Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 35 ( Status baru )


__ADS_3

Suci sudah terlihat grogi ketika Arya menuntunnya menuju kamar.


"Sayang, kamu kenapa sih gugup seperti itu? aku cuma mau ngasih ini," ujar Arya dengan memberikan satu set perhiasan dan kartu ATM yang berisi uang sepuluh milyar.


"Kapan Tuan mempersiapkan semua ini?" tanya Suci ketika melihat satu set perhiasan dan juga ATM yang saat ini berada di tangannya.


"Perhiasan itu pemberian Oma, katanya itu harus aku berikan kepada perempuan yang aku cintai, dan aku sengaja membawa perhiasan itu karena aku sudah berniat untuk memberikannya kepada kamu."


"Kenapa harus saya?"


"Karena kamu adalah perempuan yang aku cintai Suci, kamu adalah cinta pertama dan cinta terakhirku. Kalau uang dalam ATM, itu adalah hasil kerja kerasku selama satu tahun ini," ujar Arya dengan menangkup kedua pipi Suci.


"Tapi ini terlalu banyak, saya tidak pantas mendapatkan mas kawin sebesar ini," ujar Suci yang baru pertama kali memegang uang serta perhiasan sebanyak itu.


"Semua itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kamu, karena kamu lebih berharga dari apa pun juga, dan mulai sekarang aku akan selalu membahagiakan kamu dan Rizky," ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci.


Suci merasa nyaman berada dalam pelukan Arya, tapi Suci takut jika dirinya belum bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang Istri, karena Suci masih merasa trauma dengan kejadian naas yang pernah dia alami, dan Arya sangat memahami semua itu.


"Aku tau kalau kamu masih merasa trauma kan dengan kejadian yang pernah menimpa kamu? kamu tenang saja, aku tidak akan meminta hak sebagai seorang Suami apabila kamu belum siap."


"Terimakasih atas pengertiannya, Mas."


Arya yang mendengar Suci memanggilnya dengan sebutan Mas begitu bahagia, karena akhirnya Suci mau merubah panggilannya.


"Seharusnya aku yang berterimakasih karena kamu sudah mau menerimaku sebagai Suami kamu." Meski pun pertemuan kita harus di awali dengan tragedi, dan kita bersatu karena kesalahpahaman, lanjut Arya dalam hati.


Arya kemudian mengeluarkan sepasang cincin kawin dari dalam sakunya, karena sebelumnya Arya juga sudah berniat untuk melamar Suci.


"Mulai sekarang, aku akan berusaha menjadi Suami dan Ayah yang baik, dan aku akan selalu membahagiakan kamu hingga maut yang memisahkan kita. Apa pun yang terjadi, kita akan selalu berpegangan tangan dan menghadapinya bersama," ucap Arya dengan memasukan cincin ke dalam jari manis tangan kanan Suci.


"Saya juga akan berusaha menjadi Istri dan Ibu yang baik untuk Anak-anak kita," ucap Suci dengan malu-malu, lalu memasukan cincin ke dalam jari manis tangan kanan Arya.


Setelah itu, Suci mencium punggung tangan Arya yang telah sah menjadi Suaminya, begitu juga Arya yang langsung mencium kening Suci dengan waktu cukup lama.

__ADS_1


"Sekarang aku tidak harus mencuri ciuman lagi, apalagi beralasan untuk mengambil kutu," ujar Arya dengan terkekeh ketika mengingat kelakuan konyolnya tadi pagi.


"Padahal aku sudah ketakutan jika sampai memiliki kutu, nanti bagaimana kalau Rizky ikutan punya kutu juga."


"Iya maaf sayang, tadi aku sengaja karena ingin mencuri ciuman kamu," ucap Arya dengan memeluk erat tubuh Suci.


"Sebaiknya sekarang kita ke luar, tidak enak sama yang lain kalau kita terlalu lama di dalam kamar," ucap Suci dengan malu-malu.


"Kita kan sudah sah menjadi Suami istri, jadi gak bakalan ada yang menggerebek juga," ujar Arya, dan saat ini pipi Suci terlihat bersemu merah, karena semua ini masih terasa mimpi untuknya.


......................


Hesti yang baru pulang kerja, begitu terkejut ketika melihat banyak orang di dalam rumahnya, karena Hesti belum mengetahui pernikahan Suci dan Arya.


"Suci, kamu baik-baik saja kan? kenapa banyak orang di kontrakan kita?" tanya Hesti.


Suci mengajak Hesti ke dalam kamar, dan Suci mengatakan semua yang telah terjadi kepadanya dan Arya.


"Selamat ya, sekarang kamu sudah memiliki status baru, yaitu menjadi Nyonya Arya. Aku tidak menyangka ternyata kalian berdua ditakdirkan untuk hidup bersama," ucap Hesti dengan memeluk tubuh Suci, dan beberapa saat kemudian terdengar suara Arya yang mengetuk pintu kamar.


"Ekhem, sekarang panggilannya sudah diganti menjadi sayang," goda Hesti, sontak saja pipi Suci bersemu merah karena malu.


Hesti dan Suci akhirnya ke luar menghampiri Arya dan yang lainnya.


"Nak Suci, Nak Arya, kalau begitu kami pamit pulang dulu. Terimakasih banyak atas jamuannya. Sekali lagi kami meminta maaf atas kesalahpahaman yang telah terjadi," ucap Ketua RT.


"Tidak apa-apa Pak, seharusnya saya berterimakasih, karena berkat kesalahpahaman ini, akhirnya saya dan Suci berakhir di Penghulu, padahal Suci sebelumnya susah sekali menerima cinta saya," ucap Arya dengan tersenyum bahagia.


"Suci, malam ini aku juga ada acara di rumah temanku, jadi aku pergi juga ya," ucap Hesti yang ikut ke luar dari rumah kontrakannya supaya Arya dan Suci bisa lebih leluasa.


"Kenapa Hesti jadi ikut pergi juga," gumam Suci.


"Mungkin Hesti takut ganggu malam pertama kita," bisik Arya pada telinga Suci, dan Suci selalu merasa malu karena belum terbiasa dengan kehadiran Arya, apalagi saat ini Arya memeluk tubuh Suci dari belakang.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku mau membereskan dulu makanannya," ucap Suci mencari alasan supaya bisa lepas dari pelukan Arya, dan Arya selalu merasa gemas melihat tingkah Suci yang terlihat malu-malu.


"Ya sudah, kalau begitu sekarang Papa bantuin Mama beres-beres juga," ujar Arya, kemudian membantu Suci membersihkan rumah, tapi Arya yang tidak pernah memegang sapu, terlihat bingung bagaimana harus menggunakannya.


"Mas sebaiknya duduk saja, biar Suci yang membersihkan semuanya."


"Sayang, aku pasti bisa menggunakan sapu, asalkan kamu ajari dulu," ujar Arya dengan memberikan sapu yang ia pegang kepada Suci.


Setelah melihat Suci menyapu, Arya kembali merebut sapu tersebut dari tangan Suci.


"Sekarang biar Mas yang menyapu," ujar Arya yang selalu ingin membantu pekerjaan Suci, dan Suci tersenyum melihat Arya yang terlihat begitu menyayanginya.


Setelah selesai membereskan semuanya, Arya menghampiri Suci yang saat ini tengah menyusui Rizky.


"Ternyata membersihkan rumah cape juga ya," gumam Arya dengan membaringkan kepalanya di atas paha Suci.


"Terimakasih ya, Mas sudah membantu Suci melakukan pekerjaan rumah."


"Sayang, sudah seharusnya Mas melakukan semua itu, sekarang Suci sudah menjadi tanggung jawab dunia dan akhirat Mas. Ngomong-ngomong boleh tidak Mas minum susu juga seperti Rizky, sayang juga yang sebelahnya kalau di anggurin," goda Arya dengan terkekeh, dan Suci memutar malas bola matanya.


Suci kembali teringat dengan perkataan Mama Erina yang menyuruhnya untuk menjauhi Arya, dan Arya yang melihat kekhawatiran pada wajah Suci, memutuskan untuk bertanya.


"Sayang, apa yang sedang Suci pikirkan? kenapa Suci terlihat khawatir?"


"Mas, bagaimana kalau orangtua Mas tidak merestui pernikahan kita? apalagi Nyonya Erina sudah menyuruh Suci untuk menjauhi Mas."


"Sayang, Mas harus bilang berapa kali, apa pun yang terjadi, kita akan melewatinya bersama. Suci percaya kan sama Mas?" tanya Arya, dan Suci menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Mas pasti akan berusaha meyakinkan Mama supaya merestui pernikahan kita. Sedangkan Papa dan Oma, Mas yakin kalau mereka pasti akan merestui pernikahan kita, karena mereka tidak pernah menentang apa yang Mas lakukan selama itu benar. Apa Suci bersedia jika besok Mas membawa Suci dan Rizky untuk bertemu mereka?"


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2