
Rizky dan Putri sudah bersiap untuk berangkat ke Amerika. Keduanya beralasan ingin pergi berbulan madu, padahal sebenarnya Putri mengajak Rizky ke sana untuk bertemu dengan Dinda, karena waktu Putri sudah tidak banyak lagi.
Putri ingin segera melihat Rizky menikah dengan perempuan yang dicintainya sebelum Putri meninggalkan Dunia ini untuk selama-lamanya.
Putri dan Rizky pamit kepada semuanya setelah selesai sarapan bersama di kediaman Argadana, dan entah kenapa Farel merasa jika itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Putri.
Apa aku akan segera meninggal? Kenapa aku memiliki firasat jika aku tidak akan bisa bertemu dengan Putri lagi? ucap Farel dalam hati dengan menitikkan airmata.
Farel memeluk tubuh Putri dengan waktu yang cukup lama, Farel merasa berat untuk melepaskan kepergian Putri, tapi di sisi lain Farel merasa bahagia, karena Putri terlihat sangat bahagia dan terus mengembangkan senyuman.
"Rizky, Ayah titip Putri ya Nak, semoga saat kalian berdua kembali, kalian memberikan berita bahagia kepada kami," ujar Farel.
"Saat Putri dan Rizky pulang dari bulan madu, Putri pasti sudah hamil Anak Rizky," tambah Arya dengan tersenyum, karena Arya mengira rumah tangga Rizky dan Putri berjalan dengan harmonis.
Putri hanya tersenyum ketika mendengar perkataan para orangtua yang menaruh banyak do'a dan harapan kepadanya.
Maafin Putri semuanya, tapi semua itu tidak akan pernah terjadi. Rizky pasti akan segera memberikan kalian keturunan setelah dia menikah dengan Dinda, ucap Putri dalam hati.
Rizky dan Putri mengucap Salam sebelum berangkat, kemudian keduanya di antar oleh Iqbal dan Arsyi menuju Bandara.
......................
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Putri dan Rizky menginjakan kaki nya di Amerika.
"Ternyata di sini sudah malam. Aku bahagia sekali karena impianku bisa liburan ke sini akhirnya terwujud juga. Terimakasih ya Rizky," ucap Putri dengan tersenyum bahagia.
"Kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih. Sudah seharusnya sebagai seorang Suami, aku membahagiakan kamu. Apa pun keinginan kamu, sebisa mungkin akan aku penuhi," ujar Rizky yang sudah bertekad akan memenuhi semua keinginan Putri di sisa hidupnya.
"Oh iya, aku sudah meminta bantuan seseorang untuk menjemput kita, dan selama kita berada di Amerika, kita akan tinggal di apartemen nya," ujar Putri.
Rizky merasa heran, karena Putri ternyata sudah memiliki kenalan di sini.
"Putri, kenapa kamu bisa memiliki kenalan di sini? Padahal kita baru pertama kali datang ke Amerika?" tanya Rizky.
"Nanti kamu akan tau setelah kita bertemu dengan dia, karena aku ingin memberikan kejutan untuk kamu," ujar Putri dengan menarik tangan Rizky untuk menghampiri Dinda yang ternyata sudah menunggu kedatangan mereka.
Dinda terkejut ketika melihat Putri datang bersama Rizky, karena sebelumnya Putri mengatakan akan datang sendiri untuk mengikuti seminar.
"Di_dinda."
"Kak Rizky."
__ADS_1
Ucap Dinda dan Rizky secara bersamaan.
Netra keduanya saling bertemu dengan memancarkan kerinduan yang begitu mendalam, tapi baik Rizky mau pun Dinda sama-sama berusaha menyembunyikan perasaannya di hadapan Putri.
"Dinda apa kabar?" tanya Putri dengan memeluk tubuh Dinda.
"Alhamdulillah baik Kak. Bagaimana kabar semuanya? Bukannya kemarin Kak Putri bilang akan ke sini sendiri saja karena ingin mengikuti seminar?" tanya Dinda.
Kenapa Putri tidak mengatakan kepadaku kalau dia datang ke sini untuk mengikuti seminar? Apa Putri sengaja berbohong kepadaku dan Dinda? Batin Rizky kini bertanya-tanya.
Dinda tidak melepas pandangannya dari Rizky, begitu juga dengan Rizky yang ingin sekali mendekap erat tubuh perempuan yang sangat dirindukannya, tapi saat ini Rizky sadar betul jika dirinya sudah berstatus menjadi Suami Putri.
"Maaf ya Dinda, aku tadinya memang ingin pergi sendiri, tapi ternyata Rizky juga mengambil cuti, jadi hitung-hitung kami berdua pergi berbulan madu," jawab Putri yang sengaja ingin melihat reaksi Dinda.
Degg
Jantung Dinda rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Putri, hatinya berdenyut sakit ketika di hadapkan kenyataan jika lelaki yang dicintainya sudah menjadi milik perempuan lain.
"Kalau begitu sebaiknya sekarang kita pulang ke Apartemen Dinda, kasihan Kak Putri sama Kak Rizky pasti ingin segera istirahat," ujar Dinda dengan memaksakan diri untuk tersenyum, padahal saat ini Dinda ingin sekali berteriak dan menumpahkan tangisannya.
Semoga rencanaku untuk menyatukan Rizky dan Dinda segera berhasil, karena aku yakin kalau Rizky dan Dinda masih saling mencintai, ucap Putri dalam hati.
......................
"Selamat datang di Apartemen Dinda. Maaf kalau kondisinya seperti ini."
"Kami yang seharusnya meminta maaf, karena kedatangan kami pasti akan merepotkan Dinda," ucap Putri.
"Jangan bicara seperti itu Kak, kita adalah keluarga, dan Dinda sangat bahagia karena bisa bertemu dengan kalian. Oh iya, ini kamar Kak Dinda dan Kak Rizky, setelah selesai bersih-bersih, nanti kita makan malam, tadi sebelum berangkat ke Bandara, Dinda sudah memasak dulu."
Putri dan Rizky masuk ke dalam kamar untuk menyimpan koper dan mengganti pakaian, begitu juga dengan Dinda yang masuk ke dalam kamarnya.
Setelah berada di dalam kamar, Dinda langsung menumpahkan tangisannya yang sudah tidak dapat dia bendung lagi.
"Kenapa, kenapa sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan Kak Rizky? Kamu harus sadar Dinda, buka mata kamu, Kak Rizky sudah menjadi milik oranglain, tidak seharusnya kamu seperti ini," gumam Dinda dengan menenggelamkan wajahnya di atas bantal supaya tangisannya tidak terdengar ke luar kamar.
Putri dan Rizky sudah bersih-bersih dan mengganti pakaian, tapi Dinda masih belum ke luar juga dari dalam kamarnya, sampai akhirnya Putri memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Dinda.
Tok tok tok
"Dinda, kami sudah selesai bersih-bersih. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Putri.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Dinda ke luar dari dalam kamarnya dengan mata sembab, dan Dinda langsung menutup pintu kamarnya ketika ke luar, karena di dalam kamar Dinda dipenuhi dengan fhoto Rizky, dan Dinda takut jika Putri sampai melihatnya.
"Dinda, apa kamu habis menangis?" tanya Putri.
"Dinda hanya kelilipan Kak. Sebaiknya kita segera makan, Kak Putri sama Kak Rizky pasti sudah lapar," ujar Dinda yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
Sepertinya Dinda menangis karena cemburu melihat aku dengan Rizky. Aku harus segera menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Dinda supaya dia tidak terus-terusan salah paham terhadap kami, ucap Putri dalam hati yang merasa bersalah terhadap Dinda.
"Selain cantik, pintar, ternyata kamu juga pintar masak. Lelaki yang menjadi Suami kamu pasti akan sangat beruntung," ucap Putri yang memuji Dinda.
"Kak Putri bisa saja. Justru Dinda selama ini selalu merasa kagum kepada Kak Putri, dan Kak Rizky sangat beruntung karena bisa mendapatkan Kak Putri," ujar Dinda dengan tersenyum untuk menyembunyikan rasa sesak dalam dadanya.
Sejak bertemu dengan Dinda, Rizky tidak banyak bicara, karena satu-satunya yang ingin Rizky lakukan hanyalah memeluk tubuh Dinda untuk melepaskan kerinduannya.
Putri mencoba memecah keheningan dengan mengajukan sebuah pertanyaan kepada Dinda.
"Dinda, apa kamu sudah memiliki pacar?" tanya Putri, dan Dinda sampai tersedak makanan ketika mendengar pertanyaan Putri.
Rizky terlihat panik, kemudian Rizky reflek menepuk pelan tengkuk leher Dinda, serta memberikannya minum.
"Kenapa kamu sampai tersedak seperti ini? Sekarang minum pelan-pelan," ujar Rizky dengan membantu Dinda minum.
Putri tersenyum ketika melihat perlakuan Rizky kepada Dinda. Meski pun hatinya berdenyut sakit, tapi dari awal Putri sadar betul jika hati Rizky bukan miliknya.
Netra Dinda dan Rizky saling bertemu, dan keduanya terlihat salah ketika mendengar suara Putri.
"Ternyata Rizky perhatian sekali ya sama Dinda, padahal selama ini Dinda tau sendiri kalau Rizky seperti kulkas dua pintu," ujar Putri dengan terkekeh.
"Mungkin Kak Rizky hanya reflek saja. Makasih ya Kak" ucap Dinda dengan lirih.
"Aku istirahat duluan ya. Dinda, makasih banyak atas jamuannya," ucap Rizky dengan melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kamar, karena jika terlalu lama berdekatan dengan Dinda, Rizky takut tidak bisa mengendalikan perasaannya dan pada akhirnya Rizky akan menyakiti hati Putri.
Dinda menatap nanar kepergian Rizky, karena sebenarnya Dinda masih ingin melihat wajah Rizky untuk melepas rindu.
Apa Kak Rizky masih memiliki perasaan yang sama denganku, makanya tadi dia menunjukan perhatiannya? Batin Dinda.
*
*
Bersambung
__ADS_1