memutuskan kembali ke rumah Pak Tamrin untuk mengambil dompet.


Iqbal terkejut ketika melihat Pak Tamrin di dorong oleh seorang laki-laki, dan Iqbal bergegas menghampiri Pak Tamrin untuk menolongnya.


"Ada apa ini?" tanya Iqbal yang merasa heran ketika melihat tangan Cindi dipegangi oleh dua orang laki-laki.


"Kamu tidak usah ikut campur urusan kami, kecuali kamu punya uang tiga puluh juta untuk membayar hutang Rojak," ujar Tono.


Iqbal bertanya kepada Pak Tamrin tentang kronologi kejadian, dan Pak Tamrin menceritakan tentang Rojak yang memiliki hutang kepada Tono, sampai akhirnya Rojak memberikan Cindi untuk melunasi hutangnya.


"Lepaskan Cindi, sekarang juga aku akan membayar hutang Bang Rojak," ujar Iqbal.


"Ada uang, ada barang, kamu berikan dulu uangnya, baru aku akan mengembalikan gadis cantik ini," ujar Tono dengan tersenyum licik.


Beberapa saat kemudian, Rohaye yaitu Putri kedua Pak Tamrin datang bersama Istri dan Anak Rojak.


"Pak, jangan biarkan Iqbal membayar hutang Bang Rojak, karena dia tidak akan ada kapoknya bermain judi. Bapak lihat sendiri kelakuan Bang Rojak yang sudah tega memukul Istrinya."


Plak


Tamparan keras kembali mendarat pada pipi Rojak, karena Pak Tamrin semakin murka dengan kelakuan Rojak.


"Bisa-bisanya kamu menyakiti Istri kamu Rojak, apa kamu lupa kalau kamu lahir dari rahim seorang perempuan," teriak Pak Tamrin.


"Sabar Pak, jangan sampai kondisi kesehatan Bapak kembali memburuk. Kali ini Iqbal akan melunasi hutang Bang Rojak, tapi dengan syarat Bang Rojak tidak akan judi serta tidak melakukan kekerasan terhadap Istrinya lagi, karena kalau Bang Rojak sampai mengulangi semua itu, dia harus menyerahkan diri kepada pihak berwajib," tegas Iqbal.


Sebelum membayar hutang Rojak, Iqbal menulis surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh Rojak, setelah Rojak menandatanganinya, Iqbal meminta nomor rekening kepada Tono.


"Mana nomor rekening kamu?" ujar Iqbal.


Iqbal langsung mentransfer uang sebanyak tiga puluh juta pada rekening Tono.


"Aku sudah melunasi hutang Bang Rojak, sekarang kamu lepaskan Cindi," ujar Iqbal.


"Sayang sekali aku tidak bisa menikmati tubuh kamu cantik," ujar Tono sebelum melepaskan Cindi, dan Cindi langsung meludahi wajah Tono.


"Lancang sekali ja*lang seperti kamu meludahi ku," teriak Tono dengan melayangkan tangannya untuk menampar Cindi, tapi Iqbal langsung mencekal pergelangan tangan Tono.


"Kamu pantas mendapatkan nya, karena kamu tidak bisa menghargai perempuan. Sekarang juga kalian pergi dari sini, jangan sampai kalian menampakkan batang hidung kalian lagi," tegas Iqbal dengan menghempaskan tangan Tono.

__ADS_1


Cindi di dorong oleh Tono sehingga tubuh Cindi memeluk Iqbal.


Deg deg deg


Cindi merasakan debaran aneh dalam dadanya ketika melihat wajah tampan Iqbal.


"Cindi, kamu baik-baik saja kan?" tanya Iqbal dengan melepaskan tangan Cindi yang melingkar pada pinggangnya.


"A_aku baik-baik saja. Terimakasih Iqbal, aku tidak tau apa jadinya kalau kamu tidak datang," ucap Cindi.


"Sudah seharusnya aku melakukan semua itu, karena keluarga kamu juga sudah baik terhadapku," ujar Iqbal.


Pak Tamrin meminta maaf kepada Iqbal karena merasa tidak enak oleh Iqbal yang harus membayar hutang Rojak.


"Nak, maaf ya kami sudah merepotkan, kami pasti akan mencicil uang Nak Iqbal."


"Bapak jangan terlalu banyak pikiran, Iqbal ikhlas membantu Bang Rojak."


"Kamu seharusnya malu sama Iqbal Bang, untung saja ada Iqbal yang sudah membantu kamu membayar hutang. Abang juga minta maaf sama Cindi, bisa-bisanya Abang menyerahkan Cindi sama si Tono," ujar Rohaye yang merasa kesal terhadap Rojak.


"Makasih banyak ya Iqbal, kamu sudah membantu Abang, sebagai gantinya, kamu boleh menikahi Cindi," ujar Rojak, dan semuanya berteriak menyebut nama Rojak.


"Bang Rojak."


"Bang, Iqbal tidak mengharapkan apa pun balasan dari Abang, tapi Iqbal harap Abang berusaha untuk berubah, kasihan keluarga Abang kalau Abang terus seperti ini."


"Jadi beneran kamu gak ada niat buat menikahi Cindi?" tanya Rojak lagi.


"Cindi gadis yang baik, dia pasti akan mendapatkan jodoh yang baik juga, tapi bukan Iqbal, karena Iqbal sudah memiliki calon Istri," ujar Iqbal dengan tersenyum ketika membayangkan wajah cantik Arsyi.


Hati Cindi rasanya sakit mendengar perkataan Iqbal, karena Cindi sudah jatuh hati pada sosok Iqbal.


"Maaf semuanya, Cindi ke dalam dulu buat ganti baju," ujar Cindi dengan tertunduk sedih.


"Kenapa tuh bocah, sepertinya dia patah hati karena mendengar Iqbal sudah memiliki calon Istri," celetuk Rojak.


Pak Tamrin mengajak semuanya masuk ke dalam rumah, Pak Tamrin juga menyuruh Rojak untuk meminta maaf kepada Anak dan Istrinya.


"Rojak, kamu harus minta maaf sama Erni, kasihan dia, selama ini selalu kamu sakiti," ujar Pak Tamrin.

__ADS_1


"Maafin Abang ya De, Abang janji akan berubah, do'ain Abang supaya dapat kerjaan juga," ucap Rojak.


Beberapa saat kemudian, Rojali pulang ke rumah Pak Tamrin karena Cindi tidak kunjung datang ke Terminal.


"Kenapa semuanya kumpul di sini, muka Bang Rojak juga kenapa bisa ancur begitu?" tanya Rojali.


"Sebaiknya kamu duduk dulu Rojali, Bapak harap kamu gak bakalan marah sama Abang kamu," ujar Pak Tamrin.


Pak Tamrin menceritakan kepada Rojali tentang Tono yang menagih hutang, dan Rojali begitu murka ketika mengetahui jika Rojak sempat menyerahkan Cindi kepada Tono untuk membayar hutang.


"Gila loe Bang, kalau tidak ada Iqbal, bagaimana nasib Adik kita," teriak Rojali yang begitu emosi, bahkan Rojali hendak melayangkan tinju kepada Rojak.


"Sudah Bang, semuanya sudah terjadi, Bang Rojak juga sudah berjanji akan berubah. Sekarang kita harus pikirkan bagaimana caranya bisa membuka usaha supaya Bang Rojak bisa memiliki pekerjaan," ujar Iqbal.


"Iqbal, Abang gak enak karena keluarga kami sudah menyusahkan kamu," ujar Rojali.


"Bukannya Abang dan keluarga sudah menganggap Iqbal sebagai keluarga juga? Jadi sudah seharusnya Iqbal membantu saudara Iqbal."


"Kamu memang baik, semoga saja Cindi mendapatkan Suami sebaik kamu," ujar Rojali.


"Iqbal sudah punya calon Istri Rojali, jadi kita tidak bisa menjodohkan Iqbal sama Cindi," ujar Rohaye.


"Yaah gagal dong. Oh iya, bukannya tadi kamu mau mencari pekerjaan? Kenapa kamu belum berangkat?" tanya Rojali kepada Iqbal.


"Tadi dompet Iqbal ketinggalan Bang, jadi Iqbal kembali ke rumah. Bang, bagaimana kalau kita buka usaha kecil-kecilan saja? Misalnya jual beli buah-buahan dan sayuran untuk dipasok ke Pasar-pasar," ujar Iqbal.


"Ide bagus tuh, kebetulan Abang banyak kenalan pedagang buah dan sayur di beberapa pasar, nanti biar Abang dan Cindi yang ngangkut dari Petani," ujar Rojali.


"Kalau begitu nanti Iqbal sama Bang Rojak yang keliling untuk mencari buah dan sayurnya dari Petani," ujar Iqbal.


"Memangnya kamu masih memiliki uang untuk modal usaha?" tanya Rojali.


"Alhamdulillah kalau untuk modal, sepertinya masih cukup Bang," jawab Iqbal yang masih memiliki uang sekitar lima puluh juta di dalam rekeningnya.


Semuanya setuju dengan usul Iqbal, dan Pak Tamrin tersenyum bahagia karena Iqbal sudah membawa kebahagiaan untuk keluarganya.


Terimakasih Tuhan, karena Engkau telah mengirimkan Iqbal dalam kehidupan kami, ucap Pak Tamrin dalam hati.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2