Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 142 ( Rencana Suci dan Arya )


__ADS_3

Setelah pulang dari Rumah Sakit, Suci menelpon Bu Inah supaya menjalankan usaha grosir miliknya. Akan tetapi, Bu Inah merasa keberatan dengan permintaan Suci yang mengatakan jika semua keuntungan grosir untuk Bu Inah dan Keluarga.


📞"Nak, kenapa Suci begitu mempercayai kami?" tanya Bu Inah.


📞"Ibu dan keluarga sudah Suci anggap sebagai keluarga sendiri. Jadi, tidak alasan untuk Suci tidak percaya sama Ibu dan keluarga."


📞"Tapi Ibu minta maaf, karena Ibu tidak bisa terus terusan menerima semua kebaikan Suci dan keluarga. Bagaimana kalau keuntungannya kita bagi dua saja?"


Suci terlihat berpikir, sampai akhirnya Suci menerima usul Bu Inah.


📞"Baiklah kalau itu kemauan Ibu. Oh iya, bagaimana Susi dan Asep?" tanya Suci.


📞"Besok mereka akan berangkat ke Jawa Timur. Semoga saja rumah tangga mereka harmonis, dan Susi bisa menerima Asep sebagai Suaminya," ucap Bu Inah yang di Amini oleh Suci.


Suci menutup panggilan telpon setelah mengucapkan salam, dan Suci terkejut ketika ada sebuah tangan kekar yang memeluk tubuhnya dari belakang.


"Udah belum telponnya?" tanya Arya dengan menciumi tengkuk leher Suci.


"Sudah Pa. Sekarang Mama mau lihat Anak-anak dulu ya," ujar Suci dengan mencoba melepaskan pelukannya dari Arya.


"Mama tidak bisa kabur dari Papa, karena sekarang Anak-anak sudah tidur," ujar Arya kemudian mengajak Suci duduk di atas ranjang.


"Kalau begitu sekarang kita temui Mama Erina dan yang lainnya dulu, Mama tadi sudah meminta Oma sama Papa Fadil untuk berkumpul di kamar Mama Erina."


Arya dengan berat hati melepaskan pelukannya kepada Suci, tapi tidak Arya sangka jika Suci berinisiatif untuk menciumnya.


Cup


"Udah gak usah cemberut, sabar sebentar ya," bisik Suci, sehingga membuat Arya tersenyum.


......................


Semuanya kini telah berkumpul di kamar Mama Erina. Papa Fadil, Oma Rahma dan Mama Erina sudah terlihat cemas karena takut jika Suci dan keluarganya akan kembali ke Bekasi.


"Sayang, ada apa Suci mengumpulkan kami?" tanya Oma Rahma.


"Sebenarnya Suci dan Mas Arya sudah mengambil keputusan untuk kembali_"


Perkataan Suci langsung dipotong oleh Mama Erina.


"Nak, Mama tidak mau berpisah lagi dari kalian. Apa Suci tega meninggalkan kami?" ujar Mama Erina dengan menangis.

__ADS_1


Suci menghampiri Mama Erina, kemudian memeluk tubuh Mama Erina.


"Ma, kami sudah memutuskan untuk kembali tinggal bersama kalian. Suci tidak mungkin tega meninggalkan semuanya."


Oma Rahma, Papa Fadil dan Mama Erina tersenyum bahagia mendengar perkataan Suci, apalagi Papa Fadil sudah tidak sanggup mengurus perusahaan.


"Makasih ya sayang, Papa sudah takut kalau Arya tidak mau mengurus perusahaan lagi, padahal Papa sudah tidak sanggup menjalankan perusahaan. Papa ingin di rumah saja mengajak main Cucu cucu Papa," ujar Papa Fadil dengan memeluk tubuh Suci dan Arya.


"Siapa bilang Arya mau bekerja kembali di Argadana Grup?" ujar Arya.


"Nak, apa Arya tega melihat Papa yang sudah tua dan memiliki banyak Cucu masih harus terus bekerja?" tanya Papa Fadil dengan tertunduk lesu.


"Arya hanya bercanda Pa. Arya akan melakukan apa pun untuk kemajuan Argadana Grup, apalagi sekarang pemilik Argadana Grup sangat cantik, jadi Arya tidak mungkin menolak permintaannya," ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci.


"Kalian kalau mau pamer kemesraan sebaiknya ke kamar saja. Apa kalian tidak kasihan kepada Oma yang sudah tua dan tidak punya pasangan ini," ujar Oma Rahma.


"Apa Oma mau kalau Arya mencarikan berondong untuk Oma?" goda Arya.


"Dasar Anak nakal. Kamu masih saja suka menggoda Oma. Nak, jika kalian merasa keberatan tinggal satu rumah dengan kami, sebaiknya rumah ini dibagi dua saja. Kami takut kalian merasa tidak bebas," ujar Oma Rahma dengan terkekeh.


"Rumah ini kan besar, meski pun kita satu rumah juga jarang ketemu. Lagian kamar kami juga di atas, jadi Oma gak bakalan bisa mengintip. Ya sudah, kalau begitu Arya bawa Istri Arya ke kamar dulu ya, kami mau nambah Cucu dan Cicit untuk kalian," ujar Arya dengan mengangkat tubuh Suci ke luar dari kamar kedua orangtuanya, sehingga membuat Suci merasa malu.


"Arya, kamu jangan membuat Cucu Oma begadang," teriak Oma Rahma dengan tersenyum bahagia melihat keharmonisan rumah tangga Cucunya.


"Nanti Papa turunin kalau kita sudah sampai kamar," ujar Arya dengan menghujani wajah Suci dengan ciuman.


Semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir. Meski pun dalam setiap rumah tangga pasti akan selalu saja ada masalah, semoga kita berdua bisa melewati semuanya, ucap Suci dalam hati dengan menatap lekat wajah tampan Arya.


......................


Asep dan Susi berpamitan kepada Bu Inah dan Pak Maman untuk berangkat menuju Jawa Timur.


"Bi, Mang, kami pergi dulu ya," ujar Asep.


"Sep, kami titip Susi ya. Kami yakin kalau Asep akan menjaga Susi dengan baik," ujar Bu Inah.


"Insyaallah Asep akan menjaga dan melindungi Istri Asep, apalagi Susi sudah menjadi tanggung jawab Asep di Dunia dan Akhirat."


Susi sebenarnya tidak mau pindah ke Jawa timur, karena Susi masih memiliki ambisi untuk mengejar Arya, tapi Susi takut kalau Bu Inah mengadu kepada Suci.


"Susi, kamu harus belajar menjadi Istri yang baik untuk Asep," ujar Bu Inah, tapi Susi terus saja cemberut.

__ADS_1


Setelah Asep dan Susi berpamitan kepada Bu Inah dan keluarganya, keduanya mengucapkan salam sebelum berangkat menuju Terminal Bus yang berada di Kota Bekasi.


Pak Maman mengantar Asep dan Susi menggunakan mobil Bak milik Arya, dan Susi terlihat risih karena harus duduk berdempetan sama Asep.


"Sep, sebaiknya kamu duduk di belakang saja, tempatnya terlalu sempit kalau kita duduk berdua," ujar Susi.


Tiba-tiba Asep mengangkat tubuh Susi ke atas pangkuannya, dan Susi terkejut melihat tindakan Asep yang berani melakukan semua itu di depan Pak Maman.


"Udah Neng diem aja, biar Neng duduk di sini saja," ujar Asep dengan memeluk tubuh Susi yang saat ini berada di atas pangkuannya.


Susi ingin sekali memarahi Asep, tapi di samping mereka ada Pak Maman yang sedang menyetir mobil.


Pak Maman tersenyum melihat tingkah pasangan pengantin baru tersebut.


"Mamang jadi ingat saat dulu masih pengantin baru, dunia rasanya milik berdua," ujar Pak Maman dengan terkekeh.


"Turunin gak?" bisik Susi pada telinga Asep, tapi Asep pura-pura tidak mendengarnya.


"Yang sabar atuh Neng, malu sama Mamang kalau Neng pengen anu anu di sini mah," ujar Asep yang sengaja menggoda Susi sehingga membuat Susi semakin geram.


Dasar kurang ajar si Asep, lihat saja pembalasanku, beraninya dia membuat aku malu, ucap Susi dalam hati.


"Mamang bersyukur karena kalian ternyata begitu mesra, jadi Mamang tidak mencemaskan Susi yang sudah bisa menerima kamu Sep. Sekarang kita sudah sampai di Terminal, kalian jaga diri baik-baik ya, kalau sudah sampai jangan lupa kasih kabar," ujar Pak Maman dengan membantu Asep dan Susi membawa barang bawaannya menuju Bus yang akan membawa mereka menuju Jawa Timur.


Asep dan Susi melambaikan tangannya kepada Pak Maman ketika Bus yang mereka tumpangi mulai melaju, dan keduanya kini duduk bersebelahan di dalam Bus, karena hanya tersisa dua jok lagi di dalam Bus tersebut, jadi mau tidak mau Susi terpaksa duduk di samping Asep.


"Asep, kenapa tadi kamu bikin aku malu di depan Mang Maman?" tanya Susi dengan tatapan tajam.


"Kenapa harus malu? Aa ini kan Suami Neng."


"Namaku Susi bukan Neng."


"Gak apa-apa atuh, itu teh panggilan kesayangan Aa untuk Neng Susi," ujar Asep.


Susi yang malas berdebat dengan Asep memutuskan untuk diam, karena Asep selalu membuatnya merasa kesal.


Susi yang mulai merasakan kantuk, akhirnya tertidur dengan kepala bersandar di bahu Asep, dan Asep tersenyum bahagia melihat Susi yang saat ini berada di sampingnya.


Semua ini rasanya masih seperti mimpi untukku, karena akhirnya aku bisa menikah dengan perempuan yang aku cintai. Meski pun Neng Susi masih belum bisa menerimaku sebagai Suaminya, tapi aku akan berusaha untuk membuatnya jatuh cinta. Neng, meski pun Aa bukan orang kaya, tapi Aa akan berusaha membahagiakan Neng dan Anak-anak kita nantinya. Ngomong-ngomong tentang Anak, apa si Neng bakalan hamil ya kalau bikinnya cuma satu kali? Sepertinya Asep harus membuat si Neng klepek klepek sama Asep, ucap Asep dalam hati yang sedang memikirkan cara supaya Susi jatuh cinta kepadanya.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2