Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 189 ( Patah hati )


__ADS_3

Rizky menatap nanar kepergian Dinda, hatinya terasa sakit ketika melihat perempuan yang dia cintai semakin jauh dari pandangannya.


Ternyata begini rasanya patah hati, padahal baru saja aku merasakan indahnya perasaan cinta, tapi aku harus merasakan patah hati karena tidak dapat hidup bersama dengan perempuan yang aku cintai, ucap Rizky dalam hati dengan menitikkan airmata.


"Kak, sebaiknya sekarang kita pulang, Dinda juga sudah naik ke dalam pesawat," ujar Nanda dengan menepuk bahu Rizky.


"Nanda, apa Dinda akan baik-baik saja?" tanya Rizky dengan mengelap airmata yang masih menetes membasahi pipinya.


"Kak Rizky tenang saja, dimana pun Dinda berada, dia pasti akan baik-baik saja. Dinda tidak selemah yang Kak Rizky pikirkan, justru Nanda khawatir sama Kak Rizky, karena dari tadi airmata Kak Rizky tidak berhenti menetes," ledek Nanda.


"Mana mungkin seperti itu, aku tidak menangis, tadi aku hanya kelilipan saja," ujar Rizky yang selalu berusaha menyangkal nya.


"Kak Rizky tidak perlu merasa malu, karena dengan menangis, hati kita akan merasa lebih baik. Nanda saja setiap malam selalu menangis ketika memikirkan Arsyi."


"Kamu yang sabar ya, jika memang Arsyi ditakdirkan untuk kamu, apa pun rintangannya, pasti kalian bisa bersatu, karena itu juga yang Dinda katakan kepadaku," ujar Rizky dengan menepuk bahu Nanda.


"Kalau begitu Nanda duluan ya Kak, Nanda harus kembali ke kantor."


"Iya, Kakak juga ada jadwal operasi di Rumah Sakit."


"Memangnya Kak Rizky tidak mengambil cuti? Padahal pernikahan Kak Rizky dan Kak Putri tinggal beberapa hari lagi," ujar Nanda yang merasa heran.


"Kak Rizky sengaja tidak mengambil cuti, mungkin dengan mencari kesibukan, Kak Rizky tidak akan terus-terusan memikirkan Dinda."


"Maaf ya Kak, Nanda tidak bisa membantu apa-apa."


"Kakak justru berterimakasih, karena Nanda sudah memberitahu Kakak tentang kepergian Dinda, jadi Kakak bisa mengutarakan perasaan Kakak sebelum Dinda pergi."


......................


Setelah sampai Rumah Sakit, Rizky dikejutkan dengan kedatangan Ratu yang sudah berada di dalam ruang praktek nya.


"Ratu, sedang apa kamu di sini?" tanya Rizky.


"Kak Rizky, Ratu sengaja datang ke sini, karena Ratu kangen banget sama Kakak," ujar Ratu dengan tersenyum, kemudian mendekat pada Rizky.


Ratu hendak memeluk Rizky, tapi Rizky berusaha untuk menghindar.


"Kenapa Kak Rizky tega sekali sama Ratu? Kenapa Kak Rizky lebih memilih Putri dibandingkan dengan Ratu? Apa kurangnya Ratu Kak? Kak Rizky lihat sendiri kalau Ratu lebih cantik dari Putri," ujar Ratu.


Rizky beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, padahal saat ini suasana hati Rizky sedang tidak baik, dan Ratu datang di saat yang tidak tepat.

__ADS_1


"Ratu, mungkin memang benar jika kamu memiliki wajah yang lebih cantik dibandingkan dengan Putri, tapi hati Putri jauh lebih cantik dibandingkan dengan kamu. Kecantikan wajah bisa hilang dengan seiring waktu, tapi kecantikan hati akan tetap abadi."


Ratu tidak bisa menerima perkataan Rizky, dan Ratu bersikeras meminta Rizky untuk membatalkan pernikahannya dengan Putri.


"Kak, Ratu mohon batalkan pernikahan Kakak dengan Putri. Ratu akan melakukan apa pun untuk Kak Rizky, bahkan Ratu bersedia memberikan kesucian Ratu_" perkataan Ratu langsung terhenti karena Rizky membentaknya.


"Cukup Ratu, tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu, apa kamu sadar jika perkataanmu sudah merendahkan martabat kamu sebagai seorang perempuan? Sekarang juga kamu ke luar dari sini !!" teriak Rizky.


Ratu terpaksa ke luar dari ruang praktek Rizky, karena Ratu merasa takut ketika melihat tatapan tajam Rizky.


"Baru kali ini aku melihat Kak Rizky marah, tapi aku tidak akan menyerah sampai mendapatkan apa yang aku inginkan," gumam Ratu dengan mengepalkan kedua tangannya.


......................


Iqbal yang sudah sembuh, memutuskan untuk mencari pekerjaan, karena Iqbal tidak mau terus-terusan menyusahkan keluarga Pak Tamrin. Meski pun Iqbal masih memiliki tabungan, tapi uang dalam tabungan tersebut pasti akan habis apabila Iqbal tidak bekerja.


"Pak, hari ini Iqbal mau cari kerja dulu ya, do'akan Iqbal supaya segera mendapatkan pekerjaan," ujar Iqbal dengan mencium punggung tangan Pak Tamrin.


"Iya Nak, Bapak do'akan semoga Iqbal mendapatkan pekerjaan yang bagus," ujar Pak Tamrin dengan mengelus lembut punggung Iqbal.


Iqbal mengucapkan salam sebelum berangkat, dan Pak Tamrin tersenyum melihat Iqbal yang selalu bersikap sopan.


"Bapak lagi lihat apa? Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Cindi yang baru ke luar dari dalam kamarnya.


"Nak, Bapak harap Cindi bisa mencontoh Iqbal, setiap hari Iqbal bangun sebelum Subuh, Iqbal Anak yang saleh, dia juga taat beribadah, pasti orangtuanya sudah mendidik Iqbal dengan baik. Sedangkan kamu jam segini baru bangun. Kamu itu Anak perawan, nanti jodoh kamu dipatok Ayam kalau bangun siang terus," ujar Pak Tamrin.


"Mana ada pribahasa jodoh dipatok sama Ayam? Dimana-mana juga rezeki Pak. Jadi Iqbal udah berangkat? Padahal tadinya Cindi mau mengantar Iqbal."


"Makanya kamu jangan bangun siang terus, cepetan mandi, Abang kamu sudah nungguin di Terminal," ujar Pak Tamrin.


Baru juga Pak Tamrin hendak menutup pintu, Pak Tamrin dikejutkan dengan kedatangan tiga lelaki berperawakan tinggi besar yang datang dengan membawa Putra sulungnya.


"Rojak, kenapa kamu babak belur seperti ini Nak?" tanya Pak Tamrin.


"Pak, tadi Rojak dipukuli sama mereka, karena Rojak belum bisa membayar hutang."


"Kamu pinjam uang untuk apa lagi? Jangan bilang kamu pinjam uang untuk main judi lagi?" tanya Pak Tamrin, tapi Rojak hanya diam tanpa mau menjawab pertanyaan Pak Tamrin.


"Kenapa kamu tidak ada kapoknya main judi Rojak? Apa kamu tidak kasihan sama Anak dan Istri kamu?" teriak Pak Tamrin dengan menangis, karena Pak Tamrin sudah benar-benar kecewa dengan kelakuan Rojak yang selalu membuatnya malu.


"Kami tidak mau tau, hari ini juga Bapak harus melunasi hutangnya Rojak," teriak salah satu Penagih hutang.

__ADS_1


Cindi bergegas ke luar dari dalam kamar mandi karena mendengar keributan.


"Lepasin tangan kamu dari Bapak saya," teriak Cindi ketika salah satu penagih hutang menarik kerah baju Pak Tamrin.


"Siapa gadis cantik ini?" tanya Bos rentenir yang bernama Tono.


Ketika Tono hendak memegang wajah Cindi, Cindi langsung menepisnya.


"Jangan kurang ajar kamu, kalau kamu berani menyentuhku, akan aku patahkan tangan kamu," ancam Cindi dengan tatapan tajam.


"Selain cantik, ternyata kamu galak juga, tapi aku suka gadis seperti kamu. Rojak, kalau kamu tidak bisa melunasi hutang kamu, serahkan perempuan cantik ini kepada ku, dan hutang kamu sebanyak tiga puluh juta akan aku anggap lunas," ujar Tono dengan tersenyum penuh gairah ketika melihat wajah cantik Cindi.


"Bos, beri saya waktu, saya pasti akan melunasi hutang-hutang saya," ujar Rojak dengan bersimpuh di hadapan ketiga penagih hutang tersebut.


"Kenapa kamu selalu membuat kami kecewa Bang? Sebaiknya sekarang kalian bawa saja Bang Rojak untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya," teriak Cindi.


"Cindi, kamu seharusnya bantu Abang, bukan malah membiarkan Abang dibawa oleh mereka," teriak Rojak.


"Kamu memang gak ada kapoknya Bang, kami sudah capek harus membayar hutang yang kamu buat. Jadi, kali ini jangan harap kami bersedia membantu Abang lagi," ujar Cindi yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rojak.


Rojak marah mendengar perkataan Cindi, karena Cindi dan Pak Tamrin sudah tidak bersedia membayar hutang-hutangnya.


"Kalau begitu kalian bawa saja dia, aku tidak mau memiliki Adik durhaka," teriak Rojak.


Plak


Tamparan keras mendarat pada pipi Rojak, Pak Tamrin tidak menyangka jika Rojak akan melakukan perbuatan serendah itu.


"Rojak, kamu yang sudah menjadi Anak durhaka, bahkan dengan teganya kamu berniat menjual Adik kamu sendiri," ujar Pak Tamrin.


"Pak, tapi Rojak sudah tidak tau lagi harus mendapatkan uang darimana, jadi jangan salahkan Rojak karena Rojak terpaksa harus menjual Cindi," ujar Rojak dengan menarik tangan Cindi, kemudian memberikannya kepada Tono.


"Gila kamu Bang, lepaskan tangan kotor kalian," teriak Cindi.


Pak Tamrin berusaha membantu Cindi yang sudah dipegangi oleh kedua Anak buah Tono, tapi Rojak dengan teganya mendorong tubuh Pak Tamrin, beruntung ada seseorang yang datang, dan menahan tubuh Pak Rojak yang hampir terjatuh.


"Ada apa ini?"


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2