
Hesti terlihat bingung mendengar pertanyaan Suci, karena Hesti tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
"Hesti, kenapa kamu hanya diam saja? Apa maksud kamu mengatakan jika Mas Rian bukan Suamiku, tapi Suamiku yang sebenarnya adalah Mas Arya?" tanya Suci lagi, tapi semuanya tidak ada yang mau menjawab pertanyaan Suci, dan lebih memilih diam seribu bahasa.
Suci tiba-tiba kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit, tapi ketika Rian dan Arya hendak mendekat, Suci mencegah mereka.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arya dan Rian secara bersamaan.
"Kalian jangan mendekat. Sekarang juga aku ingin tau apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dari ku?" teriak Suci dengan menangis, karena Suci merasa frustasi dengan keadaannya yang masih belum bisa mengingat semuanya.
Rizky yang mendengar teriakan Suci, ikut menangis juga, dan Suci mencoba menenangkan Rizky.
"Sayang, maafin Mama ya, Rizky pasti takut mendengar teriakan Mama," ujar Suci, sontak saja semuanya merasa terkejut mendengar perkataan Suci yang tiba-tiba menyebut dirinya Mama terhadap Rizky.
"Suci, apa kamu sudah mengingat Rizky?" tanya Hesti, dan Suci kembali terdiam dengan memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
Arya secara perlahan mendekati Suci, karena Arya takut jika Suci sampai pingsan, dan benar saja, beberapa saat kemudian Suci pingsan dalam pelukan Arya, beruntung Arya keburu menangkap tubuh Suci dan Rizky.
"Sayang, bangun Suci," ujar Arya dengan menangis memeluk Suci, dan Hesti bergegas mengambil Rizky dari pelukan Suci yang masih belum sadarkan diri.
"Sekarang kalian puas melihat Suci seperti ini? Semua gara-gara kalian yang egois karena memaksa Suci untuk mengingat semuanya," ujar Rian.
"Kamu yang egois Rian, kamu sudah memanfaatkan Suci yang hilang ingatan," ujar Hesti yang terus berdebat dengan Rian.
"Cukup, sekarang bukan saatnya kita berdebat, kita harus segera membawa Suci ke Rumah Sakit. Hesti, Irwan, aku titip Rizky, dan kamu Rian, kalau kamu masih peduli dengan Suci, kamu bantu aku membawanya ke Rumah Sakit," ujar Arya.
Rian terpaksa mengalah dan duduk di belakang kemudi, sedangkan Arya saat ini memeluk Suci di jok belakang.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, hanya ada keheningan di dalam mobil, apalagi Rian terbakar api cemburu ketika melihat Arya memeluk bahkan sesekali menciumi wajah Suci.
__ADS_1
"Arya, seharusnya kamu tidak mengambil kesempatan dengan mencium Suci dalam keadaan tidak sadarkan diri," ujar Rian yang merasa tidak rela melihat sikap Arya.
"Apa aku tidak salah dengar? Bukannya selama ini kamu yang sudah mengambil kesempatan dengan mengaku-ngaku sebagai Suami Suci? Aku berhak melakukan apa pun kepada Suci, karena dia masih Istriku," ujar Arya yang tersulut emosi.
Rian akhirnya diam dan lebih memilih untuk fokus menyetir.
Setelah sampai di Rumah Sakit, Rian memanggil Perawat untuk membantu membawa Suci.
Setelah Suci dibaringkan di atas blangkar, Rian dan Arya menggenggam erat tangan Suci dengan membantu mendorong blangkar.
"Maaf Tuan, kami harus segera melakukan tindakan kepada Pasien, sebaiknya kalian mengurus administrasinya terlebih dahulu," ujar Perawat dengan menutup pintu ruang IGD.
Arya bergegas menuju bagian administrasi, setelah itu Arya kembali ke depan ruang IGD.
Arya dan Rian yang sama sama mencemaskan keadaan Suci, mondar mandir seperti setrikaan. Sampai akhirnya, setelah satu jam kemudian, Dokter ke luar dari dalam ruang IGD.
"Dok, bagaimana keadaan Istri saya?" tanya Rian dan Arya secara bersamaan.
"Mohon maaf, siapa di antara kalian berdua yang Istrinya Pasien," tanya Dokter.
"Saya Dok," jawab Arya, dan Rian akhirnya diam karena pada kenyataannya dia memang bukan Suami Suci.
"Saat ini kondisi Istri Anda sudah lebih baik, tapi setelah kami melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, kami menemukan gumpalan darah pada otaknya. Apa saat ini Istri Anda mengalami amnesia?" tanya Dokter.
"Iya Dok, satu tahun yang lalu Istri saya mengalami kecelakaan, sehingga menyebabkan sebagian ingatannya hilang," jawab Arya.
"Sebenarnya bukan hanya itu yang terjadi pada kesehatan Istri Anda, karena saya menemukan penyumbatan darah pada jantungnya, apabila terus dibiarkan, kemungkinan besar Pasien tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama," jelas Dokter.
"Apa maksud Dokter?" tanya Arya dan Rian secara bersamaan.
__ADS_1
"Untuk gumpalan darah pada otak Pasien, bisa dibersihkan dengan cara operasi, tapi kemungkinan Pasien akan selamanya mengalami hilang ingatan. Sedangkan untuk mengobati penyakit jantungnya, sementara waktu kita masih bisa memakai ring, tapi itu hanya akan bertahan beberapa tahun saja, dan Pasien harus tetap mendapatkan donor jantung," ujar Dokter.
Tubuh Arya dan Rian sama-sama lemas, sampai akhirnya keduanya terjatuh di atas lantai.
Rian terbesit ide untuk mendonorkan jantungnya, sehingga Rian kembali bangkit dan mengejar Dokter.
"Dokter tunggu. Sebaiknya Dokter ambil jantung saya saja, Dokter bisa memberikan jantung saya kepada Suci. Saya lebih baik memilih mati daripada harus melihat Suci sakit," ujar Rian dengan menangis, dan Arya begitu terkejut mendengar perkataan Rian.
"Maaf Tuan, kami tidak bisa mengambil jantung Anda, karena sama saja kami membunuh Anda. Seandainya yang dibutuhkan adalah donor ginjal, kami mungkin bisa mengambil salah satu ginjal Anda, tapi kalau jantung, kami tidak bisa melakukannya," ujar Dokter, kemudian meninggalkan Rian yang masih begitu terpukul mendengar penyakit yang Suci derita.
Aku tidak boleh seperti ini, aku harus melakukan sesuatu untuk kesembuhan Suci. Jika aku tidak bisa mendonorkan jantungku untuk Suci, aku harus segera mencari donor jantung untuk Suci, dan menyuruh Dokter untuk segera mengoperasi otaknya. Biarlah Suci melupakan aku untuk selamanya, yang penting Suci bisa kembali sembuh, ucap Arya dalam hati.
Arya menghampiri Rian yang terlihat lebih rapuh dibandingkan dengan dirinya, kemudian Arya mengajak Rian duduk.
"Rian, sekarang kita harus mengesampingkan ego kita demi kesembuhan Suci. Kita harus berhenti memperebutkannya."
"Apa yang harus kita lakukan? Seandainya saja aku bisa mendonorkan jantungku untuk Suci," ujar Rian dengan mengacak rambutnya secara kasar.
"Seandainya saja aku juga bisa mendonorkan jantungku untuk Suci, aku akan rela melakukannya, tapi kamu dengar sendiri perkataan Dokter, kalau kita tidak bisa melakukannya, tapi sekarang kita masih memiliki waktu untuk mencari donor jantung untuk Suci. Aku akan segera meminta kepada Dokter supaya memasang Ring pada jantung Suci, dan untuk menyembuhkan gumpalan darah pada otaknya, aku akan menyuruh Dokter supaya melakukan operasi secepatnya," ujar Arya.
"Arya, tadi kamu dengar sendiri perkataan Dokter, kalau Suci melakukan operasi, mungkin selamanya ingatan Suci tidak akan pernah kembali, dan artinya dia tidak akan mengingat kamu lagi," ujar Rian.
"Meski pun selamanya Suci tidak bisa mengingatku, yang penting Suci tidak merasa kesakitan lagi. Meski pun Suci melupakanku, setidaknya aku masih bisa melihat Suci dan berada di dekatnya meski pun hanya sebagai seorang Teman, karena sekarang hanya itu yang bisa aku lakukan untuk Suci," ujar Arya dengan tersenyum sekaligus menitikkan airmata, dan Rian tidak bisa berkata apa-apa lagi karena yang terpenting bagi Rian adalah kesembuhan Suci juga.
"Rian, selama Suci belum sadar, biarkan aku yang menjaganya, karena setelah nanti Suci sadar, yang akan Suci cari pasti kamu," ujar Arya, kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang Dokter supaya segera melakukan tindakan kepada Suci.
*
*
__ADS_1
Bersambung