Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 212 ( Duri dalam rumah tangga )


__ADS_3

Ketika Ratu sadar dari pingsannya, Ratu langsung berteriak menyebut nama Nanda.


"Nanda."


Hesti dan yang lainnya bersyukur karena akhirnya Ratu sadar juga, kemudian Hesti dan Suci menghampiri Ratu yang masih terlihat begitu syok.


"Sayang, Alhamdulillah akhirnya Ratu sadar juga. Apa ada yang sakit Nak?" tanya Hesti.


"Bunda, Tante, dimana Nanda? Bagaimana keadaannya?" tanya Ratu yang terlihat panik.


"Sayang, Ratu tenang dulu. Nanda ada di sebelah Ratu, tapi Nanda masih belum sadarkan diri," jawab Hesti.


Ratu mencoba turun dari ranjang pesakitannya untuk menghampiri Nanda. Meski pun Hesti dan Suci sudah melarangnya, tapi Ratu bersikeras ingin melihat Nanda dari dekat.


Suci dan Hesti membantu Ratu untuk berjalan, kemudian Ratu duduk di kursi yang berada di samping ranjang pesakitan Nanda.


"Nanda, maafin aku. Aku mohon, kamu harus bangun demi Anak kita," ucap Ratu dengan menggenggam erat tangan Nanda.


Semuanya begitu terkejut ketika mendengar perkataan Ratu, karena mereka baru mengetahui jika saat ini Ratu tengah hamil.


"Nak, jadi Ratu hamil? Kenapa Ratu tidak memberitahukan kabar bahagia ini kepada kami?" tanya Hesti yang begitu bahagia, karena sebentar lagi Hesti akan menjadi Nenek.


"Iya Bunda, Ratu belum sempat memberitahu semuanya, karena Ratu juga baru mengetahuinya sebelum Nanda mengalami kecelakaan," jawab Ratu.


Semuanya mengucap syukur atas kehamilan Ratu, dan Hesti langsung memeluk tubuh Ratu serta mengelus lembut punggungnya.


"Mulai sekarang Ratu berhenti bekerja ya. Ratu harus menjaga kesehatan dan jangan sampai kecapean," ujar Hesti.


Ratu terlihat berpikir, karena sebenarnya Ratu merasa berat untuk melepaskan pekerjaan yang sudah lama dia impikan, apalagi saat ini karier Ratu sedang naik daun.


"Nanti Ratu bicarakan dulu semuanya dengan Nanda, karena Ratu masih terikat beberapa kontrak."


"Apa pekerjaan lebih penting dari pada Anak? Arsyi saja yang sudah berhasil memiliki perusahaan sendiri lebih memilih berhenti bekerja demi bayi yang berada dalam kandungnya. Kalau yang kamu khawatirkan adalah masalah uang penalti, nanti Ayah yang akan membayar uang penalti nya supaya kamu bisa berhenti bekerja," ujar Irwan yang tidak terima jika Ratu masih ingin tetap bekerja saat kondisinya tengah hamil.


Ratu merasa kesal, karena lagi-lagi semua orang terus memuji Arsyi. Seandainya di sana tidak ada Arya dan Suci, sudah pasti Ratu akan membalas perkataan Irwan.


Lagi-lagi Arsyi yang selalu mereka banggakan. Memangnya apa hebatnya perempuan gatal yang suka menggoda Suami orang? Kenapa Arsyi selalu menjadi duri dalam rumah tanggaku? Padahal aku sudah mulai jatuh cinta terhadap Nanda dan ingin belajar menjadi Istri yang baik untuknya, ucap Ratu dalam hati.


Suci tau betul bagaimana perasaan Ratu, karena pasti Ratu merasa kesal ketika dirinya dibandingkan dengan oranglain.

__ADS_1


"Nak, Ayah Irwan pasti tidak bermaksud membandingkan Ratu dengan Arsyi, tapi kami semua mengkhawatirkan Ratu, kami takut kalau Ratu sampai kenapa-napa jika tidak berhenti bekerja, apalagi saat hamil muda sangat rentan dengan keguguran," ujar Suci yang mencoba memberi pengertian kepada Ratu, tapi Ratu yang keras kepala tidak pernah menerima pendapat orang lain.


"Tante, seharusnya yang Tante nasehati adalah Anak kandung Tante sendiri, karena dia sudah menjadi duri dalam rumah tangga Ratu dengan Nanda. Seandainya tadi Arsyi tidak menggoda Nanda, mungkin Nanda tidak akan sampai tertabrak mobil," ujar Ratu.


"Nak, tidak mungkin Arsyi seperti itu, Ratu pasti hanya salah paham saja. Arsyi sudah menikah dengan Iqbal, Arsyi juga tengah hamil, jadi tidak mungkin Arsyi menggoda Nanda," ujar Suci.


"Tante pasti lebih percaya kepada Arsyi dibandingkan Ratu, karena Arsyi adalah Anak kandung Tante," ujar Ratu.


Nanda yang mendengar suara keributan, secara perlahan mulai membuka matanya.


"Nanda, akhirnya kamu sadar juga. Kenapa kamu membuat aku khawatir?" ujar Ratu dengan memeluk tubuh Nanda.


"Ratu, aku minta maaf atas kejadian tadi, tapi aku mohon jangan pernah salahkan Arsyi, karena Arsyi tidak pernah menggodaku. Sebenarnya aku yang sudah memeluk Arsyi, bahkan Arsyi terus mencoba mendorong ku," ujar Nanda.


Ratu tersenyum kecut mendengar perkataan Nanda, karena lagi-lagi tidak ada satu orang pun yang membelanya.


"Lagi lagi Arsyi, lagi lagi Arsyi. Kenapa semua orang hanya melihat Arsyi? Apa kalian tidak pernah memikirkan perasaanku? teriak Ratu yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Ratu, kami tidak bermaksud seperti itu, tapi pada kenyataannya Arsyi memang lebih baik segala-galanya dibandingkan kamu," ujar Irwan.


Hesti sebenarnya ingin membela Arsyi juga, tapi Hesti ingat jika saat ini Ratu sedang hamil Anak Nanda.


"Tapi tidak seharusnya Ratu menyalahkan Arsyi, karena kita sendiri mendengar dari semua orang kalau Nanda tertabrak mobil karena menyelamatkan Ratu," ujar Irwan yang merasa tidak enak terhadap Suci dan Arya.


Suci dan Arya memutuskan untuk pulang, karena suasana di sana semakin memanas.


"Hesti, Irwan, sebaiknya kami pulang dulu. Nanda, cepat sembuh ya Nak," ujar Arya, kemudian menggandeng Suci ke luar dari dalam kamar perawatan Nanda.


Irwan dan Hesti juga ikut ke luar, dan saat ini Ratu dan Nanda hanya tinggal berdua.


Ketika Ratu hendak pergi, Nanda mencekal pergelangan tangannya.


"Ratu, jangan tinggalkan aku. Aku tau kalau aku sudah banyak melakukan kesalahan dalam rumah tangga kita, aku juga sudah sering menyakiti hati kamu, dan aku minta maaf atas semuanya. Apa kamu mau membuka lembaran baru menjadi Istri yang sesungguhnya untuk ku serta menjadi Ibu untuk Anak-anak kita?" tanya Nanda.


Ratu terlihat berpikir, karena Ratu tidak ingin merasa kecewa apabila kenyataannya Nanda masih belum bisa melupakan Arsyi.


"Nanda, apa perkataanmu bisa dipercaya?"


"Aku bersumpah demi Anak kita, kalau aku tidak akan pernah mencoba untuk mendekati Arsyi lagi, dan aku akan melupakan semua kenangan tentang aku dan dia. Kamu bisa merobek fhoto kami yang selalu aku simpan di dalam dompet ku, kamu juga bisa menghapus semua fhoto Arsyi dari handphone ku, karena sudah seharusnya aku melakukan semua itu sejak aku menikahi kamu," ujar Nanda dengan bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah, tidak sepantasnya aku masih memiliki perasaaan untuk perempuan lain selain Istriku. Mulai sekarang aku harus benar-benar berusaha melupakan Arsyi dari dalam hidupku, seperti Arsyi yang sudah melupakan ku, ucap Nanda dalam hati.


"Ratu, kamu bersedia kan memberikan aku kesempatan?" tanya Nanda.


"Baiklah, aku akan memberikan kamu kesempatan, tapi aku harap kamu memegang janji kamu, karena kalau kamu masih memikirkan Arsyi, berarti kamu sudah siap kehilangan Istri dan Anak mu," tegas Ratu.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan," ucap Nanda dengan tersenyum, kemudian membawa Ratu ke dalam pelukannya.


Beberapa saat kemudian, Hesti dan Irwan kembali masuk ke dalam kamar perawatan Nanda, karena mereka takut kalau Nanda dan Ratu kembali bertengkar.


"Syukurlah Tom and Jerry sudah akur," celetuk Hesti ketika melihat Nanda dan Ratu yang berpelukan.


"Sepertinya kita datang di saat yang tidak tepat. Apa kita ke luar lagi saja?" ujar Irwan.


"Ayah sama Bunda tidak perlu ke luar, karena kami harus belajar bersikap romantis dari kalian," ujar Nanda.


Irwan yang sudah merasa tenang meminta maaf kepada Ratu, karena Irwan takut jika Ratu tersinggung dengan perkataannya yang terkesan lebih memuji Arsyi.


"Ratu, Ayah minta maaf karena sudah menyinggung kamu. Ayah hanya khawatir dengan Cucu pertama Ayah kalau kamu masih tetap bekerja."


"Tidak apa-apa Yah, seharusnya Ratu yang meminta maaf karena sudah bersikap tidak sopan terhadap orangtua. Kalian tidak perlu khawatir, Ratu pasti akan berhenti bekerja, dan Ratu akan menjaga bayi kami dengan baik."


Semuanya tersenyum bahagia, karena sekarang situasi sudah aman, damai, sejahtera, sentosa, sampai akhirnya Nanda tiba-tiba merasa mual dan langsung memuntahkan isi perutnya sehingga membuat semuanya merasa khawatir.


Irwan menekan tombol untuk memanggil Dokter, dan beberapa saat kemudian Dokter datang untuk memeriksa Nanda.


"Apa yang terjadi dengan Pasien?" tanya Dokter.


"Barusan Nanda mual kemudian muntah. Kami takut jika Nanda mengalami gegar otak," jawab Hesti.


Setelah Dokter memeriksa kondisi Nanda dengan seksama, Hesti, Irwan dan Ratu bertanya secara bersamaan.


"Dok, bagaimana kondisi Nanda?"


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2