Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 111 ( Putri keluarga Argadana )


__ADS_3

Mama Erina menghampiri Arya yang saat ini terlihat heran ketika melihat Papa Fadil dan Oma Rahma yang sudah bersikap berlebihan terhadap Suci.


"Nak, Oma sama Papa pasti tidak menyangka bahwa Suci masih hidup, jadi mereka begitu antusias menyambut kembalinya Menantu Keluarga Argadana. Arya jangan merasa cemburu ya dengan sikap yang mereka tunjukan kepada Suci," ujar Mama Erina yang tidak mau jika Arya sampai merasa curiga.


"Iya Ma, Arya mengerti, mana mungkin Arya merasa cemburu. Justru Arya sangat bersyukur karena sekarang semuanya sudah bisa menerima kehadiran Istri Arya."


Mama Erina memutuskan untuk mengajak semuanya masuk ke dalam rumah, supaya Papa Fadil dan Oma Rahma tidak terus menempel kepada Suci, dan mereka baru menyadari kalau Papa Fadil sekarang sudah bisa berjalan lagi.


"Pa, sejak kapan Papa bisa berjalan lagi? Bukannya tadi saat kami datang Papa masih duduk di kursi roda?" tanya Arya.


Papa Fadil yang mendengar perkataan Arya, melihat ke arah kakinya yang saat ini tengah berdiri di samping Suci, dan Papa Fadil langsung mengucap syukur karena akhirnya beliau bisa kembali berjalan.


"Alhamdulillah Ya Allah, Papa juga baru sadar kalau sekarang Papa sudah bisa berjalan lagi. Kedatangan Putri keluarga Argadana memang sudah membawa keberuntungan," ujar Papa Fadil dengan memeluk tubuh Suci.


"Apa maksud Papa?" tanya Arya dengan memicingkan matanya.


"Mungkin maksud Papa, Suci kan Menantu kami, jadi Papa menganggap Suci sebagai Putri keluarga Argadana juga. Sebaiknya kita masuk sekarang, kasihan Cucu Oma yang lucu-lucu ini, pasti pada cape," jelas Mama Erina yang mencoba meralat perkataan Papa Fadil, tapi entah kenapa Arya masih merasakan sebuah kejanggalan, apalagi Mama Erina terlihat sekali sedang menutupi sesuatu sehingga terus memotong perkataan Papa Fadil.


Semuanya saat ini tengah duduk di ruang keluarga, dan mata Oma Rahma terlihat berbinar ketika melihat Anak-anak Suci dan Arya, karena beliau tidak menyangka jika Suci akan memberikan Cicit lagi untuknya.


"Sekarang Oma sudah menjadi Nenek Buyut lagi, bahkan nambah dua sekaligus," ujar Oma Rahma dengan bergantian menciumi pipi Rizky, Arsyila, Iqbal, dan Putri.


Sebelumnya Arya sudah menjelaskan tentang siapa Iqbal sebenarnya, Arya juga menceritakan kejadian sebelum dirinya membawa Suci kembali pulang.


Semuanya terlihat bahagia, serta menerima usul untuk menerima Iqbal sebagai kembaran Rizky, mereka juga begitu bersyukur karena sekarang Suci sudah diberikan kesembuhan setelah banyaknya cobaan yang harus Suci lalui.


"Besok sebaiknya kita langsung mengadakan syukuran untuk menyambut kedatangan Suci dan Anak-anak, sekalian syukuran kesembuhan Suci, Mama dan Papa juga," ujar Papa Fadil yang disetujui oleh semuanya.


......................


Malam pun kini telah tiba, dan semuanya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.


Ketika Mama Erina dan Papa Fadil baru masuk juga ke dalam kamar mereka, terdengar suara ketukan pintu, dan ternyata Oma Rahma menyusul Mama Erina dan Papa Fadil ke dalam kamar.


"Fadil, Erina, ada yang ingin Mama bicarakan," ujar Oma Rahma.

__ADS_1


Ketiganya kini duduk di atas sofa yang berada di dalam kamar.


"Apa yang ingin Mama bicarakan?" tanya Mama Erina yang sudah terlihat gugup.


"Erina, kami sudah mengetahui tentang Suci dan Arya yang sudah kamu tukar sejak mereka baru dilahirkan," ujar Oma Rahma, dan Mama Erina tidak terlalu merasa terkejut, karena sebelumnya Mama Erina sudah menduganya ketika melihat sikap yang Oma Rahma dan Papa Fadil tunjukan kepada Suci.


"Ma, Pa, Erina sangat menyesal, dan Erina meminta maaf atas kesalahan yang telah Erina lakukan," ujar Mama Erina dengan menangis.


"Sudahlah Erina, semua ini karena kesalahanku juga karena dulu sudah mengatakan ingin memiliki Anak laki-laki," ujar Papa Fadil.


"Pa, Mama ingin sekali meminta maaf kepada Suci serta mengakui Suci sebagai Anak kandung kita, tapi Mama takut kalau Suci akan kecewa bahkan membenci kita. Mama tidak mau berpisah lagi dengan Suci."


Oma Rahma dan Papa Fadil memeluk Mama Erina untuk memberinya kekuatan, karena saat ini mereka juga ingin melakukan hal yang sama.


"Erina, kami mengerti perasaan kamu, karena kami juga ingin melakukan semua itu, tapi kita harus memikirkan perasaan Arya. Arya pasti sedih jika mengetahui kenyataan ini, karena secara tidak langsung Arya sudah menjadi penyebab Ibu kandungnya sendiri meninggal dunia," ujar Oma Rahma.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Mama Erina.


"Sebaiknya kita rahasiakan dulu semua ini dari Arya dan Suci, Meski pun mungkin suatu saat nanti mereka akan mengetahui semua kebenarannya. Dan saat hari itu tiba, kita harus siap menerima balasan atas kesalahan yang telah kita lakukan kepada Anak-anak kita," ujar Papa Fadil.


......................


Bu Rita yang merasa haus, pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Saat berada di dapur, Bu Rita bertemu dengan Mama Erina yang ingin mengambil air minum juga.


"Ibu belum tidur?" tanya Mama Erina.


"Belum Nyonya, kebetulan saya haus, jadi mau ngambil air minum dulu," jawab Bu Rita.


"Kenapa sih Ibu selalu memanggil saya Nyonya? Padahal kita seumuran. Sebaiknya Ibu panggil nama saja, kita juga sudah seperti keluarga," ujar Mama Erina dengan tersenyum.


"Maaf Nyonya, tapi saya merasa lebih enak memanggil Anda dengan panggilan Nyonya," ujar Bu Rita.


"Ya sudah, bagaimana Ibu saja," ujar Mama Erina.


Bu Rita memberanikan diri untuk bertanya kepada Mama Erina tentang siapa kedua orangtua kandung Suci.

__ADS_1


"Nyonya, apa Anda tau siapa kedua orangtua kandung Suci?" tanya Bu Rita.


Mama Erina yang mendengar pertanyaan Bu Rita langsung tersedak air minum.


"Ke_kenapa Bu Rita bertanya seperti itu kepada saya?" tanya Mama Erina yang terlihat gugup.


"Saya sudah mengingat alamat orangtua kandung Suci, dan saya terkejut ketika tadi melihat nomor rumah ini, karena alamatnya sama persis dengan yang saya ingat," ujar Bu Rita.


Mama Erina langsung menggenggam tangan Bu Rita yang saat ini berada di hadapannya, lalu Mama Erina kembali menangis.


"Bu, saya menyesal karena telah membuat kesalahan yang besar dengan menukar Suci dan Arya saat mereka masih bayi, tapi saat ini saya takut untuk mengakui semuanya. Bagaimana kalau Suci dan Arya sampai membenci saya? Saya tidak mau berpisah dengan mereka. Saya harap Bu Rita mau merahasiakan semua kebenarannya dari Suci dan Arya," ujar Mama Erina dengan tatapan memohon.


Bu Rita menghela nafas panjang ketika mendengar permohonan Mama Erina, karena Bu Rita pernah berada pada posisi yang sama dengan Mama Erina saat terpaksa harus menutupi semua kebenaran dari Anak kandungnya sendiri.


"Nyonya, saya mengerti tentang perasaan Nyonya saat ini, tapi saya yakin kalau Suci akan memaafkan kesalahan yang telah Nyonya lakukan, karena Suci adalah Anak yang baik," ujar Bu Rita.


"Tapi bagaimana dengan Arya? Kesalahan yang dulu telah Arya lakukan kepada Suci, secara tidak langsung sudah membuat Bu Asih meninggal dunia, dan Arya pasti akan merasa sedih dan dihantui rasa bersalah jika mengetahui bahwa dirinya sudah menjadi penyebab Ibu kandungnya sendiri meninggal dunia."


"Sampai kapan Nyonya akan menutupi semuanya dari mereka? Meski pun sekarang kita menutupi semuanya dari Suci dan Arya, tapi yang namanya bangkai suatu saat nanti pasti akan tercium juga. Nyonya tidak perlu khawatir, Arya dan Suci saling mencintai, dan saya sangat yakin jika keduanya akan saling menguatkan untuk menerima kenyataan yang pahit sekali pun," ujar Bu Rita.


Mama Erina terlihat berpikir, karena perkataan Bu Rita ada benarnya juga.


"Terimakasih atas sarannya, saya akan mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk mengakui kesalahan yang telah saya lakukan. Semoga saja Suci dan Arya bisa memaafkan saya," ucap Mama Erina yang di Amini oleh Bu Rita.


......................


Keesokan paginya, Arya menghampiri Bu Rita untuk menanyakan alamat orangtua kandung Suci, karena rencananya hari ini juga Arya akan menemui kedua orangtua kandung Suci.


"Bu, alamat orangtua kandung Suci berada di komplek ini juga kan? Berapa nomor rumahnya?"


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2