
Suci dan Arya merasa terkejut ketika melihat sapu tangan milik Arya berada di tangan Susi.
"Ke_kenapa sapu tangan Mas Arya bisa ada sama kamu?" tanya Suci dengan suara tergagap.
"Kamu lihat sendiri kan kalau sapu tangan Suami kamu ada padaku? Karena sapu tangan ini yang dipakai oleh pelaku menyumpal mulutku. Jadi, ini bisa menjadi bukti untuk menjebloskan Mas Arya ke dalam penjara apabila dia tidak mau bertanggung jawab," ancam Susi.
Kenapa Susi bisa mengalami hal yang sama dengan yang aku alami dulu? karena sapu tangan itu juga yang dulu dipakai oleh Mas Arya untuk menyumpal mulutku. Aku tidak boleh meragukan Suamiku sendiri, karena aku sangat yakin jika pelakunya bukan Mas Arya, apalagi dari tadi Mas Arya terus berada di sampingku. Aku yakin kalau ada orang yang berusaha untuk menjebaknya, tapi siapa orang yang sudah tega melakukan semua itu? Batin Suci kini bertanya-tanya.
"Sayang, Mama percaya kan sama Papa kalau bukan Papa pelakunya?" tanya Arya dengan menangkup kedua pipi Suci.
"Mama percaya sama Papa lebih dari percaya terhadap diri Mama sendiri. Papa jangan takut, apa pun yang terjadi kita akan melewatinya bersama," ujar Suci dengan menggenggam erat tangan Arya.
"Terimakasih sayang. Papa tidak peduli dengan penilaian oranglain, yang penting Mama percaya sama Papa."
Arya yang tidak merasa bersalah, tidak terlihat takut sedikit pun, kemudian Arya berbicara dengan lantang di hadapan semuanya.
"Baiklah, aku bersedia_"
Ucapan Arya terpotong oleh Susi yang langsung angkat suara.
"Benarkah Mas Arya bersedia menikahi Susi?"
"Kamu jangan pernah bermimpi Susi. Aku bersedia untuk masuk ke dalam penjara, bukan untuk menikahi kamu. Sekarang juga aku sendiri yang akan menelpon Polisi, dan nanti kita akan membuktikan mana yang salah dan yang benar, karena sapu tangan yang ada di tangan kamu sudah lama hilang, dan pasti ada orang yang sengaja menjebakku dengan sapu tangan itu," ujar Arya, kemudian menelpon Polisi untuk melaporkan kejadian yang menimpa Susi.
Beberapa saat kemudian, beberapa Polisi datang ke rumah Bu Inah, dan Arya juga sebelumnya meminta kepada Polisi untuk membawa Dokter supaya bisa melakukan visum kepada Susi.
Sial, Mas Arya terlalu pintar untuk aku jebak. Kalau Dokter sampai memeriksaku, pasti mereka akan mengetahui siapa lelaki yang sudah memperkosaku. Bagaimana kalau bukan Arya pelakunya, apalagi aku tidak melihat wajahnya karena pelakunya memakai masker? Aku tadi sempat mencakar pipi lelaki bejat itu, tapi tidak ada bekas cakaran pada wajah Mas Arya, Ucap Susi dalam hati yang sudah terlihat ketakutan.
"Dok, saya tidak mau diperiksa," ujar Susi yang terus mencoba untuk mengelak.
"Maaf Nona, tapi saya hanya melakukan tugas supaya kita dapat mengetahui pelaku pemerkosaan yang sebenarnya," ujar Dokter, kemudian mengajak Susi masuk ke dalam kamar untuk melakukan pemeriksaan secara intensif.
Polisi berbicara dengan Arya dan Pak Maman, karena Polisi harus menahan Arya sampai hasil pemeriksaan ke luar.
"Mohon maaf Tuan Arya, tapi kami harus menahan Anda sampai hasil pemeriksaan ke luar, dan Anda terbukti tidak bersalah," ujar Pak Polisi.
"Baiklah Pak, kalau begitu saya akan ikut Bapak ke Kantor Polisi," ujar Arya Kemudian berdiri untuk ikut dengan Polisi.
Suci yang melihat Arya berdiri, ikut berdiri juga, kemudian Suci memeluk tubuh Arya, karena Suci tidak mau berpisah dengan Arya.
"Tidak, Papa tidak boleh pergi. Tolong jangan tahan Suami saya Pak, saya bisa bersumpah kalau Suami saya tidak bersalah, karena saat kejadian yang menimpa Susi, Mas Arya sedang berada di rumah," ujar Suci dengan menangis.
Arya mengusap lembut kepala Suci dan berusaha untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Sayang, Papa pasti akan baik-baik saja. Mama jaga diri baik-baik ya, Papa titip Anak-anak. Papa yakin kalau kebenaran pasti akan menang, dan badai pasti berlalu," ujar Arya kemudian mencium kening Suci.
Dengan berat hati Arya melepaskan pelukannya terhadap Suci, kemudian mengikuti Polisi untuk masuk ke dalam mobil.
"Mas Arya," teriak Suci dengan menjatuhkan tubuhnya di atas tanah ketika mobil Polisi yang membawa Arya melaju meninggalkan halaman rumah Bu Inah.
Bu Inah dan Pak Maman menghampiri Suci, kemudian keduanya membantu Suci untuk berdiri.
"Nak, maafkan kami, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Nak Arya adalah orang yang baik, kami percaya jika Nak Arya tidak mungkin melakukan perbuatan serendah itu," ujar Bu Inah yang merasa bersalah terhadap Suci.
"Bu, semua ini bukan salah Ibu dan Bapak, jadi kalian tidak perlu meminta maaf. Susi, sekarang kamu bisa merasa menang, tapi lihat saja, sebentar lagi kebenaran pasti akan terungkap. Jika kamu terbukti sudah memfitnah Suamiku, aku akan pastikan kamu yang akan membusuk di dalam Penjara," ujar Suci sehingga membuat Susi gemetar ketakutan.
Suci pamit pulang kepada Bu Inah dan Pak Maman, karena Suci takut jika ketiga Anaknya akan bangun.
Setelah sampai rumah, Suci mengambil air wudhu, kemudian melaksanakan Shalat tahajud.
Suci terlihat khusyu melaksanakan Shalat, kemudian Suci memanjatkan do'a supaya semuanya akan segera terbongkar, dan Arya bisa segera dibebaskan dari dalam penjara.
......................
Keesokan paginya, Suci memasak untuk Arya, karena Suci akan mengunjungi Arya di kantor Polisi.
Sebelum berangkat ke Kantor Polisi, Suci menelpon Irwan terlebih dahulu untuk meminta bantuan mencari Pengacara.
Irwan yang mendengar Arya ditahan, bergegas untuk mencari Pengacara yang paling bagus.
"Irwan, kamu mau pergi kemana? kenapa terburu-buru seperti itu?" tanya Papa Fadil.
"Om, barusan Suci telpon, katanya Arya ditahan atas tuduhan pemerkosaan. Jadi sekarang Irwan mau mencari Pengacara terhebat yang bisa segera membebaskan Arya."
"Arya tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama," ujar Papa Fadil.
"Iya Om, Irwan juga yakin kalau Arya tidak mungkin seperti itu."
Irwan pamit kepada Papa Fadil, tapi tiba-tiba Irwan mendapatkan telpon dari Mama Maya yang mengabarkan jika Hesti mengalami kontraksi.
"Ada apa Irwan? Kenapa kamu terlihat cemas?" tanya Papa Fadil.
"Om, barusan Mama telpon kalau Hesti mengalami kontraksi, dan Hesti sudah dibawa ke Klinik bersalin. Mungkin Hesti mau melahirkan karena sekarang sudah masuk taksiran persalinan," jawab Irwan.
"Sebaiknya sekarang kamu pergi untuk mendampingi Istrimu," ujar Papa Fadil.
"Tapi bagaimana dengan Arya? Saat ini dia. Membutuhkan bantuan kita."
__ADS_1
"Kamu tenang saja, tidak ada Pengacara yang lebih hebat dari Pengacara Keluarga Argadana."
"Tapi Suci pasti akan menolak bantuan Om."
"Suci tidak akan tau kalau kita merahasiakan semuanya. Sekarang sebaiknya kamu segera pergi untuk mendampingi Hesti. Semoga persalinannya lancar," ujar Papa Fadil yang di Amini oleh Irwan.
Setelah Irwan pergi menuju Klinik bersalin, Papa Fadil bergegas menelpon Pengacara Keluarga Argadana untuk membebaskan Arya. Papa Fadil juga menelpon Oma Rahma supaya bisa mendampingi Suci, karena Suci pasti membutuhkan bantuan untuk menjaga Anak-anaknya, dan Papa Fadil yakin jika Suci tidak mungkin mengusir Oma Rahma.
......................
Suci sudah bersiap untuk pergi ke Kantor Polisi, dan Suci berniat meminta bantuan kepada Bu Inah untuk membantu Bi Sari menjaga ketiga Anaknya.
Ketika Suci membuka pintu rumahnya, Suci terkejut karena melihat Oma Rahma yang sudah berdiri di hadapannya dengan membawa dua Asisten rumah tangganya.
"O_oma," ucap Suci dengan lirih.
Suci yang sudah merindukan Oma Rahma, berhambur memeluk tubuh Neneknya tersebut.
"Dasar Anak nakal, kenapa Suci tidak pernah memberikan kabar kepada Oma? Selama ini kami selalu menunggu kalian pulang. Jangankan pulang, bahkan untuk menanyakan kabar Oma saja kalian tidak pernah. Apa harus Suci dan Arya menghukum Oma juga? Apa kalian tidak kasihan melihat Oma yang sudah tua renta seperti ini?" ujar Oma Rahma dengan menangis memeluk tubuh Suci dengan erat.
"Maaf Oma, Suci bukanlah Anak dan Cucu yang berbakti. Suci tidak bermaksud bersikap seperti itu juga kepada Oma, hanya saja Suci masih kecewa dengan semua kenyataan ini."
"Sayang, Oma tau kalau Cucu Oma yang cantik ini memiliki hati yang baik. Sekarang Oma akan tinggal di sini menemani Cicit cicit Oma yang lucu lucu."
"Apa Oma sudah mendengar berita tentang Mas Arya?"
"Tentu saja Oma tau, makanya Oma datang ke sini. Meski pun kalian berusaha menutupinya, tapi kami akan selalu mengetahui semua yang terjadi pada kesayangan kami. Sebaiknya sekarang Suci segera berangkat ke Kantor Polisi, Suci tidak perlu mengkhawatirkan Anak-anak, karena Oma akan menjaga mereka."
"Makasih banyak Oma."
"Suci tidak perlu mengucapkan terimakasih, sudah seharusnya keluarga saling membantu. Sebaiknya Suci di antar sama Supir Oma saja."
"Tidak perlu Oma, ada Asep yang akan mengantar Suci. Kalau begitu Suci berangkat dulu."
Setelah mencium tangan Oma Rahma, Suci menghampiri Asep yang sudah berdiri di samping mobil.
Suci merasa heran melihat sikap Asep yang tidak seperti biasanya, karena biasanya Asep banyak bicara, tapi hari ini Asep terlihat diam, apalagi Suci melihat bekas cakaran kuku pada pipi Asep.
"Asep, siapa yang sudah mencakar wajah kamu?"
*
*
__ADS_1
Bersambung