Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 153 ( Kamu berhak bahagia )


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya, Farel hanya diam dan terus saja melamun, karena sedikit pun Farel tidak menyangka jika Pernikahannya dengan Alina akan berakhir seperti ini.


Kasihan Daddy, pasti Daddy sedih memikirkan Mommy. Sebaiknya aku diam saja, aku tidak mau Daddy semakin sedih, batin Putri.


"Sayang, yuk turun. Sekarang Putri tinggal di rumah ini sama Daddy ya," ujar Farel dengan membukakan pintu mobil untuk Putri, kemudian Farel menggandeng Putri masuk ke dalam rumah.


Beberapa saat kemudian, Farel mengangkat telpon dari Arya yang menyuruhnya untuk datang ke kediaman Argadana, karena ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Aku tidak mungkin meninggalkan Putri sendirian. Sebaiknya aku membawa Putri ke kediaman Argadana, aku rasa Arya dan Suci tidak akan keberatan jika aku ke sana sambil membawa Putri," gumam Farel.


"Putri sekarang ikut Daddy kerja ya," ujar Farel.


"Dad, kalau Daddy mau kerja, Putri tunggu Daddy di rumah saja, Putri tidak mau mengganggu pekerjaan Daddy, dan Putri pasti akan menjaga diri dengan baik."


"Daddy kerjanya di rumah Tante Suci kok, jadi Putri nanti bisa main sama Anak-anaknya Om Arya dan Tante Suci," ujar Farel.


Putri terlihat bahagia ketika Farel mengajaknya ke rumah Suci, karena selama ini Putri mengagumi sosok Suci yang selalu tulus menyayangi semua orang.


Setengah jam kemudian, Putri dan Farel sampai di kediaman Argadana, dan Suci yang saat ini sedang menjaga Anak-anaknya bermain di taman, langsung menghampiri Putri dan Farel.


"Putri sayang ikut juga, mana Ratu?" tanya Suci.


"Suci, aku titip Putri sebentar ya, nanti aku ceritakan sama kamu dan Arya setelah pekerjaan kami selesai," ujar Farel.


"Kamu tenang saja, aku pasti akan menjaga Putri dengan baik. Mas Arya juga sudah ada di ruang kerja menunggu kedatangan kamu, kamu langsung masuk saja," ujar Suci kepada Farel.


Setelah Farel masuk, Suci mengajak Putri menghampiri ketiga Anaknya.


"Sayang, Putri main sama Rizky, Iqbal dan Arsyi ya," ujar Suci dengan duduk di samping Putri.


Ketiga Anak Suci menghampiri Suci dan Putri untuk mengajak Putri bermain, tapi Putri menolaknya, karena saat ini tubuh Putri masih terasa sakit setelah dipukuli oleh Alina.


"Kak Putri main sama kami yuk," ujar Arsyi dengan menarik tangan Putri, tapi Putri langsung meringis kesakitan.


"Awwww sakit."


"Kak Putri kenapa? Maaf ya kalau Arsyi menarik tangan Kakak terlalu kuat."


"Tidak, ini bukan karena Arsyi, tapi karena tangan Kakak masih sakit," ujar Putri.

__ADS_1


Suci terkejut ketika melihat beberapa luka lebam pada tubuh Putri.


"Sayang, siapa yang sudah memukul Putri sampai seperti ini?" tanya Suci, tapi Putri hanya diam saja dengan menundukkan kepalanya.


"Apa Kak Putri dipukul oleh Tante Alina?" tanya Arsyi, dan Putri hanya menganggukkan kepalanya secara perlahan sebagai jawaban.


Alina benar-benar keterlaluan, tega sekali dia memukul Anak kandungnya sendiri, ucap Suci dalam hati.


Suci meminta tolong kepada Rizky untuk mengambil kotak P3K dari dalam rumah, kemudian Suci mengoleskan obat pada luka lebam Putri.


"Sayang, apa masih sakit?" tanya Suci.


"Tidak Tante, sekarang sudah lebih baik. Makasih banyak ya Tante," ucap Putri dengan memaksakan diri untuk tersenyum, meski pun saat ini sebenarnya hati Putri lebih sakit dibandingkan dengan lukanya, karena yang telah memberikan luka tersebut adalah sosok Ibu kandungnya sendiri.


Kenapa oranglain bisa menyayangiku, sedangkan Ibu kandungku sendiri tidak bisa menyayangiku? Batin Putri kini bertanya-tanya.


"Nak, jika Putri ingin menangis, Putri tidak perlu menahannya, karena dengan menangis, hati kita bisa menjadi lebih tenang," ujar Suci dengan memeluk tubuh Putri.


Putri akhirnya menangis dalam pelukan Suci, dan ketiga Anak Suci begitu prihatin dengan nasib malang yang menimpa hidup Putri.


"Kalian lihat sendiri, kita harus bersyukur karena memiliki Mama yang sangat baik," bisik Rizky kepada Iqbal dan Arsyila.


......................


"Suci, maaf ya, aku jadi ngerepotin kamu karena harus menjaga Putri," ucap Farel.


"Aku justru merasa bahagia bisa menjaga Putri, karena sosok Putri selalu mengingatkan aku kepada mendiang Bu Rita. Farel, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Alina sampai tega memukuli Anak kandungnya sendiri?"


Farel mengembuskan nafas secara kasar sebelum menjawab pertanyaan Suci.


"Semalam aku dan Alina bertengkar, bahkan Alina sampai mengusirku dari rumah. Saat tadi pagi aku kembali ke rumah untuk menjemput Putri dan Ratu, ternyata Alina melampiaskan amarahnya kepada Putri dengan memukulinya."


"Astagfirullah, Alina tega sekali melakukan semua itu, padahal Putri adalah darah dagingnya sendiri," ujar Suci.


"Aku juga tidak habis pikir dengan jalan pikiran Alina. Sekarang aku sudah menyerah dengan rumah tangga kami, dan aku sudah memutuskan untuk menceraikannya."


Farel menceritakan kronologi kejadian yang dia alami kepada Suci dan Arya, Farel juga menceritakan tentang Ratu yang lebih memilih untuk tinggal bersama Alina.


"Farel, kamu yang sabar ya, semoga suatu saat nanti kamu bisa mendapatkan Istri yang baik serta mencintai kamu juga menyayangi Anak-anakmu," ujar Arya.

__ADS_1


"Iya Amin. Makasih banyak karena kalian sudah mau mendengarkan keluh kesahku."


"Kamu adalah bagian dari keluarga kami juga, kalau kamu membutuhkan bantuan, kamu jangan sungkan," ujar Arya dengan menepuk bahu Farel.


"Sebenarnya sekarang aku sedang bingung, aku tidak mungkin meninggalkan Putri saat bekerja."


"Sekarang Putri masih liburan sekolah kan? Jadi Putri bisa tinggal di rumah ini sampai kamu mendapatkan Asisten rumah tangga," ujar Suci.


"Aku tidak percaya jika meninggalkan Putri dengan Asisten rumah tangga," ujar Farel yang takut jika Putri sampai kenapa-napa.


Suci dan Arya sangat memahami posisi Farel, sampai akhirnya Suci merekomendasikan tetangganya di kampung yang saat ini bekerja dengan Bu Inah menjaga Grosir miliknya.


"Pa, bagaimana kalau kita suruh Ayu saja kerja di rumah Farel, dia kan Anaknya baik, Mama yakin kalau Ayu akan menjaga Putri dengan baik," ujar Suci.


"Bukannya bulan kemarin Ayu baru saja menikah?" tanya Arya.


"Iya, tapi Suaminya meninggal setelah melakukan ijab kabul. Bu Inah bilang Ayu selalu saja melamun saat bekerja, siapa tau kalau Ayu menjadi Pengasuh Putri, dia tidak akan kesepian lagi," ujar Suci.


Arya menanyakan pendapat Farel bersedia atau tidak untuk mempekerjakan Ayu.


"Farel, apa kamu bersedia untuk menerima Ayu?" tanya Arya.


"Aku masih belum cerai sama Alina, jadi aku tidak mungkin menerima perempuan lain menjadi Istriku," ujar Farel.


"Apa kepala kamu terbentur tembok sehingga kamu tidak mengerti maksud ku?" tanya Arya yang terlihat kesal.


"Slow Bos, aku cuma bercanda. Kalau Orangnya direkomendasikan sama Bu Bos, aku percaya dan bersedia untuk mempekerjakan Janda ting ting," ujar Farel dengan nyengir kuda.


"Awas ya Farel kalau nanti kamu sampai macam-macam sama Ayu," ancam Suci.


"Iya Bu Bos tenang saja, aku tidak mungkin melakukan sesuatu di luar batas, apalagi statusku masih memiliki Istri, tapi kalau colek dikit, gak apa-apa kan?" ujar Farel dengan terkekeh.


"Sayang, sebaiknya kita cari Janda Nenek-nenek saja buat jadi Asisten rumah tangga Farel, Papa takut kalau penyakit lama Farel kumat lagi," ujar Arya.


"Ya, loe tega banget sih, masa mau ngasih Nenek-nenek? Kalau mau ngasih Nenek-nenek gak perlu jauh jauh, kan masih ada Oma," ujar Farel dengan cekikikan.


Farel, aku tau kalau kamu tertawa hanya untuk menutupi kesedihan yang saat ini kamu rasakan. Semoga suatu saat nanti kamu bisa mendapatkan kebahagiaan, karena kamu berhak bahagia, ucap Arya dalam hati.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2