Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 48 ( Selamat jalan kekasih )


__ADS_3

Isak tangis masih terdengar di kediaman Argadana, dan jenazah yang mereka kira sebagai jenazah Suci, akan mereka antarkan menuju tempat peristirahatan terakhirnya.


Arya secara perlahan mulai siuman ketika mendengar suara Ambulance yang akan membawa jenazah menuju pemakaman, dan Arya kembali berlari ke luar dari dalam kamarnya untuk mengejar Ambulance yang mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah keluarga Argadana.


"Suci, jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu," teriak Arya dengan terus berlari mengejar mobil ambulance tersebut, sampai akhirnya Arya terjatuh di atas aspal.


"Ya, jangan seperti ini, kasihan Suci kalau dia melihat kamu seperti ini terus," ujar Farel dengan membantu Arya untuk berdiri.


"Rel, antarkan aku ke pemakaman, aku harus mencegah mereka mengubur Suci. Aku yakin Suci ku masih hidup, jadi mereka tidak boleh menguburnya," teriak Arya dengan terus menangis.


"Istighfar Nak, Arya harus ikhlas, kasihan Rizky karena sekarang sudah kehilangan Ibu nya, dan saat ini Rizky membutuhkan Arya," ujar Oma Rahma dengan membawa Rizky menghampiri Arya.


Arya mengambil Rizky yang tengah menangis dari gendongan Oma Rahma, kemudian Arya memeluk tubuh Rizky.


"Nak, maafin Papa, karena Papa sudah melupakan Rizky. Papa janji akan selalu menyayangi Rizky, karena hanya Rizky satu-satunya peninggalan Mama, dan Papa akan menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Rizky," ucap Arya dengan menciumi wajah Rizky yang akhirnya kembali tertidur dalam pelukan Arya.


Arya memutuskan untuk datang di acara pemakaman Suci, karena ini akan menjadi yang terakhir kalinya Arya bisa melihat Suci.


"Oma, Arya titip Rizky ya, Arya harus mengantarkan jenazah Suci menuju peristirahatan terakhirnya," ucap Arya dengan memberikan Rizky kepada Oma Rahma.


"Ya, apa kamu yakin akan menghadiri acara pemakaman Suci?" tanya Farel yang takut jika Arya tidak kuat saat melihat Suci dimakamkan.


"Aku yakin Rel, karena aku ingin melihat istriku untuk yang terakhir kalinya," jawab Arya yang berusaha untuk tegar.


"Baiklah, kalau begitu biar aku antar," ujar Farel dengan membantu Arya berjalan menuju mobil, karena saat ini tubuh Arya merasa sangat lemas.


Setelah Arya dan Farel sampai di pemakaman, Arya langsung menjatuhkan tubuhnya ketika melihat jenazah Suci dimasukan ke dalam liang lahat.

__ADS_1


"Suci, maafkan aku karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik, aku bukan Suami yang baik, karena aku hanya bisa menorehkan luka dalam hatimu," gumam Arya dengan airmata yang terus menetes pada pipinya.


Bu Rita yang melihat Arya, berniat untuk menghampirinya, karena Bu Rita ingin sekali melampiaskan amarahnya terhadap Arya.


"Bu, tolong jangan membuat keributan. Kasihan Suci jika kita sampai membuat keributan di acara pemakamannya," ujar Hesti dengan memeluk tubuh Bu Rita supaya merasa lebih tenang.


Saat tanah mulai menutupi liang lahat, Arya rasanya ingin sekali ikut dengan Suci, tapi Arya teringat dengan Rizky yang sangat membutuhkannya.


Selamat jalan kekasih, kamu adalah cinta pertama dan terakhir dalam hidupku, dan aku akan mencintaimu untuk selama-lamanya, batin Arya dengan terus menitikkan airmata kepedihan karena telah kehilangan perempuan yang sangat dicintainya.


Arya merasakan sesak dalam dadanya ketika liang lahat telah seluruhnya tertutupi oleh tanah, karena Arya sudah tidak bisa melihat Suci lagi dalam seumur hidupnya.


Setelah acara pemakaman selesai, semua yang menghadiri acara pemakaman membacakan Surat Yasin terlebih dahulu sebelum pulang, karena bagi semua teman yang pernah satu sel dengan Suci, Suci merupakan sosok yang sangat baik dan banyak berjasa untuk mereka. Bahkan hampir semua yang mengenal Suci datang pada acara pemakaman tersebut, termasuk para Polisi yang dulu menjaga Suci saat berada di dalam Penjara.


Setelah selesai membaca Surat Yasin, satu persatu pelayat yang mengantar Suci menuju tempat peristirahatan terakhirnya, mulai meninggalkan pemakaman, termasuk Hesti yang mengajak Bu Rita untuk pulang.


"Bu, sebaiknya sekarang kita pulang juga," ajak Hesti kepada Bu Rita.


"Bu, sekarang situasinya sedang tidak memungkinkan. Ibu lihat sendiri bagaimana kondisi Tuan Arya saat ini. Tuan Arya begitu terpukul dengan kematian Suci, apalagi Tuan Arya sudah berstatus sebagai Suami Suci."


"Tapi mungkin saja dia hanya berpura-pura sedih kan?" ujar Bu Rita yang masih belum bisa memaafkan kesalahan yang telah Arya lakukan terhadap Suci.


"Bu, jangan sampai mata hati Ibu tertutup oleh kebencian, karena aku merasa jika Tuan Arya benar-benar tulus mencintai Suci. Sebaiknya sekarang kita pulang, dan nanti Ibu bisa mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Tuan Arya. Bukannya Ibu ingin menanyakan tentang kotak surat milik Suci supaya Ibu bisa melihat alamat orangtua kandung Suci?" ujar Hesti.


"Iya, orangtua kandung Suci harus tau kalau Anaknya sudah meninggal dunia, dan Ibu akan membuat mereka menyesal dalam seumur hidup karena telah membuang Anak yang begitu baik seperti Suci."


Dengan berat hati, akhirnya Bu Rita menyetujui usul Hesti untuk ikut pulang, tapi sesaat kemudian Bu Rita teringat dengan Rian yang belum diberitahu tentang kabar meninggalnya Suci.

__ADS_1


"Hesti, sepertinya Rian belum mengetahui kabar meninggalnya Suci, tadi juga kita tidak melihatnya saat di pemakaman," ujar Bu Rita.


"Iya Bu, Hesti juga lupa memberitahu Rian. Kasihan Rian, dia pasti sedih mendengar kabar kematian Suci yang secara tiba-tiba, apalagi Rian sangat mencintai Suci."


"Iya, Rian pasti sangat terpukul. Padahal Ibu sudah berencana ingin kembali menyatukan Rian dan Suci, sayangnya Suci keburu menikah dengan Arya. Apalagi sekarang Suci sudah meninggalkan kita untuk selamanya."


"Bu, semuanya sudah menjadi takdir, sebaiknya sekarang kita terus mendo'akan mendiang Suci semoga bisa beristirahat dengan tenang, dan nanti kita beritahu Rian setelah sampai kontrakan," ujar Hesti dengan terus menggandeng Bu Rita.


......................


Arya masih enggan beranjak dari pemakaman, padahal semua orang sudah pulang, kecuali Papa Fadil dan Farel yang menemani Arya, tapi saat ini Arya terus memeluk batu nisan Suci.


"Nak, sebaiknya sekarang kita pulang," ujar Papa Fadil.


"Pa, Arya ingin terus menemani Suci."


"Ya, kamu jangan seperti ini terus. Suci pasti sedih jika kamu belum mengikhlaskan kepergiannya," ujar Farel.


"Nak, Arya harus ingat, jika saat ini Arya memiliki Rizky yang membutuhkan kasih sayang dari Ayahnya. Suci juga pasti sudah beristirahat dengan tenang, karena selama hidupnya, Suci adalah orang baik. Arya tadi lihat sendiri kan jika banyak yang mendo'akan mendiang Suci," ujar Papa Fadil mecoba untuk terus membujuk Arya.


Arya saat ini terlihat melamun, karena Arya tengah membayangkan momen kebersamaannya dengan Suci sebelum meninggal.


"Kenapa kebahagiaan yang aku dan Suci rasakan hanya sebentar? padahal aku belum bisa menebus semua kesalahan yang telah aku lakukan terhadap Suci. Kenapa kamu pergi dengan cepat sayang?" gumam Arya.


"Nak, hidup dan mati seseorang itu sudah ditentukan oleh Tuhan, dan kita harus ikhlas dengan takdir yang Tuhan berikan. Mungkin untuk saat ini Arya dan Suci belum ditakdirkan hidup bersama, tapi semoga saja di akhirat nanti kalian bisa kembali bertemu dan hidup bersama selamanya," ujar Papa Fadil dengan menepuk bahu Arya.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2