
Asep terlihat gelagapan ketika Suci menanyakan bekas cakaran yang ada pada pipinya.
"I_ini bekas cakaran kucing teh," jawab Asep yang terlihat gugup.
"Sep, Teteh sudah lama kenal sama Asep, Teteh harap Asep tidak mengecewakan Teteh dengan berbohong," ucap Suci yang sebenarnya merasa curiga melihat gelagat Asep, apalagi sebelumnya Suci tau kalau Asep naksir Susi.
Suci dan Asep sudah saling mengenal sejak mereka masih kecil, bahkan Asep juga pernah kerja di Restoran mendiang Rian bersama Suci.
Maaf Teh, Asep tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Asep menyesal sudah menjebak Mas Arya, semua itu Asep lakukan karena Asep kesal terhadap Susi yang selalu menolak cinta Asep karena dia sudah tergila-gila sama Mas Arya, ucap Asep dalam hati.
Saat pertama kali Asep melihat Susi, Asep sudah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Susi. Asep sampai beberapa kali menyatakan cintanya terhadap Susi, tapi Susi selalu menolak cinta Asep, bahkan Susi dengan teganya menghina Asep yang miskin dan Yatim piatu.
"Kamu seharusnya ngaca dulu Asep, kamu itu orang miskin dan Yatim Piatu. Asal kamu tau, hanya Mas Arya yang pantas bersanding denganku," ujar Susi, dan perkataan Susi tersebut selalu terngiang ngiang di telinga Asep, sehingga membuat Asep nekad melakukan hal bejat terhadap Susi.
Satu minggu sebelum kejadian, Asep menemukan sapu tangan Arya yang terjatuh di gudang, sampai akhirnya Asep terbesit ide jahat untuk menodai Susi dan menjebak Arya sebagai pelakunya.
"Baiklah Susi, aku akan mengabulkan keinginanmu untuk mendapatkan Mas Arya, tapi kamu harus membayar mahal untuk semua itu," gumam Asep dengan menggenggam sapu tangan milik Arya.
Asep selalu mengikuti Susi secara diam diam untuk mencari kesempatan. Sampai akhirnya Asep menemukan waktu dan situasi yang tepat, dan Asep pun melancarkan aksinya.
......................
"Sep, kamu baik-baik saja kan? Kalau kamu punya masalah, kamu bisa menceritakan semuanya sama Teteh. Asep tidak perlu sungkan, karena Teteh sudah menganggap Asep sebagai Adik kandung Teteh sendiri," ujar Suci dengan menepuk bahu Asep yang saat ini sedang menyetir di sebelahnya.
Degg
Jantung Asep rasanya berhenti berdetak mendengar perkataan Suci, Asep semakin merasa bersalah karena dia tidak memikirkan perasaan Suci sebelum dia memutuskan untuk menjebak Arya.
Kenapa aku bisa begitu bodoh? Seharusnya aku memikirkan perasaan Teh Suci, tapi aku malah menyakiti orang yang sudah berbuat baik kepadaku. Maafin Asep Teh, Asep pasti akan segera mengakui kesalahan yang telah Asep lakukan supaya Mas Arya bisa segera bebas dari Penjara, ucap Asep dalam hati.
Sepanjang perjalan, Suci terus mencemaskan Arya, Suci takut kalau Arya sampai sakit karena harus merasakan dinginnya lantai dibalik jeruji besi, apalagi Suci dulu pernah mengalami hidup di dalam penjara, dan itu pasti tidak akan mudah untuk Arya jalani.
"Teh, kita sudah sampai," ujar Asep, tapi Suci hanya diam saja, bahkan Suci terlihat menangis.
Teh Suci pasti sedih karena memikirkan Mas Arya. Pulang dari sini, aku harus segera mengakui semua kesalahanku, batin Asep.
__ADS_1
"Teh, Teteh baik-baik saja kan?" tanya Asep.
"Eh iya Sep, maaf tadi Teteh melamun."
"Apa Teteh memikirkan Mas Arya?" tanya Asep.
"Iya Sep. Teteh dulu pernah mengalami nasib seperti Mas Arya, Teteh pernah difitnah sampai akhirnya Teteh mendekam di balik jeruji besi selama satu tahun. Teteh tau dinginnya lantai Penjara, makanya Teteh takut Mas Arya tidak akan tahan menjalani semuanya," jawab Suci.
"Teteh sebaiknya sekarang masuk, biar Asep tunggu di mobil saja."
Suci melangkahkan kakinya masuk ke dalam Penjara, kemudian Suci meminta ijin untuk bertemu dengan Arya.
Suci yang melihat Arya datang memakai baju Tahanan, langsung berhambur memeluk tubuh Arya, kemudian Suci menumpahkan tangisannya dalam pelukan Arya.
"Sayang, Mama tidak boleh menangis, Papa baik-baik saja," ujar Arya dengan mengusap lembut kepala Suci.
"Pa, Mama tidak rela melihat Papa dihukum atas kesalahan yang tidak Papa lakukan. Mama juga tau bagaimana rasanya berada di dalam Penjara, dan Mama takut kalau Papa sampai kenapa-napa."
"Sayang, semuanya pasti akan baik-baik saja. Sebentar lagi hasil visum Susi akan ke luar, dan kita akan mengetahui siapa sebenarnya orang yang telah menodai Susi."
Arya rasanya ingin menangis karena Arya tidak dapat menjaga Istri dan Anak-anaknya lagi, tapi Arya berusaha menahan tangisannya supaya Suci tidak merasa khawatir.
"Bagaimana, makanannya enak kan?" tanya Suci.
"Iya sayang, masakan Mama memang selalu enak. Mama juga pasti belum makan kan? Sekarang Mama juga makan ya, jangan sampai Mama sakit," ujar Arya dengan menyuapi Suci.
Beberapa saat kemudian, Polisi datang untuk membawa Arya kembali masuk ke dalam sel, karena waktu kunjungan sudah habis.
"Maaf Nyonya, waktu kunjungan sudah habis, dan Tuan Arya harus kembali masuk ke dalam sel," ujar Pak Polisi.
Suci yang tidak rela berpisah dengan Arya, terus memeluk tubuh Arya dengan erat.
"Sayang, jangan seperti ini. Besok Mama bisa kembali datang ke sini," ujar Arya, tapi Suci menangis dengan mengeratkan pelukannya.
Dua orang Polisi berusaha menarik tubuh Arya dan Suci untuk memisahkan keduanya, sampai akhirnya terdengar suara seseorang yang menyuruh kedua Polisi tersebut melepaskan Arya dan Suci.
__ADS_1
"Lepaskan Arya dan Suci. Kalian tidak berhak memisahkan Anak-anakku," ujar Papa Fadil yang datang bersama Pengacara Keluarga Argadana setelah sebelumnya berhasil membebaskan Arya.
Tadinya Papa Fadil dan Pengacara akan langsung pulang setelah berhasil membebaskan Arya, tapi ketika Papa Fadil melihat Arya dan Suci yang sedang ditarik oleh kedua Polisi, Papa Fadil bergegas menghampiri mereka.
"Maaf Tuan, kami hanya menjalankan tugas," ujar salah satu Polisi.
Pengacara keluarga Argadana, memberikan surat kebebasan Arya juga hasil visum Susi, dan di sana terdapat keterangan jika pelakunya bukan Arya.
"Tuan Arya sudah dibebaskan, dan beliau terbukti tidak bersalah, karena hasil visum korban sudah ke luar," ujar Pengacara yang sebelumnya mendatangkan Dokter terbaik untuk membantu Dokter yang memeriksa Susi supaya hasil visum segera ke luar.
Kedua Polisi yang mencoba memisahkan Suci dan Arya pun meminta maaf, apalagi mereka mengetahui jika Papa Fadil merupakan seorang Pengusaha terkaya di Indonesia.
"Tuan, Nyonya, kami minta maaf karena telah bersikap tidak sopan, kami tidak tau kalau Tuan Arya sudah dibebaskan dan terbukti tidak bersalah."
"Tidak apa-apa Pak, kami tau kalau Bapak hanya menjalankan tugas," ucap Arya.
Arya dan Suci mengucapkan terimakasih kepada Pengacara keluarga Argadana, kemudian Arya memeluk tubuh Papa Fadil yang sudah sangat ia rindukan, sedangkan Suci hanya diam mematung, karena Suci merasa ragu untuk ikut memeluk Papa Fadil.
"Pa, terimakasih karena sudah membebaskan Arya," ucap Arya.
Papa Fadil merasa sedih ketika melihat Suci yang tidak mau memeluknya.
"Nak, Papa tau kalau Papa dan Mama sudah melakukan kesalahan yang besar terhadap Suci. Sampai kapan Suci akan menghukum kami Nak? Kasihan Mama, sekarang Mama jatuh sakit, dan Mama selalu memanggil nama Suci," ujar Papa Fadil.
Suci menangis mendengar Mama Erina yang sakit, karena bagaimanapun juga Mama Erina adalah perempuan yang sudah melahirkan Suci ke Dunia ini.
"Papa," ucap Suci dengan memeluk Papa Fadil.
Alhamdulillah, akhirnya Tuhan mengabulkan do'aku, ucap Papa Fadil dalam hati.
*
*
Bersambung
__ADS_1