
Farel mendekap erat tubuh Alina yang saat ini berada dalam pelukannya, dan keduanya tidak memperdulikan semua yang hadir pada meeting tersebut, sampai akhirnya Irwan memutuskan untuk membubarkan meeting supaya Alina dan Farel bisa berbicara berdua.
"Karin, sebaiknya sekarang kita ke luar," ajak Irwan kepada Karin yang saat ini masih diam mematung.
Karin merasa syok ketika mendengar berita pernikahan Alina dan Farel, dan Karin belum bisa menerima semua itu.
Tidak mungkin, tidak mungkin lelaki yang aku cintai sudah dimiliki oleh perempuan lain. Aku tidak rela jika Tuan Farel menikah dengan perempuan lain selain aku, batin Karin.
"Karin, kamu baik-baik saja kan?" tanya Irwan yang melihat Karin menitikkan airmata.
Karin yang harus menelan kekecewaan pergi begitu saja ke luar dari ruang meeting tanpa menjawab pertanyaan Irwan.
Sepertinya Karin patah hati mendengar kabar Farel dan Alina yang sudah menikah, ucap Irwan dalam hati, kemudian menyusul Karin ke luar dari ruang meeting.
Secara perlahan Alina melepaskan pelukannya dari Farel, karena Alina ingin mengatakan jika saat ini dirinya tengah hamil.
Alina beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum akhirnya angkat suara.
"Farel, aku hamil," ucap Alina dengan kepala tertunduk, karena Alina takut dengan reaksi yang Farel berikan.
Farel mengangkat dagu Alina, kemudian Farel tersenyum bahagia mendengar berita kehamilan Alina.
"Terimakasih karena telah memberikan kebahagiaan untukku," ucap Farel.
"Jadi kamu tidak marah?"
"Kenapa aku harus marah? justru aku merasa sangat bahagia karena Putri akan memiliki adik, apalagi kamu sudah mau mengakui jika aku adalah Suami kamu, bahkan di hadapan orang lain. Eh ngomong-ngomong kemana semua orang yang berada di ruangan ini?" ujar Farel yang baru menyadari kalau di ruang meeting hanya ada dirinya dan Alina.
"Maaf, karena aku sudah mengganggu meeting," ucap Alina.
"Sayang, kamu dan keluarga kita lebih berharga dari apa pun juga di dunia ini, jadi kamu tidak perlu meminta maaf."
"Tapi selama ini aku sudah melakukan banyak kesalahan terhadap kamu, aku tidak pernah menghargai kamu sebagai Suamiku, maaf jika aku baru menyadari sekarang jika sebenarnya aku mencintai kamu," ucap Alina dengan tertunduk malu.
Cup
Farel mendaratkan ciuman pada kening Alina, dan Farel begitu bersyukur karena akhirnya Alina menyadari perasaannya terhadap Farel.
__ADS_1
"Alina, mulai sekarang kamu berhenti bekerja ya, aku tidak mau kalau kamu merasa kecapean, apalagi kata orang kalau perempuan hamil muda itu akan mudah lelah."
"Apa kamu sengaja menyuruhku untuk berhenti bekerja supaya kamu bisa lebih leluasa untuk terus berdekatan dengan Karin?" sindir Alina dengan cemberut.
Farel tersenyum ketika melihat Alina cemburu.
"Kenapa kamu malah tersenyum?" tanya Alina yang merasa heran.
"Aku bahagia melihat kamu cemburu, karena artinya kamu cinta sama aku. Aku tidak mungkin mengkhianati cinta kita, apalagi kita akan segera memiliki dua Anak."
"Aku mungkin bisa percaya sama kamu, tapi aku tidak bisa percaya dengan Karin, apalagi tadi Arya bilang kalau sudah lama Karin naksir sama kamu."
"Jadi tadi kamu ketemu sama Arya?" tanya Farel yang merasa heran.
"Kamu jangan salah faham, aku hanya melihatnya terjatuh di pinggir jalan, dan kita seharusnya berterimakasih kepada Arya, karena berkat Arya, akhirnya aku menyadari tentang perasaanku terhadap kamu."
"Aku tidak menyangka jika seorang Arya bisa membuat kamu berubah pikiran. Aku salut karena Arya sudah berubah menjadi lebih baik setelah bertemu dengan Suci. Oh iya, memangnya apa yang Arya katakan? Aku jadi penasaran."
"Sudahlah Farel, jangan terus membuatku merasa malu, yang penting mulai sekarang kita akan membuka lembaran baru, tapi aku tidak mau kalau Karin terus menjadi Sekretaris kamu."
"Kamu tidak perlu khawatir, karena aku akan mengembalikan Karin menjadi Sekretaris Irwan, tapi kamu harus tetap berhenti bekerja, karena aku tidak mau kamu dan bayi kita sampai kenapa-napa, lagi pula peraturan Perusahaan tidak memperbolehkan Suami Istri bekerja satu kantor apalagi satu ruangan."
......................
Mama Linda merasa bahagia karena Suci memperlakukannya dengan baik seperti orangtua kandungnya sendiri, bahkan Suci tidak segan-segan membantu Bi Sari merawat Mama Linda sehingga membuat Mama Linda merasa malu dan semakin merasa bersalah atas perbuatannya di masalalu.
Suci memang memiliki hati yang mulia, dia masih saja bersikap baik terhadapku setelah apa yang aku lalukan di masalalu. Aku begitu bodoh karena dulu selalu menilai semuanya dari harta, bahkan aku sudah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang aku mau. Ternyata harta tidak menjamin sebuah kebahagiaan, karena cinta dan kasih sayang tidak bisa dibeli dengan uang, ucap Mama Linda dalam hati.
"Nak, apa Suci sudah makan?" tanya Mama Linda saat Suci menyuapinya.
"Nanti Suci makan kalau sudah selesai menyuapi Mama," jawab Suci dengan tersenyum.
"Mama beruntung karena diberikan kesempatan memiliki Putri sebaik Suci."
"Justru Suci yang beruntung karena bisa diberikan kesempatan merawat Mama dan kembali merasakan kasih sayang seorang Ibu."
Tiba-tiba kepala Suci terasa sakit, karena sekilas Suci mengingat kejadian saat dirinya membaca surat yang ditulis oleh Bu Asih.
__ADS_1
"Bu Asih bukan Ibu kandung Suci," gumam Suci dengan terus memegangi kepalanya yang terasa sakit, karena Suci terlalu memaksakan diri untuk mengingat semuanya.
"Nak, Suci kenapa?" tanya Mama Linda yang takut jika Suci kenapa-napa, sampai akhirnya Mama Linda berteriak memanggil Rian yang saat ini sedang mengajak main Rizky.
Rian terkejut ketika melihat Suci kesakitan, sampai akhirnya Rian berusaha menenangkan Suci dengan memeluk tubuhnya.
"Sayang, Bunda lihat Ayah, Bunda jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat semuanya," ucap Rian dengan menangkup kedua pipi Suci.
Suci menangis dalam pelukan Rian, karena Suci merasa ketakutan dengan ingatan yang mulai bermunculan.
"Yah, Bunda takut."
"Semuanya akan baik-baik saja, jadi tidak ada yang perlu Bunda takutkan. Apa pun yang terjadi, Ayah akan selalu berada di samping Bunda," ujar Rian yang sebenarnya merasa lebih takut dibandingkan Suci, karena Rian takut jika ingatan Suci kembali.
......................
Arya yang sudah lama tidak menjenguk Mama Erina di Rumah Sakit Jiwa karena selalu sibuk mencari keberadaan Suci, memutuskan untuk menjenguknya.
"Ma, bagaimana kabar Mama?" tanya Arya dengan memeluk tubuh Mama Erina yang saat ini tengah duduk di Taman dengan menggendong boneka yang selalu di anggapnya sebagai Suci.
"Siapa kamu?" tanya Mama Erina yang tidak mengenali Arya.
"Ini Arya Ma, Anak Mama."
"Anak kandungku perempuan bukan laki-laki. Kamu lihat sendiri kalau sekarang Anakku sedang aku gendong. Sekarang kamu pergi dari sini, karena kamu sudah membuat Suci ku menangis," ujar Mama Erina dengan mendorong kuat tubuh Arya sehingga terjungkal di atas rumput.
Arya merasa heran karena Mama Erina selalu menganggap Suci sebagai Anak kandungnya.
"Mama ingin bertemu dengan Suci kan? Suci masih hidup Ma, Arya pasti akan membawa Suci untuk bertemu dengan Mama," ucap Arya.
"Benarkah? Kamu tidak berbohong kan?" tanya Mama Erina dengan mata yang berbinar.
"Benar Ma, sekarang Mama do'akan Arya supaya bisa menemukan keberadaan Suci," ujar Arya dengan memeluk tubuh Mama Erina yang sudah terlihat lebih tenang.
*
*
__ADS_1
Bersambung