
Irwan yang masih merasa penasaran terhadap sosok Hesti terus saja berusaha untuk mendekatinya, tapi Hesti yang sudah berniat untuk balas dendam terhadap Irwan, sengaja menarik ulur Irwan supaya Irwan semakin merasa penasaran.
"Baru kali ini aku benar-benar mengalami kesulitan untuk mendapatkan hati seorang perempuan," gumam Irwan dengan melangkahkan kaki nya untuk menyebrangi jalan raya, karena Irwan hendak makan siang di Restoran yang berada di sebrang kantor.
Hesti saat ini berada di belakang Irwan karena hendak menyebrang juga, tapi Irwan tidak menyadari keberadaan Hesti, sampai akhirnya Hesti menarik tangan Irwan hingga keduanya terjatuh di pinggir jalan, karena Irwan yang berjalan sambil melamun hampir saja tertabrak motor yang melaju kencang.
Jantung Irwan terus berdetak kencang, karena Irwan baru menyadari jika dirinya hampir saja tertabrak apabila Hesti tidak menyelamatkannya.
"Bisa tidak Anda bangun dari tubuh saya?" ujar Hesti, karena saat ini Irwan terus menatap lekat wajah Hesti yang berada di bawah tubuhnya.
Irwan terlonjak kaget mendengar perkataan Hesti, dan Irwan bergegas bangun kemudian membantu Hesti untuk berdiri.
"Terimakasih banyak karena kamu sudah menjadi Dewi penyelamat saya. Kamu tidak apa-apa kan?" ujar Irwan yang mencemaskan keadaan Hesti, apalagi saat ini baju Hesti terlihat kotor.
"Aku tidak apa-apa, apa kamu berniat untuk bunuh diri? sebaiknya kamu mikir dua kali, karena hidup cuma satu kali, jadi jangan menyia-nyiakannya," ujar Hesti dengan hendak pergi meninggalkan Irwan, tapi Irwan mencekal pergelangan tangannya.
"Hesti, tunggu. Kamu bilang jika hidup ini cuma satu kali, dan aku tidak ingin menyesal dalam seumur hidupku karena belum sempat mengatakan tentang perasaan yang aku miliki terhadap kamu."
Hesti sudah merasa deg degan karena tau apa yang akan dilakukan oleh Irwan, tapi saat Hesti ingin menghentikan aksi nekad Irwan untuk menembaknya, Irwan bergegas kembali angkat suara.
"Hesti, Aku ingin semua yang berada di sini menjadi saksi kalau aku mencintai kamu, dan aku ingin kamu menjadi Istri dan Ibu dari Anak-anakku," teriak Irwan di hadapan semua orang, karena saat ini Irwan dan Hesti menjadi pusat perhatian banyak orang di sekitarnya.
Hesti diam mematung karena merasa terkejut dengan pernyataan cinta Irwan, sampai akhirnya terdengar suara tepuk tangan dan sorakan 'terima' dari orang orang yang berada di sekitar mereka.
"Terima, terima, terima."
Bagaimana ini? Kalau aku menolak cinta Tuan Irwan, dia pasti akan malu, apa aku terima saja? Mungkin ini adalah kesempatan untuk membalas dendam kepada Tuan Irwan atas kematian Suci, ucap Hesti dalam hati.
Irwan masih menunggu jawaban dari Hesti dengan menggenggam erat tangannya.
"Hesti, aku akan menerima apa pun jawaban yang kamu berikan, Meski pun aku sangat berharap kamu akan memberikan kesempatan kepadaku untuk membahagiakan kamu," ujar Irwan dengan tatapan penuh harap.
Hesti beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menjawab pertanyaan Irwan, sampai akhirnya ke luar jawaban 'iya' dari bibir Hesti.
"Iya, aku bersedia."
Irwan begitu bahagia karena tidak pernah mengira jika Hesti akan menerima cintanya, tapi saat Irwan hendak memeluk tubuh Hesti, Hesti menghalangi Irwan menggunakan kedua tangannya.
"Maaf kita bukan muhrim," ucap Hesti.
__ADS_1
"Maaf, aku terlalu bahagia. Kalau begitu sekarang kamu ikut aku," ujar Irwan dengan menarik lembut tangan Hesti.
"Aku bukan Anak kecil, jadi kamu tidak usah terus-terusan memegangi tanganku. Memangnya kamu mau membawaku ke mana? Sebentar lagi aku harus kembali bekerja."
"Kita harus merayakan hari jadi kita. Sekarang kamu mau makan apa?" tanya Irwan yang hendak membawa Hesti masuk ke dalam Restoran mewah, tapi Hesti menolaknya.
"Maaf Tuan, apa bisa kita makan di pinggir jalan saja, karena aku tidak terbiasa jika harus makan di tempat mewah seperti itu, lagi pula sayang uangnya, makanan di tempat yang bagus seperti itu pasti mahal," ujar Hesti dengan menarik mundur tubuh Irwan, kemudian menarik tangan Irwan untuk makan di warung sate yang berada di pinggir jalan.
"Hesti, bisa tidak kamu memanggil ku tidak memakai embel embel Tuan?"
"Iya iya, memangnya kamu ingin aku panggil apa?"
"Bagaimana kalau sayang?" ujar Irwan dengan tersenyum juga mengedip ngedipkan kedua matanya.
"Sayang sayang pala loe peang. Gak ada sayang sayang, lagian itu mata kayak orang cacingan aja," sindir Hesti yang memang selalu berbicara ceplas ceplos.
"Ya sudah terserah kamu, yang penting tidak memakai Tuan saja," ujar Irwan.
Setelah sampai di warung sate, Hesti memesan dua porsi sate kambing.
"Kenapa kamu terus saja berdiri?" tanya Hesti kepada Irwan yang terlihat risih jika harus duduk di bangku kayu.
"Hesti, tapi aku_"
Ucapan Irwan terhenti karena Hesti memotongnya.
"Kamu tidak terbiasa kan makan di tempat seperti ini? Kamu jangan khawatir, makanan di sini higienis kok, rasanya juga tidak kalah dengan di Restoran, dan yang paling penting harganya murah," ujar Hesti dengan memasukan sate pada mulut Irwan.
Dengan ragu-ragu Irwan mengunyah sate yang disuapi oleh Hesti.
"Rasanya enak juga," gumam Irwan kemudian duduk di samping Hesti.
Hesti hanya tersenyum melihat Irwan yang makan dengan lahap.
"Tadi aja ogah ogahan, ternyata doyan juga," sindir Hesti, dan Irwan hanya nyengir kuda karena merasa malu.
Setelah selesai makan, Hesti menghampiri pedagang sate untuk membayar makanannya.
"Berapa Pak?" tanya Hesti.
__ADS_1
"Lima puluh ribu Neng," jawab pedagang sate.
Saat Hesti hendak memberikan uang lima puluh ribu kepada tukang sate, Irwan mendahului Hesti dengan memberikan uang seratus ribu.
"Irwan, kamu apa-apaan sih main nyerobot aja," ujar Hesti yang terlihat kesal.
"Aku hanya membayar makanan kita saja, karena aku tidak mau jika ditraktir oleh perempuan," ujar Irwan.
"Aku juga tidak terbiasa ditraktir oleh laki-laki," ujar Hesti yang tidak mau mengalah.
"Tapi sekarang aku adalah pacar kamu, jadi aku tidak bisa menerima penolakan," ujar Irwan, kemudian menarik tangan Hesti ke luar dari warung sate, karena Irwan tidak mau terus berdebat dengan Hesti.
"Tuan, ini kembaliannya," teriak tukang sate, karena Irwan berlalu begitu saja tanpa menunggu kembalian.
"Ambil saja Pak," teriak Irwan.
"Kamu sengaja ya mau pamer sama aku kalau kamu banyak uang?" sindir Hesti.
"Apa maksud kamu?" tanya Irwan yang merasa bingung dengan perkataan Hesti.
"Buktinya kamu memberikan uang kembalian kepada tukang sate, padahal uang segitu cukup untuk makan satu hari," ujar Hesti.
"Hesti, uang segitu mana cukup untuk makan sehari? Untuk makan satu kali saja gak bakalan cukup," ujar Irwan yang memang selalu makan di Restoran mewah.
"Kamu terlahir dengan sendok emas, jadi bagi kamu uang sebanyak itu tidak ada apa-apanya, tapi buat aku yang harus bekerja keras dulu untuk bisa makan, uang seribu pun sangat berarti."
"Hesti, maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu tinggal bilang sama aku. Sekarang kamu pegang ini, dan kamu bisa membeli apa pun yang kamu mau," ujar Irwan dengan memberikan ATM kepada Hesti.
"Maaf, aku tidak bisa menerimanya, karena aku lebih suka menggunakan uang hasil kerja kerasku. Aku tau kalau aku orang miskin, tapi kamu tidak perlu mengasihani aku," ujar Hesti, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Irwan.
Irwan merasa bingung dengan sikap Hesti, karena perempuan yang pernah dekat dengan Irwan, akan merasa senang apabila dikasih uang, apalagi uang yang ada di dalam ATM tersebut nominalnya cukup banyak.
"Baru kali ini aku bertemu dengan perempuan seperti Hesti, biasanya perempuan yang aku kenal pasti akan meminta uang dan mengajakku untuk berbelanja. Hesti memang istimewa. Aku harus mengejarnya, masa baru hari pertama jadian kita udah ribut," gumam Irwan kemudian berlari mengejar Hesti.
*
*
Bersambung
__ADS_1