
Suci dan Arya terkejut ketika mendengar pertanyaan Pak Tamrin, apalagi nama Pak Tamrin sama dengan nama Ayah kandung Iqbal.
"Kenapa Bapak bisa mengenal Mas Rian?" Suci balik bertanya kepada Pak Tamrin.
Pak Tamrin terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Suci, karena kalau Pak Tamrin jujur tentang Anak Bungsunya yang telah ia berikan kepada Rian, beliau takut jika Anak-anaknya akan menyalahkan Pak Tamrin. Akan tetapi, bagaimanapun juga Pak Tamrin ingin mengetahui keberadaan Anak Bungsunya, sebab selama ini Pak Tamrin selalu dihantui oleh rasa bersalah.
"Se_sebenarnya sekitar dua puluh tiga tahun yang lalu, saya tidak sengaja bertemu dengan Nak Rian di Rumah Sakit ketika Istri saya meninggal dan melahirkan Putra Bungsu saya. Pada saat itu saya tidak memiliki uang untuk membayar biaya Rumah Sakit, jadi Anak Bungsu saya tidak diperbolehkan pulang," ujar Pak Tamrin, kemudian menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
"Nak Rian berbaik hati menolong saya dengan membayar semua biaya Rumah Sakit, bahkan Nak Rian memberikan saya uang yang cukup banyak untuk biaya hidup keempat Anak saya yang lainnya, karena saat itu Nak Rian menginginkan Anak Bungsu saya untuk ia adopsi."
Degg
Jantung Suci dan Arya rasanya berhenti berdetak. Mereka sudah bisa menebak jika Pak Tamrin adalah Ayah kandung Iqbal. Akan tetapi, keduanya masih belum mengatakan sepatah kata pun, karena mereka ingin mendengar kelanjutan cerita Pak Tamrin supaya tidak terjadi kesalahpahaman.
"Jadi Adik Cindi bukan hilang karena diculik? Tapi Adik Cindi telah Bapak jual?" tanya Cindi yang terlihat emosi.
"Kamu tenang dulu Cindi, kita dengarkan dulu alasan Bapak melakukan semua itu," ujar Rojak yang memiliki pemikiran lebih dewasa.
"Nak, sedikit pun Bapak tidak ada niat untuk menjual Adik kalian, karena saat itu Nak Rian bilang kalau Istrinya sakit setelah kehilangan Anak mereka, makanya Bapak tidak tega kepada Nak Rian dan Istrinya. Apalagi saat itu Bapak tidak berdaya, Bapak tidak mungkin merawat Adik kalian setelah Ibu kalian meninggal dunia, belum lagi Bapak masih memiliki empat Anak yang kecil-kecil. Mungkin dengan Bapak memberikan Anak Bungsu Bapak kepada Nak Rian, hidup dia akan lebih baik karena dibesarkan oleh Orang kaya."
Semuanya tertegun mendengar cerita Pak Tamrin, meski pun Pak Tamrin bersalah, tapi mereka tidak bisa menyalahkan Pak Tamrin karena alasan kondisi ekonomi.
Iqbal yang mendengar cerita Pak Tamrin masih merasa bingung, karena Iqbal belum mengerti hubungan antara Rian dan Suci, meski pun sebelumnya Arya pernah mengatakan tentang Ayah angkat Iqbal yang bernama Rian juga.
"Kenapa Bapak menanyakan tentang lelaki bernama Rian kepada Mama saya? Memangnya apa hubungan Mama dengan lelaki bernama Rian tersebut?" tanya Iqbal.
"Karena Nak Suci memiliki wajah yang mirip dengan Istri Nak Rian, bahkan namanya juga sama," jawab Pak Tamrin.
Arya menanyakan kepada Iqbal tentang fhoto yang ia simpan di dalam laci meja kerja nya.
__ADS_1
"Nak, Iqbal sebelumnya pernah mengambil fhoto dari dalam laci meja kerja Papa kan?"
"Iya Pa, Iqbal selalu membawa fhoto tersebut di dalam tas Iqbal," ujar Iqbal kemudian mengambil tas miliknya yang berada di atas nakas.
Setelah Iqbal memberikan fhoto nya kepada Arya, Arya memperlihatkan fhoto tersebut kepada Pak Tamrin untuk meyakinkan jika Rian yang Pak Tamrin maksud adalah mendiang Rian mantan pacar Suci.
"Pak apa Rian ini yang Bapak maksud?" tanya Arya.
Pak Tamrin melihat fhoto tersebut dengan seksama, dan Pak Tamrin terkejut, karena di dalam fhoto tersebut ada dirinya dan Anak bungsunya.
"I_iya benar, ini fhoto Nak Rian. Jadi benar kalau Nak Suci adalah istri Nak Rian?" tanya Pak Tamrin.
"Suci tidak pernah menikah dengan Rian, dan Rian adalah mantan pacar Istri saya. Dua puluh tiga tahun yang lalu, Istri saya mengalami amnesia karena kecelakaan, dan Rian yang masih berambisi untuk memiliki Istri saya, mengambil kesempatan tersebut dengan mengakui Suci sebagai Istrinya, bahkan Rian menyembunyikan Istri saya dan membawanya pindah ke Kalimantan," jawab Arya.
"Maaf kalau saya sudah salah paham. Apa Nak Arya tau keberadaan Nak Rian sekarang? Sampai saat ini saya selalu dihantui rasa bersalah terhadap Anak Bungsu saya, dan saya ingin bertemu dengan Anak Bungsu saya untuk meminta maaf."
Arya dan Suci saling berpandangan, dan Suci menganggukkan kepalanya kepada Arya sebagai isyarat.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Lalu bagaimana dengan nasib Anak Bungsu saya?" tanya Pak Tamrin yang terlihat cemas.
"Anak Bungsu Bapak, saat ini berada di hadapan Bapak, karena setelah Rian meninggal dunia, kami yang membesarkan Iqbal," ujar Arya.
Deg deg deg
Jantung Pak Tamrin berdetak kencang ketika mendengar perkataan Arya. Pak Tamrin tidak mengira jika Iqbal adalah Anak kandungnya.
"Ja_jadi Iqbal adalah Anak kandung saya?" tanya Pak Tamrin dengan mulut bergetar.
"Iya Pak, Iqbal adalah Anak kandung Pak Tamrin," ujar Suci.
__ADS_1
Pak Tamrin menangis, kemudian menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemas di atas lantai.
"Nak, maafin Bapak Nak," ucap Pak Tamrin yang merasa sangat berdosa kepada Iqbal.
Suci dan Arya membantu Iqbal menghampiri Pak Tamrin, kemudian Iqbal memeluk tubuh Pak Tamrin.
"Bapak tidak perlu meminta maaf, karena Bapak melakukan semua itu untuk Iqbal. Seandainya waktu itu Bapak tidak memberikan Iqbal kepada mendiang Ayah Rian, mungkin Iqbal tidak akan pernah bertemu dengan Mama dan Papa yang sudah membesarkan Iqbal dengan penuh cinta dan kasih sayang. Selama ini Iqbal tidak pernah hidup kekurangan, apalagi Mama dan Papa tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya kepada Iqbal, meski pun Iqbal hanyalah Anak angkat," ujar Iqbal dengan menangis.
Semua yang berada di sana ikut menangis ketika melihat pertemuan Ayah dan Anak tersebut, dan Pak Tamrin tiada hentinya mengucapkan terimakasih kepada Suci dan Arya karena telah membesarkan Iqbal dengan baik.
"Alhamdulillah Nak, Bapak bangga karena Iqbal tumbuh menjadi Anak yang saleh. Nak Suci, Nak Arya, Bapak hanya bisa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kebaikan Nak Suci dan Nak Arya yang telah bersedia membesarkan Iqbal. Bapak tidak tau harus melakukan apa untuk membalas kebaikan kalian."
"Pak, Iqbal sudah kami anggap sebagai Anak kandung kami sendiri. Kami juga bersalah karena sebelumnya sudah merahasiakan semuanya dari Iqbal. Semua itu kami lakukan karena kami tidak sanggup jika harus berpisah dengan Iqbal, bahkan kami memberitahu semua orang jika Iqbal adalah Saudara kembar Rizky, karena Iqbal dan Rizky lahir pada hari, bulan dan tahun yang sama," ujar Suci.
Sejak pertama kali bertemu dengan Iqbal, sebenarnya Cindi sudah naksir Iqbal, dan Cindi begitu terkejut karena ternyata selama ini dia sudah naksir Adik kandungnya sendiri.
"Untung saja cinta aku sama kamu belum terlalu dalam Tong, karena ternyata kamu adalah Adik nya Mpok. Bang Rojali sama Mpok Rohaye pasti senang mendengar berita ini," ujar Cindi dengan merangkul bahu Iqbal.
Rojak merasa malu terhadap Iqbal, apalagi selama ini Rojak selalu menjadi beban keluarganya, padahal Rojak adalah Anak Sulung yang seharusnya menjadi panutan untuk Adik-adiknya.
"Iqbal, maafin Abang ya, selama ini Abang selalu nyusahin semuanya. Abang juga sudah banyak hutang sama Iqbal, padahal seharusnya Abang menjadi contoh yang baik untuk Adik-adik Abang," ujar Rojak dengan memeluk Iqbal.
"Yang penting sekarang Bang Rojak sudah memiliki niat untuk berubah, dan Iqbal bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan keluarga kandung Iqbal," ucap Iqbal dengan tersenyum bahagia.
Beberapa saat kemudian, Dokter Bagas masuk ke dalam kamar perawatan Iqbal untuk memberitahukan hasil kecocokan tes Donor sum sum, dan ternyata Pak Tamrin lah yang cocok untuk menjadi pendonor, karena sebelumnya Pak Tamrin juga melakukan tes supaya bisa menjadi pendonor untuk Iqbal.
"Hasil tes kecocokan donor sum sum telah keluar, dan ternyata Pak Tamrin yang memiliki kecocokan untuk menjadi pendonor," ujar Dokter Bagas.
*
__ADS_1
*
Bersambung