Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 67 ( Berusaha mendapatkan cinta Istri )


__ADS_3

Hari ini Alina memutuskan untuk kembali masuk kerja supaya Farel dan Papa Ferdi tidak curiga jika dirinya tengah hamil, tapi saat Alina mencari Farel untuk berangkat bersama ke Kantor, ternyata Farel sudah berangkat duluan, karena Farel ingin menjalankan ide yang diberikan oleh Bu Rita.


"Bi, kemana Farel?" tanya Alina kepada Bu Rita.


"Den Farel sudah berangkat duluan, katanya ada urusan penting di kantor," jawab Bu Rita.


Alina terlihat kesal, karena sebelumnya Alina sudah mengatakan kepada Farel kalau dia akan ikut ke kantor naik mobil Farel.


"Tidak biasanya Farel berangkat duluan, padahal semalam aku sudah bilang kalau aku bakalan ikut mobil dia, tumben sekali dia bersikap acuh kepadaku, bahkan sampai tega meninggalkanku," gumam Alina.


Alina memutuskan untuk memesan taksi online, karena Alina masih sering merasa pusing dan mual, jadi tidak memungkinkan untuk dirinya menyetir mobil sendiri.


Semoga saja pintu hati Alina segera terbuka, karena aku lihat Farel tulus mencintainya, batin Bu Rita.


......................


Farel yang sudah sampai kantor, memutuskan untuk meminta bantuan kepada Irwan supaya bersedia menukar Sekretarisnya dengan Alina.


"Irwan, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Farel yang sebenarnya merasa ragu, karena sebelumnya Farel sudah berjanji kepada Alina untuk merahasiakan pernikahan mereka dari siapa pun.


"Farel, kenapa kamu terlihat tegang seperti itu? apa kamu memiliki masalah?" tanya Irwan.


Maaf Alina, aku terpaksa mengatakan tentang pernikahan kita kepada Irwan, karena aku tidak memiliki pilihan lain, batin Farel.


Farel akhirnya menceritakan kepada Irwan tentang dirinya yang sudah menikah dengan Alina, dan Farel juga mengatakan tentang ide yang diberikan oleh Bu Rita kepadanya untuk membuat Alina cemburu.


"Bagaimana, apa kamu mengijinkan jika Karin untuk sementara waktu menjadi Sekretarisku, dan Alina yang akan menjadi Sekretaris kamu?" tanya Farel.


Irwan terlihat berpikir, karena Irwan merasa kasihan kepada Sahabatnya tersebut.


"Baiklah, aku akan membantu kamu untuk mendapatkan cinta Alina. Semoga rencana kamu berhasil, dan aku harap kamu jangan sampai jatuh cinta beneran sama Karin," goda Irwan.


"Aku tidak mungkin jatuh cinta kepada Karin, karena aku sudah memiliki Anak dan Istri, hanya saja aku ingin berusaha untuk mendapatkan cinta istriku," ujar Farel dengan tertunduk sedih.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu kamu bawa saja Karin ke ruang kerja kamu, dan nanti kamu suruh Alina pindah ke ruang kerjaku. Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus Alina lakukan, karena sekarang aku akan berangkat menuju Kalimantan. Semoga saja dia sadar dan merasa kehilangan kamu yang selalu membantunya," ujar Irwan dengan menepuk bahu Farel.


"Thank's Bro, karena kamu sudah mau membantuku," ucap Farel dengan memeluk tubuh Irwan.


"Sebagai Sahabat, sudah seharusnya kita saling membantu, tapi kamu tidak perlu memeluk erat aku seperti ini, karena aku tidak mau kalau sampai ada orang yang mengira jika kita tidak normal," ujar Irwan dengan bergidik ngeri.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menyuruh Karin pindah ke ruanganku sekarang juga," ujar Farel dengan bersemangat.


Setelah ke luar dari ruang kerja Irwan, Farel yang melihat Karin baru sampai kantor, langsung mengajak Karin menuju ruangannya.


"Karin, sekarang juga kamu ikut saya," ujar Farel.


"Memangnya apa yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Karin dengan mata yang berbinar, karena sebenarnya Karin sudah lama naksir Farel.


"Mulai sekarang kamu akan menjadi Sekretaris saya dan Alina akan menggantikan kamu menjadi Sekretaris Irwan," jawab Farel.


Akhirnya aku memiliki kesempatan untuk mendekati Tuan Farel, padahal sudah dari dulu aku berharap menjadi Sekretaris pribadinya, kalau rezeki memang gak bakalan kemana, karena sekarang aku akan berusaha untuk mendapatkan cinta Tuan Farel, batin Karin, karena Karin juga belum mengetahui jika Farel telah menikah dengan Alina.


"Farel, Karin, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Alina dengan nada tinggi, ketika melihat jarak Farel dan Karin yang begitu dekat, sehingga Alina mengira jika Farel dan Karin sedang berciuman.


"Alina, saya harap kamu bersikap sopan, karena saya adalah atasan kamu. Memangnya apa hak kamu bertanya tentang apa yang sedang kami lakukan? kami mau melakukan apa pun juga itu bukan urusan kamu," ujar Farel, sehingga membuat Alina diam tidak berkutik dan hatinya terasa memanas.


Kenapa hatiku terasa sakit melihat Farel dekat dengan perempuan lain? batin Alina.


"Maaf Tuan Farel, sebagai Sekretaris Anda, saya merasa keberatan apabila ada perempuan lain yang duduk di kursi saya," ujar Alina.


"Oh iya, saya lupa mengatakan sama kamu, kalau mulai hari ini kamu akan menjadi Sekretaris Irwan, sedangkan Karin akan menjadi Sekretaris pribadi saya," ujar Farel dengan sengaja tersenyum dan menatap wajah Karin, sontak saja semua itu membuat Alina semakin terbakar api cemburu.


"Tuan, saya ingin bicara dengan Anda," ucap Alina.


"Kalau kamu mau bicara tinggal bicara saja, apa susahnya," ujar Farel.


"Tapi saya ingin bicara berdua saja," ujar Alina dengan mendelikkan matanya kepada Karin, kemudian Alina menarik tangan Farel menuju kamar pribadi Farel.

__ADS_1


Farel sengaja bersikap acuh kepada Alina, bahkan setelah sampai di dalam kamar pribadinya, Farel langsung menghempaskan tangan Alina.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? karena aku banyak pekerjaan, jadi aku tidak ingin membuang-buang waktuku untuk membicarakan sesuatu yang tidak penting," ujar Farel dengan ketus.


"Farel, jadi urusan penting kamu di Kantor adalah berselingkuh dengan Karin?"


"Memangnya apa urusan kamu? bukannya selama ini kamu hanya menganggap aku sebagai Suami di atas kertas saja? Aku juga lelaki normal yang membutuhkan belaian kehangatan dari seorang perempuan, dan aku sudah lelah dengan hubungan kita yang tidak jelas," tegas Farel.


"Aku juga tidak peduli kamu mau berselingkuh atau melakukan apa pun juga," ujar Alina yang tidak mau kalau Farel merasa di atas angin.


"Lalu apa tujuan kamu meminta berbicara berdua denganku?"


"Aku tidak mau menjadi Sekretaris Irwan, karena Irwan sering berangkat ke luar kota, jadi pasti kerjaannya lebih banyak," ujar Alina, karena saat menjadi Sekretaris Farel, pekerjaan Alina selalu Farel bantu.


"Itu bukan urusanku. Sebaiknya sekarang kamu segera pergi menuju ruang kerja Irwan," ujar Farel yang mencoba untuk tidak peduli terhadap Alina.


"Farel, bagaimanapun juga aku adalah Istri kamu, apalagi saat ini aku sedang ha_," perkataan Alina terputus karena Alina lupa jika dia akan merahasiakan kehamilannya dari siapa pun juga.


"Alina, apa kamu akan mengatakan jika saat ini kamu sedang hamil?" tanya Farel dengan mata berbinar, tapi lagi-lagi Alina menyangkalnya sehingga mematahkan hati Farel.


"Bukan, mana mungkin seperti itu, aku hanya mau mengingatkan saja jika saat ini kamu adalah Suamiku."


"Apa aku tidak salah dengar, sekarang kamu mengakui aku sebagai Suami kamu? lalu kemarin kemarin kamu kemana saja? bukannya kamu sendiri yang menyuruh aku supaya merahasiakan pernikahan kita? Maaf Alina, tapi keputusanku sudah bulat, aku dan Irwan sudah sepakat untuk bertukar Sekretaris, kecuali jika saat ini kamu sedang hamil, mungkin aku akan mempertimbangkannya," ujar Farel.


Di satu sisi Alina masih ingin menjadi Sekretaris pribadi Farel supaya pekerjaannya tidak terlalu berat, sedangkan di sisi lain Alina tidak mau jika Farel mengetahui kehamilannya, karena Alina masih berniat untuk menggugurkan kandungannya.


Aku tidak mungkin mengatakan kepada Farel jika saat ini aku sedang hamil, tapi aku juga tidak mau menjadi Sekretaris Irwan. Aku harus bagaimana? batin Alina yang saat ini berada dalam dilema.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2