Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 213 ( Kehamilan simpatik )


__ADS_3

Dokter merasa bingung, karena setelah memeriksa secara seksama, tidak ditemukan sesuatu yang janggal pada tubuh Nanda.


"Sebenarnya saya merasa heran, karena saya tidak menemukan sesuatu keanehan pada tubuh pasien," jawab Dokter.


"Tapi saya merasa mual, saya juga pengen muntah terus Dok," ujar Nanda dengan menutup hidung dan mulutnya.


"Kamu seperti perempuan lagi ngidam saja," celetuk Irwan.


"Apa mungkin Nanda seperti itu karena Ratu sedang hamil?" tanya Hesti.


Dokter terlihat berpikir. Meski pun terkesan tidak masuk akal, tapi pada kenyataannya banyak Suami yang ngidam ketika Istrinya hamil.


"Apa Istri Pasien tengah hamil?" tanya Dokter.


"Iya Dok, saya sedang hamil, dan kehamilan saya baru menginjak bulan ketiga," jawab Ratu.


"Sepertinya Pasien memang ngidam, ada beberapa kasus Suami yang ngidam ketika Istrinya hamil, atau biasa disebut kehamilan simpatik," jelas Dokter.


Dokter meresepkan obat mual dan muntah untuk Nanda, Dokter juga menyarankan supaya Nanda dirawat di Rumah Sakit selama beberapa hari.


"Saya sudah meresepkan obat untuk mengurangi mual dan muntah, dan Pasien harus menjalani perawatan selama beberapa hari sampai kondisi tubuhnya benar-benar sembuh," ujar Dokter, kemudian ke luar dari dalam kamar perawatan Nanda.


Nanda kembali merasa mual, tapi ketika Ratu memeluk tubuhnya, Nanda merasa lebih baik.


"Kenapa ya saat Nanda memeluk Ratu, mual Nanda jadi hilang?" ujar Nanda yang merasa heran.


"Sepertinya hanya Ratu yang bisa mengobati kamu," ujar Irwan.


"Apa iya seperti itu? Sekarang coba kamu menjauh dariku," ujar Nanda kepada Ratu.


Ketika Ratu menjauh dari Nanda, Nanda kembali merasa mual, tapi ketika Ratu mendekat, rasa mual itu menjadi berkurang, bahkan hilang begitu saja apabila Ratu memeluknya.


"Sepertinya bayi kalian ingin kedua orangtuanya selalu berdekatan. Bunda, sebaiknya kita pulang saja supaya tidak mengganggu Nanda dan Ratu. Ayah juga ingin terus dekat dengan Bunda," ujar Irwan dengan terkekeh, dan Hesti memutar malas bola matanya.


"Ratu, tidak apa-apa kan kalau kami pulang dulu? Soalnya Bunda lupa memberi kabar kepada Oma dan Opa, apalagi baterai handphone Ayah sama Bunda lowbat. Oma sama Opa pasti khawatir, karena sudah malam begini kami masih belum pulang juga," ujar Hesti yang mencoba mencari alasan.


"Tidak apa-apa Bunda, Ratu pasti akan menjaga Nanda dengan baik," ujar Ratu dengan tersenyum.


"Kami titip Nanda ya Nak, kalau ada apa-apa kalian jangan lupa kabari kami," ujar Hesti yang sebenarnya ingin memberikan waktu kepada Nanda dan Ratu supaya semakin dekat, apalagi sekarang merupakan kesempatan yang bagus, karena Nanda menjadi ketergantungan terhadap Ratu.


Hesti dan Irwan akhirnya ke luar dari dalam kamar perawatan Nanda. Keduanya merasa bersyukur karena ada hikmah di balik musibah yang menimpa Nanda.

__ADS_1


"Ternyata, di balik musibah yang menimpa Nanda, ada hikmah yang tersembunyi ya. Mungkin itu semua adalah cara Tuhan mendekatkan Nanda dan Ratu. Semoga saja kedua Anak kita selalu diberikan kebahagiaan," ucap Hesti.


"Iya Amin Bunda. Sekarang tinggal Dinda yang belum mendapatkan pendamping hidup. Semoga Dinda mendapatkan jodoh terbaik yang bisa memberikan kebahagiaan di Dunia dan akhirat," ujar Irwan yang di Amini oleh Hesti.


......................


Ratu menghela nafas panjang, karena Nanda terus saja memeluk tubuhnya, bahkan Nanda sampai ikut masuk ke dalam kamar mandi ketika Ratu ingin buang air kecil.


"Sekarang aku punya Pasien. Ternyata merawat satu pasien saja sudah merepotkan sekali," gumam Ratu.


"Jangan bilang kamu gak ikhlas merawat Suami kamu? Kamu harus tau kalau melayani Suami itu ibadah," ujar Nanda dengan mengeratkan pelukannya.


"Tapi jangan terlalu kencang juga meluknya Nanda. Aku tidak bisa bernafas," ujar Ratu yang merasa kesal.


"Kenapa sih kamu marah-marah terus? Harusnya kamu bersyukur karena aku yang mengalami ngidam," ujar Nanda dengan menitikkan airmata.


"Hmmm kumat lagi cengengnya. Sekarang kamu mau aku ngapain supaya kamu berhenti menangis?" tanya Ratu.


"Aku mau kamu_"


Belum juga Nanda menyelesaikan perkataannya Ratu sudah memotongnya, karena mengira jika Nanda menginginkan yang tidak-tidak.


Pletak


Nanda menyentil dahi Ratu.


"Dasar otak mesum, kenapa kamu selalu berpikiran yang tidak-tidak? Aku ingin kamu membacakan dongeng sebelum tidur untuk ku," ujar Nanda yang tiba-tiba memiliki keinginan aneh seperti itu.


Ratu terlihat salah tingkah, pipinya bersemu merah karena telah salah faham dengan perkataan Nanda.


"Kamu juga seperti Anak kecil saja, sudah mau jadi Ayah masih minta dibacakan dongeng." Kenapa otak ku traveling kemana-mana saat berdekatan dengan Nanda? Bikin malu saja, lanjut Ratu dalam hati dengan memalingkan wajahnya karena merasa malu.


"Aku juga tidak tau, kenapa tiba-tiba aku ingin mendengar kamu membaca dongeng. Mungkin ini bawaan bayi."


"Kamu itu merepotkan sekali, padahal aku yang hamil, kenapa sih harus kamu yang ngidam?" gerutu Ratu.


"Ya sudah kalau gak mau, kamu gak usah banyak alasan. Kamu juga jangan suka memotong pembicaraan orang lain supaya tidak salah faham, lagian usia kandungan kamu baru trimester pertama, aku tidak mungkin menyakiti Anak kita."


Ratu terpaksa membacakan dongeng untuk Nanda, tapi baru juga sebentar, Nanda sudah menyuruhnya berhenti.


"Udah stop, kupingku sakit dengar suara cempreng kamu," ujar Nanda dengan menutup kupingnya.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu aku mau tidur saja," ujar Ratu dengan melepaskan tangan Nanda yang terus memeluknya.


Secara perlahan Ratu mulai menurunkan kaki nya dari ranjang pesakitan Nanda, tapi lagi-lagi Nanda menahan tubuh Ratu dengan memeluknya.


"Tidak boleh, kamu harus tidur di sini."


Ratu hanya bisa menghela nafas panjang dengan perubahan sikap Nanda yang begitu drastis.


"Apa kamu masih Nanda yang aku kenal? Biasanya setiap malam kamu selalu tega membiarkan aku tidur di sofa," ujar Ratu.


"Kamu jangan marah-marah terus, Ibu hamil harus banyak istirahat dan tidak boleh stres. Sebaiknya sekarang kita tidur, supaya otak kamu tidak berpikir yang aneh-aneh terus," ujar Nanda dengan tersenyum, kemudian memejamkan matanya.


Ratu merasa tidak nyaman karena harus tidur berdesakan.


"Nanda, aku tidur di ranjang ku saja ya."


"Tidak boleh."


"Bagaimana kalau ranjang nya kita satukan supaya kita tidak berdesakan seperti ini?"


"Tidak boleh juga."


"Tapi aku tidak nyaman kalau tidur satu ranjang sama kamu. Ranjang ini terlalu kecil untuk kita tidur berdua," ujar Ratu.


"Kalau kita tidur berjauhan, nanti aku mual sama muntah lagi. Sebaiknya sekarang kamu tidur dan jangan banyak bergerak supaya kamu tidak membangunkan sesuatu di bawah sana," ujar Nanda sehingga membuat Ratu diam tidak berkutik.


Ratu sebenarnya merasa bahagia, karena akhirnya bisa menaklukan seorang Nanda.


Semoga semua ini bukan hanya mimpi, ucap Ratu dalam hati dengan menatap lekat wajah tampan Nanda.


"Cepat tidur, aku memang tampan, tapi kamu tidak perlu terus terusan menatap wajahku," ujar Nanda dengan tersenyum.


Ratu yang kepergok oleh Nanda merasa sangat malu, sehingga Ratu langsung menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Nanda untuk menyembunyikan pipi nya yang sudah memerah seperti udang rebus.


Pada akhirnya, pernikahan Nanda dan Ratu yang terjadi karena sebuah kesalahan, bahkan sebelumnya hanya ada rasa kebencian serta tidak ada perasaan cinta sedikit pun pada hati keduanya, kini sudah mulai ditumbuhi oleh benih-benih cinta yang semakin lama akan tumbuh semakin besar dengan seiring berjalannya waktu.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2